jump to navigation

Dimana ALLAH Berada? 31 May, 2006

Posted by netlog in Dimana ALLAH Berada?.
68 comments

Anak Bertanya 'dimana Allah Berada', Bagaimana Jawabnya,,,,

Pertanyaan:

Begini Ustadz,
Anak saya berumur 2 tahun, suatu ketika muncul pertanyaan darinya,,"dimana Allah berada ayah,,? diatas kah?. Pertanyaan ini membingungkan saya. Tolong ustadz, bagaimana saya menjawab pertanyaan anak saya tersebut sehingga dapat dimengerti oleh logika anak seusia itu?
Terimakasih,

Arief

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Allah itu adanya di langit dan di atas Arsy. Itulah keterangan yang benar sesuai dengan informasi yang Allah SWT tetapkan sendiri dalam Al-Quran Al-Kariem.

1. Allah Diatas Arsy

Keterangan bahwa Allah SWT ada di atas Arsy adalah firman Allah SWT sendiri yang ditetapkan di dalam Al-Quran Al-Kariem. Maka tidak ada kesempatan sedikitpun bagi manusia untuk menolak apa yang telah Allah SWT tetapkan sendiri tentang dirinya.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-Araf : 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus : 3)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan , menjelaskan tanda-tanda , supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra�d : 2)

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy .(QS. Thaha : 5)

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia. (QS. Al-Furqan : 59)

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy . Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?(QS. As-Sajdah : 4)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)

2. Allah Di Langit

Selain itu di dalam Al-Quran Al-Kariem juga ada keterangan bahwa Allah SWT itu ada di langit.

�Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah meraa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku�. ( QS Al-Mulk : 16-17).

Selain itu ada hadits dari Rasulullah SAW yang juga menjelaskan tentang dimanakah Allah SWT itu .

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,�Kasihanilah yang bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT�. (HR. Tirmiziy).

Namun tentang bagaimana tentang keberadaan Allah SWT di langit dan di asry, kita tidak punya keterangan pasti. Maka kita imani keberadaannya sedangkan teknisnya seperti apa, itu majhul. Dan bertanya tentang seperti apa teknisnya adalah bid�ah. Ini adalah jawaban paling aman dan inilah yang diajarkan Imam Ahmad kepada kita.

3. Tidak Ada Keterangan Bahwa Allah Ada Dimana-mana

Sebaliknya, tentang keterangan bahwa Allah SWT itu ada dimana-mana, sama sekali kita tidak mendapatkan dalil yang sharih.

Paling jauh ada ayat berikut ini saja :

Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid : 4)

Namun kata ma�a tidak berarti menunjukkan tempat seseorang berada. Sebab dalam percakapan kita bisa mengatakan bahwa aku menyertaimu, meski pada kenyataannya tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk muraqabah atau pengawasan.

Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar ra di dalam gua,�Jangan kamu sedih, Allah beserta kita�. Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua. Juga ketika Musa as berkata,�bersamaku tuhanku�, tidak berarti Allah SWT ada di pinggir laut merah saat itu.

Jikalau kamu tidak menolongnya maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita."(QS. At-Taubah : 40)

Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".(QS. As-Syu�ara : 62)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Advertisements

Build a Dynamic Web Serving Platform with FreeBSD 16 May, 2006

Posted by netlog in OpenBSD.
4 comments

FreeBSD and its ports collection let you build a secure solution for hosting dynamic Web pages—without any out-of-pocket expense. Follow this step-by-step guide to installing and testing an open source solution based on Apache-modSSL, MySQL, and PHP. You'll serve dynamic Web pages quickly, reliably, securely, and efficiently from your own cost-free platform.
Looking for a secure solution for hosting dynamic Web pages but don't have much money to implement it? Use FreeBSD and its ports collection to install Apache-modSSL, MySQL, and PHP. This open source solution will have you serving dynamic Web pages quickly, reliably, securely, and efficiently—without any out-of-pocket expense. All you need are the following:
1. Root control of a FreeBSD box
2. A FreeBSD box connected to the Internet
3. An installed ports collection
4. An updated ports collection via CVsup

Although this solution may sound like a lot of work, compiling each application from source is actually painless with the FreeBSD ports system. This tutorial offers a simple paint-by-numbers guide to this server installation, which any developer, from the curious newbie to the seasoned Linux or Windows veteran, can use. As an added bonus, because FreeBSD can run on a 486 PC with just 16MB of RAM, it also enables you to turn an old computer into a PHP testing environment.

This article requires a running FreeBSD installation. To follow the instructions, you must be logged in as root and be able to navigate the command line. Some familiarity with both Unix and the computer you're working on is also required. The TYPE instruction means "at the root prompt." Do not type TYPE. Simply enter the data following the TYPE command ad verbatim on each line at the # root prompt. Press enter following each line of commands.

Connect Your FreeBSD Installation to the Internet
If you are already connected to the Internet skip ahead to the "Install CVsup to Stay Current" step. If you installed FreeBSD via CD-ROM, you need a configured Ethernet card to connect to the Internet. To configure your network connection:

TYPE /stand/sysinstall

Choose Configure then Networking from the list of options.

This installation requires the ports collection. If you haven't already, install the ports collection now. (See the FreeBSD handbook for an outline of how to install the ports collection.)

Install CVsup to Stay Current
If you have just installed the ports collection using a CD-ROM, you must upgrade to the latest releases of the ported software you need. If you have just installed FreeBSD and the ports collection via FTP, you are already current and you can skip ahead to the "Install Each Application from Source" section.

Fortunately, FreeBSD makes staying current extremely easy:

TYPE cd /usr/ports/net/cvsup-without-gui
TYPE make
TYPE make install
TYPE make clean

As root, copy /usr/share/examples/cvsup/ports-supfile to a new location. In this case, copy to /root on your home directory:

TYPE cp /usr/share/examples/cvsup/ports-supfile /root/ports-supfile

* Notice the space between ports-supfile and /root/ports-supfile.

Edit ports-supfile with your favorite editor:

TYPE ee /root/ports-supfile

Change the ports-supfile (line 50 or so) to look something like the following:

#*********************************************************************
*default host=cvsup.ca.FreeBSD.org.
*default base=/usr
*default prefix=/usr
*default release=cvs
*default delete use-rel-suffix
*default tag=.
src-all
#**********************************************************************

Pay particular attention to the first and last lines. Choosing a CVsup mirror that is located near you will save a lot of time. At the very least, download one from the country where you live. Click here for a list of mirrors.

After you've done this, press Escape and then Return to leave editor. Press Return to save your changes.

Before running CVsup, you have to reboot your system:

TYPE shutdown -r now

Once you have once again logged in as root:

Now it's time to run CVsup:

TYPE cvsup -g -L 2 /root/ports-supfile

This command upgrades all the skeletons in your ports collection. Depending on your Internet connection speed, the upgrade can take an hour or longer.

Install Apache-modSSL, MySQL, and PHP
Once you get the command prompt back, you can move on to the fun part. Enter the following commands one at a time, waiting for the command prompt between each instance of TYPE.

Install the Perl language (required for MySQL):

TYPE cd /usr/ports/lang/perl5
TYPE make
TYPE make test
TYPE make install
TYPE make clean
TYPE cd ~
TYPE rehash
TYPE use.perl port

The last three commands tells your FreeBSD machine to use the freshly upgraded Perl language and not the default that ships with your version of FreeBSD. If you ever need to switch back TYPE use.perl system.

Install the MySQL database:

TYPE cd /usr/ports/databases/mysql40-server
TYPE make
TYPE make install
TYPE make clean

It is a good idea to edit /etc/make.conf to tell various ports which versions of Berkeley DB and MySQL to use:

TYPE ee /etc/make.conf

Add the following two lines, one on top of the other as shown:

WITH_BDB_VER=40
WITH_MYSQL_VER=40

Editor's Note: Be sure to modify the code above, if necessary, to match the version number of MySQL that you are currently using.

Press Escape to exit, and save your changes before you leave the editor.

Install the Apache13x+mod_ssl server:

TYPE cd /usr/ports/www/apache13-modssl
TYPE make
TYPE make certificate

You'll see a series of self-explanatory on-screen directions here. Create an [R]SA server key for good performance. Change all of the snake-oil information to your own private information. When you are asked to encrypt this key, choose [y]es, and then:

TYPE make install
TYPE make clean

Install the PHP language:

TYPE cd /usr/ports/www/mod_php4
TYPE make

Now you get to choose your installation preferences. Notice that the MySQL dependent choices have been made for you. Certain options require a licensing fee (e.g., PDFlib). If you do not recognize a particular component, do not install it. Certain components create dependencies on other components. To simplify this installation and circumvent errors, stick to a minimal configuration. Include DOMXML and DOMXSLT support. PHP integrates well with XML. For universality amongst databases, choose the UNIXODBC support also. UNIXODBC will allow you to connect PHP with many databases:

TYPE make install
TYPE make clean

Congratulations! You have Apache-modSSL, MySQL, and PHP installed on your FreeBSD system. Wasn't that easy? Still skeptical? Then test it out.

Test Your Installation
To test the installation, you need a Web browser. I like to use LYNX.

Install LYNX-ssl Web Browser:

TYPE cd /usr/ports/www/lynx-ssl
TYPE make
TYPE make clean

Now, shutdown and reboot your machine to have Apache and MySQL start as daemon processes in the background. If you made a certificate, you will need to enter your local pass- key when prompted:

TYPE shutdown -r now
TYPE lynx 127.0.0.1

This command tells your Web browser to view the local Apache configuration. And what do you knowit worked! You should see the default congratulatory Apache screen. (Note: The keystroke Q or Control-C gets you out of LYNX.)

Three Steps to Enable Apache to Serve PHP
1. Edit the Apache httpd.conf file. Begin by getting back to the root command line:

TYPE cd ~
TYPE ee /usr/local/etc/apache/httpd.conf

Add the following lines anywhere within the Apache httpd.conf file, perhaps at the very top:

#***************************************
AddType application/x-httpd-php3 .php3
AddType application/x-httpd-php3-source .php3s
AddType application/x-httpd-php .php
AddType application/x-httpd-php-source .phps
#***************************************

Find the line that says ServerAdmin and put your e-mail address there.

2. Create a PHP test file:

TYPE cd ~
TYPE ee /usr/local/www/data/index.php

Add the following code—exactly the way you see it here—to the editor window you just opened:

<html>
<head>
<title>PHP_TESTER</title>
</head>
<body>
<?php
phpinfo();
?>
</body>
</html>

Press Escape to leave the editor and save this file.

3. Test the PHP installation on a secure port: To test the PHP installation, you have to stop and restart the Apache server:

TYPE cd /usr/local/etc/apache
TYPE apachectl stop
* Note: In ctl, it is an "el" and not a one.
TYPE apacheclt start
TYPE lynx 127.0.0.1

If this worked, you should see the information about your new PHP/MySQL-enabled Apache Web server. Congratulations again! You now have a PHP-enabled Apache-modSSL Web server. The second-to-last step is adding a password to MySQL root and creating a simple test page that shows the connection between the PHP language and the MySQL database.

Add a Password to MySQL Root and Creating a Test Page
Set a MySQL root password:

TYPE mysqladmin -u root password your_password_here

Logging into MySQL as root now requires a password. Replace "your_password_here" with your own password (For more information about MySQL, see the online documentation):

TYPE mysql —user=root —password=your_password_here

You should now see the mysql> prompt:

Mysql>TYPE create database banking;
Mysql>TYPE show databases;
Mysql>TYPE quit

Make sure you add a semi-colon when required.

Now you are back to the root prompt. All that is left is to use PHP to connect to the newly created "banking" database. You need to invoke an editor again:

TYPE ee /usr/local/www/data/phpmysqlconnection.php

Then add the following code into the editor window (don't forget the semi-colons):

<html>
<head>
<title>PHP_MySQL_Connection</title>
</head>
<body>
<!— start PHP insert and create MySQL connection details as variables —>
<?php
// database access variables
$Server = "localhost";
$Username = "root";
$Pass = "yourpasswordhere";
$DataBaseName = "banking";
// connect PHP to MySQL
$Connection = mysql_connect ($Server, $Username, $Pass) or die ("Connection Denied");
// test the connection with a browser
if ($Connection) {
echo "<h3>Congratulations! You are ready to build dynamic database-driven Web sites</h3>";
} else {
echo "<h3>Back to the lab again*****Something went wrong</h3>";
}
// closing the connection is considered good form
mysql_close ($Connection);
// close the php
?>
</body>
</html>

Test this out:

TYPE lynx 127.0.0.1/phpmysqlconnection.php

Secure the Pages You Serve
# Your last step is to configure Apache-modSSL to serve truly secure pages to the outside world. Note: the traditional secure port is 443. The FAQ pages at the following Web sites provide more information: http://www.freebsd.org
# http://www.apache.org
# http://www.openssl.org
# http://www.modssl.org
# http://www.perl.org
# http://www.mysql.org
# http://www.php.net

Security is a process and not an end. Many of your configuration questions can be answered in the mod_ssl documentation included with the installation of Apache-modSSL. Further reading and support is available from a number of locations, including:
# http://www.devshed.com/Server_Side/PHP/DB_Basics
# http://www.programmingpub.com/php_forum_php_forums
# developer.netscape.com/tech/security/ssl/howitworks

Contribute to Open Source
FreeBSD and the other open-source projects used in this article rely on user contributions to evolve. If you find these products useful, financial and volunteer contributions are always welcome. FreeBSD is distributed under the BSD license, leaving you free to alter and distribute the source code so long as the BSD license remains intact. Click here for copyright information about FreeBSD and the GNU public license.

Secure Web Server with OpenBSD 16 May, 2006

Posted by netlog in OpenBSD.
2 comments

The OpenBSD team prides itself on producing one of the most—if not the most—secure operating systems in the world. If you are concerned about keeping the sensitive data within your organization protected, consider OpenBSD. As a member of the 4.4BSD-lite family of operating systems, OpenBSD sets itself apart by claiming to be "secure by default". The basis for this claim is the diligence of the OpenBSD code auditing team and the inclusion of military grade cryptography in the base system (including Kerbos, OpenSSH, and IPSec). OpenSSH runs best with this OpenBSD (as it was developed by the OpenBSD team).

You can install OpenBSD in a couple of ways. The easiest method is to order the OpenBSD CD-ROM from the OpenBSD ordering page. The OpenBSD team, headed by Theo de Raadt, relies on the sale of these CD-ROM packages for its financial survival, so it prefers that users choose this method. Installation via CD-ROM is outlined in detail inside the CD case.

The second—and faster—way of installing OpenBSD is over the Internet via FTP or HTTP. Though this install is free, a post-installation courtesy is to order the CD-ROM anyway, make a donation to OpenBSD, and / or buy a limited edition OpenBSD T-shirt or poster.

This tutorial demonstrates a network install of the OpenBSD operating system, along with PHP4 and MySQL. It presents an advanced system administrator build, which assumes basic knowledge of the VI editor.

[Author's Note: Because OpenBSD is a Canadian-made product, export of the security suite and source code is not restricted in any way. However, while U.S. readers can download (import) OpenBSD, exporting or re-exporting cryptographic software from the US is still a serious criminal offence. For those of you living in the US, do not attempt to export the OpenBSD operating system once you've downloaded it. If you are an American citizen located outside the US, do not download OpenBSD from an American site. You have been warned! Of course, downloading OpenBSD from an American site to an American location is fine. Always choose the server nearest you.]

Create OpenBSD Boot Floppy
OpenBSD runs on a number of hardware platforms. The following directions are somewhat specific to "IBM PC" aka "Intel/AMD" architecture machines. To install OpenBSD over the network, your host computer needs either a floppy or a CD-ROM drive and an Ethernet card that OpenBSD can recognize. So check your hardware first. If you use an Intel-based system, your information is under i386.

To create a bootable CD-ROM, you need a CD burner and CD creation software. To simplify the multi-step process of creating the floppy boot install disk on Windows, which is somewhat involved, I developed an installer package. I did not alter the boot installer in any way, but if you prefer to receive the software directly from the OpenBSD site, you'll find it in the tools section of the 3.6 release site. Navigate to your relevant hardware and download the necessary files.

To complete the example install, you need 1-3 floppy disks and a standard 1.44M floppy drive on your Windows computer. For a standard build, you need only the first disk. The second disk is for special RAID and SCUSI situations, and the third is for laptops. This tutorial uses Windows 2000, but floppy disk creation should work seamlessly with Windows NT and XP as well. If you use an older DOS system or Windows 95/98, then you must use the fdimage.exe file included in the downloadable openbsd36_floppy_install.zip file (with documentation).

The following steps will guide you through a Windows 2000, XP, and NT OpenBSD boot floppy creation:

1. Download the OpenBSD 3.6 floppy images.
2. Format your floppy disk: My computer –> 3 1/2 floppy A: –> right click –> format.
3. Place the directory openbsd36_floppy_install on your c:\ drive as C:\openbsd36_floppy_install.
4. Open a dos prompt and type:

cd C:\openbsd36_floppy_creation

5. Now that openbsd36_floppy_creation is your working directory type:

ntrw floppy36.fs a:

For a standard Intel architecture, you need only the first disk. If the first disk does not take you to the install screen (or you are using a laptop), you may have to make one or two more floppy boot disks. Again, format your second and third floppy disks then type the following, respectively (see Figure 1):

ntrw floppyB36.fs a:
ntrw floppyC36.fs a:
Figure 1. OpenBSD Floppy Creation (Win2000)

Put your newly created floppy boot installer in the a: drive of the computer on which you want to install OpenBSD. Make sure your CMOS is set up to boot from floppy first, and then boot from hard drive second.

To complete the install, you need an Ethernet card that OpenBSD supports. The networking setup procedure is quite straightforward. The following instructions explain how to set up DHCP for a DSL connection. At each listed prompt, just follow the instructions:

1. Would you like to (I)nstall, (U)pgrade, or (S)hell? Choose I. ENTER.
2. Terminal type? ENTER
3. Do you wish to select a keyboard-encoding table? Choose no. ENTER.
4. Proceed with install? Press y. ENTER.
5. Which one is the root disk? Choose "(or 'done')[wd0]". ENTER.
6. Do you want to use *all* of wd0 for OpenBSD? Choose no. ENTER.
7. fdisk: 1>q. ENTER.
8. Initial label editor (Enter '?' for help at this prompt.)
9. TYPE: ">?". ENTER.

The tools you see are part of the OpenBSD label/partition editor. The disk label editor screen might not look pretty, but it is very powerful. The most important commands for a basic install are 'a' for add partition, 'd' for delete partition, 'p' for print label, and 'q' for quit. OpenBSD requires a manual file system setup. During this process 'm' is for megabytes and 'g' is for gigabytes. This tutorial assumes you are installing OpenBSD on a system dedicated to OpenBSD. (For dual boot issues, see the FAQ.)

Configure the File Structure and the Network
Now on with the install. First, clear the possibility that OpenBSD recognized an existing partition on your hard-drive by typing the following:

z a. ENTER.

The "z" command zeroes the partitions, leaving only C. Author Note: Thanks to Joel Dinel for the partition zeroing hint.

Now you can add the file structure. This consists of /(root), /var, /swap, /usr, and /home. File size is an important consideration:

* The root / must be at least 150m; 500m is recommended.
* /tmp can be as small as 150m. Performance can increase if this is larger.
* /var should be larger for a server because /var/www and /var/mail can fill up quickly (especially if you expect to handle larger mail attachments).
* swap should be twice the size of the RAM you have or twice the size of the RAM you expect to have.
* 512MB of RAM makes a swap space of 1,024MB ideal. One gig of RAM makes two gigs of swap space.
* /usr and /home need to be larger if you are creating a desktop workstation with X Windows.

I am using a 10GB hard drive. You should use values that make sense for your situation. Keep in mind that the values for offset will differ depending on the size of your hard drive. The following instructions create the basic file structure for the operating system:

TYPE: a a. ENTER.
offset:[63]. ENTER.
size:500m. ENTER.
FS type: [4.2BSD]. ENTER.
mount point:[none] /. ENTER.

TYPE: a b. ENTER.
offset:[614880]. ENTER.
size: [19386045] 1024m. ENTER.
FS type: [swap]. ENTER.

TYPE: a d. ENTER.
offset: [2712528]. ENTER.
size: [17288397] 500m. ENTER.
FS type: [4.2BSD]. ENTER.
mount point: [none] /tmp. ENTER.

TYPE: a e. ENTER.
offset: [3327408]. ENTER.
size: [16673517] 3g. ENTER.
FS type: [4.2BSD]. ENTER.
mount point: [none] /var. ENTER.

TYPE: a f. ENTER.
offset:[5425056]. ENTER.
size: [14575869] 2g. ENTER.
FS type: [4.2BSD]. ENTER.
mount point: [none] /usr. ENTER.

TYPE: a g. ENTER.
offset: [9619344]. ENTER.
size: [10381581] 2g. ENTER.
FS type: [4.2BSD]. ENTER.
mount point: [none] /home. ENTER.

Now that you have created the file structure, write the changes:

TYPE: p. ENTER.

This shows the partitions you are about to create. Leave a little extra space for future changes (like RAM upgrades, or log files filling /var) or leave the size of the g partition unspecified and g will use up the rest of your hard disk:

TYPE: q. ENTER.
Write new label? Choose y. ENTER.

Now, cycle through the options you have created. Hit ENTER until the /home directory appears, then type "done".

The next step destroys all existing data on these partitions:

Are you sure that you're ready to proceed? TYPE: y. ENTER.

You will be prompted for a system hostname. Use any name you like. I used the name ftknox.

The following steps guide you through configuring the network using DHCP:

* Configure the network? Choose yes. ENTER.
* If you are using an Ethernet card that is supported by OpenBSD, then you should be prompted to initialize an interface. Press ENTER.
* Symbolic (host) name for vr0? TYPE: "([ftknox] dlink530TX)". ENTER. You should see the speed options for your Ethernet card.
* Do you want to change the media options? Choose no. ENTER.
* IPv4 address for vr0? (or 'none' or 'dhcp') TYPE: dhcp. ENTER.
* Enter your DNS domain name and the address of your DNS nameserver.
* Default IPv4 route? Choose dhcp. ENTER.
* Edit hosts with ed? Choose no. ENTER.
* Do you want to do any manual network configuration? Choose no. ENTER.
* Password for root account? Do not use any word in any language. Numbers and letters and special characters are best in combination.

Now that the network and file structure configuration is done, it is time to access an (F)TP server to install the operating system:

Where are the install sets? (or 'done') TYPE: f ENTER.
HTTP/FTP proxy URL? (e.g., 'http://proxy:8080&#39;. or 'none') Choose none. ENTER.
Display the list of known FTP servers? Choose yes. ENTER.

Find the server that is closest to you (heeding the warnings from the introduction regarding international distribution):

* Server? (IP address, hostname, list#, 'done' or '?') TYPE: "ftp.openbsd.org". ENTER.
* Does the server support passive mode FTP? Choose yes. ENTER.
* Server directory? Choose pub/OpenBSD/3.6/i386. ENTER.
* Login? Choose anonymous. ENTER.

The following sets are available:

* File name? (or 'done') [bsd.mp] TYPE all. ENTER.
* File name? (or 'done') TYPE: "-game36.tgz". ENTER.
* File name? (or 'done') TYPE: "done". ENTER.
* Ready to install sets? TYPE: "yes" ENTER.

And away you go. You are now installing the entire OpenBSD operating system over the Internet to your host (server) computer. So depending on your connection speed, this could take minutes or hours. If it works, you will see various messages about getting somefile.tgz, followed by a percentage. Of course, 100 percent is the target.

Then you will be prompted with the following questions:

* Where are the install sets? (or 'done') TYPE: done ENTER.
* Start sshd(8) by default? Choose yes. ENTER.
* Do you expect to run the X window System? Choose either yes or no. ENTER. (*/ I personally believe that X Windows has no place on a server, but you may think differently.\*)
* Change the default console to com0? Choose no ENTER.
* Set your time zone. This one's self-explanatory.

You should now have a congratulations screen and a root prompt. Take your boot floppy out of the a: drive and TYPE halt. Reboot your machine to start using OpenBSD. You will notice that because you started sshd by default that it will have generated a new dsa and rsa host key. This is excellent. OpenSSH runs seamlessly with OpenBSD because the same people make both. For further information, read the OpenSSH FAQ. The afterboot section of the man pages offers a wealth of information that you should read as well:

TYPE: "man afterboot".

One of the strengths of OpenBSD is the high quality of its man pages. Make sure you read these before attempting to post a question on any OpenBSD forum. (Browsing Hint: Page Up and Page Down move you through the man pages; ENTER scrolls one line; TYPE "q" to quit.)

Set Up SU
To use SU, you must first create a regular user, which you will regularly log in as:

1. Log in as root.
2. TYPE: "adduser".
3. Choose your favorite shell. I use the default [sh].
4. Use the default login class.
5. Use the default Home partition: [/home].

Continue using the defaults, unless you have a special situation. I choose not to send a message to myself and to be prompted for passwords by default. One thing I do change is the password encryption method. Blowfish is my algorithm of choice (and is likely the default). Enter username and full name when prompted.

Now continue as root:

1. TYPE: "vi /etc/group".
2. The top line should read: "wheel:*0:root".
3. TYPE "i" to enter vi insert mode.
4. Move to the end of the first line using the right arrow.
5. Add a comma and the username of the user you just created. (e.g., wheel:*0:root,user1)
6. Press ESC and TYPE ":wq" to write the file and exit vi.

Test this out:

1. Press CTRL-ALT-F2 to open a new login screen.
2. Log in as the new user you just created.
3. TYPE "su".
4. Enter your root password.

You should once again have a root prompt ‘#’. Use this prompt to install the ports and package collections. The following section shows you how.

Install Ports and the Package Collection
Now that su is installed and working, OpenBSD’s functionality considerably expands with the installation of both the ports and the package collections. Installing new functionality on OpenBSD requires Root or pseudo (su) Root privileges. All of the following instructions require that you be logged in as the SuperUser (root).

Issue the following commands to install several thousand program skeletons:

1. ftp ftp://ftp.openbsd.org/pub/OpenBSD/3.6/ports.tar.gz
2. mv ports.tar.gz /usr
3. cd /usr
4. tar -xzf ports.tar.gz

Pop back into your open root console:

TYPE: CTRL-ALT-F1.

Notice that true root keeps track of all uses of su. Press ENTER to get your prompt back, and type "login". Log in as the user you created. Type "su", enter the root password, and voila!

Using Ports: Invoking the tcsh Shell
All of the ports work in a similar fashion. Navigate to the port directory you want and type "make && make install" within the port directory that includes the Makefile. For example, to install the tcsh shell:

1. TYPE: "cd /usr/ports/shells/tcsh".
2. TYPE: "make && make install".

And that is the basic formula for installing ports. Many ports, like tcsh, have special instructions that appear during or following the install. In this case:

1. TYPE: "vi /etc/shells".
2. Add the line /bin/tcsh to this file.
3. Save and quit (ESC, :wq).

At the root prompt, type "/usr/local/bin/tcsh" to invoke the tcsh shell. I like this shell for its up-arrow command history function (never type the same thing twice). You can perform subsequent invocations of this shell by typing tcsh at the command prompt. I suggest continuing to use the tcsh shell for the rest of the tutorial.

Packages Collection
The packages collection is the preferred way of installing software onto your OpenBSD system. Packages "automagically" install the required dependencies. As with the Ports system, you must be logged in as the SuperUser (root). You can browse the packages online. (Note: Intel architecture is i386.) Tell pkg_add where to find the packages via FTP. Do not attempt to install packages from an older or a newer release number of OpenBSD. Because this tutorial builds OpenBSD version 3.6, make sure you get the packages from the version 3.6 folder (setenv as seen below):

TYPE setenv PKG_PATH ftp://ftp.openbsd.org/pub/OpenBSD/3.6/packages/i386/

Install MySQL and PHP
Install MySQL4:

TYPE: "pkg_add mysql-server-4.0.20.tgz"

Note the instructions on the screen. You will return to this after you install PHP.

Install PHP4:

TYPE pkg_add php4-core-4.3.10.tgz

Enable the PHP4 module:

TYPE /usr/local/sbin/phpxs -s
TYPE cp /usr/local/share/doc/php4/php.ini-recommended /var/www/conf/php.ini

Install PHP4_MySQL4 connectivity:

TYPE pkg_add php4-mysql-4.3.10.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs -a mysql

Enable MCRYPT:

TYPE pkg_add php4-mcrypt-4.3.10.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs –a mcrypt

Enable MHASH:

TYPE pkg_add php4-mhash-4.3.10
TYPE /usr/loca./sbin/phpxs –a mhash

Enable IMAP:

TYPE pkg_add php4-imap-4.3.10.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs –a imap

Enable DOMXML:

TYPE pkg_add php4-domxml-4.3.10.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs –a domxml

Enable PEAR libraries:

TYPE pkg_add php4-pear-4.3.10.tgz

Use PHP to manipulate graphics:

TYPE pkg_add php4-gd-4.3.10-no_x11.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs –a gd

Enable CURL:

TYPE pkg_add php4-curl-4.3.10.tgz
TYPE /usr/local/sbin/phpxs –a curl

Create MYSQL passwords and user:

TYPE /usr/local/bin/mysqld_safe &
TYPE /usr/local/bin/mysqladmin -u root password mypassword

Access the server with your new password:

TYPE /usr/local/bin/mysql -u root –p

Enter your password at the prompt. You should see the mysql prompt. A problem with MySQL is it ships with two anonymous users who have no passwords. Change this within MySQL by entering the following (Note: the '' marks are two single quotation marks in a row):

mysql> TYPE SELECT Host, User FROM mysql.user;
mysql> TYPE SET PASSWORD FOR ''@'localhost' = PASSWORD('newpwd');
mysql> TYPE SET PASSWORD FOR ''@'host_name' = PASSWORD('newpwd');

Change ''@'host_name' to the value that corresponds to the name you gave your system, displayed on your screen under Host where User = root (e.g., lockdown.cyborgspiders.com):

mysql> TYPE exit

Now that you are back at the '#' prompt, TYPE ps to verify that mysqld_safe is still running.

Edit APACHE httpd.conf file:

1. vi /var/www/conf/httpd.conf
2. Change the email address for ServerAdmin to you@youraddress.com.
3. Change your ServerName to a valid DNS entry. If you do not have a valid DNS name for your host, enter the IP address associated with your LAN.
4. TYPE ifconfig –a to find the INET address associated with your working Ethernet card.
5. Find the line that says inet 192.168.1.106 or some similar value.
6. AddType application/x-httpd-php .php and delete the comment tag '#'.
7. Also, you must add php to the Apache Directory Index: DirectoryIndex index.html index.php (Optionally, add index.phtml, index.php4, and index.php3.).
8. Exit VI and save forced.
9. Press ESC and TYPE ":wq!" ENTER.

Starting and Stopping APACHE as the SuperUser
To start Apache:

TYPE apachectl start (c as in current, t as in table, l as in linux)

To stop Apache:

TYPE apachectl stop (c as in current, t as in table, l as in linux)

Start Apache now. Then navigate to the htdocs directory to test PHP:

TYPE cd /var/www/htdocs
TYPE ls

You are now viewing the htdocs directory. This is the directory from which Apache serves files to the world:

TYPE lynx 127.0.0.1

This should show you a congratulations screen. Apache is running with the index.html file.

For PHP to work, you must create an index.php file:

TYPE vi index.html

Remember, press i for insert mode. Beneath the <body bgcolor="#ffffff"> tag, add <?php phpinfo(); ?>. Press ESC:wq index.php. This saves the file as index.php with your changes. Test this out:

TYPE lynx 127.0.0.1/index.php

You should see a very detailed display about your new PHP-enabled Apache Web server. Read through it. Notice how the variables in the httpd.conf file and the php.ini file affect the output. Depending on your purposes, you will want to make configuration changes to these files. (Note: the Apache documentation is installed by default. To avoid embarrassment (and death threats) on the mailing lists, RTFM.)

Connect to MySQL Using PHP
To connect to MySQL from PHP, you need to create a new PHP document:

vi mysql.php
<html>
<head>
<title>PHP MySQL connection test</title>
<body>
<?php
$connect = mysql_connect('localhost', 'root', 'yourpasswordhere');
// if no connect then die
if (!connect) {
die('something went wrong' .mysql_error());
}
echo 'It is time to enjoy your new OpenBSD Apache PHP MySQL powered web server.';
// good form to close the connection
mysql_close($connect);
// close the php
?>
</body>
</html>

Mission Accomplished
If you followed these directions correctly, you now have the magic key to OpenBSD 3.6, Apache 1.3.29 mod_ssl/2.8.16, OpenSSL/0.9.7d, MySQL 4.0.20, and PHP 4.3.10. NEVER GIVE UP ROOT! OpenBSD ships "secure by default", meaning all non-essential services are disabled. The OpenBSD code-auditing team promotes open source as the only real solution to a truly transparent security model. This working model greatly simplifies the system administrator’s security duties. Security becomes a consideration prior to implementing new services rather than an after-the-fact, hole-plugging technique.

OpenBSD also ships with Apache chrooted by default. While this will create some challenges for the system admin with certain programs, the benefit is that should Apache become compromised the cracker will not have write access to the operating system. Running Apache "jailed" restricts the daemon from "seeing" beyond the root directory of the chrooted directory (the cracker may not get beyond read access to Apache).

While not immune to security breaches, OpenBSD takes a proactive stance against cracking techniques. Buffer overflow attacks are historically a weak point in *nix systems, so OpenBSD has taken measures to protect the stack and to ensure that no page is both writeable and executable at the same time. It is a credit to the OpenBSD community that security announcements are few and far between.

Proactive security, however, is a continual process. Keeping up to date is important. To receive security announcements from OpenBSD, send an email to OpenBSD.org with "subscribe security-announce" in the message body.

Security concerns need to be based on the value of your data. My next article will demonstrate how to use SSH to remotely administer your OpenBSD/Apache/PHP/MySQL Web server.

Menyuap Malaikat-Membeli Surga! 11 May, 2006

Posted by netlog in Menyuap Malaikat-Membeli Surga!.
1 comment so far

Oleh: Nasrulloh Afandi     

Jarang dikaji. Aktivitas “membeli surga” adalah diantara fenomena cukup “ngetrend” mewabah frekuensi gelombang kemajemukan “simbolis religius” bangsa kita dasawarsa ini. Identiknya, ironisme berasumsi bisa “menyuap Malaikat Rokib” sang pencacat amal ibadah, sekalian(berasumsi bisa) “mengelabuhi Malaikat Atid” sang pencatat segala macam kemaksiatan seluruh makhluk itu.     

Hemat saya(pribadi). Hal itu, adalah geliat “pragmatisme ibadah”, konsekuensi dari dilematis(beragama) bagi Muslimin dalam menghadapi kompleksnya fenomena tantangan globalisasi.
  
Esensinya, sebagai pelarian akibat semakin terpuruknya kualitas istiqomah(kontinuitas) beribadah, sedangkan aktivitas hidupannya over dosis memuja harta(hedonisme). Mereka(pelaku) panik, dan sedikit menyadari telah “terpolusinya keimanannya”. Maka maraklah aktivitas “membeli surga”, dianggap jalur pintas untuk menjauhi neraka.     

“Makelar Surga” Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup memproklamirkan diri katanya “cinta agama”, mayoritas –-untuk dimaksud tidak semuanya-- mereka itulah “Makelar surga” paling berpengaruh. Mempromosikan kepada publik, bahwa surga adalah “komoditas” bisa diraih dengan bermodal materi.      Kalaulah hal itu dianggap “ibadah sampingan”, tentu tidak masalah. Ironisnya mengesampingkan esensialitas ibadah kepada Allah SWT. Memang, dalam hati kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya(?). Namun magnet godaan setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih kuat mengalahkan keimanannya.     

Kroposnya akar-akar Islam “di lapangan Ibadah”, baik vertikal(kepada Allah) maupun horisontal(sesama ummat beragama), adalah resiko dominan dari “komoditas surga”.      Faktor utamanya, mereka(pelaku) berpikir pragmatis, bahwa dalam konteks ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering tanpa memperdulikan uang halal atau haram. Menggelikannya, banyak orang berceletuk : "Berbuat demikian itu lebih baik, daripada sama sekali tidak ‘beramal’ ".
  
Marak para koruptor-pecandu mengeruk duit rakyat itu, atau artis(tak terkecuali artis bintang porno), mempublikasikan diri melalui berbagai media massa(yang dikontraknya), mereka berebut membangun megah masjid-masjid atau menyantuni para yatim piatu.     

Seolah-olah mereka adalah "teladan beribadah” bagi segenap Muslimin. Padahal selain unsur “membeli surga”, juga sering adanya faktor politis(bagi para koruptor) dan komersialis(mencari penggemar) bagi para artis. Jelaslah fenomena-fenoma tidak prosedural atau jauh dari autentisitas ibadah.      “

Kaveling Surga”
  
Perspektif Tauhid(ilmu ketuhanan) adalah hak perogratif  Allah SWT untuk membagi kebijakan sifat Rakhman dan Rakhim-Nya. Siapa yang akan dimasukkan ke surga atau neraka? Sesuai dengan keagungan Qudroth dan Irodath-Nya.     

Entah ahli ibadah atau pecandu berbuat dosa, bahkan Muslim atau Kafir sekalipun? Menentukan masuk surga atau neraka adalah hak otoritas Tuhan yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun!     

"Dia(Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu" (QS 5:18).
  
Sekali lagi, biarlah Allah SWT menentukan otoritas Rakhman-Rakhim-Nya kepada segenap makhlukNya.   Adalah kesalahan fatal, bila ada manusia  bermaksud "mengaveling surga", apalagi hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Dan sedikitpun manusia tidak ada kelayakan ber-action  jadi "agen surga".     

Esensi Ibadah     

Saya tidak bermaksud menjadi "sales surga". Tetapi, esensialitas persoalannya, perspektif hukum fiqih, empat madzahib fuqoha ahlissunnah waljama'ah(Hambali, Maliki Hanafi, Syafi’i) konsesus(ittifaq) bahwa generalitas dalam beribadah : Selain ada rukun yang dilaksanakan, juga sebelum memulai ibadah terlebih dulu harus memperhatikan terhadap syarat-syaratnya.   

Selain ada syarat diwajibankannya(beribadah), utamanya harus memenuhi syarat syah, agar sesuai prosedur (ibadah)nya menjadi syah.     

Apakan sesuai prosedur, mencuci lantai masjid dengan air kencing? Menyantuni para anak yatim dengan uang hasil korupsi? Atau membangun pesantren dengan uang hasil memamerkan aurat badan di berbagai media massa? Jelas tidak, bukan?      Sesuai Qowa’id al-Fiqh : “al-Ashlu baqou ma kana a’la makana”(hukum sesuatu hal, itu sesuai dengan kondisi asalnya). Umpamanya, uang haram dijariahkan ke masjid, maka tetap haramlah hukum menyalurkan duit(haram) itu.
  
Sedekah atau dermawan, memang dianjurkan. Namun dengan harta haram, dalam konteks ibadah, hal itu hanya melaksanakan rukun, sedangkan  menafikan syarat(ibadah) tentunya menyebabkan tidak syah.     

Dan memang, harta itu, hisabnya(pertanggung jawaban di hadapan Allah) dua hal ; dari mana(dengan cara apa, pen) diperoleh, dan untuk apa dipergunakan. (HR. at-Tirmidzi dari Abu Barzah R.A.).      Maka, tidak tepat, menjadikan hal haram atau subhat itu, sebagai argumentasi "untuk mencari modal" beribadah. Bukankah sangat banyak jalan untuk mencari rezeki  sekaligus tanpa mencampakkan konstitusi(syariat) Ilahi?
  
Pun autentisitas total ibadah(bertakwa) bukanlah berorientasi meraih surga atau menjauhi neraka. Tapi Li-Allahi Ta’ala(karena Allah Ta’ala) murni menjalankan kewajiban hamba atas perintah Kholiq(Sang Pencipta).     

Bila beribadah orientasinya masuk surga-menjauhi neraka, otomatis signifikan mengikis kualitas orisinilitas ibadah. Perspektif Tauhid adalah termasuk  asy-Syirku al-Asghor(bagian dari penyekutuan kepada Allah SWT).     

Efek Samping   

Kompfleksnya sistem media informasi, berperan aktif menularkan hedonisme. Kenaifan itu pun telah kronis mewabah ke plosok-plosok. Kini di daerah-daerah pun telah "ngetrend" terjangkit virus "Menyuap Malaikat-Membeli Surga". Berujung semakin terpinggirkannya implementasi kualitas ibadah.      Fenomenanya, mereka mau menyumbangkan materi untuk pembangunan masjid, namun berat untuk melangkahkan kaki sholat berjamaah ke masjid. Atau marak pula(orang-orang daerah) gemar menyumbangkan duit untuk acara-acara pengajian/majlis ta’lim, namun enggan mengikuti pengajian di majlis yang didonasinya itu.      Lebih parahnya, untuk golongan(orang daerah) semacam ini, sering berasumsi :"bahwa pendidikan bukanlah(lagi) hal terpenting dalam kehidupan manusia.
  
Utamanya memandang negatif kepada komunitas pelajar jurusan agama(Islam) karena dianggap tidak prospektif menghasilkan bongkahan-bongkahan materi". Meskipun realitasnya, terdapat jutaan orang-orang bergelar "sarjana ekonomi plus" berstatus pengangguran. Namun belum juga terbuka mata hati kaum hedonis itu.       

Bagi mereka, yang terpenting adalah : "Bagaimana putra-putrinya secepat mungkin bisa meraup materi, misalnya berdagang, dengan tanpa membutuhkan pendidikan tinggi, toh ijazah pun(utamanya ijazah pendidikan agama) tidak menjamin masa depan". Itulah yang ada dibenak mereka. Sungguh naif!      Ironisme mewabah adalah, dengan “berprinsip" demikian itu, mereka pun sering ditemukan meninggalkan fardu a’in(kewajiban personal) seperti sholat lima waktu dan atau puasa Ramadan. Dominan sibuk dengan aktivitas duniawi.
  
Inilah, diantara imbas hedonisme(pemuja harta). Terkesan "berprinsip": “Boleh berpuas-puas berbuat dosa dengan kemewahan harta, termasuk cara(haram) memperoleh hartanya. Toh, dengan harta itu, akan mampu ‘menyuap malaikat sekaligus membeli surga!’ ”. Sungguh memilukan!      Firman Allah Ta’ala, (QS. Asy-Syu'araa': 88-89), akan datang suatu hari: "Yaitu pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."     

Insya Allah Ta’ala, dengan ketakwaan. Manusia akan diberi rahmat dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga oleh Dzat Maha Segalanya, yang "staffNya"(para malaikat) itu tidak bisa dikelabuhi dengan rekayasa fatamorgana materi. Dan memang, surga tidak bisa "dibeli"(dengan materi).
  
Ilmiahnya. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan Allah SWT sesuai orisinilitas syariatNya, itulah esensi dari kehidupan manusia berperadaban untuk estafet meraih honoris causa takwa. Sekaligus upaya prosedural "menyuap Malaikat-Membeli Surga!"

Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah 11 May, 2006

Posted by netlog in Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah.
6 comments

"Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.

  • Pemimpin yg adil
  • Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya
  • Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
  • Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah
  • Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah!'
  • Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya
  • Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dr kedua matanya"

Pesankan saya tempat di neraka !!! 11 May, 2006

Posted by netlog in Pesankan saya tempat di neraka !!!.
2 comments

Kamis, 01 Juli 2004
Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat.
Seorang kolumnis majalah Al Manar
mengisahkannya…

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat.
Terutama bagi muslimah, untuk tetap
mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan
panas tak lantas menjadikannya menggadaikan
akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan
menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa
dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang,
Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada
seorang perempuan muda berpakaian kurang layak
untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat.
Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung
kursi dekat pintu keluar.

Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu
mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan
sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak
setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya
mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa
mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi
dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga
melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut?
Dengan ketersinggungan yang sangat ia
mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa
privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya
adalah hak prerogatif seseorang.

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong
pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!
Sebuah respon yang sangat frontal.
Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus
menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening.
Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap
dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda
itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung
tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria.

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk
turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan
muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia
berada didekat pintu keluar. "Bangunkan saja!"
begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda
tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui
ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus
beristighfar, menggumamkan kalimat Allah
sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk
disampingnya.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan
menantang Tuhan. Seandainya tiap orang
mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa
berakhir setiap saat…
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan
Tuhannya dalam keadaan yang buruk…

Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan
Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih
terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang
dekat denganNYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera
sadar…
mumpung kesempatan itu masih ada.

Kesesatan Tasawuf 5 May, 2006

Posted by netlog in Kesesatan Tasawuf.
91 comments

Ada yang menanyakan tentang Tasawuf. Mudah-mudahan tulisan di bawah bisa bermanfaat.

1. Kata Tasawuf sekali pun tidak pernah disebut di dalam Al Qur'an dan Hadits yang sahih. Bukankah jika Tasawuf itu begitu penting dalam Islam tentu Allah dan Rasulnya akan memerintahkan manusia untuk belajar Tasawuf? Tidak mungkin Nabi yang bersifat "Balligh" (menyampaikan) menyembunyikan perintah Allah bukan?

Sebaliknya Nabi berkata bahwa setiap hal yang baru/diada-adakan (di bidang agama) adalah bid'ah dan sesat:

"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ,dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid'ah adalah tersesat" ( H.R Muslim ) .

Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak perlu lagi ditambah bid'ah seperti Tasawuf:

"…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…." [Al Maa-idah:3]

2. Tasawuf tidak jelas artinya. Ada yang menyebut dari shuffah, bulu domba, shof terdepan, bahkan dari kata Yunani: Theo Sophos. Bagaimana mungkin orang mempelajari sesuatu yang tidak jelas sebagai ajaran dari Islam yang penting?

3. Jika sumber agama Islam adalah Al Qur'an dan Hadits yang sahih (yang dloif/maudlu ditolak):

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " [An Nisaa":59]

Sabda Rasulullah Saw: "Aku tinggalkan padamu dua hal, yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya."(HR Ibnu 'Abdilbarri)

Maka sumber Tasawuf bisa dari mana saja. Istilah Abdurrahman Abdul Khaliq yang mereka jadikan sumbernya adalah bisikan yang dida`wahkan datang kepda para wali dan kasyf (terbukanya takbir hingga mereka tahu yang ghoib) yang mereka da`wahkan, dan tempat-tempat tidur (mimpi-mimpi), perjumpaan dengan orang-orang mati yang dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidir a.s, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus (Rohaniyyin). Banyak sekali ajaran Tasawuf yang memakai cerita-cerita yang tidak jelas sahih/dloifnya serta dari mimpi-mimpi orang yang mereka anggap wali. Belajar Tasawuf bisa membuat kita lupa dari mempelajari Al Qur'an dan Hadits yang justru merupakan sumber ajaran Islam yang asli.

4. Adapun sumber pengambilan syari`ah bagi ahli Islam adalah Al Kitab (Al Qur`an), As Sunnah (Al Hadits), Ijma` (kesepakatan para ulama terdahulu mengenai awal Islam), dan Qiyas (perbandingan, yaitu pengambilan hukum dengan membandingkan kepada hukum yang sudah ada ketegasannya dari Nash/text Al Qur`an atau Al Hadits, dengan syarat kasusnya sama, misalnya beras

bisa untuk zakat fitrah karena diqiyaskan dengan gandum yang udah ada nash haditsnya). Sedangkan bagi orang-orang tasawuf , perbuatan syariat mereka didirikan diatas mimpi-mimpi (tidur), khidhir, jin, orang-orang mati,syaikh-syaikh, semua mereka itu dijadikan pembuat syariat. Oleh karena itu, jalan-jalan dan cara-cara pembuatan syariat tasawuf itu bermacam-macam. Sampai-sampai

mereka mengatakan jalan-jalan menuju Allah SWT itu sebanyak bilangan nafas

makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syaikh memiliki tarekat dan manhaj/jalan untuk pendidikan dan dzikir khusus. Jika dalam Islam sumber dzikir dan do'a berasal dari Al Qur'an dan Hadits, maka dalam Tasawuf berdasarkan ajaran para syekhnya (yang mungkin berasal dari mimpi mereka)

5. Islam itu adalah agama yang Muhaddad/jelas (ditegaskan batasan ketentuan) aqidahnya, ibadahnya, dan syari`atnya. Dalam Islam dijelaskan apa itu rukun Iman, rukun Islam, cara shalat, puasa, dzikir, doa berdasarkan Al Qur'an dan Hadits yang sahih. Selama ada sumber Al Qur'an dan Hadits diterima, jika tidak ada ditolak.

6. Sedangkan tasawuf itu agama yang tidak ada batasannya, tidak ada pengertian (yang ditentukan secara pasti) dalam aqidah ataupun syari`at-syari`atnya. Sumber yang berasal dari mimpi orang yang dianggap wali sudah cukup bagi mereka untuk diamalkan sehingga amalan Nabi Muhammad SAW seperti dzikir, doa, sholat Tahajjud, dsb justru terlupakan. Karena ketidak-jelasan sumber dan syari'ah Tasawuf, maka orang-orang kafir memakai Tasawuf terutama untuk menghilangkan ajaran jihad dari ummat Islam. Contohnya ada di http://www.libforall.org di mana para pendeta bekerjasama dengan para sufi berusaha menghilangkan jihad dari ummat Islam lewat Tasawuf.

7. Paham Tasawuf seperti Wihdatul Wujud (bersatunya manusia dengan Allah) itu menyesatkan. Al Hallaj mengaku sebagai Allah. Ana al Haq (Akulah Allah) begitu katanya. Demikian pula tokoh sufi lain seperti Syekh Siti Jenar yang mengaku sebagai Allah. Terakhir Ahmad Dhani, Dewa, dalam lagunya "Satu" berkata "Aku ini adalah diriMu (Allah)." Mungkin orang sufi berpendapat itu karena teramat dekatnya mereka dengan Allah sehingga sampai mengaku sebagai Allah. Padahal Nabi Muhammad SAW yang merupakan manusia sempurna dan paling dekat kepada Allah SWT tidak pernah sekalipun mengaku sebagai Allah. Bukankah Nabi dan ummat Islam selalu berkata "Iyyaka na'budu" (kepadaMu kami menyembah)? Itulah salah satu arogansi sufi. Mengaku Tuhan seperti Fir'aun. Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar difatwa sesat dan dihukum mati oleh para ulama.

8. Sufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal diBistam,Iran,261 H/874 M.) Dia adalah pendiri tarekat Naqsyabandiyah. Mengaku berguru pada Imam Ja'far padahal dia baru lahir 40 tahun setelah Imam Ja'far meninggal dunia. Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat Subuh Yazid Al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya,"Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa`budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah,tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku)." Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.Menurut pandangan para sufi, ketika mengucapkan kata-kata itu,al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawuf.

9. Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata,"Subhani, subhani, ma a`dhama sya`ni (mahasuci aku,mahasuci aku, alangkah maha agungnya aku)." Nah jika Nabi mengajarkan dzikir "Subhanallahu" (Maha Suci Allah), maka syekh Tasawuf mengajarkan "dzikir" Subhani" (Maha Suci aku). Ini jelas kesombongan yang besar yang dibenci Allah:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." [Luqman:18]

Al-Bustami juga berkata,"Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada didalam jubah ini kecuali Allah)."

10. Paham Tasawuf, kasyf (tersingkapnya hijab, hingga seorang sufi bisa mengetahui hal ghaib), juga bertentangan dengan ayat Al Qur'an. Padahal Nabi SAW sendiri tidak mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi SAW tidak tahu apa yang diperbuat Allah SWT untuk Nabi SAW sendiri esok (lihat dalam Bab Aqidah). Allah SWT berfirman:

"Katakanlah ! Tidak ada yang dapat mengetahui perkqara yang ghaib dilangit dan

di bumi kecuali Allah ." (An-Naml:65)

Ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka menganggap bahwa Nabi SAW termasuk orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib, maka mereka menyembunyikan sesuatu didalam (genggaman) tangan mereka untuk beliau. Dan mereka berkata kepada beliau," Kabarkanlah kepada kami, apa dia (yang ada dalam gemgaman kami ini) ? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan berteriak, "Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun itu didalam neraka." ( Diriwayatkan Abu Daud: 286 ).

11. Banyak tarekat tasawuf yang terlalu mengkultuskan pemimpinnya dengan berbagai karomah yang tidak masuk akal. Contohnya Mawlana Syaikh Nazim, pimpinan tarekat Naqsyabandiyah saat ini, menurut mu Hakikat Sulthanul Awliya Syaikh Nazim Adil al-Haqqani menurut Syaikh Adnan mampu menjamakkan diri beliau dalam hitungan antara 70.000 sampai 700.000 dengan menampakkan diri di berbagai tempat yang berbeda di saat yang bersamaan. Akibatnya banyak orang belajar tasawuf hanya karena mencari karomah/kesaktian gurunya.

12. Diantaranya sufi ada yang menganggap bahwa Rasulullah SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang sufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawuf seperti perkataan Busthami," Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri ditepinya." Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila At-Tashawwuf ya`Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah).

13. Diantara orang-orang sufi ada yang mempercayai bahwa Rasulullah SAW itu adalah kubah alam, dan dia itulah dan dia itulah Allah yang bersemayam diatas arsy; sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari nurnya (Nur Muhammad), dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam diatas Arsy Allah SWT. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang setelahnya/pengikutnya. Para sufi ini mengangkat derajad Nabi sedemikian tinggi sehingga seolah-olah sama kedudukannya dengan Yesus (Anak Allah) dengan Tuhan Bapak menurut kepercayaan agama Kristen.

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku … (Al Kahfi : 110).

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat. (Shaad : 71)

Allah SWT berfirman,

" Barang siapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al

Qur`an), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan syetan itulah yang

menjadi teman yang selalu menyertainya." (Az-Zukhruf:43:36)

Pengajaran Allah SWT adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya, yakni Al

Qur`an.Barang siapa tidak beriman kepada Al Qur`an, tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling dari Al Qur`an, kemudian syetan datang menjadi teman setia baginya.

14. Sufi juga mengecam orang yang menyembah Allah karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul 'Adawiyah berkata, "Ya Allah jika aku menyembahMu karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku. Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka pintu neraka untukku" Itu adalah sifat sombong dan riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk berharap akan surga dan takut api neraka.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [At Tahrim:6]

Do'a yang terbaik justru bertentangan dengan para sufi tersebut:

"Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". [Al Baqarah:201]

15. Banyak orang berusaha mengkoreksi kesesatan Tasawuf termasuk Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya' 'Uluumuddiin. Toh Imam Al Ghazali terperosok juga karena menggunakan contoh di luar Al Qur'an dan Hadits. Misalkan dalam rangka hidup sederhana memberi contoh sufi yang kelewat zuhud sehingga memakai baju bulu yang kotor dan berkutu. Padahal Nabi mengatakan kebersihan sebagian dari iman. Begitu pula kisah orang yang hanya beribadah saja sehingga tidak mampu memberi nafkah keluarganya. Untuk makan dia berkeliling ke rumah temannya. Yang punya 7 teman maka dalam 7 hari kembali lagi ke teman pertama yang dia tumpangi. Ada pula yang sebulan baru ketemu dengan teman pertama yang dia tumpangi dan ada pula yang setahun. Padahal Nabi memberi sunnah untuk berusaha dan tidak menyusahkan orang. Tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di bawah. Begitu kata Nabi. Buya Hamka yang menulis buku Tasawuf modern juga menggambarkan wali Sufi begitu sakti hingga bisa mengangkat kapal yang tenggelam di laut dari jauh! Padahal Nabi Muhammad SAW saja ketika perang Uhud sampai berdarah mulutnya. Ini timbul kesan orang belajar Tasawuf untuk dapat kesaktian/karomah.

16. Sesungguhnya dalam Al Qur'an dan Hadits kita menemukan pedoman bagaimana berakhlaq yang bagus, sederhana tidak boros, menjauhi ghibah atau buruk sangka, amar ma'ruf nahi munkar, jihad, cara beribadah/mendekatkan diri kepada Allah, dan sebagainya. Dalam Tasawuf meski ada namun sering berlebihan. Sebagai contoh dulu Tasawuf mengajarkan hidup sederhana sehingga mereka hidup seperti gembel/pengemis. Sekarang Tasawuf modern diajarkan dihotel-hotel yang mewah yang jauh dari contoh hidup sederhana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

17. Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan menjauhi

orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang.

Diantaranya ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa

tentang perkataan Al-Harits Al Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857 M.).Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama mereka." (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi) – Ibnul Jauzi "Talbis Iblis".

18. Imam Syafi`i berkata, "Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum Dhuhur ia menjadi orang yang dungu." Imam Syafi`i juga pernah berkata."Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal selamanya

19. Ada yang menulis Imam Maliki mendukung Tasawuf, tapi itu tidak benar. Selain zaman Imam Maliki Tasawuf belum dikenal juga Imam Maliki tidak pernah menulis satu buku pun tentang Tasawuf atau mengajarkannya. Padahal beliau adalah salah satu dari Imam Madzhab yang punya banyak murid dan pengikut.

[media-dakwah] ASAL MUASAL TASAWUF

A Nizami

Wed, 01 Feb 2006 22:42:01 -0800

ASAL MUASAL TASAWUF

suhana hana

Wed, 10 Aug 2005 00:18:54 -0700

Bashrah, sebuah kota di negeri Irak, merupakan tempat kelahiran pertama bagi Tasawuf dan Sufi. Yang mana (di masa tabi'in) sebagian dari ahli ibadah Bashrah mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara' terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam), hingga akhirnya mereka memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf). Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan Sufi, sebagai nisbat kepada Shuuf .

Oleh karena itu, lafazh Sufi ini bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, karena nisbat kepadanya dinamakan Shuffi, bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah Ta'ala, karena nisbat kepadanya dinamakan Shaffi, bukan pula nisbat kepada makhluk pilihan Allah karena nisbat kepadanya adalah Shafawi dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab), walaupun secara lafazh bisa dibenarkan, namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mendapati masa kemunculan mereka, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh – Al Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba, maka beliau pun berkata: Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al Masih bin Maryam ! Maka sesungguhnya petunjuk Nabi kita lebih kita cintai (dari/dibanding petunjuk Al Masih), beliau Shallallahu alaihi wassalam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya. (Diringkas dari Majmu' Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Juz 11, hal. 6,16 ).

Siapakah Peletak/Pendiri Tasawuf ?

Ibnu Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya peletak Tasawuf adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sendiri. Yang mana beliau –menurut Ibnu Ajibah – mendapatkannya dari Allah Ta'ala melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu Ajibah berbicara panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia berkata: Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan membawa ilmu syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau Shallallahu alaihi wassalam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba darinya.

(Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata:

Perkataan Ibnu Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau menyembunyikan kebenaran.

Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu, karena Allah Ta'ala telah perintahkan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya

(artinya): Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. (Al Maidah : 67)

Beliau juga berkata: Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi'ah). Dan benar-benar Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah Radiyallahu anhu ia berkata: Suatu saat aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wassalam kepadamu? Maka Ali pun marah lalu mengatakan: Nabi Shallallahu alaihi wassalam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia ! Hanya saja beliau Shallallahu alaihi wassalam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu Thufail Radiyallahu anhu berkata: Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin ? Beliau menjawab: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: (Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah. (At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).

Hakikat Tasawuf

Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu, maka dari manakah ajaran Tasawuf ini ?

Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur'an dan As Sunnah.

Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallahu alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta'ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf Al Mansya' Wal Mashadir, hal. 28). [1]

Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata:

Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba Allah Ta'ala di dalam memerangi Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.

(Muqaddimah kitab Mashra'ut Tashawwuf, hal. 19). [2]

Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf

1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata :

Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.

(Dinukil dari Firaq Mua'shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600).

Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syuura : 11)

Berkatalah Musa : Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. Allah berfirman : Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku (yakni di dunia-pen)……… (Al A'raaf : 143).

2. Ibnu Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata:

Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah ! (Fushushul Hikam).[3] Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah

orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

3. Ibnu Arabi juga berkata : Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan

Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya. (Al Futuhat Al Makkiyyah).[4]

Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

(Adz Dzariyat : 56).

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah

Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.(Maryam : 93).

4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata : Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. [5]

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah

akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang

yang merugi. (Ali Imran : 85)

5. Pembagian ilmu menjadi Syari'at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta'ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen). (Majmu' Fatawa, juz 11 hal. 401).

6. Dzikirnya orang-orang awam adalah La Illaha Illallah, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus / Allah, / Huu, dan / Aah saja.

Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam

bersabda :

Sebaik-baik dzikir adalah La Illaha Illallah . (H.R. Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah Radiyallahu anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami', no. 1104).[6]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata : Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa La Illaha Illallah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah / Huu, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.

(Risalah Al Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tashawwuf, hal. 13)

7. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta'ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah. (An Naml : 65)

8. Keyakinan bahwa Allah Ta'ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta'ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.

Padahal Allah Ta'ala berfirman :

Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti

kalian, yang diwahyukan kepadaku … (Al Kahfi : 110).

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat. (Shaad : 71)

Wallahu A'lam Bish Shawab

Hadits-hadits palsu atau lemah yang tersebar di

kalangan umat

Hadits Abu Umamah

Pakailah pakaian yang terbuat dari bulu domba, niscaya akan kalian rasakan manisnya keimanan di hati kalian(HR Al Baihaqi dlm Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini palsu karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Yunus Al Kadimy. Dia seorang pemalsu hadits, Al Imam Ibnu Hibban berkata : Dia telah memalsukan kira-kira lebih dari dua ribu hadits. (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah Wal Maudhu'ah, no:90)

Footnote :

[1][2] Dinukil dari kitab Haqiqatut Tashawwuf karya Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7

[3][4][5] Dinukil dari kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.

[6] Lihat kitab Fiqhul Ad Iyati Wal Adzkar, karya Asy Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal. 173.

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 46/III/I2/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli "Hakekat Tasawuf dan Sufi". Penulis Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

http://www.mail-archive.com/keluarga-sejahtera@yahoogroups.com/msg00480.html

Tulisan di atas dibuat berdasarkan artikel "PERBEDAAN POKOK ANTARA ISLAM DAN TASAWUF" dari al-islam.or.id

Tasawuf dan Realitas Historis 5 May, 2006

Posted by netlog in Tasawuf dan Realitas Historis.
add a comment

Introspeksi arti tasawuf meliputi misi, visi, pertumbuhan, faktor pendorong kemunculan, dan posisinya sebagai bagian dari epistimologi. Ada beberapa definisi tasawuf, antara lain didefinisikan sebagai bukan gerak lahir dan bukan pengetahuan, tetapi kebijakan. Al-Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa tasawuf adalah penyerahan diri pada Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf adalah makan sedikit demi mencari kedamaian dalam zat Allah dan menarik diri dari khalayak.

Kalau anda terus membaca definisi-definisi tasawuf yang ada, anda bisa terjebak dalam satu pojok: tasawuf, kalau begitu, sama dengan zuhud; tasawuf berarti lapar. Ada yang mengatakan bahwa, agar anda tidak cepat dimasuki setan, anda harus mengosongkan perut sehingga mudah mengendalikan diri. Akan tetapi, ada juga yang secara berseloroh mengatakan, justru perut harus diisi agar setan tidak bisa masuk. Ada yang menyimpulkan bahwa tasawuf pada intinya adalah zuhud. Tasawuf seolah-olah hanya terkait dengan akhirat, tidak dengan dunia; reaksinya pada dunia adalah negatif dan mengharuskan hidup miskin. Adakah tasawuf memang demikian? Tampaknya, kita harus berkunjung ke sarang para sufi. Sebab, belajar tasawuf hanya mendengar saja, sama artinya dengan tidak belajar; seperti halnya ketika anda belajar mengemudi mobil hanya melalui ceramah saja tanpa praktik.

Definisi-definisi di atas, tidak menjelaskan tasawuf yang sebenarnya. Definisi tersebut hanya petunjuk saja. Tujuan tasawuf tidak akan dapat dipahami dan dijelaskan dengan persepsi apapun, filosofis maupun yang lain. Hanya kearifan hati yang mampu memahami sebagian dari banyak seginya. Diperlukan suatu pengalaman rohani yang tidak bergantung pada metode-metode indra ataupun pemikiran.

Timbulnya tasawuf dalam Islam bukan sesuatu yang aneh, bahkan menurut saya, ˜wajib™. Kurang keislamannya bila seseorang tidak mengambil tasawuf, kira-kira demikian. Nabi kita, sebelum menjadi Rasulpun, adalah seorang sufi. Beliau hidup sederhana, memikirkan kebenaran, merenungkan alam, dan bertapa (‘Uzlah).

Fazlur Rahman mengatakan bahwa permulaan gerakan sufi berhubungan dengan satu kelompok muslim yang senang melakukan pertapaan. Mereka senang membaca al-Quran dengan cara menangis. Mereka juga senang bercerita. Cerita-cerita mereka sangat mempengaruhi para pendengarnya. Akan tetapi, yang penting di sini adalah bahwa Nabi saw. – sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya – adalah seorang sufi. Demikian juga halnya para sahabat beliau. Hanya saja, waktu itu belum dikenal yang namanya tasawuf. Urutan Riyadhah-nya belum dikodifikasikan dan belum dibuat rumusan-rumusan.

Sekarang, tasawuf sudah menjadi berbagai tarekat, metode-metodenya sudah begitu teratur. Di zaman Rasul dan Sahabat, tasawuf belum seperti sekarang. Namun, pada esensinya, mereka sama dengan para sufi zaman-zaman selanjutnya.

Banyak orang belum begitu paham tentang apa itu tasawuf dan apa itu tarekat. Konsekuensinya, kalau anda ingin mengambil tasawuf, pasti anda mengambil tarekat. Sebab, pengamalan tasawuf ada dalam berbagai tarekat.

Bila tasawuf hanya diartikan sebagai banyak berpuasa, tidak mau diajak korupsi, atau hanya diartikan sebagai suatu sikap keilmuan, orang tidak perlu ikut tarekat. Akan tetapi, bila tasawuf sudah mencapai pengertian riyadhah (latihan dengan menempuh berbagai tingkatan tertentu), orang harus mengambil tarekat. Harus ada bentuknya, apa pun namanya, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, dan sebagainya.

Hal ini penting bila anda menghadapi anggapan orang yang mengatakan bahwa tarekat atau tasawuf bukan ajaran Islam atau bid’ah. Anda dapat mengatakan bahwa, sebelum menjadi Rasul pun, Nabi Muhammad adalah seorang sufi. Para sahabat yang tinggal di shuffah pun tidak diusir oleh Nabi saw. Bahkan, Nabi saw meminta para sahabat lain untuk membantu memberi makan mereka.

Ajaran tawakal dalam al-Quran mendorong timbulnya tasawuf yang bercerita zuhud. Tawakal adalah penyerahan diri. Pentingnya pengalaman spiritual yang ditekankan dalam al-Quran juga memberikan pengaruh bagi timbulnya tasawuf. Menurut Fazlur Rahman, Nabi saw benar-benar diperintah oleh Allah menjadi Rasul tatkala beliau menyaksikan sesuatu melalui pengalaman-pengalaman spiritual. Jadi, kesadaran kerasulan justru dimulai dari pengalaman spiritual. Fazlur Rahman melihat ayat-ayat yang berisi hal-hal spiritual umumnya sebagai ayat-ayat yang diturunkan di Mekah. jarang dijumpai ayat-ayat Madaniyah yang berisi pentingnya pengalaman-pengalaman spiritual.

Menurut Rahman, kenyataan ini mengharuskan adanya dasar-dasar keyakinan dari dorongan pengalaman spiritual terlebih dulu yang kelak menjadi landasan bagi pembangunan umat Islam di Madinah.

Berkaitan dengan hal di atas, kita bisa membuat analogi, kalau anda mau jadi presiden atau ketua RW, misalnya, anda tentu harus mempunyai landasan yang kuat untuk pekerjaan itu. Kalau tidak, anda bisa oleng – kira-kira demikian. Pengalaman spiritual – termasuk sikap tawakal dan hidup sederhana – bermuara dari zuhud. Faktor paling dominan yang menyebabkan timbulnnya gerakan tasawuf adalah ajaran zuhud dalam Islam. gampangnya, zuhud berarti hidup sederhana.

Perkembangan tasawuf mempunyai makna yang khusus ketika muncul guru-guru sufi. Pada tahap pertama, berjalanlah tasawuf dalam arti zuhud dan ibadah-ibadah sunnah. Hal ini terjadi kira-kira sejak zaman Nabi saw. Tahap kedua, muncul guru-guru sufi yang sudah mencapai tingkatan tinggi. Mereka mengajarkan wirid dan tarekatnya.

Sebelum masa al-Ghazali pun, jenis-jenis tarekat sudah ada. Lalu ada perkembangan sangat berarti di zaman al-Ghazali yang berjalan cukup panjang. Pada masa itu, tasawuf sudah berbeda dari sebelumnya, karena sudah bercampur dengan filsafat.

Di kalangan Syi’ah, tradisi tasawuf kuat sekali, disertai dengan filsafat dan fikih ortodoks yang kokoh. Pikiran Syi’ah memang agak ganjil. Fikih Syi’ah kadang-kadang tampak rasional dan kadang-kadang tampak kaku sekali. Filsafat mereka juga kadang-kadang rasional sekali dan kadang justeru bercampur dengan irfan sehingga tidak tampak lagi ciri rasionalnya.

Kesimpulannya, bahwasanya tasawuf memang sudah ada sejak zaman Nabi saw, namun tidak dimodifikasi seperti pada saat ini. Jadi, bagi siapapun yang tidak sepaham dengan doktrin tasawuf, apalagi sampai berkata tasawuf bid’ah, berarti dia tidak membaca dan memetik intisari sejarah yang penuh hikmah dan arti.


Dari Zuhud ke Tasawuf 3 May, 2006

Posted by netlog in Dari Zuhud Ke Tasawuf.
5 comments

A. PENDAHULUAN

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu –ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.

Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.

Tulisan ini akan berusaha memberikan paparan tentang zuhud dilihat dari sisi sejarah mulai dari pertumbuhannya sampai dengan peralihannya ke tasawuf.

B. ZUHUD
Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut Harun Nasution, station yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhd yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi [1].

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah [2].

Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis menurut Prof. Dr. Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes [3]. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal – hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah. Berkaitan dengan ini al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir” [4]. Zuhud disini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang – kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni ridla, bertemu dan ma’rifat Allah swt.

Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam, dan gerakan protes yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menatap dunia fana ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridlaan Allah swt., bukan tujuan tujuan hidup, dan di sadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat – sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya [5].

Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya [6]. Lebih lanjut at-Taftazani menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan” [7]. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [8]. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari” [9]

C. FAKTOR – FAKTOR ZUHUD
Zuhud merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud dalam pembahasan tentang maqamat,meskipun dengan sistematika yang berbeda – beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah, al-sabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla. Al-Tusi menempatkan zuhud dalamsistematika : al-taubah,al-wara’,al-zuhd, al-faqr,al-shabr,al-ridla,al-tawakkul, dan al-ma’rifah [10]. Sedangkan al-Qusyairi menempatkan zuhud dalam urutan maqam : al-taubah,al-wara’,al-zuhud, al-tawakkul dan al-ridla [11].

Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit,dan untuk pindah dari maqam satu ke maqam yang lain menghendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat, kadang – kadang seorang calon sufi harus bertahun – tahun tinggal dalam satu maqam.

Para peneliti baik dari kalangan orientalis maupun Islam sendiri saling berbeda pendapat tentang faktor yang mempengaruhi zuhud. Nicholson dan Ignaz Goldziher menganggap zuhud muncul dikarenakan dua faktor utama,yaitu : Islam itu sendiri dan kependetaan Nasrani, sekalipun keduanya berbeda pendapat tentang sejauhmana dampak faktor yang terakhir [12].

Harun Nasution mencatat ada lima pendapat tentang asal – usul zuhud. Pertama, dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh Phytagoras yang megharuskan meninggalkan kehidupan materi dalamrangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwadalam rangka penyucian roh yangtelah kotor,sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan faham nirwananya bahwa untukmencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusia meninggalkan dunia dan mendekatkandiri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman [13]

Sementara itu Abu al’ala Afifi mencatat empat pendapat parapeneliti tentang faktor atau asal –usul zuhud. Pertama, berasal dari atau dipengaruhi oleh India dan Persia. Kedua, berasal dari atau dipengaruhi oleh askestisme Nasrani. Ketiga, berasal atau dipengaruhi oleh berbagai sumber yang berbeda- beda kemudian menjelma menjadi satu ajaran. Keempat, berasal dari ajaran Islam. Untukfaktor yang keempat tersebut Afifi memerinci lebih jauh menjadi tiga : Pertama, faktor ajaran Islam sebagaimana terkandung dalam kedua sumbernya, al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedua sumber ini mendorong untukhidup wara’ [14], taqwa dan zuhud.

Kedua, reaksi rohaniah kaum muslimin terhadap sistemsosial politik dan ekonomi di kalangan Islam sendiri,yaitu ketika Islam telah tersebar keberbagai negara yangsudah barang tentu membawa konskuensi – konskuensi tertentu,seperti terbukanya kemungkinan diperolehnya kemakmuran di satu pihak dan terjadinya pertikaian politik interen umat Islam yang menyebabkan perang saudara antara Ali ibn Abi Thalib dengan Mu’awiyah,yang bermula dari al-fitnah al-kubraI yang menimpa khalifahketiga, UstmanibnAffan (35 H/655 M). Dengan adanya fenomena sosial politik seperti itu ada sebagian masyarakat dan ulamanya tidak inginterlibat dalamkemewahan dunia dan mempunyai sikap tidak mau tahu terhadap pergolakan yang ada,mereka mengasingkan diri agar tidak terlibat dalam pertikaian tersebut.

Ketiga, reaksi terhadap fiqih dan ilmukalam, sebab keduanya tidak bisa memuaskan dalam pengamalan agama Islam. Menurut at-Taftazani, pendapat Afifi yang terakhir ini perlu ditelitilebih jauh, zuhud bisa dikatakan bukan reaksi terhadap fiqih dan ilmu kalam, karena timbulnya gerakan keilmuan dalamIslam, seperti ilmu fiqih dan ilmukalam dan sebaginya muncul setelah praktek zuhud maupun gerakan zuhud. Pembahasan ilmu kalam secara sistematis timbul setelah lahirnya mu’tazilah kalamiyyah pada permulaan abad II Hijriyyah, lebih akhir lagi ilmu fiqih,yakni setelah tampilnya imam-imam madzhab, sementara zuhud dan gerakannya telah lama tersebar luas didunia Islam [15].

Menurut hemat penulis,zuhud itu meskipun ada kesamaan antara praktek zuhud dengan berbagai ajaran filsafat dan agama sebelum Islam, namun ada atau tidaknya ajaran filsafat maupun agama itu, zuhud tetap ada dalam Islam. Banyak dijumpai ayat al-Qur’an maupun hadits yang bernada merendahkan nilai dunia, sebaliknya banyak dijumpai nash agama yangmemberi motivasi beramal demi memperoleh pahala akhirat dan terselamatkan dari siksa api neraka (QS.Al-hadid :19),(QS.Adl-Dluha : 4),(QS. Al-Nazi’aat : 37 – 40).

D. PERALIHAN DARI ZUHUD KE TASAWUF
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalahkehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi di abad – abad sesudahnya.

Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa – masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah – khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman – kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti – hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H [16].

Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi.halini mempunyai pengaruh yang besar dalampertumbuhan kehidupan beragama masyarakat Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana.KetikaBaniUmayyah memegang tampuk kekuasaan,hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalanganistana.Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja – raja Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M), dikenalsebagai seorang pemabuk. Dalam sejarah, Yazid dikenal sebagai seorang pemabuk. Dalam situasi demikian kaummuslimin yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh,dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan sosial dalam Islam.

Dari perubahan –perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah.Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau nasik (jamak : nussak) [17]

Zuhud yang tersebar luas pada abad –abad pertama dan kedua Hijriyah terdiri atas berbagai aliran yaitu :

1. Aliran Madinah
Sejak masa yang dini,di Madinah telah muncul para zahid.Mereka kuat berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-sunnah, dan mereka menetapkan Rasulullah sebagai panutan kezuhudannya. Diantara mereka dari kalangan sahabat adalah Abu Ubaidah al-jarrah (w.18 H.), Abu Dzar al-Ghiffari (w. 22H.), Salman al-Farisi (w. 32 H.), Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H.), Hudzaifah ibn Yaman (w. 36 H.). Sementara itu dari kalangan tabi’in diantaranya adalah Sa’id ibn al-Musayyad (w. 91 H.) dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H.).
Aliran Madinah ini lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama kaum muslimin (salaf),dan berpegang teguh pada zuhud serta kerendah hatian Nabi. Selain itu aliran ini tidak begitu terpengaruh perubahan – perubahan sosial yang berlangsung pada masa dinasti Umayyah, dan prinsip – prinsipnya tidak berubah walaupun mendapat tekanan dari Bani Umayyah.dengan begitu, zuhud aliran ini tetap bercorak murni Islam dan konsisten pada ajaran –ajaran Islam.
2. Aliran Bashrah
Louis Massignon mengemukakan dalam artikelnya, Tashawwuf, dalam Ensiklopedie de Islam ,bahwa pada abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat dua aliran zuhud yang menonjol. Salah satunya di Bashrah dan yang lainnya di Kufah. Menurut Massignon orang – orang Arab yang tinggal di Bashrah berasal dari Banu tamim. Mereka terkenal dengan sikapnya yang kritis dan tidak percaya kecuali pada hal – hal yang riil. Merekapun terkenal menyukai hal- hal logis dalam nahwu, hal – hal nyata dalam puisi dan kritis dalam hal hadits. Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung padaaliran – aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl al-Raqqasyi,Rabbah ibn ‘Amru al-qisyi, Shalih al-Murni atau Abdul Wahid ibn Zaid,seorang pendiri kelompok asketis di Abadan [18].
Corak yang menonjol dari para zahid Bashrah ialah zuhud dan rasa takut yang berlebih –lebihan.Dalam halini Ibn Taimiyah berkata : “Para sufi pertama –tama muncul dari Bashrah.Yang pertama mendirikan khanaqah para sufi ialah sebagian teman Abdul Wahid ibn Zaid, salah seorang teman Hasan al-Bashri.para sufi di Bashrah terkenal berlebih –lebihan dalam hal zuhud, ibadah, rasa takut mereka dan lain –lainnya, lebih dari apa yang terjadi di kota – kota lain” [19].Menurut Ibn Taimiyyah hal ini terjadi karena adanya kompetisi antara mereka dengan para zahid Kufah.

3. Aliran Kufah
Aliran Kufah menurutLouis Massignon, berasal dariYaman.Aliran ini bercorak idealistis, menyukai hal- hal aneh dalam nahwu, hal-hal image dalam puisi,dan harfiah dalam hal hadits.Dalam aqidah mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Rajaiyyah.dan ini tidak aneh, sebab aliran Syi’ah pertama kali muncul di Kufah.
Para tokoh zahid Kufah pada abad pertama Hijriyah ialah ar-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H.) pada masa pemerintahan Mu’awiyah, Sa’id ibn Jubair (w. 95 H.), Thawus ibn Kisan (w. 106 H.), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H.)
4. Aliran Mesir
Pada abad – abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat suatu aliran zuhud lain, yang dilupakan para orientalis, dan aliran ini tampaknya bercorak salafi seperti halnya aliran Madinah. Aliran tersebut adalah aliran Mesir. Sebagaimana diketahui, sejak penaklukan Islam terhadap Mesir, sejumlah para sahabat telah memasuki kawasan itu,misalnya Amru ibn al-Ash, Abdullah ibn Amru ibn al-Ash yang terkenal kezuhudannya, al-Zubair bin Awwam dan Miqdad ibn al-Aswad.

Tokoh – tokoh zahid Mesir pada abad pertama Hijriyah diantaranya adalah Salim ibn ’Atar al-Tajibi. Al-Kindi dalam karyanya, al-wulan wa al-Qydhah meriwayatkan Salim ibn ‘Atar al-Tajibi sebagai orang yang terkenal tekun beribadah dan membaca al-Qur’an serta shalat malam, sebagaimana pribadi – pribadi yang disebut dalam firmanAllah :”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”. (QS.al-Dzariyyat, 51:17). Dia pernah menjabat sebagai hakim diMesir,dan meninggal di Dimyath tahun 75 H. Tokoh lainnya adalah Abdurrahman ibn Hujairah (w. 83 H.) menjabat sebagai hakim agung Mesir tahun 69 H.

Sementara tokoh zahid yang paling menonjol pada abad II Hijriyyah adalah al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H.).Kezuhudan dan kehidupannya yang sederhana sangat terkenal. Menurut ibn Khallikan, dia seorang zahid yang hartawan dan dermawan, dll [20]

Dari uraian tentang zuhud dengan berbagai alirannya, baik dari aliran Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir ataupun Khurasan, baik pada abad I dan II Hijriyyah dapat disimpulkan bahwa zuhud pada masa itu mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Pertama : Zuhud ini berdasarkan ide menjauhi hal – hal duniawi, demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari adzab neraka. Ide ini berakar dari ajaran –ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah yang terkena dampak berbagai kondisi sosial politik yang berkembang dalam masyarakat Islam ketika itu.
Kedua : Bercorak praktis, dan para pendirinya tidak menaruh perhatian buat menyusun prinsip – prinsip teoritis zuhud. Zuhud ini mengarah pada tujuan moral.
Ketiga : Motivasi zuhud ini ialah rasa takut, yaitu rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh –sungguh. Sementara pada akhir abad kedua Hijriyyah, ditangan Rabi’ah al-Adawiyyah, muncul motivasi cinta kepada Allah, yang bebas dari rasa takut terhadap adzab-Nya.
Keempat : Menjelang akhir abad II Hijriyyah, sebagian zahid khususnya di Khurasan dan pada Rabi’ah al-Adawiyyah ditandai kedalaman membuat analisa, yang bisa dipandang sebagai fase pendahuluan tasawuf atau sebagai cikal bakal para sufi abad ketiga dan keempat Hijriyyah. Al-Taftazani lebih sependapat kalau mereka dinamakan zahid, qari’ dan nasik (bukan sufi). Sedangkan Nicholson memandang bahwa zuhud ini adalah tasawuf yang paling dini. Terkadang Nicholson memberi atribut pada para zahid ini dengan gelar “para sufi angkatan pertama”.

Suatu kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud dalam Islam.Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan, maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan (‘ain al jama’) [21]. Sejak itulah muncul karya –karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243 H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu tasawuf.

E. KESIMPULAN

• Zuhud adalah fase yang mendahului tasawuf.
• Munculnya aliran –aliran zuhud pada abad I dan II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar – pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syiria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Orang melihat perbedaan besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabat.
• Pada akhir abad ke II Hijriyyah peralihan dari zuhud ke tasawuf sudah mulai tampak. Pada masa ini juga muncul analisis-analisis singkat tentang kesufian. Meskipun demikian,menurut Nicholson,untuk membedakan antara kezuhudan dan kesufian sulit dilakukan karena umumnya para tokoh kerohanian pada masa ini adalah orang – orang zuhud. Oleh sebab itu menurut at-taftazani,mereka lebih layak dinamai zahid daripadasebagai sufi.

MAKNA ‘KAFIR’ DAN ‘SYUHADA’ 3 May, 2006

Posted by netlog in Makna Kafir dan Syuhada.
6 comments

Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam

Sahabat sekalian, sering sekali kita menyebut orang yang tidak beragama Islam sebagai ‘kafir’. Itu yang diajarkan sejak kecil pada kita. Dan makna yang tidak tepat ini turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi, pada akhirnya kita menerimanya dengan taken for granted saja, dan tidak memeriksa lagi kebenarannya.

Seandainya kita mau membuka Al-Qur’an dan mencari definisi qur’aniyahnya, maka akan kita temukan bahwa makna kata ‘kafir’ sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan perbedaan agama secara langsung.

Makna ‘Kafir’

Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi qur’aniyah dari segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata ‘orang kafir’, bisa kita temukan di surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.

Q.S. 18:100, “dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.”

Q.S. 18:101, “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa Indonesia dengan kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah dari kata ‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar.

Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi tuli atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?

Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.

Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?
Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”

Dari definisi Qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang tertutup dari ‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).

Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam qalb kita, dalam dada/shuduur, yang ada pada level jiwa (nafs). Shuduur artinya ‘dada spiritual’, sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun jantung, tapi lebih kepada ‘hati spiritual’ seperti nurani.

Jiwa atau nafs itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

Q.S. 7:172, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: “Bukankah aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi (syahidna)”.

Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad (fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, “Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit.”

Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau tertutup. Ia tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’ qalb pada level jiwa (nafs) kita.

Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:

Q.S. 64:11, “… Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an ditulis: ‘kepada hatinya’).”

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, karena Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an seharusnya, dan sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam kepala.

Q.S. 29:49, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”

Al-Qur’an dalam dada (qalb di dalam shuduur/dada) kita inilah yang akan kita bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur’an yang dihafalkan dalam kepala. Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala kita akan hancur menjadi tanah. Kita harus memahami dengan hati hingga ke tingkat makna dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur’ani di kepala.

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna ‘kafir’. Kata ‘kafir’ bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’ adalah mereka yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan sempurna.

Untuk memperkuat bahwa makna ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan qalb dan tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama, kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:
Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 – 7,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”

“Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”

Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang bersahabat terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks perbedaan agama.

Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru memperkuat keterangan tadi, bahwa ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan qalb, dan bukan dalam konteks perbedaan agama. Bukankah Allah menempatkan dua ayat ini secara berdampingan? Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. ‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah) tentang qalb, bukan status (keagamaan).

Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa orang kafir adalah orang yang qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan tidak secara langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana ia mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran adalah sebuah kondisi, bukan status.

Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk menyebut orang lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang kafir. Hal ini tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan justru akan menambah dosa saja.

Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, “Dan sesungguhnya di antara para ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.”

Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Dan yang membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, camkanlah bahwa tidak semua orang yang ber-Islam dengan sendirinya telah beriman. Kita perhatikan ayat berikut ini:

Q. S. 49 : 14, “Orang-orang Arab (badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber-Islam’ (perhatikan teks Qur’an-nya: ‘aslamna’ artinya ‘kami telah berserah diri’, di terjemahan Indonesia menjadi ‘kami telah tunduk’), karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-qalb mu (quluubikum)…”
Perhatikanlah pada ayat di atas, bahwa beriman hingga masuk ke hati itu setingkat di atas tingkatan Islam. Dengan demikian, bisa jadi seseorang telah ber-Islam, tapi belum tentu dia memiliki iman.

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini.

Makna ‘Syuhada’

Kata ’syuhada’, dalam buku agama Islam di masa sekolah dasar saya dulu, maknanya diartikan sebagai orang yang gugur di medan perang melawan ‘musuh Islam’. Maka ketika dewasanya orang berlomba-lomba ingin berperang (atau membuat perangnya sendiri dan musuhnya sendiri) karena ingin mati sebagai syuhada, yang jaminannya adalah surga.
Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:

“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Bagaimana mungkin mati di tempat tidur mendapatkan derajat kematian seperti seorang syuhada?

Ini bisa kita pahami, jika kita teliti Al-Qur’an. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan (dengan sebenar-benarnya)’.

Di Al-Qur’an ayat 7 : 172 tadi, ketika Allah mengambil persaksian dari jiwa-jiwa manusia, kata yang dipakai adalah ‘Asyhadahum ala anfusihim’, mengambil persaksian atas jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa tersebut menjawab, ‘Qaalu, bala syahidna,” benar, sesungguhnya kami bersaksi.
Demikian pula kata yang sama (syuhada) dipakai dengan jelas di Q.S. Al-Hadiid ayat 19,

Q.S. 57:19, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, mereka itu orang-orang Shiddiqiin dan ‘syuhada inda Rabbihim’ (menjadi saksi di sisi rabb mereka), bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Maka jelas bahwa ’syuhada’ berarti orang yang mempersaksikan (kebenaran Ilahiyah). Menjadi syuhada tidak harus melalui peperangan. Seorang yang meninggal di atas tempat tidurnya pun bisa menjadi seorang syuhada, asal ia benar-benar memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Di zaman Rasulullah, mereka yang gugur ketika berniat mengorbankan jiwa mereka untuk Allah melalui jalan yang tersedia dan dibutuhkan ummat pada masa itu (berperang), yang pengorbanannya diterima oleh Allah, dianugerahi sebuah ‘penyaksian (akan kebenaran/Al-Haqq)’ melalui gugurnya mereka di medan perang. Namun demikian, belum tentu jalan pengorbanan yang paling dibutuhkan ummat pada setiap masa adalah berperang.

Dengan demikian, belum tentu setiap orang yang gugur di medan perang adalah ’syuhada’, jika pada saat kematiannya tidak dianugerahi sebuah penyaksian akan Al-Haqq. Juga hal ini berimplikasi bahwa banyak cara lain menjadi seorang ’syuhada’ selain melalui peperangan. Di atas semua itu, sudah tentu lebih bisa kita pahami sekarang mengapa orang yang telah berhasil menjadi seorang ’syuhada’ maka jaminannya adalah surga.
Semoga bermanfaat.