jump to navigation

Kesesatan Tasawuf 5 May, 2006

Posted by netlog in Kesesatan Tasawuf.
trackback

Ada yang menanyakan tentang Tasawuf. Mudah-mudahan tulisan di bawah bisa bermanfaat.

1. Kata Tasawuf sekali pun tidak pernah disebut di dalam Al Qur'an dan Hadits yang sahih. Bukankah jika Tasawuf itu begitu penting dalam Islam tentu Allah dan Rasulnya akan memerintahkan manusia untuk belajar Tasawuf? Tidak mungkin Nabi yang bersifat "Balligh" (menyampaikan) menyembunyikan perintah Allah bukan?

Sebaliknya Nabi berkata bahwa setiap hal yang baru/diada-adakan (di bidang agama) adalah bid'ah dan sesat:

"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ,dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid'ah adalah tersesat" ( H.R Muslim ) .

Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak perlu lagi ditambah bid'ah seperti Tasawuf:

"…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…." [Al Maa-idah:3]

2. Tasawuf tidak jelas artinya. Ada yang menyebut dari shuffah, bulu domba, shof terdepan, bahkan dari kata Yunani: Theo Sophos. Bagaimana mungkin orang mempelajari sesuatu yang tidak jelas sebagai ajaran dari Islam yang penting?

3. Jika sumber agama Islam adalah Al Qur'an dan Hadits yang sahih (yang dloif/maudlu ditolak):

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " [An Nisaa":59]

Sabda Rasulullah Saw: "Aku tinggalkan padamu dua hal, yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya."(HR Ibnu 'Abdilbarri)

Maka sumber Tasawuf bisa dari mana saja. Istilah Abdurrahman Abdul Khaliq yang mereka jadikan sumbernya adalah bisikan yang dida`wahkan datang kepda para wali dan kasyf (terbukanya takbir hingga mereka tahu yang ghoib) yang mereka da`wahkan, dan tempat-tempat tidur (mimpi-mimpi), perjumpaan dengan orang-orang mati yang dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidir a.s, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus (Rohaniyyin). Banyak sekali ajaran Tasawuf yang memakai cerita-cerita yang tidak jelas sahih/dloifnya serta dari mimpi-mimpi orang yang mereka anggap wali. Belajar Tasawuf bisa membuat kita lupa dari mempelajari Al Qur'an dan Hadits yang justru merupakan sumber ajaran Islam yang asli.

4. Adapun sumber pengambilan syari`ah bagi ahli Islam adalah Al Kitab (Al Qur`an), As Sunnah (Al Hadits), Ijma` (kesepakatan para ulama terdahulu mengenai awal Islam), dan Qiyas (perbandingan, yaitu pengambilan hukum dengan membandingkan kepada hukum yang sudah ada ketegasannya dari Nash/text Al Qur`an atau Al Hadits, dengan syarat kasusnya sama, misalnya beras

bisa untuk zakat fitrah karena diqiyaskan dengan gandum yang udah ada nash haditsnya). Sedangkan bagi orang-orang tasawuf , perbuatan syariat mereka didirikan diatas mimpi-mimpi (tidur), khidhir, jin, orang-orang mati,syaikh-syaikh, semua mereka itu dijadikan pembuat syariat. Oleh karena itu, jalan-jalan dan cara-cara pembuatan syariat tasawuf itu bermacam-macam. Sampai-sampai

mereka mengatakan jalan-jalan menuju Allah SWT itu sebanyak bilangan nafas

makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syaikh memiliki tarekat dan manhaj/jalan untuk pendidikan dan dzikir khusus. Jika dalam Islam sumber dzikir dan do'a berasal dari Al Qur'an dan Hadits, maka dalam Tasawuf berdasarkan ajaran para syekhnya (yang mungkin berasal dari mimpi mereka)

5. Islam itu adalah agama yang Muhaddad/jelas (ditegaskan batasan ketentuan) aqidahnya, ibadahnya, dan syari`atnya. Dalam Islam dijelaskan apa itu rukun Iman, rukun Islam, cara shalat, puasa, dzikir, doa berdasarkan Al Qur'an dan Hadits yang sahih. Selama ada sumber Al Qur'an dan Hadits diterima, jika tidak ada ditolak.

6. Sedangkan tasawuf itu agama yang tidak ada batasannya, tidak ada pengertian (yang ditentukan secara pasti) dalam aqidah ataupun syari`at-syari`atnya. Sumber yang berasal dari mimpi orang yang dianggap wali sudah cukup bagi mereka untuk diamalkan sehingga amalan Nabi Muhammad SAW seperti dzikir, doa, sholat Tahajjud, dsb justru terlupakan. Karena ketidak-jelasan sumber dan syari'ah Tasawuf, maka orang-orang kafir memakai Tasawuf terutama untuk menghilangkan ajaran jihad dari ummat Islam. Contohnya ada di http://www.libforall.org di mana para pendeta bekerjasama dengan para sufi berusaha menghilangkan jihad dari ummat Islam lewat Tasawuf.

7. Paham Tasawuf seperti Wihdatul Wujud (bersatunya manusia dengan Allah) itu menyesatkan. Al Hallaj mengaku sebagai Allah. Ana al Haq (Akulah Allah) begitu katanya. Demikian pula tokoh sufi lain seperti Syekh Siti Jenar yang mengaku sebagai Allah. Terakhir Ahmad Dhani, Dewa, dalam lagunya "Satu" berkata "Aku ini adalah diriMu (Allah)." Mungkin orang sufi berpendapat itu karena teramat dekatnya mereka dengan Allah sehingga sampai mengaku sebagai Allah. Padahal Nabi Muhammad SAW yang merupakan manusia sempurna dan paling dekat kepada Allah SWT tidak pernah sekalipun mengaku sebagai Allah. Bukankah Nabi dan ummat Islam selalu berkata "Iyyaka na'budu" (kepadaMu kami menyembah)? Itulah salah satu arogansi sufi. Mengaku Tuhan seperti Fir'aun. Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar difatwa sesat dan dihukum mati oleh para ulama.

8. Sufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal diBistam,Iran,261 H/874 M.) Dia adalah pendiri tarekat Naqsyabandiyah. Mengaku berguru pada Imam Ja'far padahal dia baru lahir 40 tahun setelah Imam Ja'far meninggal dunia. Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat Subuh Yazid Al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya,"Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa`budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah,tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku)." Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.Menurut pandangan para sufi, ketika mengucapkan kata-kata itu,al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawuf.

9. Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata,"Subhani, subhani, ma a`dhama sya`ni (mahasuci aku,mahasuci aku, alangkah maha agungnya aku)." Nah jika Nabi mengajarkan dzikir "Subhanallahu" (Maha Suci Allah), maka syekh Tasawuf mengajarkan "dzikir" Subhani" (Maha Suci aku). Ini jelas kesombongan yang besar yang dibenci Allah:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." [Luqman:18]

Al-Bustami juga berkata,"Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada didalam jubah ini kecuali Allah)."

10. Paham Tasawuf, kasyf (tersingkapnya hijab, hingga seorang sufi bisa mengetahui hal ghaib), juga bertentangan dengan ayat Al Qur'an. Padahal Nabi SAW sendiri tidak mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi SAW tidak tahu apa yang diperbuat Allah SWT untuk Nabi SAW sendiri esok (lihat dalam Bab Aqidah). Allah SWT berfirman:

"Katakanlah ! Tidak ada yang dapat mengetahui perkqara yang ghaib dilangit dan

di bumi kecuali Allah ." (An-Naml:65)

Ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka menganggap bahwa Nabi SAW termasuk orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib, maka mereka menyembunyikan sesuatu didalam (genggaman) tangan mereka untuk beliau. Dan mereka berkata kepada beliau," Kabarkanlah kepada kami, apa dia (yang ada dalam gemgaman kami ini) ? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan berteriak, "Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun itu didalam neraka." ( Diriwayatkan Abu Daud: 286 ).

11. Banyak tarekat tasawuf yang terlalu mengkultuskan pemimpinnya dengan berbagai karomah yang tidak masuk akal. Contohnya Mawlana Syaikh Nazim, pimpinan tarekat Naqsyabandiyah saat ini, menurut mu Hakikat Sulthanul Awliya Syaikh Nazim Adil al-Haqqani menurut Syaikh Adnan mampu menjamakkan diri beliau dalam hitungan antara 70.000 sampai 700.000 dengan menampakkan diri di berbagai tempat yang berbeda di saat yang bersamaan. Akibatnya banyak orang belajar tasawuf hanya karena mencari karomah/kesaktian gurunya.

12. Diantaranya sufi ada yang menganggap bahwa Rasulullah SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang sufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawuf seperti perkataan Busthami," Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri ditepinya." Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila At-Tashawwuf ya`Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah).

13. Diantara orang-orang sufi ada yang mempercayai bahwa Rasulullah SAW itu adalah kubah alam, dan dia itulah dan dia itulah Allah yang bersemayam diatas arsy; sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari nurnya (Nur Muhammad), dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam diatas Arsy Allah SWT. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang setelahnya/pengikutnya. Para sufi ini mengangkat derajad Nabi sedemikian tinggi sehingga seolah-olah sama kedudukannya dengan Yesus (Anak Allah) dengan Tuhan Bapak menurut kepercayaan agama Kristen.

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku … (Al Kahfi : 110).

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat. (Shaad : 71)

Allah SWT berfirman,

" Barang siapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al

Qur`an), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan syetan itulah yang

menjadi teman yang selalu menyertainya." (Az-Zukhruf:43:36)

Pengajaran Allah SWT adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya, yakni Al

Qur`an.Barang siapa tidak beriman kepada Al Qur`an, tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling dari Al Qur`an, kemudian syetan datang menjadi teman setia baginya.

14. Sufi juga mengecam orang yang menyembah Allah karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul 'Adawiyah berkata, "Ya Allah jika aku menyembahMu karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku. Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka pintu neraka untukku" Itu adalah sifat sombong dan riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk berharap akan surga dan takut api neraka.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [At Tahrim:6]

Do'a yang terbaik justru bertentangan dengan para sufi tersebut:

"Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". [Al Baqarah:201]

15. Banyak orang berusaha mengkoreksi kesesatan Tasawuf termasuk Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya' 'Uluumuddiin. Toh Imam Al Ghazali terperosok juga karena menggunakan contoh di luar Al Qur'an dan Hadits. Misalkan dalam rangka hidup sederhana memberi contoh sufi yang kelewat zuhud sehingga memakai baju bulu yang kotor dan berkutu. Padahal Nabi mengatakan kebersihan sebagian dari iman. Begitu pula kisah orang yang hanya beribadah saja sehingga tidak mampu memberi nafkah keluarganya. Untuk makan dia berkeliling ke rumah temannya. Yang punya 7 teman maka dalam 7 hari kembali lagi ke teman pertama yang dia tumpangi. Ada pula yang sebulan baru ketemu dengan teman pertama yang dia tumpangi dan ada pula yang setahun. Padahal Nabi memberi sunnah untuk berusaha dan tidak menyusahkan orang. Tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di bawah. Begitu kata Nabi. Buya Hamka yang menulis buku Tasawuf modern juga menggambarkan wali Sufi begitu sakti hingga bisa mengangkat kapal yang tenggelam di laut dari jauh! Padahal Nabi Muhammad SAW saja ketika perang Uhud sampai berdarah mulutnya. Ini timbul kesan orang belajar Tasawuf untuk dapat kesaktian/karomah.

16. Sesungguhnya dalam Al Qur'an dan Hadits kita menemukan pedoman bagaimana berakhlaq yang bagus, sederhana tidak boros, menjauhi ghibah atau buruk sangka, amar ma'ruf nahi munkar, jihad, cara beribadah/mendekatkan diri kepada Allah, dan sebagainya. Dalam Tasawuf meski ada namun sering berlebihan. Sebagai contoh dulu Tasawuf mengajarkan hidup sederhana sehingga mereka hidup seperti gembel/pengemis. Sekarang Tasawuf modern diajarkan dihotel-hotel yang mewah yang jauh dari contoh hidup sederhana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

17. Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan menjauhi

orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang.

Diantaranya ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa

tentang perkataan Al-Harits Al Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857 M.).Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama mereka." (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi) – Ibnul Jauzi "Talbis Iblis".

18. Imam Syafi`i berkata, "Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum Dhuhur ia menjadi orang yang dungu." Imam Syafi`i juga pernah berkata."Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal selamanya

19. Ada yang menulis Imam Maliki mendukung Tasawuf, tapi itu tidak benar. Selain zaman Imam Maliki Tasawuf belum dikenal juga Imam Maliki tidak pernah menulis satu buku pun tentang Tasawuf atau mengajarkannya. Padahal beliau adalah salah satu dari Imam Madzhab yang punya banyak murid dan pengikut.

[media-dakwah] ASAL MUASAL TASAWUF

A Nizami

Wed, 01 Feb 2006 22:42:01 -0800

ASAL MUASAL TASAWUF

suhana hana

Wed, 10 Aug 2005 00:18:54 -0700

Bashrah, sebuah kota di negeri Irak, merupakan tempat kelahiran pertama bagi Tasawuf dan Sufi. Yang mana (di masa tabi'in) sebagian dari ahli ibadah Bashrah mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara' terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam), hingga akhirnya mereka memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf). Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan Sufi, sebagai nisbat kepada Shuuf .

Oleh karena itu, lafazh Sufi ini bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, karena nisbat kepadanya dinamakan Shuffi, bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah Ta'ala, karena nisbat kepadanya dinamakan Shaffi, bukan pula nisbat kepada makhluk pilihan Allah karena nisbat kepadanya adalah Shafawi dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab), walaupun secara lafazh bisa dibenarkan, namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mendapati masa kemunculan mereka, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh – Al Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba, maka beliau pun berkata: Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al Masih bin Maryam ! Maka sesungguhnya petunjuk Nabi kita lebih kita cintai (dari/dibanding petunjuk Al Masih), beliau Shallallahu alaihi wassalam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya. (Diringkas dari Majmu' Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Juz 11, hal. 6,16 ).

Siapakah Peletak/Pendiri Tasawuf ?

Ibnu Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya peletak Tasawuf adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sendiri. Yang mana beliau –menurut Ibnu Ajibah – mendapatkannya dari Allah Ta'ala melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu Ajibah berbicara panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia berkata: Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan membawa ilmu syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau Shallallahu alaihi wassalam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba darinya.

(Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata:

Perkataan Ibnu Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau menyembunyikan kebenaran.

Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu, karena Allah Ta'ala telah perintahkan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya

(artinya): Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. (Al Maidah : 67)

Beliau juga berkata: Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi'ah). Dan benar-benar Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah Radiyallahu anhu ia berkata: Suatu saat aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wassalam kepadamu? Maka Ali pun marah lalu mengatakan: Nabi Shallallahu alaihi wassalam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia ! Hanya saja beliau Shallallahu alaihi wassalam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu Thufail Radiyallahu anhu berkata: Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin ? Beliau menjawab: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: (Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah. (At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).

Hakikat Tasawuf

Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, maka dari manakah ajaran Tasawuf ini ?

Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur'an dan As Sunnah.

Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallahu alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta'ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf Al Mansya' Wal Mashadir, hal. 28). [1]

Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata:

Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba Allah Ta'ala di dalam memerangi Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.

(Muqaddimah kitab Mashra'ut Tashawwuf, hal. 19). [2]

Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf

1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata :

Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.

(Dinukil dari Firaq Mua'shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600).

Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syuura : 11)

Berkatalah Musa : Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. Allah berfirman : Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku (yakni di dunia-pen)……… (Al A'raaf : 143).

2. Ibnu Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata:

Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah ! (Fushushul Hikam).[3] Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah

orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

3. Ibnu Arabi juga berkata : Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan

Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya. (Al Futuhat Al Makkiyyah).[4]

Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

(Adz Dzariyat : 56).

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah

Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.(Maryam : 93).

4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata : Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. [5]

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah

akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang

yang merugi. (Ali Imran : 85)

5. Pembagian ilmu menjadi Syari'at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta'ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen). (Majmu' Fatawa, juz 11 hal. 401).

6. Dzikirnya orang-orang awam adalah La Illaha Illallah, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus / Allah, / Huu, dan / Aah saja.

Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam

bersabda :

Sebaik-baik dzikir adalah La Illaha Illallah . (H.R. Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah Radiyallahu anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami', no. 1104).[6]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata : Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa La Illaha Illallah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah / Huu, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.

(Risalah Al Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tashawwuf, hal. 13)

7. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta'ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah. (An Naml : 65)

8. Keyakinan bahwa Allah Ta'ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta'ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti

kalian, yang diwahyukan kepadaku … (Al Kahfi : 110).

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat. (Shaad : 71)

Wallahu A'lam Bish Shawab

Hadits-hadits palsu atau lemah yang tersebar di

kalangan umat

Hadits Abu Umamah

Pakailah pakaian yang terbuat dari bulu domba, niscaya akan kalian rasakan manisnya keimanan di hati kalian(HR Al Baihaqi dlm Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini palsu karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Yunus Al Kadimy. Dia seorang pemalsu hadits, Al Imam Ibnu Hibban berkata : Dia telah memalsukan kira-kira lebih dari dua ribu hadits. (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah Wal Maudhu'ah, no:90)

Footnote :

[1][2] Dinukil dari kitab Haqiqatut Tashawwuf karya Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7

[3][4][5] Dinukil dari kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.

[6] Lihat kitab Fiqhul Ad Iyati Wal Adzkar, karya Asy Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal. 173.

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 46/III/I2/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli "Hakekat Tasawuf dan Sufi". Penulis Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

http://www.mail-archive.com/keluarga-sejahtera@yahoogroups.com/msg00480.html

Tulisan di atas dibuat berdasarkan artikel "PERBEDAAN POKOK ANTARA ISLAM DAN TASAWUF" dari al-islam.or.id

About these ads

Comments»

1. Madyo Prihastono - 12 July, 2006

Astaghfirullah….
Assalamu’alaikum….Wr….Wb…
Semoga pemilik website ini dirahmati Alloh untuk mengikuti salahsatu dari 42 tarekat muktabar. agar dapat mencicipi keindahan makna Rububiyah dan makna penghambaan. Agar tidak tersesat oleh pemahan logika yang digembar-gemborkan oleh “faham Islam Formalis”.
Secara pemahaman Qolbu para mursyid kami tidak mengajarkan pemahaman qolbi “Wahdatul Wujud”, tapi “Wahdatul suhud”…..red” Wahdatul Wujud” sengaja digembar-gemborkan oleh “pengikut Ibnu Taimiyah”.
……Hanya inilah yang bisa disampaikan oleh hamba Alloh sebodoh saya untuk orang yang lebih pandai dari saya.
Semoga Alloh memandaikan Saudaraku dengan pemahaman Qolbi dengan mengikuti dan berguru pada salahsatu mursyid tarekat.
Tiada orang yang bodoh, kecuali yang “meyalahkan saudaranya sesama muslim”…..Ammiiin.
Wassalam.
Madyo.

2. hendra - 19 July, 2006

persoalan sebenarnya sederhana: islam itu khaffah meskipun memiliki tiga kadar intensitas: ritual (arkanul-islam), personal (arkanul iman), dan transendental (arkanul ikhsan). Dalam bentuknya yang ekstrim, ada golongan saudara kita yang menolak segala bentuk esoterisme/kebatinan. Di ujung lain, ada yang kebablasan hanya hanyut dalam kebatinan, tanpa melalui tangga islam dan iman. Konsekuensi bahaya bagi golongan pertama: kurangnya intensitas dalam pengalaman keagamaan. Konsekuensi golongan kedua: gugur syahadahnya. Di tinjau dari mudarat, pemahaman kokoh akan syariat tak bisa ditawar; ditinjau dari manfaat puncak kelezatan iman bisa kita petik dari ajaran taasauf yang muktabar. Wallahu a’lam

3. hendra - 19 July, 2006

mas madyo, saya pikir tuan rumah pemilik site ini juga bukan seorang tasauf-phobis, karena di artikel lain artikel yg pro-tasauf juga cukup banyak. Ada baiknya memang kita nguping pendapat yang pro sekaligus yang kontra. Good site, mas netlog!

4. Nur Khabib - 25 July, 2006

Astaghfirullah,
itulah kenyataan dari saudara kita dan kebanyakan orang yang hanya tahu kulitnya saja tanpa mau mencicipi isinya/ esensi islam iman dan ikhsan.
mereka mencibir dan antipati gampang menyesatkan dan sedikit2 bilang bid’ah dinding hijab mereka semakin tebal dan jauh dari Alloh, coba pakai rasa hati.
semoga Alloh membimbingmu ke jalan hidayah yang sebenarnya.

5. revuesuper - 9 August, 2006

Assalammu’alaikum,
Artikel sodara di atas cukup menambah wawasan saya,dan ada baiknya juga jika kita tilik dan pahami firman Allah Ta’ala di bawah ini:
“Maka bertanyalah kepada ahli Zikir jika kamu belum mengetahui” (QS: An Nalh 43)
kemudian:
“Dan sebutlah (Nama) Allah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dengan suara yang tersembunyi (tidak mengeraskan suara),diwaktu pagi dan petang,dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”(QS:Al A’raaf 205)
Berkata Saidi Syekh Al Junaidi Al Baghdadi:”Bahwa semua Thariqat (jalan) itu tertutup bagi manusia,kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW”
Semoga pemilik blog ini mendapat petunjuk dan ridho Allah SWT,dan juga segera menemukan thariqat yang muktabaroh dan menemukan guru mursyid yang bersilsilah.
wassalam

6. syiarizzad - 21 September, 2006

Terima Kasih kepada pemilik web ini. Semoga Allah mencampakkan semula naluri keimanan, keinsafan dan ketaqwaan kepada mereka yang tersesat dalam pencarian.Ingatlah syaitan sering membisikkan perkasa yang menyesatkan Saya amat tertarik dengan pandangan dan bukti yang dikupaskan oleh saudara. Tuhan tidak menyuruh kita berlebih-lebihhan dalam ibadat..sekadar cukup apa yang disampaikan oleh junjungan rasululllah s.a.w. Apa yang dilakukan oleh nabi muhammad kepada perkara wajib itu yang patut menjadi tunggangan kita sebagai seorang islam..bagi perkara yang sunat pula…nabi tidak memaksa umatnya melakukan tetapi menggalakkan kerana terdapat kebaikan didalamnya..terpulang kepada kita untuk melakukan atau tidak…kerana kita bebas untuk memilih tetapi setiap perbuatan haruslah ikhlas dan Allah memandang keikhlasan itu sebagai paling utama. Adakah dengan tassawuf boleh mengenyangkan kita, memberi nafkah kepada keluarga. Menjalankan urusan dunia.. yang telah diamanahkan kepada kita. Sewajahnya apa yang disampaikan oleh pesuruh allah itu yang patut kita amalkan…walaupun saya ini bukan seorang yang arif dalam bidang islam dan sedar akan dosa yang dilakukan namun..sering memohon keampunan kepada Alaah yang maha pemurah dan penyayang kecuali dosa besar. Hidup dan mati tetapi dalam islam…..

7. Al-Azhari - 21 September, 2006

Assalamualaikum warahmatullah..
Sesungguhnya Allah akan memberi petunjuk kepada sesiapa yang kehendaki dan Allah juga akan menarik balik petunjuk itu daripada sesiapa yang dikehendaki.
bagi pendapat saya, alangkah baiknya jika penulis website ini mengkaji dengan lebih mendalam lagi tentang ilmu tasawuf ini. carilah guru yang berwasilah.(jangan pula tersalah cari guru). “wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah. dan tuntutlah atasmu akan wasilah, dan bersungguh-sungguhlah kamu pada jalannya, Moga-moga kamu mendapat kejayaan”.dan saya percaya jika seseorang itu benar-benar mengharap akan Allah, maka allah akan memberi petunjuk (jalan) yang benar.
selalu berdoa kepada allah “ihdinassiro tol mustakim” tunjukilah aku ya allah jalan yang benar dengan bersungguh-sungguh. serta yakinilah bahawa allah itu maha pemurah lagi maha pengasihani.
insyaallah kamu akan mendapat taufik dan hidayah dari allah.

8. Al-Azhari - 21 September, 2006

Latar Belakang

Tokoh ulama ini adalah Tuan Guru Tasawuf mutaakhir yang penyusun kenali dan pernah menziarahinya dalam awal 1990an ketika kami merancang menubuhkan pusat pengajian ala pondok di Kampung Bayai, Serting Ulu. Dalam pertemuan di rumahnya di Kampung Kuala Rembang Panas yang ditemani sahabat bernama Saudara Ghazali Khamis, Tuan Guru ini menyarankan supaya penyusun menghubungi pihak agama Negeri terlebih dahulu bagi mendapatkan kebenaran. Kami sebelumnya berhasrat untuk memujuk beliau menjadi penasihat pusat tersebut tetapi kerana tidak bersetuju dengan seranan beliau, penyusun telah melahirkan protes kerana pada pandangan kami ianya lebih akan mengundang banyak karenah. Tuan Guru itu telah menepuk-nepuk peha kanan penyusun seolah-olah bersetuju atau sebaliknya.
Apabila dikhabarkan Tuan Haji Ahmad ini telah meninggal dunia, penyusun merasakan jasa dan sifat kewarakan beliau tidak mudah dilupakan oleh sesiapa sahaja yang mengenali batang tubuh Tuan Guru ini. Jesteru itu, amat wajar sekali riwayat hidupnya dirakamkan untuk pengetahuan generasi akan datang.
Allahyarham selalu disebut-sebut orang khasnya di Daerah Kuala Pilah sebagai guru tasawuf dan sholeh. Masa hayatnya, Tuan Guru ini biasa mengajar kitab tasawuf di masjid atau surau-surau di negeri ini. Walau bagaimanapun, pengajian di rumah beliau lebih ramai dikunjungi penuntut-penuntut berbagai lapisan masyarakat dari luar kampungnya. Mereka ada dari kalangan ahli profesional, bekas pegawai tinggi dan sehinggalah kepada anak-anak muda yang masih gila bermotorsikal. Namun, sebahagian besar penduduk kampung kurang berminat pula untuk bersila mendengar kuliah tokoh ini. Mungkin cara pengajaran dan membuka kitab tasawuf ini dianggap memberatkan bagi mereka yang tidak berminat.
Nama penuhnya ialah Lebai Ahmad @ Lebai Muhamad bin Haji Lasim. Beliau dilahirkan di kampung ini pada tanggal 7 Disember 1926. Nombor kad pengenalannya ialah 1641332 ( 261207-05-5099) beralamat di No. 6, Kg Kuala Rembang Panas, Juasseh, Kuala Pilah. Panggilan biasa Tuan Guru Haji Ahmad Kepis disebabkan beliau pernah bertugas sebagai imam Masjid Kuala Kepis. Bapanya berasal dari Kampung Tengah, Seri Menanti dan berkahwin dengan Lasam binti Deli penduduk kampung ini.

Pendidikan
Menurut isterinya , Haji Ahmad mula belajar agama di pondok Haji Abdul Majid Abdul Karim ( kemudian menjadi mertua) beberapa bulan sebelum pergi Ke Kelantan dengan abangnya bernama Haji Abdul Rashid ( meninggal dunia di Jemapoh). Di Kelantan mereka mengaji di Pondok Pasir Tumbuh untuk beberapa tahun sehinggalah pecah Perang Dunia Kedua. Dalam tempoh perang itu mereka telah balik kampung menaiki keretapi tetapi malangnya, ketika di kampung beliau telah dipaksa berkerja membuat lapangan terbang tentera Jepun di Ladang Juasseh.
Selepas perang, Haji Ahmad pergi pula mengaji agama di Paya Rumput, Melaka. Tarikh tepat dan lokasi pengajian beliau tidak diketahui oleh isterinya. Tetapi di Melaka inilah Haji Ahmad mendapat ijazah mengaji tarekat. Beliau dikatakan mengamalkan berbagai aliran tarekat seperti Tarekat Ahmadiah dan Satariah. Kemudian, beliau bersama abangnya keluar merantau lagi menimba ilmu agama. Kali ini di Pendang, Kedah. Mereka difahamkan memondok di dua tempat semasa di Kedah. Dalam tempoh 3 tahun itu, mereka terpaksalah mengambil upah di musim menuai padi untuk menampung sara hidup.

Berkahwin
Dijangkakan beliau berkahwin semasa masih mengaji di Kedah kerana Haji Ahmad pernah membawa isterinya berjumpa ( menyembah- istilah orang negeri) Tuan Guru di Kedah selepas mereka diijab-kabulkan. Waktu itu usia Haji Ahmad ialah 20 tahun. Mereka dikatakan lewat mendapat cahaya mata dan hampir 10 tahun berkahwin barulah dianugerahkan anak. Isterinya bernama Jariah binti Talib dan mereka memperolehi dua pasang cahaya mata. Apabila isterinya meninggal dunia dalam tahun 1965, beliau terpaksalah menjaga anak-anaknya sendiri.
Dalam tahun 1968, Haji Ahmad dijodohkan pula dengan anak kedua bekas Tuan Gurunya iaitu Haji Abdul Majid Haji Abdul Karim. Isteri keduanya ini ialah Hajjah Salma binti Abdul Majid berusia 29 tahun ketika itu. Hampir empat tahun isteri keduanya menetap di rumah isteri pertama Haji Ahmad sambil menjaga anak-anak tirinya. Setelah dipujuk maka Haji Ahmad bersetuju untuk membina rumah baru di tanah mertuanya iaitu tapak rumah sekarang dalam tahun 1971. Melalui perkongsian hidup dengan anak Tuan Gurunya ini, mereka dianugerah sepasang cahaya mata.

Mengajar
Haji Ahmad pernah mengajar di Sekolah Rendah Sungai Dua Besar dan paling terakhir di Sekolah Rendah Sungai Dua Kecil dalam Daerah Kuala Pilah bersara wajib dalam tahun 1982. Hanya selepas bersara barulah beliau aktif mengajar ilmu tasawuf bermula di rumah-rumah orang yang berminat untuk belajar di Kampung Lubuk Kitan, Juasseh. Walau bagaimanapun, selepas motorsikalnya kehabisan minyak sewaktu keluar mengajar malam dan terpaksalah beliau mengheret motorsikalnya balik ke rumah dan pernah juga tersesat di Felda Bukit Jalur. Haji Ahmad semacam serik keluar mengajar selepas itu dan menyarankan sesiapa yang berminat untuk mengaji supaya datang sendiri ke rumahnya.
Akhirnya rumah beliau telah menjadi tumpuan orang ramai untuk mengaji ilmu tasawuf. Permintaan orang ramai dari beberapa buah masjid dan surau juga mendadak naik. Beliau hanya sanggup menunaikan hajat orang jika ada kenderaan menghantarnya ke tempat-tempat tersebut. Di rumahnya bilangan penuntut semakin ramai dan memaksa beliau membesarkan ruang tamu rumahnya dan membina bilik air tambahan di luar rumah. Kebanyakan yang hadir mengaji ialah orang-orang luar kampung terdiri dari pesara-pesara, wanita dan anak-anak muda yang dahagakan ilmu agama. Ada kalangan mereka datang dari jauh seperti dari Johor, Selangor atau Kuala Lumpur.

Kitab Pengajian
Sebagaimana yang telah dimaklumkan, Allahyarham Haji Ahmad lebih menumpukan mengajar ilmu tasawuf. Kitab-kitab yang sering dibawanya ialah Kitab Darul Napis dan Al Hikam. Guru yang mengajar kitab tasawuf adalah kurang lantaran ianya memerlukan kesungguhan atau guru itu sebagai cermin ilmu. Pastinya penuntut yang berminat mendalami ilmu tasawuf itu sendiri akan menjadikan gurunya ‘role model’ mereka.
Dalam kitab Wasiat Imam Ghazali – Minhajul Abidin, menyatakan ilmu tasawuf adalah ibadah batin. Jika ibadah seperti sholat, zakat, naik haji dan lain-lainnya dianggap ibadah lahir maka yang batinnya seperti ikhlas, bertawakkal, menjauhi sifat keji seperti takabbur, ujub, riya’, buruk sangka dan sebagainya. Pada hakikatnya, tiada manusia yang besar kerana kebesaran atau baiknya seseorang akan diketahui jika saat ajalnya kelak husnul khatimah, tetapi jika suul khatimah penyudahnya maka mereka adalah terlalu kecil dan hina sekali. Kerana itulah ibadah batin seperti mengaji tasawuf ini penting.
Penyusun mengira Tuan Guru ini telah memahami sikap masyarakat sekampungnya bila tidak berminat mengikuti kuliah-kuliah beliau dan bersikap acuh tak acuh dalam mempelajari agama. Yang baik kepada mereka diterima tetapi yang menyusahkan pada kebiasaan mereka akan ditolak walaupun itu tuntutan agama. Disebabkan jadual kuliah di rumahnya agak padat maka kerap pula beliau tidak dapat menghadiri aktiviti penduduk kampung. Keutamaan mengajar ilmu dan kurang menyertai aktiviti orang kampung ini mungkin menambah prasangka masyarakat sediada. Ekoran dari itu, wujudlah salah faham dan membawa kepada kunjungan pihak tertentu menyiasat latar belakang Tuan Guru ini. Ada tekanan supaya Haji Ahmad menghentikan kuliahnya dan mendakwa tahap pengajarannya tidak sesuai untuk orang awam. Media cetak juga pernah mengisytiharkan ‘pembawaan’ Tuan Guru ini telah disenaraikan hitamkan. Oleh kerana ada tekanan, beliau pernah menghantar surat perletakan jawatan sebagai imam masjid sebanyak dua kali dalam tahun 1993 dan surat bertarikh 20 September 1995.

Jadual Kelas
Kelas pengajian di rumah beliau seperti berikut:
Hari Ahad – Terbuka untuk umum. Bermula jam 8.00 pagi hingga 10.00 pagi.
Hari Selasa – Terbuka untuk umum. Bermula selepas sholat magrib.
Hari Rabu – Khas untuk wanita. Bermula jam 8.00 pagi hingga 10.00 pagi.
Hari Jumaat – Pengajian untuk anak-anak muda. Lebih 30 orang yang hadir.
Keperibadian
Allahyarham disifatkan sebagai seorang yang berbudi bahasa, lemah lembut dan bersifat kasih sayang. Beliau tidak pernah bercakap kasar dan merotan anak-anaknya. Sebahagian besar masa hayatnya ditumpukan kepada membuat amal ibadah. Bibirnya basah dengan zikirullah dan sering bertahajud. Sehinggakan bila kakinya membengkak sebelum meninggal dunia, isterinya menyangkakan kaki suaminya bengkak kerana terlampau banyak bersholat malam. Jiwanya bersih dan tiada jiwa pendendam, miskipun ada yang memandang serong kepada beliau.
Haji Ahmad menunaikan fardhu haji kali pertama bersama isterinya dalam tahun 1973 ketika masih menggunakan kapal laut. Selepas itu keraplah beliau ke sana dengan anak menantunya dalam tahun 1982, 1989 dan terakhir pada 1996.

Hari-Hari Akhir
Bengkak kaki kanannya mungkin menjadi penyebab. Beliau terpaksa diusung ke Hospital Kuala Lumpur dan menerima pembedahan. Agak lama juga Allahyarham menderita sakit ini dan dalam tempoh itu juga beliau dipilih sebagai Tokoh Maal Hijrah Peringkat Daerah Kuala Pilah bagi tahun 2003. Beliau sempat menghadiri majlis pengiktirafan itu dengan keadaan kakinya masih belum sembuh. Pandangan serong terhadap beliau sebelum ini mungkin sudah dilupakan. Tidak beberapa lama selepas itu, beliau kembali dimasukkan ke Hospital Kuala Pilah. Di sanalah, Tuan Guru ini menghembuskan nafas terakhirnya di sisi isteri tercinta. Lidahnya sentiasa basah dengan zikirullah. Pergilah lagi seorang tuan guru dari Tanah Daerah Mengandung Kuala Pilah dengan tenang dan akan sentiasa dikenang. Di sijil kematiannya tercatat tarikh beliau meninggal dunia pada jam 5.15 pagi pada 26 Januari 2003 ( usia 76 tahun) kerana sakit ” Non Hodgrin Lymphome With Neutropemia Sepsis”.
Di sini penyusun paparkan juga beberapa perkhabaran tentang kelebihan Tuan Guru ini semasa hayatnya. Bahawa ilmu Allah itu terlalu besar dan tidak menghalang pula bagiNya untuk memberi kepada sesiapa yang dikehendaki.
Kerap jamaah haji yang mengenali beliau terserempak batang tubuhnya di beberapa tempat di tanah suci Mekah. Apabila balik ke tanahair dan ditanyakan kepadanya tentang pertemuan itu, beliau mengiakan pula.
Allahyarham pernah memberitahu isterinya, dia ada tempat lain selepas kematiannya.
Pernah bercakap-cakap di kubur apabila menziarahi kubur anak muridnya di Kampung Keru, Padang Lebar, Kuala Pilah. Anak muridnya bernama Salleh. Bila ditanya dengan siapa beliau bercakap, dia menjawab bahawa dia berbual dengan Salleh.
Selepas menguruskan pengkebumian seorang penduduk kampungnya, beliau mengambil kayu dan memacakkannya di suatu tempat. Inilah tapak kuburnya nanti dan mewasiatkan disemadikan di situ.
Sewaktu terlantar di wad Hospital Kuala Pilah, beliau meminta jururawat bertugas membuka pintu bilik wadnya. Dia berkata, ramai tetamu akan melawatnya. Bila ditanya siapa yang akan datang, katanya para nabi dan wali-wali.
Ketika anak-anak muridnya membetulkan papan liang lahatnya, ada kalangan mereka melihat jenazah Tuan Gurunya telah tiada.
Ada seorang anak muda yang selalu mengikuti kuliahnya telah bermimpi, Haji Ahmad duduk di kerusi cantik dan ditemani Tok Kenali. Tok Kenali memberitahu bahawa Haji Ahmad adalah kawan muzakarahnya.

Banyaklah lagi tanda-tanda keramah semasa hayat dan selepas kematiannya. Beliau juga mewasiatkan supaya sholat atas jenazahnya diimami oleh menantunya bernama Abdul Mukti Haji Zakaria sewaktu di rumah dan di masjid pula oleh menantunya Zulfikri Md Zin yang berasal dari Kodiang.

Kunjungi http://afdhal2004.blogdrive.com/

posted by TENGKEK KELUARGO BOSA | 7:52 PM | 0 comments

p/s:
Memang tidak dinafikan terdapat bermacam2 ajaran yang sesat diluar sana. Tetapi itu bukannya sebab mengapa kita harus menganggap semua ajaran tasawuf itu sesat. Ajaran itulah yang diajarkan oleh Rasul Allah. ajaran tasawuf itu tidak sesat selagi ianya terus berpegang kepada Al-Quran dan As-sunnah.-al-zahri-

syed - 21 May, 2014

adakah sekarang kelas beliau di ambil alih anak muridnya?

9. AhMad - 23 September, 2006

(artinya): Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. (Al Maidah : 67)

- betullah tu.., habis tu kat mana salahnya..??? macam engkau jugak, kalau kau tak siarkan mesej aku ni berarti kau tak menyampaikan risalah aku.

Dari Rasulullah SAW:
“Dialah yang awal, Dialah yang akhir, Dialah yang batin, Dialah yang ZAHIR” – renung2kan….

Dari Allah SWT:
“HANYA Aku yang mengetahui siapa yang mengikut jalan yang sesat dan siapa yang mengikut jalan yang benar”
- Jadi, adakah engkau cuba mengaku yang engkau lebih besar dari Allah Taala? nauzubillah himin zalik..

Kalau bukan dari kalangan ahli tasawuf, jangan bisa cepat menghukum karena hukum itu bisa balik kepada tuannya..

ikutlah nasihat kawan tadi: bagi pendapat saya, alangkah baiknya jika penulis website ini mengkaji dengan lebih mendalam lagi tentang ilmu tasawuf ini. carilah guru yang berwasilah.(jangan pula tersalah cari guru). “wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah. dan tuntutlah atasmu akan wasilah, dan bersungguh-sungguhlah kamu pada jalannya, Moga-moga kamu mendapat kejayaan”.dan saya percaya jika seseorang itu benar-benar mengharap akan Allah, maka allah akan memberi petunjuk (jalan) yang benar.

10. angling nur - 20 November, 2006

Seru juga bisa baca forum yang disajikan, hanya saja konyol menanggapinya. Jangan tergesa gesa menyerang membabi buta orang lain daripada membuka aib diri sendiri. Lebih baik hati hati dan introspeksi diri jauh lebih baik. Banyak ayat disitir tapi jangan lupa, apakah sudah paham betul dengan ayat itu, paham apa yang tersurat dan paham yang tersirat? Perkiraan saya, cobalah tunjukkan kalau memang paham yang tersirat. Semoga kita semua diampuni Allah Azza wa Jalla.

11. odrep - 24 April, 2007

sudah menjadi masalah klasik pro-kontra soal tasawuf, kalo boleh mengutip sedikit tentang nasehat iman gazali kepada muridnya yang isinya adalah: belajar soal ilmu agama secukupnya sesuai kemampuan mu yang penting di amalkan jangan sampai kamu banyak belajar soal agama tapi tidak di amalkan !, jadi bagi orang2 yang maqamnya hanya tau shalat lima waktu dan puasa di bulan ramadhan ya gpp atau ada orang yg mendalami ilmu ihsan (soal etika kepada tuhan) ya monggo. sing penting tdk lepas dari alquran dan sunnah.

Kurang bijak tampaknya kalo kita hujat sini hujat sana merasa kita yg bener trus yang lain salah, padahal ilmu kita hanya setitik air dari samudranya gusti allah. baru tau sedikit soal hadist sudah menyalahkan sana sini atau baru tau alquran sedikit sudah merasa paling bener dewe, ati2 sama rasa paling bener dewe mas jgn2 sampean nyeplung ke sifat sombong yg notabene nggak jauh dari sifat Iblis (ya sombong itu tadi).

salam

12. ikhwan - 29 April, 2007

Dia yg awal dan Dia akhir,
Dia yg zahir dan dia yg bathin,
Peganglah dgn tali Allah jangan kamu bercerai berai.

13. Potro - 29 May, 2007

Tasawuf SESAT jika yg menjalankan itu SESAT
Tasawuf BENAR jika yg menjalankan itu BENAR

14. pejalan - 6 June, 2007

antarane wong melek karo turu ake sing turu, sing nyoto melek tapi turu ancene angel golek melek seng bener bener melek.

15. Eko Suprapto Wibowo - 17 June, 2007

hehehe
susah deh :p

tapi saya aktif di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Tabligh_Jamaat
dan … senang aja dan batin bahagia ngeliat banyak anak jalanan, preman, musisi, pejabat, dsb dsb dsb, mulai menegakkan sholat berjamaah, mempunyai perasaan mulia dsb dsb dsb.

Itu aja deh.
Susah bicara lintas pemahaman, … soalnya hati ini gak terlalu kuat.

(pasti deeeh, langsung dicaci dan dihina begitu bilang aktif di Tabligh) :D

af1
Subhanakallahumma wa bihamdika
Asyhadu anlaa ilaaha illa anta
Astaghfiruka wa ‘atubuilaika

16. ki bodong - 18 July, 2007

saya menangis ketika mereka memahami kulitnya seakan akan mereka tergila2 sama pahala , mereka orang2 ambisius akan kesalehan, orang yang ambisius terhadap pahala, mereka tidak mencari dalam hati nurani mereka sendiri karena ketakutannya akan dogma2 syariat, renungkanlah apa yang ada dihatimu yang terdalam disanalah engkau akan menemukan jawaban sejatinya hidup

17. netlog - 23 July, 2007

Bahkan kita tidak berhak menyalahkan pendapat yang salah, sebelum kita mengetahui yang berpendapat (latar belakang pemahamannya).

Bayangkan seorang bayi yang mencakar atau bahkan memukul dengan kayu wajah ibunya, apakah bayi itu salah??? Tentu jawabannya TIDAK!!!, kenapa TIDAK??? karena bayi itu belum mengerti apa-apa, dan belum menyadari apa yang diperbuatnya.

Begitupula dengan pemahaman agama, yang lebih rumit dan banyak aspek yang melingkupinya, seorang menganggap tasawuf sesat (tentu ia punya alasan dan keyakinan) atau seorang menganggap syariat sia-sia (tentu ia juga punya alasan dan keyakinan pula), keduanya ada didalam ilmu-NYA.

Jadi kita hanya berhak mengkaji, tanpa boleh memberi vonis BENAR atau SALAH. mungkin bisa benar atau salah dalam pandangan kita, tapi belum tentu dalam pandanganNYA.

Ya, BENAR dan SALAH hanya boleh divonis oleh ALLAH SWT, karena DIA-lah yang mengetahui isi hati setiap insan.

Wallahu A’lam

netlog

18. Fajri - 28 October, 2007

Lebih baik pemilik site membahas yang diyakini sekarang saja. Kalau yakin dengan tasawuf ya bahas mutlak tasawuf. Saat ini menurut saya semakin banyak saja orang-orang yang pengen dianggap ‘nyleneh’ (aneh), mungkin dengan hal itu mereka puas karena berarti tidak tergantung pada penilaian selain Allah. Terserah orang mau menilai apa, yang penting aku pada-Nya. Namun hal ini secara tidak sadar telah sedikit membuat tasawuf bernilai jelek, aneh, bahkan (maaf) sesat di mata masyarakat umum.

Alangkah lebih baik kalau kita menjalani tasawuf dengan benar-benar amali, tidak banyak di bidang falsafi. Contoh saja Rasulullah yang tetap ‘sadar’ padahal tingkatan ilmu ketasawufan beliau tentunya paling TOP. Sangat baik membahas hakikat dari tiap perilaku, sikap dan ibadah kita sehari-hari, namun sebaiknya punya suatu ketetapan dan alur yang jelas. Tidak tiba-tiba dan terkesan (maaf lagi nih) “nyleneh”.

Mohon maaf sekali atas komen ini, komentar ini saya tujukan untuk semua, khususnya diri saya pribadi yang masih bodoh dan sangat jauh dari-Nya.

Semoga Allah selalu membimbing dan meridhoi kita semua untuk selalu dekat padanya, dengan mencontoh Rasulullah Muhammad SAW, Amin..

19. Yati Kosim - 11 December, 2007

Assalaamu ‘alaikum wr.wb.
Saya merasa senang membaca semua yang tertulis disini,bisa menambah wawasan saya yang masih sangat sangat awam mengenai Islam dan tasawuf. Entah kenapa, sejak kecil saya tertarik untuk membaca buku tasauf modern, tetapi saya juga kurang setuju kalau ada orang yang mengaku Islam tetapi tidak menjalankan sholat wajib 5 waktu dan puasa di bulan Rhamadan ! Dan juga saya merasa sedih karena makin sedikit kaum pria yang masih setia menjalankan sholat wajib 5 waktu secara berjamaah. Apakah ibadah yang harus disesuaikan dengan perubahan jaman ? Bukankah kita yang harus menjalani kehidupan kita tanpa meninggalkan kewajiban2 kita sebagai umat Islam ? Memang sulit tapi bisa dilakukan. Mohon maaf, pengin ikut urun rembug, tapi pengetahuan saya masih sangat terbatas. Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.

20. cah op - 6 February, 2008

lhawong wong bodo koq ngeyel karo wong bodo he……

21. Aseen - 26 March, 2008

Ass WR.WB.
Penulis yang terhormat, mungkin alangkah baiknya ketika sodara menulis dilihat dulu sumber yang dikutip dan jauhilah sikap profokatif,
1. seperti asal tasawuf tak ada pada zaman nabi, maka saya bertanya adakah, mazhab 4 syafi,i hanbali, maliki dan hanafi pada zaman nabi, adakah Nu, Muhammmadiah, wahabi persis dll zaman nabi, berarti semua itu bid,ah dong kenapa anda mengakui 4 mazhab tersebut. seandainya anda mneganalogikan sufi bid,ah dengan alasan tak ada pd zaman nabi, semua tersebut di atas adalah bid’ah dan anda mengakui 4 imam, betapa tidak konsistennya anda.
2. betulkah para iama 4 pernah menyatakan pernyataan di bawah ini
“Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan menjauhi
orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang.
Diantaranya ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa
tentang perkataan Al-Harits Al Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857 M.).Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama mereka.” (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi) – Ibnul Jauzi “Talbis Iblis”.
Imam Syafi`i berkata, “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum Dhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Imam Syafi`i juga pernah berkata.”Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal selamanya”
apakah falid sumber ini tolong di cek
3. Anda mengatakan bid’ah padahal anda sendiri adalah salah satu di antara penyampai penyampai bid’ah anda mengatakanbahwa imam ghazalai memberi teladan orang sufi yang identik dengan kesederhanaanh miskin, kumel, kemudian anda mengatakan”
Padahal Nabi mengatakan kebersihan sebagian dari iman” itu sungguh tak masuk akal karena nabi tidak demikian hadis yang anda maksud annadlafatu minal iman adalah hanya pepatah bukan hadis sedangkan anda mengatakan itu hadits, istighfarlah anda, kalau belum banyak tau jangan asala bicara, berbicaralah dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan jangan ngawur seperti itu, rasul SAW mewanti-wanti siapa yang berdusta tentang aku akan menempati tempaatnya di neraka, anda sudah melakukannnya, tnaggung resikonya yang mengatakan bukan hadits itu hadits.

22. netlog - 3 April, 2008

Mas Aseen,…

Sekali lagi saya minta maaf…

Dari Judul Blog saya sudah saya tegaskan tentang isi blog ini yang berupa kajian dari kumpulan artikel, walaupun saya menganggap suatu artikel salah ataupun benar saya tidak berhak memvonisnya.

Bukankah semua artikel itu ada dan tertulis atas kehendakNYA, jadi biarlah kita saling menelaah, mengkaji, dan memahami, semua yang ada.

Sebagaimana Rasulullah SAW, tidak pernah menghujat atau memvonis orang yang bersalah bahakan akan membunuhnya, Rasulullah SAW malah mendo’akan orang tersebut.

Itulah yang ingin saya capai pemahaman yang KAFFAH akan ISLAM, dengan tetap mencantumkan dan memuat kedua sisi yang telah diciptakan.

BAIK BURUK
BENAR SALAH
INDAH JELEK

semua ada untuk melengkapi.

Diatas langit masih ada langit…

Wallahu a’lam

Netlog

23. Raden Pandu - 30 June, 2008

Menurut saya,
Tasawuf adalah bagian dari Ilmu dalam Islam yang harus dikaji, bukan dihindari hanya karena dari luar atau kulitnya kelihatan exclusive, sulit dan sangat aneh dimata ahli syariat.
Kenyataannya, para pengelana (sufi) atau yang mempelajari tasawuf dan nikmat atas apa yg mereka temukan didalamnya, cenderung tidak pernah menghina, menjelekan ahli sunnah, ahli fiqih, dll. Mereka diberi kecukupan didalam kefakiran oleh Allah. Mereka terlalu asyik dalam khusyuk ibadah mereka, sehingga tidak ada waktu untuk menilai, menghujat atau terbawa urusan dunia. Ini saya kutif dari sahabat saya yg pernah menjadi orang dekat Ayatollah Khomaeni (pemimpin Iran).
Di Iran para sufi dihargai dan dihormati oleh pejabat dan pemerintah karena mereka jarang turun gunung. Kalau turun gunung mereka memilih di bulan suci, mereka suka memasak dan membagi-bagikannya kepada kaum dhuafa, bahkan konon para menteri dan pejabat pun senang dengan masakan mereka. Hanya saja ada beberapa golongan yang meniru lifestyle atau gaya sufi dengan berdandan dan berbicara atau berprilaku ala sufi, namun mereka bukan sufi. Umumnya bisa dilihat dari struktur tubuh. Para sufi terlihat berjidat hitam (karena terlalu banyak sujud), mata cekung dan pucat namun air muka tenang dan cerah (keseringan bangun disepertiga malam), perut kempes dan kurus (terlalu sering berpuasa) karena apabila tidak ada yg dimakan, mereka biasakan diri berpuasa. Sementara yang sufi ASPAL, kebalikannya, mereka gendut, jidat dihitamkan agar seolah-olah hitam karena terlalu sering sujud, tapi tambun dan doyan makan.

Sufi bagi saya adalah orang yg tidak pernah mengklaim diri mereka paling suci, paling alim, dan paling berilmu. Mereka tidak sombong, dan sangat pandai bergaul, serta tidak pelit ilmu. Hanya terdiam atau acuh tak acuh kalau tidak ditanya. Nah…dari sini saja nampak siapa yang salah dan siapa yang benar. Dihujat mereka diam…tapi kalian kok sibuk menghujat mereka, bahkan memvonis mereka? siapa yang beribadah kalau waktu dihabiskan hanya untuk bertengkar mencari yg paling benar diantara yang benar? OK lah yang merasa aliran anti tasawuf, hebat dan ahli ibadah…TOP DEH, apa itu saja orientasi anda hidup?.

Menurut saya, diutamakan pendidikan fiqih dan syariat dari awal bahkan dari umur yg lebih muda, semata mata guna mendudukan ilmu agama sesuai urutannya, dari yang termudah – madya – lalu lebih advanced atau sulit.

Kenyataan:
Bahwa 90% umat Islam saat ini lebih memilih yang gampang-gampang aja. Agak miring dikit, cari di alkitab acuan untuk membenarkan tindakannya, beres deh…semua jadi gampang, bahkan korupsi pun bisa di gampangkan…
Berbicara menurut ukuran nurani dan hati, Oops nanti dulu akh…gue kan masih muda mau menikmati dunia dulu….gitu lho…ibadah yang wajar-wajar aja…pokoknya dapet pahala, terhindar neraka, aman…zakat, ntar aja tunggu bulan ramadhan gue pasti berzakat. Tetangga mau mati kelaparan, EGP…begitukah Islam yang benar menurut anda?

Wasalam

24. Zhellavie - 4 July, 2008

BANTAHAN TERHADAP TUDINGAN TASAWUF / SUFI ADALAH SESAT

Hakikat Tasawuf Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?

Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.

Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.

Asal kata sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur’an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi’in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi kenapa orang2 wahabi/salafy kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran?

Sejarah Tasawuf

Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi’in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.

Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi’in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq

Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.

Tidak seluruh ajaran agama harus ada contohnya (dikerjakan langsung pada saat itu) oleh Rasulullah saw. Bisa saja Nabi hanya mengatakan itu tapi ia tidak melakukannya. Misalnya, Nabi saw memerintahkan umatnya untuk berziarah ke makamnya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berziarah kepadaku setelah aku meninggal dunia sama dengan berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup.” Pada saat itu Nabi tidak mencontohkan (tidak melakukan) untuk berziarah ke makamnya sendiri. Yang dimaksud dengan sunnah Nabi bukan hanya yang beliau contohkan saja. Yang dicontohkan oleh Nabi (yang dikerjakan langsung pada saat itu) disebut sunnah fi’liyyah. Tapi ada juga yang disebut dengan sunnah qawliyyah, yaitu sunnah yang hanya diucapkan oleh Nabi dan sunnah taqririyyah, sunnah dari diamnya Nabi.

Urgensitas Tasawuf

Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur’an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.

Berikut ini adalah hadis tentang keutama-an majelis zikir. Rasulullah saw bersabda, “Bila suatu kaum duduk dalam satu majelis dan bersama-sama berzikir kepada Allah swt, para malaikat akan mengiringi mereka dan mencurah-kan kepada mereka rahmat Allah swt.” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanad yang sahih dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum berkumpul berzikir kepada Allah dan mereka hanya mengharapkan keridaan Allah, para malaikat akan berseru dari langit: Berdirilah kalian dengan ampunan Allah kepada kalian dan seluruh keburukan kalian telah Allah ganti dengan kebaikan.” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dengan sanad yang hasan, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum duduk dalam suatu majelis tetapi selama mereka kumpul itu mereka tidak menyebut asma Allah swt atau shalawat kepada Rasulullah saw, maka majelis itu akan menjadi penyesalan yang dalam di hari kiamat nanti.”

Hadis ini sekaligus menyanggah pendapat Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan bahwa zikir berjamaah itu bid’ah (tidak mencontoh Rosululloh). Ibnu Taimiyyyah, yang terkenal karena kebenciannya kepada tasawuf dan tuduhannya bahwa para sufi itu kafir, berkata: “Sesungguhnya majelis zikir itu bid’ah. Adapun majelis zikir adalah bid’ah yang dibuat oleh orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada pengikut tasawuf abad ke-2 Hijriah. Setelah itu, pada majelis zikir itu ada yang memasukan tarian, nyanyian, dan memukul-mukul genderang yang mengacaukan zikir.”

Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.

Tasawuf dan Tuduhan-Tuduhan Miring
Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.

Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya.
Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud – tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.

Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.

Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.

Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah.
Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.

Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy(Jadhab) dan dalam keadaan sadar.
Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.

Kesimpulan

Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada penyimpang oknum atau lembaga sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak apada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur’an dan Hadis. Diluar itu ditolak!

Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhamad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Oleh karena itu sesungguhnya tasawuf adalah Islam, dan Islam adalah tasawuf. Untuk mencapai kesempurnaan ibadah dan keyakinan dalam Islam, seseorang hendaknya mempelajari ilmu tasawuf melalui thariqah-thariqah yang mu’tabar dari segi silsilah dan ajarannya. Para ulama besar kaum muslimin sama sekali tidak menentang tasawuf, tercatat banyak dari mereka yang menggabungkan diri sebagai pengikut dan murid tasawuf, para ulama tersebut berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah yang arif, bahkan walaupun ulama itu lebih luas wawasannya tentang pengetahuan Islam, namun mereka tetap menghormati para syaikh yang mulia, hal ini dikarenakan keilmuan yang diperoleh dari jalur pendidikan formal adalah ilmu lahiriah, sedangkan untuk memperoleh ilmu batiniyah dalam membentuk qalbun salim dan kesempurnaan ahlak, seseorang harus menyerahkan dirinya untuk berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh tasawuf yang sejati.

Empat orang imam mazhab Sunni, semuanya mempunyai seorang syaikh thariqah. Melalui syaikh itulah mereka mempelajari Islam dalam sisi esoterisnya yang indah dan agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.

Imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

Imam Maliki (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris, 150-205 H ; Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i) berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:

1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, hal. 341)

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H ; Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

Syaikh Fakhruddin ar Razi (544-606 H ; Ulama besar dan ahli hadits) berkata, “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)

Ibn Khaldun (733-808 H ; Ulama besar dan filosof Islam) berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)

Imam Jalaluddin as Suyuti (Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”

Bahkan Ibnu Taimiyyah (661-728 H), salah seorang ulama yang dikenal keras menentang tasawuf pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf : “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dll.

Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128. Ibnu Taimiyyah berkata, “Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.

Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, yang merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini didalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.

Seperti itulah pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang tasawuf. Mereka semua mengakui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh thariqah pada masanya masing-masing. Oleh karena itu tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini, mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah adalah orang-orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran, orang-orang yang hatinya dipenuhi nafsu duniawi dan keangkara murkaan, sesungguhnya yang sesat adalah mereka tidak mengikuti jejak-jejak para ulama kaum salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawuf Islam.

Orang-orang yang menusuk dunia Sufi dalam Islam dan ingin merobohkan bahkan ingin menghancurkan dengan berbagai kedustaan, dengan melemparkannya melalui pandangannya yang sesat terbagi menjadi berbagai kelompok: Ada yang memusuhi karena benci dan dendam pada Islam, ada juga karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf, lalu mereka terkubang dalam kebodohan yang mendustakan.

Kelompok Pertama:
Adalah musuh-musuh Islam dari kaum Zindiq Orientalis dan anthek-antheknya melalui rentetan perang Salib dan aktivitas kolonialisme yang penuh dendam, semata mereka hanya ingin merobohkan benteng-benteng Islam, menghancurkan rambu-rambu utamanya, dan menebarkan racun permusuhan dengan mengembangkan konflik antar barisan Islam.

Mohammad Asad, salah satu orientalis yang masuk Islam telah membuka kedok mereka dalam bukunya, al-Islam fi Muftariqit Thuruq, ketika membicarakan pengaruh perang Salib.

“Mereka memiliki semangat besar untuk meneliti Islam dalam rangka mengetahui rahasia kekuatannya, agar mereka tahu dari mana pintu-pintu masuknya, dan dari gerbang mana jalan menuju umat Islam untuk merobohkan dan merekayasa keburukannya. Diantara para orientalis itu, yang paling berpengaruh adalah RA Nicholson dari Inggris, Goldziher Yahudi, Louis Massignon dari Perancis dan lainnya.

Di satu sisi mereka menebar racun dalam madu, dan memuji Islam dalam sebagian buku-bukunya agar menarik respon pembaca. Ketika mulai tertarik, mereka membuat pengaruh pada akidahnya, lalu menebar kebatilan dalam hatinya untuk ditaburkan pada Islam, dengan berbagai dosa dan dusta.

Kadang-kadang mereka membuat rincian akademik yang spesifik, bahkan berjubah keagamaan, lalu mengenalkan Tasawuf sebagai ruhnya Islam. Namun di satu sisi mereka menegaskan bahwa Tasawuf itu sesungguhnya warisan dari Yahudi, Nasrani dan Budha. Mereka membuat keraguan pada pembacanya bahwa Tasawuf adalah pandangan yang telah menyimpang dan sesat, seperti pandangan tentang Hulul dan Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Wahdatul Adyan.

Kita tahu, dan kita tidak asing dengan tudingan mereka, karena mereka adalah musuh. Karena demikian watak musuh dan pemakar. Kita tidak perlu lagi merinci hujatan mereka, karena kita sudah mengenal watak para musuh dunia Sufi dengan tujuannya yang begitu kotor.

Namun yang memprihatinkan kita adalah mereka yang mengaku sebagai tokoh Islam, tetapi mereka mengadopsi pandangan-pandangan musuh Islam itu untuk dijadikan pegangan demi menusuk Islam dari dalam, menusuk Ruh-nya Islam / Mutiara Islam, yang tidak lain adalah Tasawuf. Apakah dibenarkan bagi seorang muslim yang berakal, mengambil pandangan dari musuh-musuh Islam yang kafir demi menusuk sesama saudaranya yang muslim? Maha Suci Allah, sungguh sebuah kebohongan besar.

Kelompok Kedua
Adalah mereka yang bodoh terhadap ajaran hakikat Tasawuf Islam, karena mereka tidak mendapatkan bimbingan dari tokoh Sufi yang benar dan dari kalangan Ulamanya yang Ikhlas. Bahkan mereka mengambil analisa tentang tasawuf dengan pandangan yang mengaburkan, jauh dari kejelasan dan fakta.

Mereka ini terbagi-bagi:
1. Mereka mengambil pandangan Sufi dari kalangan yang mengamalkan tasawuf secara menyimpang yang mengaku sebagai gerakan Tasawuf, tanpa membedakan antara hakikat Tasawuf yang terang dengan peristiwa-peristiwa penyimpangan tasawuf.
2. Ada kalangan yang terpeleset karena sesuatu yang ditemukan dalam kitab-kitab Tasawuf, sebagai rahasia tersembunyi, lantas menafsirkan menurut selera mereka tanpa adanya pendalaman hakikatnya, bahkan mereka memahami menurut perspektif mereka sendiri, menurut pengetahuan mereka yang terbatas dan dangkal. Tanpa mereka mau merujuk pada wacana dunia Tasawuf yang terang dan jelas yang tidak melanggar syariat. Mereka tidak menerjemahkan melalui pandangan kaum Sufi sendiri terhadap hal-hal yang tersembunyi itu.

Mereka ini semisal orang yang dalam qalbunya ada penyimpangan dan penyakit jiwa, lalu menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Mutasyabihat dengan penafsiran dangkal mereka yang menyimpang, tanpa mereka memahami ayat-ayat Muhkamat (tegas) dan jelas makna dan tujuannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab, darinya ada ayat-ayat Muhkamat dan disanalah ada Ummul Kitab, dan ayat lain bersifat Mutasyabihat. Sedangkan mereka yang hatinya ada penyimpangan, mereka mengikuti yang kabur dari ayat itu demi menimbulkan fitnah dan meraih rekayasa pemahaman.”

Karena itu agar tidak disalahpahami, sejumlah Ulama Sufi menjelaskan berbagai rahasia Tasawuf dalam kitab-kitabnya, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby dalam kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah dan Ar-Risalah oleh al-Qusyairy.

= = = = = = = = = = = = = = =

GAMBARAN FAHAM SALAFI/WAHABI SAAT INI
YANG MEMVONIS THORIQOH ADALAH SESAT

Salafiyah Tidak seperti yang kami duga sebelumnya, mungkin juga anda, almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum’ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam lainnya yang selama ini dikenal moderat, ternyata juga tak luput dari hujatan, dibid’ahkan, bahkan kadang dianggap berpikiran sesat, oleh sekelompok orang yang mengaku salafi. Syeikh Ghazali menamakan kelompok yang kerap mengaku paling salafi ini sebagai Salafi-Baru.

Tak cukup individu saja yang dikecam, organisasi-organisasi sosial-keagamaan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seperti Nahdhatul Ulama (NU), Jama’ah Thoriqoh Muktabarok (Thoriqoh yang diakui keabsyahannya di dunia Islam), Ikhwan Muslimin, dll, pun juga kena semprot bahkan dikatakan sesat. Seringkali yang terakhir ini diplesetkan menjadi Ikhwanul Muflisin.

Fenomena ini, dalam konteks kepentingan Islam global, tentu sangat tidak menarik, bahkan mengkhawatirkan! Karena mengganggu soliditas dan persaudaraan umat. Juga mengganggu konsentrasi primer yang lebih mendesak untuk digarap umat Islam dewasa ini, yaitu pendangkalan pemahaman hakikat Islam, mengentas kemiskinan, mengejar ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tec, wawasan peran global dan hal krusial lainnya.

Terma Salaf

Secara etimologis, kata salaf sepadan dengan kata qablu. Artinya setiap sesuatu yang sebelum kita. Lawan kata salaf adalah khalaf (generasi setelah kita). Kata ini kemudian menjadi sebuah terminologi untuk menunjuk pada generasi keemasan Islam, tiga generasi pertama Islam: para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in atau Salaf Shalih. Istilah ini merujuk pada hadis Nabi: Khairul quruni qarni….. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam wacana Islam kontemporer, kata salaf kemudian diimbuhi ya nisbat pada hurup akhirnya: menjadi salafi, kadang juga salafiyah – dengan penambahan ta, setelah ya, untuk menunjuk pada kelompok Islam yang menjadikan cara berpikir dan suluk generasi salaf sebagai sumber inspirasi. Bahkan beberapa kelompok salafi menganggapnya sebagai mazhab.

Terma salafi pada perkembangan berikutnya, mengalami metamorfosis dan tidak bisa diartikan tunggal lagi. Kalimat itu menjadi multi makna. Sikap tak terburu-buru dalam analisis menjadi sebuah keniscayaan ketika menemukan kalimat salafi. Karena pada tingkat sesama pemikir saja, umpamanya, konotasinya bisa berbeda satu sama lain. Misalnya, Goerge Tharabisi dan Aziz Azmah, menggunakan kata salafi untuk sesuatu yang pejoratif: untuk menunjuk arus pemikiran atau kelompok yang anti segala hal yang berbau modernitas dan anti pembaharuan. Lawan dari terma salafi model ini adalah progresif (taqadumi). Sementara, Abid Jabiri, Fahmi jad’an, dan sebagian orientalis menggunakan istilah salafi untuk menunjuk pada setiap gerakan atau pemikiran Islam, yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama pemikirannya. Makna yang terakhir ini cakupan lebih luas: memasukan banyak tokoh dan kelompok Islam, baik yang moderat, “literal” -dzahiriyah judud, dan semua kecenderungan pemikiran yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama.

Pada tingkatan klaim antar sesama kelompok pengikut salafi, juga tak kalah ruwetnya. Banyak sekali kelompok yang mengklaim dirinya sebagai salafi hakiki. Di Kuwait, misalnya, data menunjukkan ada lima kelompok yang sama-sama mengaku sebagai salafi, satu sama lain saling kecam dan mendaku sebagai yang paling sah.

Sejatinya, salaf bukanlah sebuah mazhab dan juga bukan personifikasi individu. Seperti pernah disinggung di atas, ia adalah sebuah generasi yang disabdakan Nabi sebagai generasi terbaik, yang mencakup tiga generasi Islam pertama. Kenapa dianggap yang terbaik? Karena mereka adalah generasi yang paling dekat, dengan pengertian seluas-luasnya, dengan masa kenabian. Terutama generasi pertama yang langsung dapat bimbingan dari Rasulullah Saw. Apa makna hadis ini bagi generasi setelahnya? Hadis ini mengajak kita semua untuk menjadikan metode berpikir dan cara bersikap mereka sebagai sumber inspirasi. Bukan malah dijadikan mazhab! Maka tak semua yang mengaku salafi akan otomatis berpikiran kolot. Tergantung kepada artikulasi dan cara memahami pola berpikir dan suluk salaf shalih itu sendiri. Dalam pandangan saya, salafi sejati tidak akan berpikir dan bersikap kaku. Dan kata salaf sendiri secara bahasa sangat netral dan sama sekali tidak mengandung arti pejoratif.

Hanya saja, karena berbagai faktor, pada akhirnya, istilah salafi sangat identik dengan kelompok Wahabi, sebuah aliran yang didirikan Syeikh Muhamad Bin Abdul Wahab (1703-1791) di Najd, Arab Saudi. Sebagian dari mereka, ada perasaan bahwa dirinya lah yang paling salafi. Mereka sendiri, sebetulnya lebih enjoy dipanggil salafi, daripada Wahabi.

Tapi, sayangnya ditangan mereka, makna salafi kemudian dicederai, dikerangkeng pada permasalahan furu’iyah dan perdebatan-perdebatan lama ulama klasik, baik di bidang Fikih, Ilmu Kalam, Tashawuf. Dalam Fikih mereka lebih konsen: membid’ah-bid’ahkan tradisi maulid nabi, ziarah, tawasul dan yang sejenisnya. Dalam Ilmu Kalam, alih-alih menanamkan hakikat makna tauhid, mereka memperdebatkan kembali tentang, misalnya, asma wa sifat dan bahayanya menta’wil ayat ar-Rahmanu ‘ala al-’arsyi istawa dengan tawil sebagai kinayah dari keagungan Allah Swt, dll. Mereka akan mengecam siapa pun yang tidak sejalan dengan alur pemikirannya. Tak heran, kalau dicermati karya-karyanya, maka kita akan menemukan daftar-daftar bid’ah mulai yang klasik sampai bid’ah kontemporer. Judulnya pun bisa kita tebak seputar rad wa al’tirad mandul: fulan dalam timbangan Islam, mengcounter pemikiran fulan atau menelanjangi pemikiran fulan. Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh untuk mendiskusikan kembali soal-soal di atas. Yang tidak boleh adalah menjadikan permasalahan di atas sebagai prioritas utama.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar singkat untuk membedah dan mendiskusikan kembali metode dan gerakan Salafi-Wahabi saja. Tak akan membahas gerakan salafi secara umum. Sudah kita maklumi semua, akhir-akhir ini, dalam beberapa hal, sebagian oknum yang berafiliasi pada kelompok Salafi-Wahabi dianggap kerap melakukan tindakkan-tindakkan yang berpotensi merusak citra Islam, meresahkan dan banyak menimbulkan perpecahan dikalangan intern umat Islam. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara dimana ada komunitas Islamnya, termasuk di Barat. “Lawannya” pun di batasi hanya dari kelompok-kelompok moderat saja: Syeikh Qaradhawi cs. Artinya, kritikan-kritkan keras Wahabi yang ada di tulisan ini, ditunjukkan buat tokoh-tokoh di atas yang selama ini dianggap moderat dan diakui otoritas keilmuannya. Poinnya, betapa sama tokoh moderat pun Wahabi masih merasa kegerahan. Sebelum mengenal lebih jauh tentang dasar pemikiran Salafi-Wahabi, ada baiknya kita petakan secara sederhana dulu gerakan awal salafi, dengan menjadikan Mesir, Maroko dan Saudi sebagai sampel.

Peta Gerakan Salafi

Gerakan Salafi, lebih-lebih mulai awal abad 19 M. tidak hanya disuarakan di Arab Saudi saja, tapi juga di berbagai negara Islam, diantaranya Mesir, dan Maroko. Yang menyatukan gerakan salafi ditiga negara itu adalah keseriusannya terhadap pemberantasan bid’ah, purifikasi akidah, perlawanan atas gerakan tasawuf. Mungkin karena suasana dan tuntutan lingkungan yang berbeda, membuat Salafi Maroko dan Mesir dengan Jamaludin al-Afghani dan Muhamad Abduh sebagai pionirnya kemudian mempunyai kekhasan yang tidak dimiliki Salafi-Saudi atau Salafi-Wahabi. Misalnya, Salafi Maroko dan Mesir bisa lebih terbuka dengan modernitas dan tidak berhenti berkutat pada persoalan purifikasi akidah saja. Mereka mengalami lompatan perjuangan. Dalam kasus salafi Mesir, mereka langsung bergelut dengan problem kebangsaan yang sedang dihadapi. Abduh berani melakukan pembaharuan keagamaan, bahasa Arab dan reformasi fundamental metode pendidikan di universitas al-Azhar. Salafi Mesir juga bergabung bersama pemerintah mengangkat senjata untuk mengusir penjajahan Perancis. Hal yang sama pun berlaku bagi kelompok Salafi Maroko.

Sementara Salafi Arab Saudi dihadapkan pada kenyataan lain. Mereka sibuk bertempur dengan saudara seagama. Secara eksternal dan dengan diback-up Inggris, mereka berperang melawan Dinasti Ustmani. Pada tingkat internal mereka keasyikan melakukan purifikasi akidah dan memberantas tarekat-tarekat sufi yang saat itu berkembang pesat di Arab Saudi. Latar belakang inilah mungkin yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kelompok salafi Arab Saudi sangat keras: berpikir sempit dan kolot.

Dasar-Dasar Pemikiran Salafi-Wahabi

Apresiasi kita sama Wahabi yang sangat peduli dengan laku sunah, otentifikasi sanad hadis, purifikasi akidah dengan memberantas bid’ah-bid’ah, tak bisa menghapus kesan kuat, bahwa secara umum, baik dalam bidang pemikiran, keagamaan, sosial dan politik sebagian orang yang berafiliasi kepada Wahabi banyak mengadopsi pendapat-pendapat keras-kaku. Mulai dari mengharamkan sistem demokrasi, sistem partai, konsep nation-state, kepemimpinan wanita –bahkan wanita tidak boleh menyetir mobil sendiri, membid’ahkan maulid Nabi, ziarah kubur, zikir jama’ah, anti sufi sampai fatwa haram menggunakan sendok makan (lihat misalnya fatwa salah satu tokoh Salafi-Wahabi Yaman, Syeikh Muqbil dalam bukunya: as-Shawaiq Fi Tahrim Malaiq atau Halilintar: Tentang Haramnya Memakai Sendok.

Mencermati daftar permasalahan-permasalahan yang disesatkan-dibid’ahkan oleh mereka, maka kita akan berkesimpulan, bahwa kebanyakan daftar itu masuk wilayah mukhtaf fihi: suatu wilayah yang masih dan akan selalu diperdebatkan karena berangkat dari dalil yang tidak qath’i ats-tsubut wa ad-dilalah atau tidak ada ijma ulama. Sebetulnya sikap ulama klasik sudah sangat jelas dan bijak, bahwa dalam wilayah yang masih mukhtalaf fihi, siapa pun tidak boleh memaksakan pendapatnya. Karena akan terjebak pada fanatisme bermazhab dan perpecahan seperti sekarang ini. Semua orang bebas dengan pilihannya.

Pertanyaannya: apa gerangan yang menyebabkan konsentrasi mayoritas dari mereka tersedot pada hal-hal yang masih diperdebatkan? Apa yang membuat mereka seolah lupa bahwa masalah pokok umat Islam sekarang adalah kemiskinan, ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tech dan bidang primer lainnya?

Realitas di atas terjadi karena dasar pemikiran mereka banyak berlandaskan pada, diantaranya:

1.Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid’ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.

2.Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.

3.Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.

4.Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.

5.Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!

6.Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam

7.Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap alergi dengan hal-hal baru.

Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi : Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.

Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam

Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah, para Sahabat, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.
Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam, para Sahabat, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah ) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.
Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi..

Poin-poin di atas, menggiring kita pada kesimpulan bahwa Salafi-Modern mengalami krisis metodologis dan krisis fikih prioritas. Maka tak terlalu mengherankan kalau mereka juga biasa mengecam keras, dan sering gerah dengan sikap dan pendapat tokoh yang saya sebutkan di mukadimah yang dikenal moderat dan mumpuni secara keilmuan. Kesimpulan ini tentu tidak bisa digenerilisir begitu saja kepada semua Salafi-Wahabi. Karena ini sikap yang tidak ilmiah dan tak adil. Tapi, minimal, kalau kita amati buku-buku yang beredar tentang salafi yang ditulis oleh kalangan mereka, juga mengamati milist, maupun website yang dikelolanya, sedikit banyak anda mungkin akan setuju dengan kesimpulan saya. Lebih-lebih kalau yang dijadikan sampel adalah kalangan generasi mudanya.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, dengan kritikan ini tidak berarti kita memandang remeh pada hal-hal yang mereka bahas. Juga tak berarti mereka tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang menjadi keyakinannya. Itu adalah hak mereka. Yang salah adalah ketika pendapat-pendapat itu diekspor melewati teritorialnya kemudian dipaksakan kepada orang lain. Dan siapa saja yang menolak atau tidak ikut pendapatnya maka akan dihukumi bid’ah, bodoh akan hukum Islam dan disesatkan!

Yang paling mengkhawatirkan bagi kita, krisis ini menyebabkan mereka sering kehilangan akal kesadaran akan kepentingan global umat Islam, bahwa kita sedang dikepung arus globalisasi dan era pasar bebas yang tak mungkin dihindari. Arus ini bisa menggerus siapa saja yang tak berdaya. Ya, saya takut kita kehilangan rasa persaudaran, rasa sepenanggungan dan militansi akan kepentingan umat Islam! Padahal sekarang ini umat Islam bukan pemegang pentas dunia, baik sosial, politik maupun ekonomi. Artinya kita butuh ukhuwah untuk menegaskan identitas kita, lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Bukan Ukhuwah yang hanya berhenti untuk membangkitkan romantisisme masa kejayaan silam. Ukhuwah yang dimaksud adalah untuk membangkitkan tekad membangun kembali peradaban Islam.

Sebagai penutup, marilah kita sadar fikih prioritas dan saling bahu-membahu pada hal yang kita sepakati, dan memberikan kebebasan memilih pada hal yang masih mukhtalaf fihi. Dan dalam bidang hukum Islam, khususnya, dan pemikiran pada umumnya mestinya sekarang ini jangan hanya mencukupkan diri pada apa yang telah dihasilkan ulama klasik sambil berteriak: ma taraka al-awal lil-akhir! (bahwa semuanya telah dibahas ulama klasik). Tapi harus menggabungkan antara apa yang pernah diwariskan ulama klasik dengan produk kontemporer. Dengan begitu kita tak tercerabut dari akar identitas kita, juga tak kaku-gagap dengan segala hal kebaruan. Konsep ini berdasarkan pada kenyataan bahwa setting formulasi-formulasi pemikiran ulama klasik banyak dihasilkan tepat pada saat umat Islam memegang kendali dunia. Ingat data sejarah mencatat -+ 700 tahun kita memegang peradaban dunia. Misalnya saja konsep bahwa non muslim yang tinggal di negara Islam harus mengenakan pakaian tertentu atau konsep uang yang wajib dizakati adalah uang yang berbentuh dinar dan dirham saja. Padahal dua jenis uang itu, kesaktiannya telah digantikan oleh uang kertas, khususnya dollar, dll.

Realitas saat ini sangat berbeda. Umat Islam sedang terpuruk dalam banyak hal. Data dilapangan menunjukan 50% umat Islam pendapatan perkapitanya dibawah 2 dollar. Dengan pendapatan itu jangan berpikir bisa meningkatan kualitas pendidikan. Membuat anaknya tidak kelaparan saja sudah sangat layak mendapatkan gelar Bapak Teladan!
Sekarang pertanyaannya: Sudah siapkah kita untuk lebih mendahulukan persatuan dan kepentingan umat?

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

(SEBUAH PUISI TENTANG TUHAN)

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK
21 April 2008 10:58:19

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia
Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!

Ya Tuhan!

(BEGITU MUDAHNYA MEREKA MEMVONIS SESAMA MUSLIM YG BERTHORIQOH DENGAN KATA2 SESAT, SEAKAN LEBIH TUHAN DARI TUHANNYA NABI MUHAMMAD SAW SENDIRI)

25. sufimuda - 25 July, 2008

“Barang siapa yang diberi petunjuk maka dia akan mendapat petunjuk, barang siapa yang disesatkan tidak ada seorang WALIYAMMURSYIDANA pun memberi petunjuk”
Ada baiknya membaca artikel lain :
http://sufimuda.wordpress.com/2008/07/18/tasawuf-bukan-berasal-dari-islam/
Trimakasih, semoga kita bisa saling bersilaturahmi

26. Iman Al PAhyubi - 23 September, 2008

Assalamu Alaikum
Alhamdulillah Puji Syukur Kehadirat Allah SWT atas nikmat Iman dan Islam buat kita semua dan Semoga salam dan shalawat selalu tercurah Kepada Nabi Mauhammad SAW beserta keluarga dan umatnya hingga akhir zaman nanti..Aamin..
melihat seringnya arikel ini muncul dalam setiap pencarian mengenai tokoh sufi diinternet dan komentar yang muncul dari tulisan ini maka saya jadi ingin juga berkomentar..
sebaiknya tulisan ini tidak lagi dikomentari terlepas tulisan ini benar atau salah, mengapa saya bilang begitu karena tulisan ini bisa membuat kita semakin tidak bersatu dalam islam bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa kaum ku akan terbagi dalam 72 aliran dan hanya satu yang selamat..islam dirahmati dengan perbedaan pendapat oleh Allah SWT agar kita dapat terus berkembang dan maju bukan untuk ribut dan saling menyalahkan bahkan saling mengkafirkan diantara kita..untuk itu yang perlu kita lakukan untuk menanggapi semua hal ini adalah sifat yang lebih bijaksana bukankah menurut salah satu saudaraku yang mengomentari tulisan ini dalam komentarnya mengatakan bahwa para sufi tidak pernah peduli dgn cacian atau pendapat orang ttg mereka jadi mengapa kita pun jika anda menggaanggap bahwa adalah sufi adl suatu kebenaran harus pusing dgn cacian org ttg sufi toh tasawuf bisa bertahan ratusan tahun dari cacian tanpa membela diri sedikit pun? jd jgnlah kita makin terpuruk kepada perbedaan pendapat yang akan membawa kita pada keterpurukan, permusuhan dan kehancuran krn hal inilah yg diinginkan oleh para musuh islam sebab tanpa kita sadari inilah yg sedang terjadi dgn kita sekarang krn tulisan ini..berkeyakinanlah ttg islam menurt saudara2 sendiri tanpa hrs memaksakan keyakinan itu untuk diyakini oleh orang lain krn Nabi SAW tidak pernah menyebarkan Islam dgn pemaksaan..islam adalah agama pilihan dan rahmat bagi alam semesta ini maka untuk itu kita yang beragama islam hrs juga menunjukkan diri sbgai hamba pilihan Allah bg kaum non muslim dgn sikap yang mulia dan bukan dgn saling mencaci dan bermusuhan..akhir kata Kebenaran hanya milik Allah SWT dan ilmu Allah sangatlah luas untuk itu marilah kita bersama mencari kebenaran yang berasal dari Allah SWT tanpa merasa diri yang paling benar..semoga dapat bermanfaat..
Wassalamu Alaikum

27. anak neghori - 25 December, 2008

saya dilahirkan dari kelompok ‘la mazhab’ ( tidak bermazhab/ ittiba’ assunnah) di Kuala Pilah dan ibu pula dari kaum tua ( assyafie). Lalu saya mengenali mereka semua dan mengikuti kuliah dari kedua-dua pihak sejak dulu. Membidaahkan golongan syafie dan Imam al Ghazali mmg kesukaan suatu pihak dan yang lagi satu sehingga mufti kerajaan Negeri Sembilan anggap golongan ini sesat. Saya? saya ikuti semua pengajian semua pihak dari sekolah hingga universiti. Saya tertarik membaca buku al ghazali dan menggauli guru tareqat atau tasawuf. Jiwa jadi tenang dan saya juga suka Pak Hamka dari Muhammadiah… kita kehilangan tokoh begitu baik. Masing-masing ada peranan dalam meninggikan syiar Islam. Seharusnya kita menyanggah golongan anti Islam, Sekular dan ajaran sesat yang ramai di luar sana.

28. Mulia - 30 December, 2008

Assalam…..
sebelumnya tiada yank bisa terucap, coz terlalu buanyak yank belom q ketahui.
Tp, point penting q benar-benar tertarik belajar ilmu tasawuf.
jauh dalam diriq, pingin bisa beribadah bukan coz mengharapkan surga or takut akan segala siksa+neraka Allah, tapi coz qt benar2 mencintai Allah dan harap keridloan-Nya semata.
Mengenali Allah dengan segala keelokannya….
Buaanyak lagi….

29. radenmas - 29 January, 2009

seru oi.. yah inilah salah satu website jaman sekarang.. mengemukakan/ menampilkan pendapat/ berita yang memancing pro dan kontra.. walaupun kadang belum tentu benar karena ada berbagai sudut pandang… tapi klo dalam hal tasawuf ini.. saya sangat tidak setuju dengan pendapat tasawuf adalah sesat.. karena yang saya rasakan adalah nikmatnya cinta kepada Allah melalui tareqat dan tentu saja dengan tetap menegakkan syari’at..

wassalam..

30. cakra - 11 May, 2009

orang bego jangan di dengerin kite liatin aje ajak berantem aje deh jangan pake debat yang ginian mah klo kalah kite belajar sm die nih mana yg di ridhoi Alloh die apa si bego nih………….

31. cakra - 11 May, 2009

wah nih orang ngaji nye di hotel nih kg di gubuk ke enakan nyalahin orang terus. antum ungkap kebenaran antum dengan bukti nyata klo dgn dalil banyak bro yg nte kg tau yg cm tau nye cm segitu doang….. kg ada apa2nye nih orang klo ktemu ane TAMPOL enak banget nih…. mau tau gak bukti nyata nye gak lm nte lewat nih alias Almarhum

32. cakra - 11 May, 2009

mudah2n antum BABI yg jalan nye kg permisi nyeruduk terus dan anjing dan monyet dll ngerti yeh….!!! sm yg ginian mah jgn ke halusan rugi tenaga bro

33. netlog - 14 June, 2009

:) Alhamdulillah….

Terima kasih atas komentar dan hujatannya…
aku tidak akan menjawab banyak, aku hanya menulis dan mempertentangkan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, juga manusia dan iblis,

Semua itu kulakukan agar kita benar-benar bisa mencapai pemahaman yang KAFFAH tentang ISLAM dan hakekat hidup.

Seperti kata-kata temanku “KECINTAANKU KEPADA ALLAH TIDAK MENYISAKAN TEMPAT DIHATIKU UNTUK MEMBENCI IBLIS”

Belajarlah membaca ayat pertama alqur’an Yaitu Iqro “Bacalah” dalam arti yang terdalam.

Semoga dapat membantu.
Netlog.

khalil - 25 September, 2010

assalamualaikum….janganlah berfikiran sempit sangat sekalipun perkataan tasawwuf itu tidak ada di dalam al quraan itu bukan beerti salah,,,berbilion-bilion perkataan yang xde tertulis di dalam al quraan tetapi di guna pakai oleh manusia pada hari ini..takan semua nak tulis dalam quraan,,agak2 tebal mana alquraan tu jadi ,kalau semua perkataan nak tulis dalam quraan..apa yang penting pengisiannya,jalannya dan tujuannya…fikir masak2….kalau dah pening sangat tanya balik agak2 daripada sapa perkataan tu datang????????kalu tiap2 sesuatu daripada allah…?

34. syamsudin( alias pak cam ) - 25 October, 2010

siapa yang bilang tasawuf sesat……sebaiknya anda sholat istikhoroh dulu sebelum menuduh………..mudah2an diberi petunjuk oleh ALLAH..dalil2 yang anda ungkapkan anda blom memahaminya…

tasawuf adalah perjalanan para wali2 ALLAH SWT.para wali adalah kekasih2 NYa…

inget pesan nabi……Barang siapa yang memusuhi wali2 ALLAH SWT. maka jadilah dia musuh ALLAH SWT. ( al hadist )
masih Berani meneruskan….tuduhan….sesat…..ilmu anda tidak sebanding dengan ulama2 sufi yang anda lecehkan…ingat diakherat mereka akan menuntut kepada anda…dihadapan..ALLAH…SWT

saya tersinggung anda melecehkan ulama karena ulama adalah pewaris para nabi yang bisa kita ikuti …

semoga bermanfaat

35. acep husni mubarok - 7 December, 2010

asalmualaikum…..
semoga di rahmati Allah swt,,saya tidak akan membahas masalh tasawuf, tapi saya sedikit menambahkan,, bisakah anda sedikit mempunyai ahlaq,, tidak layak anda mengatakan ”berkata” Allah swt dan rosulullah saw,,. Allah berfirman,, rosul bersabda,,

36. afdhal - 7 January, 2011

Saya setuju dgn Khalil 25 Sep 2010, jgn susahkan otak utk fikir perkataan Tasawuf yg tiada dalam Quran, pokoknya ilmu ini mendidik ke arah kebaikan. Saya pernah berjumpa ustaz dari kelompok anti tareqat namun tiada jaga bab aurat dan masih bersama golongan sekular atau menjadi ahli partai tidak Islamik. Beliau gemar ke arah berpolemik dan debat. Alangkah baiknya jika mereka seperti Pak Hamka yang sopan, warak dan dihormati semua pihak. Pak Hamka dari golongan Muhamadiah tetapi datuknya Assyafieah dan bersuluk.

37. Badai malam - 7 January, 2011

Saya ahli tareqat Ahmadiah dari Bukit Abal, saya mengamalkan zikir yang baik-baik. Masihkah saya seleweng? sedangkan ramai sahabat yang tidak mempedulikan zikirullah? saya cuba menjaga akhlak semoga Allah memberi rahmat dan hidayah, mengikut kuliah tasawuf secara konsisten.

mahir rashidi - 19 September, 2011

waalaikumussalam,

Teruskan amalan saudara kerana mutiara di dasar lautan kadang-kadang disangka kaca di tepi pantai.

Wallahualam.

38. EPOTEA - 13 July, 2011

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

39. MZ Arifin. - 30 July, 2011

terpuruk, sesat, tertinggal, lemah,
pada muslimuun, dari zaman walisongo sampai sekarang,
terutama adalah karena sekitar 70% jamaah masjid2 tak hafal terjemahan faatihah.
harus segera kita atasi bersama.
tasawwuf, wahabi, salafi, nu, muhammadiyyah, abangan, kejawen, silahkan saja,
asal 100% jamaahnya, anggota2nya, semua mampu hafal terjemahan faatihah.

40. mahir rashidi - 19 September, 2011

berhati-hati menghakimi sesuatu yang kita jahil terutama jika kita bukan ahlinya.

Wallahualam.

41. aishah - 10 November, 2011

insya-allah, sangat berterima kasih dgn ulasan anda. Ianya tidak harus menghentikan semangat anda mengajak ke arah kebenaran. Yang penting, kita tidak prejudis dan tidak melabelkan sesama muslim. Setiap kali menulis, perhatikan kesedaran diri samada kita mahu menonjolkan pendapat diri sendiri atau menjalani perintah Allah. Semoga Allah menjadi penolong kepada orang-orang yang melakukan kebajikan kerana-Nya.

42. Juna Arisman - 4 January, 2012

mantap

43. Azan - 27 January, 2012

Saudara, anda harus adil melihat tasawwuf,
kebanyakan anda mengutip hadits2 yg memang maudhu ttg tasawuf, memang byk pihak yang mengetahui kebenaran agama ini lewat tasawuf kemudian menfitnah tasawuf dgn berbagai cara termasuk dgn mengeluarkan hadits mungkar,
tetapi apakah anda sudah tabayun kepada ulama hakiki ttg tasawuf yg bersih dari fitnah.
anda menulis tulisan ini tidak pada tempatnya dan menempatkan tasawuf sebagai bahan kesalahan.
Anda mengambil byk perkataan2 Ibnu Taimiyah, yang notabene di zamannya telah disingkirkan pendapatnya oleh jumhur ulama.
Mengapa anda tidak mengambil perkataan para salafusalih tentang tasawuf jika anda mengaku sebagai salafi?
Imam Abu Hanifah berkata: “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. (Durul mukhtar)
Imam Malik berkata:Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dan fikh dia meraih kebenaran).” (‘Ali Al-Adawi)
Imam Syafi’i: “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu: mereka mengajariku bagaimana berbicaramereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembutmereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf [Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas)
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Anakku, jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, maka mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi)
Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al- Albab, vol. 1, p. 120)
Ibn Khaldun berkata: “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabiin, and Tabi’ at-Tabi’in. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]
Imam Tajudin Assubki berkata: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” (Mu’id an-Na’im hal 190)
Imam Assuyuti berkata dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya hal. 57: “tasawuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

MASIH BANYAK LAGI PERKATAAN ULAMA DARI ZAMAN SALAF, KHALAF, MUTTAAKHIRIN, YANG SEPAKAT BAHWA:
TASAWUF ADALAH CORE OF ISLAM, INTI KEBENARAN ISLAM.

Maka, wajar saja sesuatu yang menjadi inti (ruh), maka banyak yang mendengki dan menfitnah, walaupun itu keluar dari orang yg dianggap ulama.

Ya akhi, masyaAllah.. takutlah kepada ALlah atas sesuatu yang antum belum paham hakikatnya, sembrono dalam mengungkapkan sesuatu yg anda tidak paham dan hanya mengikuti perktaan org yg dangkal ilmunya.

cobalah tilik sejarah, tidak ada tokoh ISlam yang berhasil dalam setiap perangnya, seperti Muhammad AL-Fatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, keculai mereka adalah tokoh2 yg mencintai tasawuf dan ulama2 tasawuf di zaman mereka.

Anda mengambil ilmu dan pendapat siapa lagi kalau tidak pendapat para salaf yg shalih, jangan mengmbil pndapat para salafi yg keblinger memahami syariat.

azan_noordien@hotmail.com

44. Eyang Wiro-Gendheng 818 G.Sindoro & G. Murio - 4 June, 2012

Ass.ww. sekolah umum jmn sekrg, dimulai dr tk – sd – smp baru sma.. setelah lulus sma, ada yg langsung kerja, tpi banyak pula yg kuliah S1. Lulus S1 ada yg mengambil S2, juga sampai S3, tpi banyak jga yg lgsung kerja.. Wilayah Syari’at, setinggi2nya, hanya s/d SMA, smtara S1 adalah Thoriqoh/Tarekat, S2 adlh Chaqeqot dan S3 adlh Makrifat.. S1-S3 adalah wilayah Tashowuf. Mustahil dlm keadaan normal (kecuali Khowariqul ‘adah), seseorang bisa jalani S1-S2-S3 Tanpa Lulus SMA.. Namun jga sebaliknya, Mustahil seorang SMA, akan mendapat kesempurnaan ilmu, kalo dia tidak ke jenjang yg lebih tinggi.. Sudah mjd SUNATULLOH..bhw seorang SMA yg bergaji tinggi akan menghina seorang Mhs. S1 yg masih miskin, butuh biaya & energy utk menempuh jenjang yg lebih tinggi, smtara sebenarnya dia masih butuh bimbingan..seperti “bayi yg mencakari ibunya” di atas.. Kita harusnya KASIHAN dg para murid SD-SMP-SMA yg ber-teriak2 bhw DIA YG PALING BENAR atau DIA YG SUDAH BENAR.. krn HIDAYAH itu adalah HAK PREROGATIF ALLOH, maka saya yg Dlo’if, Bodho dan Gila ini, meminta kpd adik2 (krn saya yakin usia anda kebanyakan di bwh 50th) dan teman2, utk tidak ber-mujadalah.. Lebih baik kita BISO RUMONGSO (bisa merasa) daripada RUMONGSO BISO (merasa bisa).. Lebih baik kita perbanyak DZIKRULLOH drpd Mengotori Hati dg Hal2 yg bersifat Maksiat (baik badan, apalagi Hati) kpd Bendoro / Juragan kita.. juga Lebih baik kita DIKATAKAN GILA, daripada MERASA WARAS.. Krn Lebih Nikmat kita Gila krn ALLOH, drpd kita “Merasa Waras” padahal SESUNGGUHNYA MASIH GILA DUNIA dg isinya.. BAROKALLOH.. Salam hangat, Wass.ww. Eyang Wiro-Gendheng 818 G. Sindoro & G. Murio.

45. adit - 16 June, 2012

dalami dulu biar paham

46. iriawan - 31 August, 2012

Ass. wr. wb.
Saya ini orang bodoh tentang agama, saya bukan orang cerdas yang harus mampu menguasai ilmu agama baik tasawuf maupun syariat, tapi saya tidak mau menjadi orang musyrik yang kekal dalam neraka, dan tidak mau dianggap sebagai orang munafik yg hanya mengaku islam tp tidak menjalankan syariat agama. Layakkah saya dengan ilmu yang pas-pasan begini menjadi penghuni surga atau mendapatkan ridho Allah SWT kelak?

Dari pada saling menghujat tolong beri penjelasan pertanyaan saya ini.

Wassalam

47. firman - 17 October, 2012

Ass. Wr. Wb.

Berikut Firman Allah dalam surat Al Maidah:

alyauma akmaltu lakum diinakum wa-atmamtu ‘alaikum ni’mati warodhiitu lakumul islamadiina

“Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu ….”

Dengan kata lain bahwa agama islam telah sempurna, sehingga tidak perlu adanya tambahan2 syare’at lagi atau apapun yang tidak ada contoh dari nabi maupun para sahabat.

Wass.

48. anto - 18 October, 2012

Tasawuf itu hanya istilah. sesat atau tidak tergantung pelakunya. Apakah dia paham hakikat dirinya,tuhannya dan juga semesta alam ini?, lalu apakah dia mengamalkan di keseharian apa yang dipahaminya. Artinya sangat tergantung dari kapasitas niat, otak dan batinnya masing2. Ayat-ayat Allah itu bukan hanya Al Quran, tapi alam semesta ini juga ayat2 Allah yang wajib kita baca dan pahami.

aurora sari - 2 November, 2012

assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatu..
saya setuju.. katanya al-quaran tersebut terdiri dari 6666 ayat.. coba aja hitung sendiri apakah cukup 6666 ayat, kemana ayat yang lainnya.. apakah itu tidak perlu dipelajari untuk mengetahuinya ???

49. Abagas - 6 December, 2012

Pendapat anda cukup bagus,tapi tidak bagus untuk dipertahankan secara argumen.karena anda bukan seorang yang paling tau tentang agama islam.

50. cumapeppy - 13 December, 2012

assalamu’alaikum…
1. tidak semua istilah dan perkataan itu harus termuat dalam al quran. karna al quran bukan kamus.

2. mengambil dan menukilkan hadis maupun perkataan para imam jangan sepotong-potong apalagi gak faham makna yg sebenarnya. Tidak semua bisa diartikan secara harfiah tok. Maka jadilah salah memahami makna yang sesungguhnya.

3. Hati-hati dalam memahami dan mempelajari tasyawuf. Apa lagi cuma pake ilmu pengetahuan dan hukum akal serta logika. Mau mengarungi luasnya dirgantara tak cukup hanya menggunakan layangan sahabat. Apa lagi cuma sebatas ampling menganbil sebagian contoh, observasi, hipotesa dll. Yg gak bakal bisa.

he..he.. Setiap manusia sah-sah saja koq punya pendapat dan keyakinan toh hanya Allah yg maha tahu dan pemberi karunia. Saya melakoni tasyawuf dan toriqoh tapi koq yg saya rasakan dan fahami gak seperti yang sampean tulis ya ? Jauh berbeda banget. Sampean salah milih data paling kang ?

51. cumapeppy - 13 December, 2012

assalamu’alaikumm..
sudahkah kita faham makna dari kaffah dan hakekat iman islam dan ikhsan ?? semoga kita bisa ya sobat.

kaffah dalam lisan perbuatan dan kaimanan. san maaf komentar yang saya buatpun bukan untuk menghujat sahabat. Tpi seperti kata-kata sahabat. Memandang dan memahami dari sisi yang berbeda. Allah maha tahu atas segala sesuatu. Mudah-mudahan pendapat saya ini tidak untuk menyaingi pengetahuan Allah atas segala sesuatu. Atas tiap-tiap sesuatu.

52. abg Yus - 21 December, 2012

Awas fahaman salafy/wahabi yg tabiatnya mencari kesalahan amalan org lain, suka menuduh sesat kafir sesama Muslim, memusnahkan makam2 dan kesan sejarah Islam ,
sangat elergi kpd bidaah dan syirik, dunia maju kehidupan adalah dynamik,
tapi yg mengikuti fahaman salafy/wahabi mereka mundur, hidup di zaman dulu, tidak terima perubahan, mereka yg memberi nama busuk kpd agama Islam.
Awas salafy/wahabi tidak sesuai dinusantara ini yg bersifal aman, toleran dan hormat menghormati sesama Islam.

53. Ghafizh (@ghanny_trezz) - 22 January, 2013

astagfirullah…
assalamualaikum…
saya tidak setuju kalau tasawuf itu dibilang sesat…siapa yg bilang tasawuf itu sesat?
yang mengatakan bahwa tasawuf itu sesat mari berdiskusi dengan saya…mih alamat fb saya Ir ghanny billie rockavaller dan twitter saya @ghanny_trezz
terimakasih…jangan mengatakan sesat jika anda tidak mengetahui apa”…

54. afdal - 28 February, 2013

ikuti aja yang disuruh jauhi yang dilarang insa alloh kamu selamat

55. pengobatantotokhamilntur - 4 March, 2013

SEHAT DENGAN TOTOK SYARAF,GURAH DAN METAFISIKA.

“GUNTUR PAKARE” Ahli Totok Saraf, Gurah dan Terapi Tombo Ati hadir di Batam-kepulauan riau membantu keluarga Anda mengatasi keluhan kesehatan Anda diantaranya : paru-paru, sesak napas, batuk kronis, vertigo, migrain, alergi debu, asma, sinusitis, magh, stroke , badan mati separo, tekanan darah tinggi, kolesterol, sering kesemutan, saraf kejepit, sakit punggung, nyeri sendi, dan sakit leher, DLL. dan masalah penyakit non medis diantaranya: (masalah rumah tangga, masalah usaha/karir/jabatan, masalah pelaris usaha, masalah pengasihan/perjodohan,Insya Allah bisa tuntas dengan ritual metafisika). Dengan totok saraf akan menghilangkan kristal-kristal penyumbat aliran darah, kristal-kristal penyumbat darah itu bisa berupa: pasir halus, pasir laut, rambut, garam, komedo dll, semua penyumbatan itu akan keluar melalui telapak kaki Anda selama di terapi totok syaraf oleh Bpk. Guntur Pakare, ini bukan sulap…..!!! ini bukan sihir…..!!!, ini nyata…..!!!, kristal akan keluar dari telapak kaki Anda secara langsung, sehingga ketika penyumbatan – penyumbatan dalam bentuk kristal, pasir, rambut dan kadang seperti komedo sudah keluar dari tubuh Anda maka penyakit Anda secara bertahap akan pulih ….. buktikan sekarang juga ….!!!! Darah lancar penyakit buyar….!!!!! kunjungi alamat kami di:
PERUM AIRMAS MANDAR PARADISE BLOK.F No.9 BATU AJI – BATAM KEPULAUAN RIAU. (belakang RS.Charis Medika)
HP.0856 6830 3029
*Biaya terapi: sepantasnya dan seikhlasnya.

56. ubaidillah - 18 March, 2013

wahai saudaraku..
semoga kalian di rahmati dan d beri hidayah Allah..
1. Kembalilah kalian semua ke jalan Allah dan Rasulullah (Alqur’an dan assunnah)

sebagaimana Allah berfirman
“..jika kalian berselisih tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kpd Allah (Alqur’an) dan Rasul (sunnahnya),jika kalian benar2 beriman kpd Allah dan hari kemudian..”(QS.annisa 59)
“ikutilah apa yg diturunkn kpd mu dari Rabb-mu janganlah kamu mengikuti pemimpin2 selain Nya..(Qs. al a’raf 3)

Rasul bersabda
“..maka sesungguhnya org yg hidup setelah aku wafat diantara kalian akan terjadi perselisihan yg banyak,karena itu,berpegang teguhlah pd sunnahku & sunnah khulafa rasyidin,pegang teguhlah ia,dan gigitlah ia dgn gigi geraham..(HR.annasai dan tirmidzi)

jadi,kalau ada perselisihan kembalikan pd Alqur’an dan sunnah Rasul yg di fahami dan d amalkan oleh para sahabat Rasulullah

2. Jalan yg selamat/haq hanya satu jumlahnya sangat sedikit ditengah banyaknya umat/kelompok-kelompok manusia
sebagaimana firman Allah
“dan sedikit sekali dari hamba2Ku yg bersyukur”(Qs.Saba 13)

Rasulullah bersabda
“..umatku akan terpecah menjadi 73 golongan besar,semuanya d neraka kecuali satu yaitu yg aku dan para sahabatku meniti di atasnya”(HR.Tirmidzi)

“sesungguhnya islam pd permulaannya dlm keadaan asing,dan akan kembali menjadi asing seperti pd permulaannya,maka beruntung besarlah bg org asing”(HR.Muslim)

maka,jadilah kalian orang yg meniti jalan Rasulullah dan para sahabatnya,yang akan selalu di pandang asing/sesat pd banyaknya org

3. kita tinggalkan yg meragukan kpd yg tidak meragukan
(tasawuf itu meragukan, yg tdk meragukan Alqur’an&Hadits yg shahih)
bahkan imam abu hanifah berkata “Haram bg seorang mengikuti pendapat kami,selama ia tdk mengetahui dr mana (dalil) kami mengambilnya”

4. Supaya aliran sesat tdk masuk,maka bentengnya adalah tanyakan dalil mereka dr Alqur’an/hadits beserta periwayatannya..

Wahai saudaraku..
Pelajarilah Alqur’an & Hadits yg d pahami para sahabat Rasulullah,jgn mentakwil2 yg tdk d takwil Rasul dan sahabatnya,agama islam telah sempurna tdk ditambah dan dikurang.

57. abivara - 19 March, 2013

Udah deh jangan dipaksain.. Yang pasti kalo cinta kpd Alloh maka ikuti rosul (quran+sunnah yg shohih dn pemahaman sahabat) ga perlu d tambah_tambahi atau d kurangi atau malahan lagi d buat-buat.. Yang pasti semua mengharap masuk surga.. Ya seperti itu lah jalanya.. Dimana apa yang d ridhoi Alloh SWT adl masuk surga dan hamba yang d murkai adalah masuk neraka.. Itulah tujuan/kampung halaman yang abadi dan kekal.. Alloh Swt telah gamblang memberikan panduan/petunjuk berpa Alquran dan assunnah yng sohih dan kita tinggal memilihnya atau mengabaikanya (tentunya dgn pemahaman yang benar lah jgn asal asalan) sehingga tdk ada lg alasan kita terhadapNya.. Teruslah beljar dan telitilah dlm mngambl ilmu

58. aldio - 2 May, 2013

Soal nama-nama ilmu juga banyak yang bid’ah (baru), seperti ilmu fiqh,ushul fiqh,nahwu,ushuluddin,tafsir, ilmu tafsir,dll. Semua nama ilmu itu blm ada di zaman Nabi, beliau sendiri tidak menyebut ilmu-ilmu itu dalam hadisnya.Jadi nama ilmu2 tsb bid’ah semua, tapi bid’ah hasanah (baik) sehingga tdk sesat malah meningkatkan iman dan takwa jika isinya menghimpun ajaran-ajaran Rasulullah. Jd, ilmu fiq, tasawuf, ushul fiqh dsb tsb hanyalah klasifikasi dan sistematisasi ajaran Rasuullah sesuai bidang masing-masing.Sesat? tentu tidak jk demikian. Namun jika isinya menyimpang barulah sesat.Tapi hati-hati, jgn mudah menuduh sesat karena fikih juga ada perbedaan

59. bang jon - 17 August, 2013

setelah membaca tulisan anda membuat perut tersa mual, mau muntah, persis seperti provokator. mudah2an anda mendapat rahmat dri ALLAH SWT, amin..

60. spr - 22 September, 2013

Berdebat ttg tasauf tdk akan ada habisnya. Saya sdh lama ikut tarikat, mmg secara zikir utk dkt kpd Allah subhana wataala luar biasa indahnya. Tapi yg msh mengganjal dihati, kl mau sholat dan berdoa hrs menghadirkan mursyid dihati yg utama, baru Allah subhana wataala. Bgmn mungkin saya harus menomor duaakan Allah? Saya sempat protes tp jawabannya cuma ‘ berpeganglah kepada tali Allah’ seolah2 mursyid itu tali Allah padahal maknanya kan. Ajaran yg ditetapkan oleh Allah Subhana wataala. Soal pengkultusan jangan ditanya. Kl bs semua yg dianjurkan mursyid wajib diikuti, walau bertentangan dng tuntunan Rasulullah. Itu penyimpangan dasar tarikat. Kl. Isi yg lbh dalam lg lebih parah. Ketentuan maqom dan jumlah serta letak zikir ditubuh manusia berbeda2 sesuai dng lama tidaknya kita ikut suluk. Semua tidak ada sedikitpun dr tuntunan Rasulullah. Coba mau jujur para pengikut tarikat, benar apa nggak. .

61. nawawi - 20 October, 2013

Assalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh..

Panjangnya tulisan mungkin akan membuat malas utk membacanya, tp mudah2an tulisan ini ada manfaatnya bagi mereka yg ingin tahu sedikit tentang FIQIH & TASAWUF, berkaitan dgn maraknya dlm sesat menyesatkan sesama muslim khususnya di dunia internet..

Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan ajaran islam kepada para sahabat dahulu dalam sebuah paket yang lengkap.
Beliau tidak memilah-milahnya dengan mengatakan ini adalah ilmu akidah, ini ilmu fiqh dan ilmu tasawuf.
Karena itu kita tidak akan pernah menemukan kata tasawuf dalam ajaran beliau.

Paket lengkap yang diajarkan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam melingkupi tuntunan yang sifatnya lahiriah seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, haji dan lain sebagainya serta tuntunan yang sifatnya bathiniah seperti ikhlas, sabar, syukur, tawakal dan sebagainya.
Buat kita sebenarnya yang lebih penting bagaimana dapat menjalankan kedua tuntunan ini dalam kehidupan kita.

Misalkan kalau saya menggambarkan ajaran Islam itu seperti bunga mawar, dimana bunganya yang indah, dan ada wanginya.

Maka tuntunan lahiriah ibarat bunganya, sedangkan tuntunan bathiniah ibarat wanginya.

Karena tuntunan yang bathiniah tidak terlihat mata, maka seringkali hal ini diabaikan oleh kita.
Kita lebih cenderung mempelajari hal-hal lahiriah, mendiskusikan, bahkan mempersoalkannya.
Namun kita cenderung mengabaikan hal-hal bathiniah karena hal tersebut tempatnya di hati, tidak terlihat oleh mata kita.

Ilmu tasawuf sesungguhnya diperkenalkan oleh ulama-ulama terdahulu untuk mengingatkan umat pada saat itu, dan kita umat berikutnya tentang adanya sebuah komponen yang sering diabaikan yaitu tuntunan-tuntunan yang bathiniah tersebut.

Maka dari itu janganlah mempersoalkan apakah tasawuf ada atau tidak ada pada zaman Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, mungkin yang lebih penting adalah mempersoalkan apakah kita memperhatikan tuntunan bathiniah sebagaimana perhatian kita terhadap tuntunan yang lahiriah ?

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa dalam diri manusia ada segumpal darah; yang apabila ia baik maka baik pula seluruh dirinya, dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh dirinya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati”.
(HR. Bukhori Dari Nu’man bin Basyir ra)

Dari Abu Hurairah ra, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu tidak melihat kalian dari rupa dan harta-harta kalian, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat kalian dari hati-hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)

Fiqih dan tasawuf pada hakekatnya adalah ilmu lahir dan ilmu batin. Keduanya saling melengkapi, dan tidak bisa dipisahkan.

Ilmu Fiqih itu menfokuskan diri bagaimana Islam diterapkan secara lahiriah, bisa dikatakan semacam juklak atau petunjuk pelaksanaan bagaimana umat Islam menjalankan sholat, puasa, zakat, haji, mengubur jenazah, menikah, menghitung waris dan lain-lain.

Sedangkan Ilmu Tasawuf lebih menfokuskan praktek Islam secara batiniah, yaitu bagaimana mendekatkan diri kepada Allah secara ikhlas tanpa pretensi apapun kecuali kecintaan kepada sang Pencipta.
Dan juga bagaimana kita bisa merdeka dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah.
Karena semua penyakit itu akan berpotensi menjadi penghalang atau hijab antara manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka dari itu Imam Maliki / Malik bin Anas (Ulama besar pendiri mazhab Maliki), mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqo faqod tazandaqo, wa man tafaqoha wa lam yatasawaf faqod tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqoha faqod tahaqoq”.

Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari / mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.”
(’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

PENJELASAN :

“SIAPA YANG BERTASAWUF TANPA BERFIQIH, IA ZINDIQ”, YAKNI, ORANG YANG MELARUTKAN DIRINYA DALAM KESUFIAN SAJA TANPA MEMAHAMI SYARI’AT, DAN MENGGALI SYARI’AT ( FIQIH ), DIGOLONGKAN SEBAGAI ZINDIQ, SEBAGAIMANA KAUM YANG BERKHALWAT TANPA DIISI DENGAN IBADAH. MAKA APA ISI KHALWATNYA, KECUALI BERDIAM DIRI SAJA.

Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqh itu ialah ilmu pengetahuan yang membiacarakan / membahas / memuat hukum-hukum Islam yang bersumber bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain; setelah diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqh.

Sedangkan ilmu tasawuf itu adlh ilmu yg mengajarkan bagaimana kita bisa merdeka dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah.
Karena semua penyakit itu akan berpotensi menjadi penghalang atau hijab antara manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika pulang dari peperangan yang dahsyat, yakni perang Badar, tiba tiba Nabi Muhammad Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi mengatakan sesuatu yang luar biasa aneh ditelinga para sahabatnya.

Nabi mengatakan bahwa kita baru saja pulang dari peperangan yang kecil dan menuju ke peperangan yang sangat besar.

Karena kedengaran aneh dan mengagetkan, para sahabatpun kemudian bertanya, adakah peperangan lain yang sedang menunggu kita yang lebih besar dari peperangan yang baru saja kita lalui wahai Nabi?

Ya, jawab Nabi dengan tenang, YAITU PERANG MELAWAN HAWA NAFSU.

Sekelumit cerita Nabi bersama para sahabatnya yang baru saja melakoni peperangan Badar yang sangat dahsyat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa hawa nafsu itu sesungguhnya merupakan musuh nomor wahid bagi kita semua.

Bagaimana tidak, cukup banyak contoh nyata bagaimana seorang raja, presiden, dan para pemimpin tertinggi menjadi terperosok bukan dikarenakan kelemahan pasukan yang dimiliki, tetapi lebih disebabkan karena umbaran hawa nafsu.

Sedangkan letak hawa nafsu adanya dlm diri kita, dan Ilmu Tasawuf mengajarkan utk lebih menfokuskan praktek Islam secara bathiniah, krn nafsu adanya dlm diri kita.

Tp disisi lain kita wajib mempelajari Ilmu Fiqih yg menfokuskan diri bagaimana Islam diterapkan secara lahiriah.
Keduanya tdk dpt dipisahkan.

Tidak ada yang baru sebenarnya dalam prinsip-prinsip yang dipelajari dalam tasawuf, karena sesungguhnya, di zaman nabi pun tasawuf , fiqih, tauhid diajarkan dan dipraktekkan secara serempak, cuma klasifikasi ilmu-ilmu Islam tersebut barulah ada setelah jauh nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam wafat.

Tasawwuf sebenarnya sudah muncul sejak zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan shahabat.
Ciri utamanya adalah berlomba-lomba mencapai derajat ihsan. Hanya saja, pada waktu itu, istilah tasawuf sebagaimana yang kita kenal sekarang ini belum muncul.

Makanya tidak heran jika para ulama madzhab pun ternyata semuanya bertarekat dan mempunyai guru tasawuf ( murshid ) yang jelas silsilahnya.

*IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI )

(Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)
Imam Ahlur Ra’yi. Karena penggunaan rasio yang bebas dalam Mazhabnya.Hadits yang digunakan diseleksi dengan ketat.

Nama lengkap beliau adalah Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi, lahir di Kufah, Iraq pada 80 H (699 M), meninggal di Baghdad pada 148 H (767 M), merupakan pendiri Mazhab Hanafi.

Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Ja’far as Shodiq ra .

Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Ja’far as Shodiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqoq ra, berkata, “Aku mengambil Thoriqoh sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qosim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqothy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tho’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.

Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ( Ahli Fiqih ) ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah.
Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.

Imam Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok yaitu:
Al Kitab, As-Sunnah, Perkataan Para Sahabat, Al Qiyas, Al Istihsan, Ijma’ dan Uruf.

Imam Abu Hanifah adalah seorang Tabiin. Pernah bertemu dengan Anas bin Malik dan meriwayatkan hadis darinya. Beliau disebut sebagai tokoh pertama yang menuliskan kitab fiqih.

Diantara gurunya adalah Hammad bin Abu Sulaiman, Atho bin Abi Robah, dan Nafi’ maula Ibnu Umar.

Dan diantara muridnya adalah Abu Yusuf bin Ibrohim Al Anshori, Zufar bin Hujail bin Qois al Kufi, Muhammad bin Hasan bin farqod as Syaibani, Hasan bin Ziyad, dan lain-lain.

*IMAM MALIKI

(Malik bin Anas – Ulama besar pendiri madzhab Maliki)
Lengkapnya Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas.
Lahir di Madinah pada tahun 93 H (714 M). Dan wafat pada tahun 179 H ( 800M).

Beliau adalah pakar dibidang fiqih dan ilmu hadits, merupakan pendiri madzhab Maliki.
Fiqih yang beliau kembangkan bersandar pada penggunaan hadis dan kebiasaan penduduk madinah.

Kitab yang disusun oleh beliau adalah Al Muwaththo’. Memuat seratus ribu ( 100.000) hadis.
Yang paling terkenal adalah yang diriwayatkan dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Diantara guru beliau adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi al Muqbiri, Na’imul Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdulloh bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin Dinar, dll.

Diantara murid beliau adalah Ibnul Mubarok, Al Qoththon, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdulloh bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya Bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Zubairi, dan lain-lain.

Beliau juga murid Imam Jafar as Shodiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqo faqod tazandaqo, wa man tafaqoha wa lam yatasawaf faqod tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqoha faqod tahaqoq”.

Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari / mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.”
(’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

*IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205 H)

Muhammad bin Idris asy-Syafi`i, lahir di Gaza, Palestina, 150 H (767 M) dan wafat di Mesir pada 204 H ( 819 M ).
Beliau adalah pendiri Madzhab Syafi’i yang moderat.
Beliau adalah peletak dasar ilmu Ushul Fiqh.

Madzhab Syafi’i memiliki dua (2) dasar yaitu, Qodim dan Jadid.

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum adalah : Al Kitab, Sunnah Mutawatiroh, Al Ijma’, Khobar Ahad, Al Qiyas, Al Istishob.

Beliau adalah salah seorang murid dari Imam Malik di Madinah dan murid dari Muslim bin kholid az Zanji di Makkah.
Dan juga sempat menimba ilmu di Iraq dari murid Imam Abu Hanifah.

Diantara kitab yang beliau tulis adalah Ar Risalah, Al Hujjah, dan Al Umm.

Diantara para muridnya adalah Ahmad Bin Alhajjaj Al Marwazy, Ahmad Bin Kholid AlKhilal Al Baghdady, Ahmad Bin Sa’id Bin Basyir Al hamdzani, Ahmad Bin Sinan Al Qoththon, Ahmad Bin sholihAl Mishry abu Ja’far Aththobary, Ahmad Bin Asshobah Bin Abi Suraij Arroozy, Ahmad Bin Abdulloh Al Makky Al Muqry, dan lain-lain.

Ulama besar pendiri madzhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”

(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khofa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

Adapun maksud perkataan Imam Syafi’i rohimahulloh yg berkata : “Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu dzhuhur, engkau tidak dapati dirinya, kecuali menjadi orang bodoh”.
(al-Manaqib lil Baihaqi 2/207)

Perkataan Al Imam Asy-Syafi’i Rohimahullohu tersebut bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khowwas.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi.

Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tasawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208).

Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta muamalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.”
(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena perilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka.
(lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

BEGITULAH PENJELASAN TENTANG UCAPAN IMAM SYAFI’I YG SERING DI POTONG DAN DI SALAH GUNAKAN OLEH MEREKA YG MENYUDUTKAN SUFI.

*IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H)

Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.
Beliau adalah pendiri Madzhab Hambali.Mengumpulkan sebanyak 40.000 hadis dalam kitab musnadnya.

Dasar-dasar fatwa beliau terdapat dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.

Adapun dasar-dasar madzhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah : Nash Al Qur-an atau nash hadits, Fatwa sebagian Sahabat, Pendapat sebagian Sahabat, Hadits Mursal atau Hadits Doif, Qiyas.

Diantara para gurunya adalah Ismail bin Ja’far, Abbad bin Abbad Al Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir bin Qosim bin Dinar as Sulami, Imam Syafi’i, dan lain-lain.

Diantara murid beliau adalah Imam Bukhori, Muslim, Abu Daud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain.

Ulama besar pendiri madzhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka”.
(Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

DEMIKIAN SEDIKIT TULISAN TENTANG CATATAN BAHWA TERNYATA PARA ULAMA PANUTAN KITA PUN SELAIN SEORANG AHLI FIQIH JG BELAJAR TASAWUF DAN MENEKANKAN BETAPA PENTINGNYA BELAJAR TASAWUF SEHINGGA IBADAH YANG DIJALANKAN OLEH UMAT ISLAM TIDAK KERING DARI RUH YANG MENGHIDUPKAN IBADAH.

SEHINGGA PADA PRAKTEKNYA IBADAH TIDAK BERHENTI PADA GERAKAN BADAN, TAPI BERLANJUT DENGAN GERAK BATHIN YANG SELALU INGAT KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA KAPAN DAN DI MANA PUN.

BARANGKALI KRISIS DAN DEKADENSI MORAL YANG MELANDA BANGSA KITA, SALAH SATUNYA KARENA NILAI-NILAI AJARAN DALAM TASAWUF TIDAK DIPRAKTEKKAN GUNA MENYEIMBANGKAN ILMU SYARIAT YANG SUDAH DIAMALKAN.

MAKANYA SERING KITA MENDENGAR UCAPAN, BANYAK YANG SUDAH SHOLAT DAN PUASA, TAPI MASIH MAU NYURI ATAU KORUPSI, MASIH MAU NILEP DAN MARKUP ANGGARAN YANG DIAMANAHKAN.

SAATNYA PARA ULAMA MEMPERHATIKAN PRAKTEK KEAGAMAAN YANG TERINTEGRASI ANTARA PRAKTEK SYARI’AH DAN BATINIAH, SEHINGGA ISLAM BISA DIPELAJARI SECARA MENYELURUH DAN TIDAK PARSIAL.

JIKA PARA ULAMA MADZHAB PUN MENGAKUI DAN MEMPELAJARI TASAWUF, AKANKAH PARA PENGKRITIK TASAWUF YANG MENGHAKIMI DENGAN KESESATAN DAN BID’AH, AKAN MENGATAKAN BAHWA KE EMPAT ULAMA MADZHAB TERSEBUT SESAT ?

Misalnya jika ada orang yg berkata bahwa saya telah 3 thn belajar tasawuf, tp Alhamdulillah skrg saya tlh bertaubat dari ajaran tsb, krn ajaran tsb adlh ajaran sesat menurutnya.

Sprti saya tulis diatas bahwa ilmu tasawuf itu adlh ilmu yg mengajarkan bagaimana kita bisa merdeka dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah.
Karena semua penyakit itu akan berpotensi menjadi penghalang atau hijab antara manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika halnya demikian yg sebenarnya diajarkan dlm ilmu tasawuf, jadi orang yg berkata sprti diatas tsb bertaubat dgn hal yg bagaimana lagi ?

Bukankah yg sebenarnya ilmu tasawuf itu adlh ilmu yg mengajarkan bagaimana kita bisa merdeka dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah ?

DLM HAL APAPUN SDH PASTI ADA SAJA YG SESAT, TP BUKAN BRRTI SEMUANYA HARUS DISESATKAN KRN HANYA SEGELINTIR ORANG / KELOMPOK.

Kalau menurut saya pribadi, jika seorang manusia / kelompok masih bertuhankannya Allah, Nabinya adlh Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, Kitabnya kitab Al-Qur’an dan sholatnya masih menghadap kiblat, maka janganlah gampang utk mencap sesat / kafir.

Sebab Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

Dari Abu Dzar Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,”Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan”.
[HR Bukhori]

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “hai orang kafir,” maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh menjadi kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh”.
[HR Muslim].

“Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh”.
[HR Muslim].

Sebagai penutup, saya akan menuliskan Firman Allah dlm Al-Quran dan dlm hadits Qudsi.

Allah berfirman :
Artinya : “Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan didunia dan akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimat kalimat atau janji-janji Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”
( QS. Yunus : 62 – 64 ).

Dalam sebuah hadis shohih Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya diantara hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan Nabi dan bukan Syuhada’. Mereka dikelilingi oleh para Nabi dan Syuhada’ di hari kiamat karena kedudukannay disisi Allah.” Para sahabat bertanya:” Wahai Rasulullah, kabarkan kami siapa mereka?” Rasulullah menjawab: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah (ulama menafsiri: Al-Quran) tanpa hubungan keluarga antara mereka dan tanpa uang yang diberikan pada mereka. Demi Allah, sungguh wajah mereka adalah cahaya dan mereka diatas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Mereka tidak susah saat semua manusia diterpa kesusahan.

” Lalu Rosululloh membaca: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
(HR Abu Dawud No 3527 dari Umar bin Khotthob).

Dlm sebuah hadits Qudsi, Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku. Aku bersamanya setiap kali ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku ketika ia sendirian maka Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah kelompok, niscaya Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik dari pada mereka. Jika ia mendekati-Ku dalam jarak sejengkal maka Aku mendekatinya dalam jarak satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku dalam jarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya dalam jarak satu depa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.’ ”.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu ia berkata, Rosûlulloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”

Kelengkapan hadits ini adalah:
“Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shohih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubro, III/346; X/219 dan al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248, dan lainnya.

Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits qudsi di atas), yang artinya, “Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”

Maksudnya, barangsiapa bersungguh-sungguh dalam mendekat kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ibadah-ibadah wajib lalu ibadah-ibadah sunnah, maka Allâh akan mendekatkannya kepada-Nya dan menaikkan derajatnya dari tingkatan iman ke tingkatan ihsân.

Karenanya, ia menjadi hamba yang beribadah kepada Allâh dengan merasa selalu diawasi Allâh sehingga hatinya penuh dengan ma’rifat (pengenalan) kepada Allâh, cinta kepada-Nya, takut kepada-Nya, malu kepada-Nya, mengagungkan-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan rindu kepada-Nya.

Ketika hati dipenuhi dengan pengagungan kepada Allâh, maka yang lainnya akan lenyap dari hati tersebut serta ia tidak lagi punya keinginan kecuali yang diinginkan Robb-nya.
Saat itulah, seorang hamba tidak bicara kecuali dengan dzikir kepada Allâh dan tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya.

Jika ia bicara, ia bicara dengan Allâh. Jika ia mendengar, ia mendengar dengan-Nya. Jika ia melihat, ia melihat dengan-Nya. Jika ia berbuat, ia berbuat dengan-Nya.

Itulah yang dimaksud dengan firman Allâh Ta’ala, ” Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”

BARANGSIAPA MENAFSIRKAN DAN MENGISYARATKAN HADITS DI ATAS DENGAN HULUL ( MENITISNYA ALLÂH KEPADA MAKHLUK ) ATAU ITTIHAD ( MANUNGGALING KAWULA GUSTI ) ATAU AJARAN LAIN MAKA IA TELAH SESAT DAN MENYESATKAN DAN IA TELAH MENGISYARATKAN KEPADA KEKAFIRAN.

Dan ini termasuk salah satu rahasia tauhid, karena kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAAH” maknanya seseorang hamba tidak menuhankan selain Allâh dalam cinta, harapan, takut dan taat.

Jika hati sudah penuh dengan tauhid yang sempurna, maka tidak ada lagi kecintaan untuk mencintai apa yang tidak dicintai Allâh atau kebencian untuk membenci apa yang tidak dibenci Allâh.

Barangsiapa hatinya seperti ini, maka organ tubuhnya tidak akan bergerak kecuali dalam ketaatan kepada Allâh dan ia tidak mempunyai keinginan kecuali di jalan Allâh dan pada sesuatu bisa mendatangkan ridho-Nya.
( Diringkas dari Jâmi’ul ’Ulûm wal Hikam (II/345-348) ).

JADI SANGATLAH WAJAR APABILA ADA SEORANG HAMBA YG DLM IBADAHNYA SDH MENCAPAI TINGKAT LAHIR DAN BATHIN MENJADI LUAR BIASA, KRN MEMANG ALLAH MAHA LUAR BIASA DAN MAHA KUASA ATAS SEGALA SESUATU.

Semoga kita semua senantiasa mendapatkan Taufiq dan Hidayah-Nya..

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah, Wassalamu ‘alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh..

62. Iiwan0096@gmail.com - 11 November, 2013

Semuanya pinter ngomong… Yg terpenting saudaraku berpeganglah kepada rukun agama tentu saudara seiman semua tau dan yg trpenting dirikan sholat jika tdk sholat dia bkan pengikutnya nabi berlomba2lah dgn kebaikan..
Mengenai tasawwuf yg sy tau ada yg sesat (tdk sholat mereka berpegang kepada whudu tdk rusak/slalu sah dan sholat tdk perna putus memang benar karna mereka tdk pernah berwudu dan sholat mereka sembahyang dalam hati) ada jg yg lurus yaitu tasawwuf mengajari sholat bgaimana solat yg khusu mengajarkan kebaikan berpegang teguh pada al quran dan hadist dan masih banyak lagi yg diajarkan semua semata2 karna ummatnya nabi muhammad hambanya ALLAH SWT.

63. Anonymous - 13 January, 2014

Koreksi poin 8:
Pendiri tarekat Naqsyabindah adalah Syekh Muhammad Bahaiddin, Abi Yazid Al Bustomi adalah salah satu guru dalam silsilah Naqsyabandiyah.

mohon tidak memberikan informasi yang sepihak tanpa memahami betul apa yang hendak disampaikan

64. riptono - 4 March, 2014

Rasulullah diturunkan untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Salah satu akhlaq yang di ajarkan beliau adalah menghormati pendapat orang lain bahkan kita dilarang untuk menyelak pembicaraan orang. Kita juga dilarang untuk mengkafirkan orang lain apalgi bila kita tidak paham betul apa yang menjadi paham dari orang yang kita kafirkan itu. Memahami ajaran Tasawuf tentu tidak cukup dengan membaca dari buku-buku, apalagi penulisnya orang yang menentang tasawuf. Pasti terjadi bias. Jadi yang paham tentang tasawuf adalah mereka yang sudah mempelajarinya. Pada lingkup dunia kita kenal Imam Al-Ghazali ahli tasawuf. pada lingkup Indonesia kita kenal Hamka juga ahli tasawuf. Rasanya tidak mungkin kita-kita ini lebih hebat dari mereka dalam beragama. Jadi tak perlulah kita mencaci mereka yang mengikuti Tasawuf. Bila ada ajaran yang menurut kita menyimpang cukuplah kita untuk bertanya kepada mereka, mengapa begini…? mengapa begitu…? Jika kita paham ajaran itu berbeda dengan pemahaman kita cukuplah kita mengingatkannya. Cukup sampai disitu saja… Salam kedamaian untuk seluruh Muslimin wal Muslimat. Assalamu’alaikum wr.wb


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: