jump to navigation

Buku Putih Islam Jawa 20 June, 2006

Posted by netlog in Buku Putih Islamisasi Tanah Jawa.
trackback

Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan oleh Prof. Hasanu Simon dan telah mendapat izin dari beliau untuk disebarluaskan. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang mungkin masih ada di dalam makalah tersebut, tentunya ini merupakan usaha yang patut didukung oleh da’i-da’i Islam yang lurus dan benar manhajnya.

Penyelenggara mengundang tiga orang pembicara yangmemang cukup berkompeten pada bidang tersebut bahkan merupakan ahlinya, yaitu Dr. Damarjati Supajar, Dr. Abdul Munir Mulkhan (pengarang buku tersebut) dan Prof. Hasanu Simon (guru besar sosiologi kehutanan dan lingkungan UGM).

Singkat cerita, pada diskusi tersebut dua pembicara pertama, yaitu Dr. Damarjati Supajar dan Dr. Abdul Munir Mulkhan berusaha untuk mendukung ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar. Hal tersebut dibuktikan dengan pembelaaan tanpa cela terhadap syekh tersebut dan juga pengajuan alternatif wacana terhadap para peserta bahwa ajaran tersebut silahkan bila mau diikuti, toh dalam dunia Islam tokoh seperti itu sudah pernah ada, seperti misalnya Al-Hallaj dan tokoh-tokoh sufi lain. Mereka juga memberi pilihan tersebut dengan alasan ajaran-ajaran Islam sendiri pada hakikatnya dipraktekkan sebagai rutinitas dan sebagai tafsir dari para pengikutnya, sehingga sholat dan syariat-syariat lainnya bisa saja diganti dengan bentuk-bentuk lainnya (jelas ini pendapat yang salah). Menurut mereka lagi, syariat dalam ajaran Syekh Siti Jenar itu dipraktekkan oleh orang yang hidup, sedangkan hidup yang sebenarnya bagi manusia itu adalah nanti di akherat. Sedangkan di dunia pada hakekatnya adalah mati. Sehingga sholat,puasa, zakat haji itu tidak perlu.

Ajaran tersebut nampak semakin subur diikuti oleh umat Islam dewasa ini, apalagi dengan pemimpin Indonesia pada saat itu (mantan Presiden Gus dur) termasuk yang menyetujui dan mendukung ajaran tersebut (sufi/kebatinan/kejawen). Pendukung yang lain yang cukup dikenal adalah Anand Khrisna. Bila terus dibiarkan, ajaran tersebut akan semakin mengaburkan Islam sebagai agama yang murni dari kesyirikan dan bid’ah , menjunjung tinggi akal manusia, dan menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai andil dalam pemberantasan penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat), kami tampilkan sebuah tanggapan dalam acara tersebut.

Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih jurusan Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada Kongres Kehutanan Dunia VII di Jakarta tahun 1978, orientasi system pengelolaan hutan mengalami perubahansecara fundamental. Kehutanan tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi masyarakat. Sebagai dosen bidang itu saya lalu banyak mempelajari hubungan hutan dengan masyarakat sejak zaman kuno dulu. Disitu saya banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan antropologi yang amat menarik. Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejaranh yang amat panjang dan menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial (socialforestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh para ilmuwan.

Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama Het Book van Mbonang, yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti sosiologi dan antropologi. Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia.

Jadi, seandainya tidak ada Het Book van MBonang, kita tidak mengenal sama sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi data obyektif. Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo dan juga tentang Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu, yang berkembang adalah kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syek Siti Jenar yang hari ini akan kita bicarakan.

Walisongo Dalam Dunia Mitos

Kisah walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan. Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW. Yang lahir 9 abad sebelum era Walisongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bolpoin ke pasukan majapahit. Begitu dilemparkan bolpoin tersebut, segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberinama keris kolomunyeng, yang oleh kyai Langitan diberikan kepada presiden Gus Dur beberapa bulan lalu yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang sudah digelar dan ternyata tidak ampuh.

Kisah sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal (serpihan potongan kayu) dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi dan heboh ; salah seorang pembantunya dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat cerita ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk elips sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.

Islam juga mengajarkan bahwa Nabi Ibrahim as, yang hidup sekitar 45 abad sebelum era Walisongo yang lahir dari keluarga penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwa untuk anti berhala. Ini menunjukkan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan zaman dibandingkan kisah orang-orang yang menjadi panutannya, padahal selisih waktu hidup mereka sangat jauh.

Het Book van Mbonang yang telah melahirkan dua orang Doktor dan belasan Master bangsa Belanda itu memberikan petunjuk pada saya, pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif. Het Book van Mbonang tidak menghasilkan kisah keris Kolomunyeng, kisah Cagak dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya. Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk menulis tentang Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tetapi niat saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan.

Itulah sebabnya, saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku tentang Syekh Siti Jenar karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu. Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan aqidah Islamiyah, tetapi sudah ketinggalan zaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan.

Secara umum, dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita justru ingin kembali ke belakang ? Kalau kita masih berkutat dengan dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.

Siapa Syekh Siti Jenar Itu

Kalau seorang menulis buku, tentu para pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, minimal bidang keilmuannya. Oleh karena itu, isi buku dapat dijadikan tolak ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata buku itu berwarna kuning, penulisnya juga berwarna kuning. Sedikit sekali seorang yang berpaham atheis dapat menulis buku yang bersifat relijius karena dua hal tersebut sangat bertentangan. Seorang sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi karena bidang pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi, tidak mustahil kalau isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat oleh judulnya. Buku tentang berternak Kambing Ettawa menerangkan tentang seluk beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa. Judul buku karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini adalah : “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar”. Pembaca tentu sudah membayangkan akan memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti Jenar dan bagaimana dia mati. Penulis juga setia dengan ketentuan seperti itu.

Bertitik tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai 6 pada bab 1 tidak relevan. Bab 1 diberi judul : “Melongok jalan sufi : Humanisme Islam Bagi Semua”. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak pernyataan yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Pernyataan orang lain mesti disebutkan sumbernya ; oleh karena itu pernyataan yang tidak ada sumbernya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis. Pernyataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak, dan pendapat penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan pendapatnya. Pernyataan-pernyataan di dalam sebuah buku tidak lepas satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya, merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan mesti disusun menurut logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.

Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis kalau didahului dengan uraian tentang asal usul yang empunya ajaran. Ini juga dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan (paragraf 1 bab 1 hal. 3-10). Di dalam paragraf tersebut, diterangkan asal usul Syekh Siti Jenar yang tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shodiq untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang putra raja pendeta dari Cirebon yang bernama Resi Bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.

Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis. Didalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk memvalidasi berita tersebut.

Kejanggalan-kejanggalan itu adalah :

1) Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta yang bernama Resi Bungsu. Istilah raja pendeta ini tidak jelas. Apakah dia seorang raja, atau pendeta. Jadi, beritanya saja sudah tidak jelas sehingga meragukan.

2) Dihalaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar, diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang menganggap agama Hindu dan Budha sama. Padahal ajaran kedua agama itu sangat berbeda dan antar keduanya pernah terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian-pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.

3) Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang raja pendeta yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat menuju agama Islam, tentu hal itu janggal sekali.

4) Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut apa kesalahan tersebut, sehingga sang ayah sampai tega menyihir anaknya menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang raja pendeta menyihir anaknya menjadi cacing ? Ilmu apakah yang dimiliki raja pendeta Resi Bungsu untuk mengubah seorang menjadi cacing ? Kalau begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketentraman batinnya ? Cerita seorang mampu merubah orang menjadi binatang adalah cerita kuno yang mungkin tidak pernah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata) dan Budha (Ramayana).

5) Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menambal perahu Sunan Mbonang yang bocor. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang mengajar ilmu Ghoib kepada sunan Kalijogo. Betapa luarbiasa kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban sedang cacing Syekh Siti Jenar di buang di daerah Cirebon. Di tempat lain, dikatakan bahwa sunan Mbonang mengajar sunan Kalijogo di perahu yang sedang mengapung di sebuah rawa. Adakah orang menambal perahu dengan tanah ? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh tanah yang membawa cacing.

6) Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan Giri mengikuti pelajaran ilmu Ghaib. Tidak pernah diterangkan bagaimana hubungan Hasan Ali dengan sunan Giri yang tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali kemudian merubah dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu Ghaib. Setelah itu Hasan Ali lalu mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu Ghaib dari Sunan Giri, padahal dia sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung ?

Alhasil, seperti dikatakan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan sendiri dan banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak jelas. Karena itu, banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh Siti Jenar itu pernah ada atau tidak. Pertanyaan ini akan saya jawab di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, tempat lahirnya, dimana sebenarnya tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar adalah : Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama, sering dikaitkan dengan tempat tinggal. Dimana letak Siti Jenar atau Lemah Abang tersebut sampai sekarang tidak pernah jelas ; padahal tokoh terkenal yang hidup pada zaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.

Karena keraguan dan ketidakjelasan itu, saya setuju dengan pendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pernah ada. Lalu, apa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu ? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di belakang nanti.

Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada., mengapa kita bertele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi tentang sesuatu yang tidak pernah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka memperbandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits yang jelas asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh kedepan jangkauannya, tinggi muatan IPTEKnya., sakral dan di hormati oleh masyrakat dunia. Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid maka mau tidak mau lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu, sebagai orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an dan kerasulan Muhammad SAW, saya akan berkali-kali mengajak saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang berusaha untuk merusak aqidah Islamiyah ini.

Sunan Kalijogo

Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur yang beragama Islam. Silsilah Raden Sahur ke atas adalah Putera Ario Tejo III (Islam), putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal-usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenarnya merupakan versi Jawa. Dua versi lainnya tidak pernah ditulis atau dijumpai dalam media cetak sehingga diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).

Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinal tentang kisah tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati para pengagum dan penentangnya.

Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang salah satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SD, di desa kelahiran ibu saya Palempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan. Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya merupakan kisah hidup yang diangan-angankan sendiri, setelah kurang puas dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut kejawen, yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang fiktif tadi.

Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek (merasa tertipu). Mengapa demikian ? Isi Suluk Linglung ternyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali dalam Serat Dewo Ruci. Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo. Seorang Pegawai Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, ternyata disimpan oleh Ny. Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendiri menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat ternyata Sunan Kalijogo sendiri menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melainkan sholat Da’im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail LC, da’im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da’im dengan membaca Laa ilaaha illallah kapan saja dan dimana saja tanpa harus wudhu dan rukuk sujud . Atas dasar itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Sayang, waktu saya masih banyak terampas (tersita) untuk menyelesaikan buku-buku saya tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo tersebut.

Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjati diri seperti tertulis didalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berpaham manuggaling kawulo gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah dengan tauhid murni, Sunan Kalijogo mengutus muridnya yaitu Joko Katong, yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas hingga sekarang, termasuk Kyai Kasan Bestari (guru R. Ng. Ronggowarsito), Kyai Zarkasi (pendiri PS Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie, termasuk Ny Ainun Habibie.

Walisongo

Sekali lagi, kisah walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa” telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam kisah mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan aqidah islamiyyah. Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua orang temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaya dengan tarian oleh penari putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta’awudz. Yang dimaksudkan, pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka.

Namun para pengagum Walisongo akan kecelek kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinal yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, ternyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan diberbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah. Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim yang beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara (ahli tata negara) dari Turki. Berita ini tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al-Maghribi.

Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:

1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari turki, ahli mengatur negara (ahli tata negara).
2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro dari Mesir.
4) Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko.
5) Maulana Malik Isro’il, dari Turki, Ahli mengatur negara (ahli tata negara).
6) Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7) Maulana Hasanuddin, dari Palestina.
8) Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9) Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni oleh Jin jahat (ahli ruqyah).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Walisongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pernah diekspos, entah oleh Belanda atau siapa saja, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenarnya. Dengan Infromasi baru itu, menjadi Jelaslah apa sebenarnya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam.

Latar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar

Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu tulisan saja, yang mula-mula adalah tanpa pengarang. Tulisan yang ada pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan Agung. Buku berjudul “Ajaran Syekh Siti Jenar” karya Raden Sosrowardojo yang menjadi buku induk karya Dr. Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar.

Ki Panji Notoroto memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan adipati seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan klasikal dimasyarakat tidak berkembang sama sekali. Memahami Al-Qur’an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak didasari dengan ilmu. Penafsiran Al-Qur’an tanpa ilmu akan menghasilkan hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo, agama yang dianut kerajaan adalah agama Manuggaling Kawulo Gusti.

Disamping masalah pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu runtuh. Sampai dengan era Singosari, masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha, dan Animisme yang sering disebut agama Jawa. Untuk mencoba meredam pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir Singosari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkatan dari Budha dan Ja mewakili agama Jawa. Nampaknya sintesa itulah yang ditiru oleh politikus besar di Indonesia akhir dekade 1950-an dulu, yaitu Nasakom.

Dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan (sembunyi-sembunyi). Mereka lalu membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal adalah Syekh Siti Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di domplengkan kepada salah satu anggota wali songo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo seperti yang telah disebutkan dimuka. Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi, anti perubahan dari Hindu-Budha-Jawa ke Islam.

Oleh karena itu isi gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya mengambil potongan-potongan ajarannya yang secara sepintas nampak tidak masuk akal. Potongan-potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan tanpa tela’ah (analisis) yang didasarkan pada dua hal, yaitu logika dan aqidah.

Pernyataan-Pernyataan

Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini (Dr. Abdul Munir Mulkhan) telah saya singgung dimuka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim, malah salah seorang tokoh organisasi Islam di Indonesia (Muhammadiyah). Misalnya pernyataan yang menyebutkan “ngurusi Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi, orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya”. Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai Komunis Indonesia yang pernah menggelar kethoprak dengan lakon “Patine Gusti Allah” (matinya gusti Allah) di daerah Magelang pada tahun 1965-an awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang penting berbuat baik untuk kemanusiaan. Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rasulallah SAW juga tidak mengajarkan pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik dan secara ritual saja. Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena kehidupan muslim harus memenuhi dua aspek, yaitu Hablumminallah wa hablum minannas (hubungan mahluk dengan Allah dan hubungan mahluk dengan sesamanya)

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan dengan menulis buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas menyiratkan kepada pembaca bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih baik dibandingkan mempelajari Fiqih atau ilmu agama lainnya. Islam tidak mengkotak-kotakkan antara Fiqih, Sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena begitu kompleknya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar tauhid merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.

Penulis (Dr. Abdul Munir Mulkhan) juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al-Qur’an : “Bukan hanya orang Islam dan orang yang tahu bahasa Arab saja yang boleh mempelajari Al-Qur’an”. Disini nampaknya Dr. Abdul Munir Mulkhan lupa bahwa untuk belajar Al-Qur’an ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu muttaqien (Al-Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi sebenarnya boleh saja siapapun mengkaji Al-Qur’an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belajar Al-Qur’an yang memenuhi kedua syarat tersebut. Jangan belajar Al-Qur’an kepada pengikut ajaran Syekh Siti Jenar, karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah Gerakan untuk Melawan Islam.

Catatan Kecil

Untuk mengakhiri tanggapan saya, saya sampaikan beberapa catatan kecil pada buku Syekh Siti Jenar Karya Abdul Munir Mulkhan ini :

1) Banyak kalimat yang tidak sempurna, tidak mempunyai subyek misalnya. Juga banyak kalimat yang didahului dengan kata sambung.
2) Banyak pernyataan yang terlalu sering diulang-ulang sehingga terkesan mengacaukan sistematika penulisan.
3) Bab 1 diakhiri dengan daftar kepustakaan, bab lain tidak, dan buku ini ditutup dengan Sumber Pustaka. Yang tercantum didalam Daftar kepustakaan Bab 1 hampir sama dengan yang tercantum dalam sumber pustaka.
4) Cara mensitir penulis tidak konsisten, contoh dapat dilihat pada halaman 2 yang menyebut : ……….. sejarah Islam (Madjid, Khazanah, 1984), dan di alinea berikutnya tertulis : …….. Menurut Nurcholis Madjid (Khazanah, 1984, hlm 33).
5) Pada bab 4, seperti diakui oleh penulis, merupakan terjemahan buku karya Raden Sosrowardoyo yang pernah ditulis didalam buku dengan judul hampir sama oleh penulis. Di dalam buku ini, bab tersebut mengambil hampir separoh buku (halaman 179-310). Karena pernah ditulis, sebenarnya di sini tidak perlu ditulis lagi melainkan cukup disitir saja.

Beberapa catatan lain memang kecil, tetapi patut disayangkan untuk sebuah karya dari seorang pemegang gelar akademik tertinggi, Doktor !.

Demikianlah tanggapan saya, kurang lebihnya mohon dima’afkan. Semoga yang saya lakukan berguna berwasiat-wasiatan (saling menasehati) didalam kebenaran sesuai dengan perintah Allah Subhanahuwata’ala dalam Surat Al-‘Ashar. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wabarookaatuh.

About these ads

Comments»

1. iwan - 27 July, 2006

Maap bila saya lancang mengkritik anda ttp anda berpendapat bahwa sehsiti jenar tidak ada .. nah itu kan juga butuh bukti atau bukti mohon maap bila saya minta menerang kan dasar anda bahwa sana anda berkata demikian… Assalamualaikum ..

2. netlog - 29 July, 2006

mas iwan, tentu saja saya punya bukti kuat akan hal itu,
1. apakah ada seseorang yang memiliki bukti otentik bahwa syekh siti jenar itu ada ? (buku, prasasti ataupun apa saja yang benar2 otentik) bukan karangan orang sekarang.
2. jujur, saya awalnya adalah pengagum berat syekh siti jenar, namun begitu saya membaca ulasan otentik prof hasanu simon dengan mengikut sertakan bukti sejarah otentik, saya sekarang menganggap bahwa syekh siti jenar adalah gambaran abstrak dari sunan kalijaga itu sendiri.
3. Tokoh syekh siti jenar adalah abstraksi yang coba dimunculkan oleh sisa2 pengikut mataram yang merasa sakit hati, dengan tujuan untuk membingungkan ajaran murni islam dengan ajaran tasawuf siti jenar yang kebabalasan.

Namun demikian segalanya kembali kepada ALLAH, hanya DIA yang mengetahui kebenarannya, saya hanya manusia kecil yang masih sangat rendah dibandingkan semut, dan jika ini benar semata2 karena ALLAH namun jika ini salah, maka kesalahan itu adalah karena kekhilafan saya.

Terima kasih.

3. T Handayanto - 2 August, 2006

Maaf Mas saya sependapat dengan anda bahwa Islam adalah agama rasional, tapi bukankah dalam semua agama manapun terdapat hal-hal yang berinterest pada hal-hal gaib ( Mujijat dalam Islam, Kristen & Yahudi ).
Jadi menurut saya “orang Jawa-pun berhak memiliki Mujijatnya sendiri” & saya mengkhawatirkan tanpa sadar bangsa kita terjebak pada kecenderungan bukan meng-Islamkan masyarakat tapi meng-Arabkan masyarakat. Saya beragama Islam tapi saya orang Jawa/Indonesia yang tidak akan meninggalkan identitas ke-Jawaannya & beralih ke Arab2 an. Kebudayaan & tradisi kita tidak kalah dengan tradisi bangsa lainnya, bukannya saya memuji tanpa alasan.Ajaran & falsafah budi luhur masa pra Islam bahkan pra Hindu-Budha telah ada di bumi pertiwi ini, jadi alangkah baiknya hal tersebut tetap dilestarikan tentunya dengan memilah mana yang baik & bermanfaat. Tujuannya agar kita tetap menjadi bangsa yang memiliki identitas sendiri sekaligus toleran terhadap perubahan & kemajemukan. Bukankah Perubahan & Kemajemukan adalah hukam alam “Sunatullah”.

4. netlog - 3 August, 2006

Mas T Handayanto saya setuju dengan anda dari satu sisi, yaitu kita ingin mengislamkan bukan mengArabkan, saya juga tidak sependapat dengan tradisi tarian gambus yang disebar di Masyarakat jawa karena itu akan mengikis budaya jawa.

5. M Gunawan Priadi - 2 October, 2006

Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarookaatuh.

Maaf sebelumnya.. saya hanya sekedar numpang lewat…
Terus terang saya sangat terkesan dengan tulisan saudara yang serba rasional… sangat menarik… sangat bagus… dan sangat kritis… termasuk komentar-komentar dari mas Iwan dan mas Handayanto…
InsyaAllah niat kita sama-sama baik, saling nasehat menasehati dalam dalam kebenaran dan kesabaran… Setiap manusia boleh berpendapat, karena hal itu sudah merupakan kodrat manusia.. tetapi alangkah baiknya jika pendapat-pendapat yang kita kemukakan tentunya tidak menghakimi bahkan hingga menyalahkan pendapat orang lain… bukankah kita telah sama-sama tau bahwa hanya Allah hakim yang seadil-adilnya, hanya Allah satu-satunya kebenaran yang mutlak, Al-Haqq… Toh pada saatnya nanti insyaAllah kita akan mengetahuinya dengan Ainal Yaqin…
kita juga harus ingat bahwa ilmu, pengetahuan yang kita ketahui sekarang hanya bagaikan sebutir atom di jagat raya… bahkan mungkin kurang dari itu…
Maka dari itu marilah kita sama-sama saling introspeksi kedalam diri kita masing-masing… sehingga kita insyaAllah ditunjukkan jalan yang lurus, “Mustaqim” tentang pengetahuan sejati mengenai “Kebenaran Mutlak” itu sendiri… bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa….
Sekali lagi saya mohon maaf apabila orang yang faqir ilmu seperti saya turut berucap di dalam forum… saya sendiri merasa pasti banyak terdapat kesalahan… insyaAllah sy hanya khilaf…
Astagfirullah Al-Azim….

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wabarookaatuh

6. Iis - 16 November, 2006

Ass. Wr. Wb.
Ulasan yang sangat bagus. Untuk Pak Handayanto, Bukannya meng-arabkan masyarakat, atau melupakan budaya sendiri, tetapi yang pasti, haruslah mendasarkan segala sesuatu yang akan kita lakukan pada Alquran dan sunnah nabi. Karena, segala urusan kita sudah di atur caranya di dalam 2 pusaka tersebut.
Wassalam Wr. Wb.

7. Iwan Agung Prasetyo - 18 November, 2006

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya nuwun sewo dulu, karena saya tidak dalam kapasitas mendukung Abdul Munir Mulkhan atau menentang saya hanya mengajak untuk merenung (syukur kalau dilakukan ditengah malam setelah sholat tahajud) :

1. Saya membayangkan dengan jujur, saya Islam karena bapa dan ibu saya Islam, bagaimana kalau Bapak/Ibu saya kristen/hindu/bhuda dsb??.
2. Kalau yang boleh mempelajari Al-Qur’an itu hanya yang memenuhi 2 rambu tersebut, maka bagaimana nur dalam Al-Qur’an tersebut memancar??, saya kira semua orang berhak mempelajari.
3. Ketika saya membaca ayat Al-Qur’an (Seperti Al-Baqarah : 2), akhirnya saya bertanya kembali (bukan berpikir tapi merenung/membatin), apakah itu arti atau makna?, apakah cukup yang “tersurat” saja, bagaimana dengan yang tersirat?, apakah Apakah makna Al-Qur’an tersebut demikian sempit?, atau Otak dan Batin saya yang terlalu sempit sehingga “hanya kecil saja” makna Al-Qur’an yang saya dapat.
4. Saya kadang menyalahkan Keyakinan Orang lain, dan menganggap keyakinan saya paling betul (padahal pemahaman agama yang saya anut juga sangat sedikit), sementara saya tidak mau membuka kitab mereka, ajaran mereka (sama sekali), apakah ini adil??.
5. Saya orang Jawa, dan budaya saya, dan setahu saya ada ayat “Aku menurunkan ayat-Ku, sesuai dengan bahasa Nabi-Ku”, saya bertanya kembali, apakah budaya Jawa adalah budaya syirik??.
6. Dalam masalah Yakin, sampai manakah saya?, Ilmu Yakin, Ainul Yakin, atau hakul yakin??
7. Saya tidak akan pernah mengerti pengalaman seseorang (apalagi ghaib, bertemu Tuhan misalnya), tanpa saya mengalaminya sendiri.
8. Pendapat-pendapat saya cukup rasional (didukung Naqli dan Aqli), tetapi apakah akal (aql) saya tidak menjerat saya (iql), jangan-jangan gara-gara hal tersebut saya tidak mau menerima kebenaran orang lain yang memang benar.
9. Saya berdebat dengan seseorang, apakah dorongan cahaya kebenaran atau nafsu ? (jangan2 itu nafsu halus saya, dalam bentuk “yang benar adalah saya”), Al-Haq (baca : Allah) tidak bisa dipaksa sesuai kemauan manusia, dia juga punya sifat Jaiz (bebas melakukan hal-hal yang dianggap tidak mungkin bagi manusia).
10. Apakah benar saya dalam memahami Islam ??.

8. Iwan Agung Prasetyo - 18 November, 2006

Maaf, salah pencet, bagian pertama diatas akibat salah pencet, dan terpaksa harus jadi 2 bagian, he..he

11. Kalau Abdul Munir Mulkan, Gus Dur, Kejawen, dll tetap exist di Indonesia apakah tidak boleh, harus dihancurkan?, Allah saja memperbolehkan setan menggoda manusia? (Saya tidak menyamakan “Manunggaling Kawula Gusti” dengan Setan).
12. Lebih Islam mana, Imam Samudra atau Bunda Teresia ?
13. Mana yang lebih baik, “mengurusi bid’ah, klenik, dll” dengan mengurusi diri kita sendiri supaya beribadah lebih berkualitas, lebih dekat dengan Tuhan?.
14. Apakah Islam harus dengan budaya arab?, apakah budaya leluhur itu kafir (walaupun mungkin tidak sempurna)?, apakah Islam itu “harus dan harus” hadir seperti Islam yang kebanyakan?.
15. Siapakah yang paling berhak mengecap Kafir, Bid’ah, Murtad? Saya atau Tuhan?, Jangan-Jangan kita termakan oleh nafsu kita sendiri supaya Menang (terbungkus misi kebenaran).
16. Orang menyalahkan Siti Jenar, Kalijaga, Kejawen, dll. Apakah orang “Islam” sudah benar?
17. Saya menyalahkan A. M. Mulkhan, tetapi apakah saya memang lebih tahu dari A. M. Mulkhan?, Apakah Prof. Hasanu Simon lebih tahu?, saya lebih memilih Tuhan yang paling benar, bukan Tuhan “yang saya pikirkan” atau “A.M. Mulkhan, Hasabu M pikirkan”, sebab Tuhan “pasti” lebih dari apa yang kita pikirkan.

Hanya itu saja yang saya ajukan,
supaya dalam diri saya, anda, maupun pembaca lain tidak curiga yang berlebihan terhadap pendapat seseorang. Apa bedanya dengan Gatholoco atau Darmogandul dengan kita? daripada curiga lebih baik kita instropeksi diri apakah kita sudah benar.

Biarkan “Islam bernuansa Jawa” bertahan dan berkembang dengan caranya sendiri, itulah “Identitas Kita”. Bukankah Nabi Muhammad juga tidak pernah bingung dengan perilaku Uwais Al-Qarani, bahkan Paman Nabi yang kafirpun dapat berdamping secara solid dengan Nabi.

Semuanya pasti hancur, hanya Wajah-Nya saja yang terlihat (Eh..lupa juga, surat apa, yang pasti ada dalam Al-Qur’an deh)

Akhirul Qalam
Billahi Taufik Wal Hidayah
Wassalamualaikum, wr, wb

9. A. Kuntoro - 8 February, 2007

Assalamualaikum Wr Wb…
Saudaraku pecinta kebenaran dan pencari Tuhan…Islam telah banyak memberikan warna dalam kehidupan kita khususnya orang jawa..Cerita tentang Siti Jenar memang sudah membudaya di masyarakat, demikian juga tentang Wali Songo (khususnya mistisnya Sunan Kalijogo). Seantero jawa tidak ada yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini, Sunan Kali Jogo. Dan tentunya mereka itu adalah orang Islam..Dalam Islam sendiri ada Tasawuf dan ini sangat berkembang di Irak, Iran, Somalia, Turki dll negara Islam. Mereka ingin mendekatkan diri pada Tuhan setelah meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar..melalui tuntunan nabi.
Dan pada akhirnya, ketika seseorang telah berhasil mengendalikan diri, mengalahkan nafsunya sendiri (amarah, lauamah) maka tinggal Mutmainnah dalam dirinya. Yaitu jiwa yang tenang, dan saat itulah dia menjadi Insan Kamil (tentunya melalui usaha lahir batin). Saat itulah Allah terasa sangat dekat dengan kita..Bahkan dalam Al Qur’an dikatakan Allah lebih dekat dari pada urat leher (Surah Qaaf-16) dan dalam Surat Al Baqoroh 115: Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.. Ekpresi dari pemaknaan kedekatan ini akhirnya menimbulkan berbagai macam paham. Kalau boleh percaya dengan pendapat Syech Abdullah Darraz, al Qur’an itu laksana mutiara yang memancarkan cahaya berbeda-beda sesuai latar belakang pembacanya. Maka timbulnya satu paham (penafsiran) itu adalah satu tetes mutiara pemahaman dari sekian banyak pemahaman lainnya. Timbulnya paham Al Hulul (Halaj), Mahabbah (Rabiah Adawiyah), Al Abn (Hadad Alawy), Wahdat Al wujud (Ibn Arabi), Manunggaling Kawulo Gusti (Siti Jenar), Makrifat, al Ittihat, Insan Kamil dan masih banyak lagi adalah bentuk ekspresi dari Pelaku yang telah “merasakan” kedekatan dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan kita yang masih dalam taraf belajar menuju dekat menilai bahkan menghakimi mereka? Padahal kita belum merasakan..Kita akan mudah terjebak dalam perpecahan. Sebagai seorang intelek yang agamis kita harus bisa memberikan contoh bahwa perbedaan pendapat adalah anugerah dan itu bagian dari lautan pemahaman. Marilah lebih baik kita instrospeksi diri, dan mencari ular naga berbisa dalam diri kita masing-masing, menangkap dan menjinakkan. Agar nafsu paling benar tidak selalu mendominasi pikiran kita..

Wassalamualaikum Wr Wb

10. pejalan - 6 June, 2007

eleng mas…ngajari,nyebarno barang salah iku podo karomilino banyu. yen banyu mili iku teko sumber e (kotor)salah bakal sampai nisor dadi kotor lan yen nyebarno( milino ) barang bersih(bener) iku yen ngalir mudun pasti wis ora bersih mane mas.

11. iyed - 2 May, 2008

Assalamu alaikum saydara-saudaraku
Kita dalam menyampaikan pendapat apa saja boleh tetapi kita kidak boleh merendahkan saudara kita yang lain siapapun dia,
Kita mengambil contoh dari Rasulullah SAW. pada saat Rasulullah SAW duduk bersama dengan Sayyidina Ali KW RA di masjid Nabawi, dari luar muncul Sayyidina Abubakar Assyidiq RA, melihat Sayyidina Abubakar Assyidiq RA yang datang Sayyidina Ali KW RA, lalu bergeser memberikan tempat duduk kepada Sayyidina Abubakar Assyidiq RA di samping Rasulullah, kemudian Rasulullah mengatakan ” hanya orang yang utama yang mengetahui bahwa saudaranya utama”

dari contoh saya mencoba menyampaikan pendapat saya bahwa

Kita sama-sama tidak tahu siapa Syeihk Siti Jenar, tidak ada alasan kita sebagai umat Islam untuk merendahkan dan tidak menghormati beliau apalagi kita sama-sama tau bahwa beliau adalah ulama.

Walaupun 9 (10 dengan Sunan Kalijaga ) wali tersebut bukanlah berasal dari Jawa, akan tetapi beliau-beliau adalah Waliyullah yang menyiarkan agama Islam dan itu sudah diramalkan didalam Kitab Injil bahwa bangsa-bangsa sebelum Islam datang adalah beban bagi “Arab” bukan berarti bani Arab diatas bani lain. maksudnya adalah beban bagi Islam.oleh karena itu Wali-wali Allah ini memperkenalkan Islam hingga ke tanah jawa tanpa pamrih bahkan ada yang diangkat menjadi Sultan atau Raden Dll, karena orang jawa menghormati dan menghargai beliau-beliau

Mengapa Kita orang Islam dan Indonesia percaya dengan buku ataupun omongan dari orang barat (Belanda) apakah anda sudah lupa bahwa 350 tahun mereka telah membuat bangsa kita bodoh hingga saat itu cara-cara Jahiliyah mereka masih banyak tersisa di Indonesia.

WALI-WALIYULLAH (Sunan) tersebut adalah keturunan dari Sayyid Abdullah Khan diambil dari Putra Karballa yang menikah dengan Putri salah satu kerajaan di India.

Saya al Fakir

bersambung

12. zsiem sadili - 4 June, 2008

apakah yang di maksud dengan : yakin, ainul yakin, dan hekul y6akin

13. java comunity for etnic colaboration » Blog Archive » sunan bonang - 7 September, 2008

[...] Buku Putih Islam Jawa 20 June, 2006 [...]

14. aryf - 10 September, 2008

To de point aj.
” Apa kekurangannya Allah? ”

terimakasih atas jawaban jujurnya

15. mulyono - 23 September, 2009

sabar jangan saling teganag tenang….tenang …damai…kasih dansayanag….ingat “LAKUM DINUKUM WALIYADIN” bagi anda pendapat anda bagi sy pendapat saya karena semua tidak mau di salah kan biar allah yg menjadi hakim,kita harus saling menghargai pendapat orang lain
kalau saya sendiri berpendapat,jadi untuk memahami isi dari al quran kita
harus menerjemahkan kedalam bahasa kita yg kita tau,sebab kalau kita baca pakai bahasa arab tapi kita tidak tau artinya sama saja mohong,
al quran bukan dibaca aja tapi tau maksudnya untuk dapat di aplikasinya
dalam kehidupan kita,seandainya diartikan kedalam bahasa jawa tujuannya supaya dapat di mengerti kandunganya,ajaran seh sitijenar(ssj)
tidak untuk melawan atau memusui islam (jangan menyalahkan)dan dalam ajarannya justru memberi penjelasan dalam agama islam, tidak bertentangan penuh dengan kasih sayang,jangan disamakan dengan komunis yg tidak bertuhan jelas berbeda,mitos ataupun tidak yang penting
ajaranya benar,mengenai sholat sy setuju baik daim maupun sholat fardu syareat di jalani semua itu lebih sempurna,apa artinya kalau kita sholat
limawaktu di mesjid tapi tidak tau artinya ,justru sholat daim sebagai
kesempernaanya langsung mengaplikasikanya dalam kehidipan,setiap aktifitas selau inhat tuhan,bukan waktu di mesjid/musolah saja kita ingat
allah…..maaf bukan sy mengurui,tapi sedikit yg saya tau….semoga akan
berguna,sekalilagi ingat ….tenang… jangan saling menyalakan….amin.

salam kasih

16. akmaliyah - 11 January, 2010

bagaimana dengan silsilah di bawah ini:

Nabi Muhammad SAW, berputeri
Sayidah Fatimah az-Zahra manikah dengan
Imam Ali bin Abi Thalib, berputera
Imam Husain a.s, berputera
Imam Ali Zainal Abidin, berputera
Muhammad al-Baqir, berputera
Imam Ja’far ash-Shadiq, berputera
Ali al-Uraidhi, berputera
Muhammad al-Naqib, berputera
Isa al-Rumi, berputera
Ahmad al-Muhajir, berputera
Ubaidillah, berputera
Alawi, berputera
Muhammad, berputera
Alawi, berputera
Ali Khali’ Qosam, berputera
Muhammad Sahib Mirbath, berputera
Sayid Alwi, berputera
Sayid Abdul Malik, berputera
Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera
Sayid Abdul Kadir, berputera
Maulana Isa, berputera
Syekh Datuk Ahmad, berputera
Syekh Datuk soleh
Syech Datuk Abdul Jalil

17. nn. - 1 May, 2010

Allohu Akbar…!!

18. mantan penyembah qubur - 17 March, 2011

Syekh Siti jenar(klo memang benar2 ada orangnya) itu berpaham sama dngan Al Hallaj dan Ibn Arobi yang sudah dikafirkan oleh Ulama2 AHLUSUNNAH baik yang sejaman dengannnya ataupun yg sesudahnya, diantaranya Imam Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al Hafidh Ibnu Hajar, dll

berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah: “Barangsiapa beranggapan bahwa di antara para wali yang telah sampai padanya risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki thariqah sendiri menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak butuh kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sungguh dia kafir mulhid”. (Majmu’ Fatawa: 11/126).

Beliau juga berkata:

Barangsiapa mengatakan: “Saya butuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ilmu dhahir dan tidak butuh pada ilmu batin atau saya butuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ilmu syari’ah bukan ilmu hakekat maka dia lebih jelek dari Yahudi dan Nashara yang telah mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Rasul pada ummiyin bukan kepada ahli kitab” dan sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nashara) meng-imani (risalah) sebagian dan mengkufuri sebagian maka mereka itupun telah kafir”.

Sehingga keyakinan-keyakinan tokoh-tokoh sufi itu lebih kufur dari Yahudi dan Nashara karena telah mengatakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu diutus hanya dengan ilmu dhahir tanpa ilmu batin, mereka tidak butuh dengan ilmu dhahir (Syari’ah) dan mereka memiliki ilmu batin sendiri (Majmu’ Fatawa 11/26)

19. MZ Arifin. - 30 July, 2011

berQur-aan dan berhadiits shohiih bukhoori serta muslim dan sejenisnya saja.
350 tahun dijajah belanda, mengapa?
karena, terutama sekitar 70% jamaah masjid2 tak hafal terjemahan faatihah.
harus segera kia atasi bersama.

20. nibiru - 14 August, 2011

lantas, ajaran apa yang akan kita berikan kepada anak anak kita? sedangkan sekarangpun masih berusaha ajaranmu adalah paling suci dan telah di bengkokan ceritanya, pdhal nyata nyata bukan cerita datangnya yg harus kita pelajari, tapi isi,makna,pengamalanya alquran dan hadis s.a.w lah yg dijamin oleh allah tidak bisa di kaburkan dan akan murni smp kiamat yg sudah dijnjikan

21. indra kuswoyo - 9 January, 2012

sungguh luar biasa narasi anda,sampai sampai dengan tidak sadar anda menelan ludah sendiri,anda menyangkal kejadian2 mistik wali songo,tapi anda percaya mukjijat ini gimana?anda sangat antusias dengan pikiran rasional anda tentang agama,Apakah adanya Alloh malaikat& mukjijat itu rasional?jika hanya ingin buku anda laku saya kira tidak perlu menjelek jelekkan satu tokoh atau person,cukup tuliskan aja pendapat anda dan biarkan orang yang menentukan,gak perlu menjatuhkan penulis lain dan jangan berlindung dibalik aqidah.walaupun itu menguntungkan anda karena orang2 syariat memang lebih banyak dibanding dengan orang taswuf/sufi,dan ini dapat menguntungkan anda dalam penjualan buku.mohon maaf dan terima kasih.

22. Nurjahdi - 1 February, 2012

seorang muslim sudah sewajarnya mengambil sumber2 dari islam (al quran dan hadist). Kalau ada cerita2/buku2 yg bertentangan dgn sumber2 islam silahkan saja tetapi jangan dikatakan/disebarkan ke umat muslim yg awam, ini dari ajaran islam juga loh.
buku putih islam jawa, bagi saya sangat bermanfaat untuk meluruskan pemahaman saya ttg walisongo dan siti jenar.
syukron

23. rsisakinah - 17 February, 2012

Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto,telp :(0321)321922,326991,329669.sms:085648280307

24. idran - 9 May, 2012

assalmlkm, sebelum’y saya mnta maaf. saya memang bru brgabung d sini dan saya jg orang yg msih sangat awam trhadap sejarah islam indonesia. tapi saya tdk sependapat klo kejawen itu sesat penuh dgn mistik. kecuali anda sudah prnah masuk secara kafah lalu anda ceritakan melalui apa saja baru OK

25. S. Purwanto - 1 June, 2012

Wah tulisan tentang “Walisongo’” yang menarik dilihat dari sisi lain, tetapi ada yang saya garis bawahi apabila Walisongo di Jawa adalah produk dari organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Nah, yang menjadi pertanyaan mengapa salah satu utusan Sultan Muhamad I (Sunan Kalijogo) tidak menjalankan sholat 5 waktu, padahal tentu saja seorang utusan agama Islam tentu saja akan menjalankan sholat 5 waktu secara baik, tetapi menjalankan sholat da’im. Apakah kitab sumber dari yang dijadikan sumber oleh Asnan Wahyudi dan Abu Khalid dari sebuah naskah yang mengambil informasi dari ‘sumber orisinal’ yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki juga dikaji ulang kebenarannya. Mungkin saja itu adalah sebuah karya sastra bukan sebuah karya sejarah yang memiliki tuju untuk ‘melegitimasi’ kekuaasaan Sultan Muhammad I.

26. pujo prayitno - 25 September, 2012

Coba bandingkan dg buku Suluk Walisana (bukan Wali Sanga) karangan Sunan Giri keII.

27. indra - 23 January, 2013

Wah artikelnya laris ya……..
mau numapng komen, menurut saya artikel agan sangat bagus cuma sayangnya agan cuma melihat dari satu sisi, cuma dari sisi ke- islamannya. coba kalo agan meliaht dari banyak sisi, misalnya dari sisi adat jawanya. Adat jawa menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, bukan berarti menyetukan tuhan atau menyembah benda mati atau roh. Kepercayaan animisme dan dinamisme di Indonesia adalah menghormati roh orang-orang yang telah tiada dan benda-benda yang mengandung unsur spritiual. Dan kalo soal orang bisa berubah jadi hewan dan orang-orang yang dikutuk itu banyak sekali di Inodnesia. Memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah tapi bisa jadi itu merupakan kenyataan. Contohnya aja dongeng malin kundang, sebagian besar orang pasti menganggap bahwa malin kuda hanyalah dongeng/ilusi tapi buktinya benar-benar ada. ada batu berbentuk manusia, kapal, hingga tali dan jangkar yang terbuat dari batu.
Yah percaya atau nggak itu terserah tapi coba perhatikan bahwa memang benar-benar ada orang-orang yang mampu berkomunikasi dengan tuhannya hanya dengan duduk bersila/semedi. Mungkin memang terlihat mustahil tapi sebagian ulama di Indonesia yang dianggap tinggi ilmunya juga menguasai ilmu kebatinan

28. no how for - 28 July, 2013

maaf bapak, kalau syeh siti jenar itu tidak ada, mengapa data yang menyebutkan perdebatan antara para murid syeh siti jenar yang diwakili Kyai Lontang Semarang dengan kelompok wali yang mendukung Patah tidak dijadikan obyek penelitian

29. Highlander - 8 August, 2013

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Walisongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pernah diekspos, entah oleh Belanda atau siapa saja, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenarnya. Dengan Infromasi baru itu, menjadi Jelaslah apa sebenarnya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam.
###
Bapak penulis yg terhormat dan agak bodoh….paragraf akhir ini anda menulis ; Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam……….terus masalahnya dimana? bapak selama ini kemana saja??? knapa baru tahu kalo Walisongo adalah gerakan dakwah islam??? Pengagum walisongo juga gk bakalan kecelek mengetahui hal ini….Anda benar2 bodoh khas org2 syareat…tapi saya maklum..kan dimana2 org bodoh selalu mendominasi…kuantitas lebih banyak dari kualitas…itulah makanya kaum sufi itu sedikit…kualitas itu sedikit…

30. Highlander - 8 August, 2013

Yg lebih menjijikan lagi anda bahkan membawa2 belanda yg notabene adalah penjajah untuk membenarkan klaim anda atas Walisongo..Belanda itu tahu apa? Dan kalo anda meyakini bahwa kebenaran itu harus selalu diexpos anda harus belajar lagi lebih dalam mengenai istilah “kebenaran sejati”, Benarkah kebenaran sejati itu harus diekspos dan siapa yg akan percaya??? Siapa yg tahu kebenaran sejati itu..??? Anda sudah mengetahuinya??? Saya yakin sekali kalau anda telah menemukan kebenaran sejati,anda tidak akan menulis tulisan sebodoh dan selugu itu…Kalo anda sudah menemukan kebenaran sejati , hidup anda sudah enak tapi nyatanya ; HIDUP ANDA GEMRUNGSUNG PENUH KEBENCIAN DAN TIDAK PERNAH TENANG…..(Jauh panggang dari api)…

31. septara yosep - 28 October, 2013

untuk detailny, setan di kluarkn dri syurga krna kesombngany. jadi orang yg sombong podo karo setan.
kta ada dri 3 hal. alloh, bpk, ibu. bru lhir kt.
Dari ga ada d dunia ini, trus ada, trus ga ada lagi.
stelah kt mti 3 hal jg yg ga putus. doa anak soleh, ilmu yg bermanfaat dan aml jariah.
mslh dunia jg ada 3. harta, wanita/pria trakhir tahta../
tlng jngn sling menylhkan.. krn it msuk pda mslh dunia yaitu TAHTA.. cbalah tuk saling menghargai dmi satu keyakinan.. krn kbnaran cuma milik ALLOH.

32. saridin - 1 November, 2013

nak wong njowo mesti mudheng ukoro iki ”ojo rumongso biso tapi sing biso rumongso”.. Semua keyakinan tak ada yg rasional,. Kenapa?? Karena namanya KEYAKINAN, cukup diyakini..
adakah yg bisa membuktikan israj miroj.. Adakah yg bisa membuktikan moksa..
Apa ka’bah bukan batu..
Apa candi bukan batu..
apa bukti mantra ajaran jelek
Kenapa juga islam harus berdoa
Saat yg terlihat dipelupuk mata seseorang adalah kejelekan maka sengsaralah hidupnya karena dia tak akan pernah dapat melihat kebaikan yg sesungguhnya..
Ibarat pisau jikalau digunakan untuk memasak dan memberi makan banyak orang maka baiklah adanya
Tetapi jika digunakan untuk membunuh sesama.? Bagaimana pendapat anda..?
SALAHKAH PISAUNYA… ATO..???
hehee ajar nulis ki mas

33. Sandi Kaladia - 6 December, 2013

Bagi IBNU SINA , AL GHAZALI, IBNU RUSYID, MUHAMAD QUTUB, AL KINDI, AL FARABI dll yang termasuk ketagori Filsuf Islam termasyhur, jika mereka masih hidup mungkin akan berdiskusi secara kondusif dengan Filsuf Sunda Mandalajati Niskala.
Terutama Al Farabi mungkin akan diberi tahu oleh Mandalajati Niskala tentang Wujud Tuhan, tapi pastinya harus berjanji untuk dirahasiakan.

Saya bertanya kepada Mandalajati Niskala tentang Syekh Siti Jenar. Beliau menjawab: “Tidak perlu bertanya tentang Syekh Siti Jenar, yang penting adalah kenali Tuhan dengan sebenar-benarnya, maka kau AKAN SEPERTI SYEKH SITI JENAR”.

Atas segala pencapaian Produk Berpikir mereka, Mandalajati Niskala memberikan apresiasi dengan rasa hormat.

MANDALAJATI NISKALA
Seorang Filsuf Sunda Abad 21
Menjelaskan Dalam Buku
SANG PEMBAHARU DUNIA
DI ABAD 21,
Mengenai
HAKEKAT DIRI

Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku
“SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
bertanya kepada Mandalajati Niskala:
“Apa yang anda ketahui satu saja RAHASIA PENTING mengenai apa DIRI itu? Darimana dan mau kemana?
Jawaban Mandalajati Niskala:
“Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini.
Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “DIRI” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para akhli.
Kesimpulan para Akhli yang berstandar akademis mengatakan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA.
Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para Akademis Dunia Barat maupun Dunia Timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsure dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi Rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “Nilai Rasio” atau nilai rata-rata pemahaman Dunia Pendidikan.
Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas.
Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.
Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.
Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata DIRI, JIWA dan BADAN, agar kita dapat memahami apa DIRI itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:
1)Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?
2)Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?
3)Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?
4)Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?
5)Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?
6)Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?
7)Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?
8)Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?
9)Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?
10)Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?
11)Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?
12)Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?
13)Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?
Beribu pertanyaan seperti diatas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; SUKMA, RAGA, HATI, PERASAAN, dsb.
Kembali kepada pemahaman Akhli Filsafat, Ahli Budaya, Akhli Spiritual, Akhli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA. Mulculnya pemahaman para akhli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semuah adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.
Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah SALAH.
Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.
Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “ALAM DIRI”, menemukan kesimpulan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR LUAR DARI TUBUH MANUSIA. Pendapat saya yang bertentangan 180 Derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan Pendapat Para Akhli di tataran akademik.
Saya katakan dengan sadar ‘Demi Alloh. Demi Alloh. Demi Alloh’ saya bersaksi bahwa diri adalah UNSUR LUAR dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. ‘DIRI ADALAH ENERGI GAIB YANG TIDAK BISA TERPISAHKAN DENGAN SANG MAHA TUNGGAL’. ‘DIRI MENYERUAK KE TIAP TUBUH MANUSIA UNTUK DIKENALI SIAPA DIA SEBENARNYA’. ‘KETAHUILAH JIKA DIRI TELAH DIKENALI MAKA DIRI ITU DISERAHTERIKAN KEPADA KITA DAN HILANGLAH APA YANG DINAMAKAN ALAM BAWAH SADAR PADA SETIAP DIRI MANUSIA’.
Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para akhli di permukaan Bumi tentu akan dipandang SANGAT EKSTRIM. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai KEBERADAAN DIRI.
Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dazal, namun sengaja diselewengkan oleh Dazal agar manusia sesat, kemudian Dazal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘DI UFUK BARAT’ maupun ‘DI UFUK TIMUR’.
Sebenarnya sampai saat ini DAZAL SANGAT MEMAHAMI bahwa DIRI adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. DIRI merupakan ENERGI KEMANUNGGALAN DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Oleh karena pemahaman tersebut DAZAL MENJADI SANGAT MUDAH MENGAKSES ILMU PENGETAHUAN. Salah satu ilmu yang Dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi SAKTI. Dengan kesaktiannya itu Dia menjadi manusia “Abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dazal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada Dunia Ilmu Pengetahuan, bahwa cerita Dazal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu MENGHEMBUSKAN ISU bahwa Dazal akan muncul di akhir jaman, PADAHAL DIA TELAH EKSIS MENCENGKRAM DAN MERUSAK MANUSIA BERATUS-RATUS TAHUN LAMANYA HINGGA KINI.
Ketahuilah bahwa Dazal bukan akan datang tapi Dazal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa DIRI merupakan unsur luar dari tubuh manusia YANG DATANG MERUPAKAN SIBGHOTALLOH DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Sang Maha Tunggal keberadaannya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal MELIPUT SELURUH JAGAT RAYA dan kita semua berada TENGGELAM “Berenang-renang” DALAM LIPUTANNYA.
Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.
Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Allohurabbul’alamin dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa DIRI adalah “UNSUR KETUHANAN” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah~terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai JATI DIRI, sbb:
1)Bila hamba-hambaku bertanya tentang aku katakan aku lebih dekat (Al Baqarah 2:186)
2)Lebih dekat aku daripada urat leher (Al Qaf 50:16)
3)Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada nafasmu sendiri (Fushshilat 41:53)
4)Dzat Allah meliputi segala sesuatu (Fushshilat 41:54)
5)Dia (Allah) Bersamamu dimanapun kamu berada (Al Hadid 57:4)
6)Kami telah mengutus seorang utusan dalam nafasmu (AT-TAUBAH 9:128)
7)Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan (Adzdzaariyaat 51:21)
8)Tuhan menempatkan DIRI antara manusia dengan qolbunya (Al Anfaal 8:24)
9)Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna (At Tin 95:4)
Jawaban mengenai APA DIRI ITU. DARIMANA & MAU KEMANA (Sangkan Paraning Dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku.

JAMAN BARU DATANG UNTUK MEMBUKA TABIR
SANGKAN PARANING DUMADI
SANGKAN PARANING DUMADI
SANGKAN PARANING DUMADI

Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
Memasuki Ruang Insun, Telah Melahirkan
Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
(HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
(Potensi HI~DI~RI meliputi:
HI adalah alam Subconcious
DI adalam alam Concious
RI adalah alam HIperconcious)

3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
(Tribaka, Panca Azasi Wujud &
Panca Maha Buta)

4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
akan memahami HI~DIR~nya.
(Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
(Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
pada Tribaka)

6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
akan memahami TAMAT~nya.
(Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
yang segera memasuki Blackhole
untuk keluar dari Jagat Raya
dan meledak menjadi Bigbang,
di ruang hampa, gelap gulita,
bertekanan minus)

7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
akan memahami WIWIT~nya.
(Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
yaitu berupa potensi Jawahar Awal
di Jagat Raya Baru)

Peringatan dari Mandalajati Niskala:
“JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)
════════════════════════════
Syair Sunda:
JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
ditulis ku Mandalajati NIskala

Atma na sakujur raga.
Hanargi museur na tazi.
Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
Paeunteung eujeung.

Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
Madet dina JAGAT LEUTIK.
Gumulung sakuliahing cahya.
Ngahideung Nu Maha Meles.
Ngan beuratna Maha Beurat.

Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

Tandaning Insun lulus nurubus.
Lolos norobos, Robbah lalakon.
Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
Bitu ngajelegur.
Manggulung-gulung kabutna.
Huwung nungtung ngahujung.

Jadi jumadi ngajadi.
INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
Gelar Ngajawahar Awal.
Gusti papanggih jeung Gusti.
Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

Ahuuung Ahuuung Ahuuung Aheeeng.
════════════════════════════
Artikulasi Sunda:
PANTO JAWAHAR AWAL
KA PANTO JAWAHAR AKHIR
ditulis ku Mandalajati NIskala

Manusa sategesna bagian ti Gustina.
Kum eusi samesta KOKOJAYAN
di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
(Zibghotulloh).

Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
(Sapanunggalan).

Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
nu gumulung jadi tunggal tampa wates
disebut;
JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

SANG MAHA AGUNG
nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
mibanda:
Energi “HU” Acining Cahi,
Energi “DA” Acining Taneuh,
Energi “RA” Acining Seuneu.
Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

SANG MAHA LEMBUT
nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
mibanda:
Energi “HU” Proton,
Energi “DA” Netron,
Energi “RA” Elektron.
Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
nyaeta proses INSUN JADI DIA.
════════════════════════════
Filsuf Sunda MANDALAJATI NISKALA, sbg:
Zaro Bandung Zaro Agung
Majelis Agung Parahyangan Anyar.

Klik di google Mandalajati Niskala
BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

Pengirim Komentar:
@Sandi Kaladia

34. Brawijaya - 10 July, 2014

komen diatas Buku Putih islam dijawa merupakan pendapat yang sangat tidak menghargai Ilmu karomah yang dimiliki para Ulama Walisongo…..anda perlu bahwa dijawa berbeda dgn ARAB dimana orang arab tidak kenal akan Olah rasa,priihatin dan ilmu kebatinan….anda perlau Tahu bahwa peNyebaran islam di jawa merupakan keputusan para Wali dgn menggunakan ilmu karomah untk menyebarkan Islam dan untuk semata2 menunjukan Kuasanya Allah SWT…..kita Islam tpi kita jangan pernah Lupa kita orang Jawa bukan orang Arab….jawa dan Arab jelas beda,sebelum kedatangan Islam kita sdh mengenal budaya Tata Krama,bagaimana dgn Arab sebelum islam datang Yaitu Bangsa yg Bejat dan Jahiliyah…..oleh krn itu penyebaran islam dijawa mdh diterima krn Budaya Jawa Hampir sama Dgn Islam…Camkan Itu dgn Baik2….

Chiarabharata - 20 July, 2014

Belajar keTuhanan jgn pke logika..bakalan ga k temu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: