jump to navigation

Sedikit Tentang ‘Ana Al-Haqq’ 3 May, 2006

Posted by netlog in Sedikit Tentang ‘Ana Al-Haqq’.
trackback

[Tanya]

Saya kemarin membaca bukunya rumi, judul pastinya lupa tapi isinya tentang puisi-puisi harian dari rumi selama satu tahun/12 bulan. Lalu ada puisi yang saya interpretasikan sendiri seperti ini:
Hallaj berkata “ana al haq”, Fir’aun pun berkata “ana al haq”, satu kata dua makna. Betulkah?

lalu saya juga tertarik dengan fenomena syeh siti jenar, yang katanya jadi Hallajnya indonesia, betulakah dia yang mengatakan konsep manunggaling kawula gusti? kalo tidak salah konsep ini juga diakui oleh penganut kejawen?

[Jawab]

Mungkin puisi Rumi yang dimaksud adalah yang ada dalam bukunya ‘Fihi ma Fihi’ ini:
“When Hallaj’s love for God reached its utmost limit, he became his own enemy and naughted himself.

He said, “I am Haqq,” that is, “I have been annihilated; God remains, nothing else.”
This is extreme humility and the utmost limit of servanthood. It means, “He alone is.”

To make a false claim and to be proud is to say, “Thou art God and I am the servant.” For in this way you are affirming your own existence, and duality is the necessary result. Hence God said, “I am God.” Other than He, nothing else existed.

Hallaj had been annihilated, so those were the words of God.
Pharaoh said, “I am God,” and became despicable. Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.

That “I” brought with it God’s curse, but this “I” brought His Mercy, oh friend! To say “I” at the wrong time is a curse, but to say it at the right time is a mercy.
Without doubt Hallaj’s “I” was a mercy, but that of Pharaoh became a curse. Note this!
(William C. Chittick, Fihi ma Fihi, in ‘The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi’, pp. 191-193)

Pertama-tama, saya sendiri berpendapat bahwa tidak mungkin Allah secara total akan ’sudi’ bersatu seratus persen dengan makhluk. Ini sudah tentu sesuatu yang mustahil. Hanya saja, saya mengamati bahwa banyak hal yang perlu ditelaah lebih dalam mengenai persoalan ini.

Kedua, saya sama sekali bukan orang yang memahami persoalan ini. Hanya saja saya pernah sedikit ‘kutak-katik’ tentang ‘Al-Haqq’ dan mungkin bermanfaat jika saya share di sini.
Tentang puisi tersebut dan terjemahannya

Umumnya orang membaca kutipan puisi tersebut, yang (sayangnya) umumnya hanya mencantumkan kalimat ke dua saja. Kutipan yang sangat umum mengenai puisi tersebut pada buku-buku di Indonesia (sayangnya) hanyalah sepotong ini saja, ditambah dengan kualitas terjemahan yang tidak akurat:

“Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

Padahal dalam Fihi Ma Fihi, potongan ini justru diterangkan oleh alinea sebelumnya.
Chittick, di buku aslinya, mencantumkan terjemahan puisi Rumi dari bahasa Persia dengan cukup akurat. Tapi ketika buku Chittick tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat berikut ini:

Pharaoh said, “I am God,” and became despicable.
Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.
diterjemahkan menjadi:
“Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

Terjemahan ini saya kutip dari buku William C. Chittick, ‘Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi’, Edisi Baru Cetakan Keempat, Penerbit Qalam, Mei 2002; yang menerjemahkan buku ini dari buku Chittick edisi bahasa Inggris di atas.

Sayang sekali kata terjemahannya adalah “Akulah Tuhan,” padahal kata-katanya adalah “Ana’l Haqq”, dan Chittick menerjemahkan ke bahasa Inggris dengan lebih akurat, ‘I am Haqq’. Beberapa penerjemah bahasa Inggris lain kadang menerjemahkan dengan ‘I am The Truth’. Oleh penerjemah ke bahasa Indonesia, sayang kata-katanya berubah jauh menjadi ‘Akulah Tuhan.’

Mungkin karena umumnya orang tidak membacanya secara lengkap, maka ini menimbulkan kebingungan pada mereka yang hanya membaca sepotong ini saja. Padahal Rumi telah menerangkan apa maksud kata-kata Mansur Al-Hallaj tersebut pada alinea sebelumnya (dan pada banyak puisi Rumi lainnya).

Sendainya kita membaca dengan teliti alinea sebelumnya, maka sedikit banyak akan kita dapatkan perbedaan maupun ‘kisi-kisi’ makna ‘Ana’l Haqq’ yang dikatakannya, yaitu (dalam alinea sebelumnya) “aku sesungguhnya tidak ada, hanya Allah yang eksis, tiada yang lain.” Ini menegaskan bahwa kesejatian hanyalah Allah saja, dan tidak ada yang sejati, yang benar-benar tidak ada hubungan sebab-akibat dengan apapun, selain Allah.
Sebuah kenyataan yang agak disayangkan, bahwa di Indonesia hampir semuanya menerjemahkan “Ana Al-Haqq” dari Hallaj serta-merta menjadi “Akulah Tuhan.” Padahal dia tidak mengatakan “Ana Rabb,” atau “Ana ‘Llah.” Jarang yang menerjemahkannya menjadi “Aku Al-Haqq”, sebagaimana adanya.
Sedangkan Fir’aun, ia memang mengatakan “Ilah”, ia adalah ilah yang patut disembah kaumnya, sebagaimana diabadikan Al-Qur’an surat 28:38,
“Yaa ayyuhal malaa’u maa ‘alimtulakum min ilaahi ghairii.”

Ada perbedaan yang sangat besar di antara perkataan mereka yang mengatakan diri sebagai Al-Haqq dan sebagai Ilah.
Dengan demikian, dengan segala keawaman maupun keterbatasan pengetahuan saya, rasanya saya mempercayai bahwa Hallaj tidak sedang mengatakan “akulah Allah”.

Al-Haqq
Apakah ‘Al-Haqq’ itu? Al-Haqq adalah satu nama Allah, tepatnya nama-Nya yang ke lima puluh dua, dari sembilan puluh sembilan nama-nama indah-Nya yang Dia izinkan untuk manusia ketahui.
Sebagaimana diterangkan di Qur’an pula, “Haqq” adalah kebalikan dari “Batil” (2:42, 8:8, 17:81, 21:18, 34:49, 47:3).
Tidak hanya Hallaj, Al-Qur’an pun mengatakan bahwa para Rasul membawa Al-Haqq (Q.S. [7]: 53):
“Qad jaa’at rusulu rabbina bi Al-Haqq”, telah datang rasul-rasul Rabb kami dengan Al-Haqq.
Sedangkan pada Q.S.[10]:35 dikatakan bahwa Allahlah yang memberi petunjuk kepada ‘Al-Haqq’:
“Qulil ‘Laahu yahdi lil-Haqq”, Allahlah yang memberi petunjuk kepada Al-Haqq.

Dengan data-data itu, rasanya saya pun akhirnya ‘terpaksa’ mengakui bahwa siapapun dapat memperoleh ‘Al-Haqq’, jika ditunjuki-Nya.

Dan, juga dari data-data itu, rasanya saya percaya bahwa ‘Al-Haqq’ bukan berarti ‘Allah’. Ini dua hal yang berbeda. Allah tidak otomatis sama dengan Al-Haqq, tapi Allah yang menunjuki siapapun kepada Al-Haqq.

Jadi rasanya (ini pendapat saya, kesimpulan sementara dan liar saja, sangat mungkin salah) bahwa Hallaj memaksudkan bahwa ‘dalam diriku ada Al-Haqq’, atau ‘Aku hanyalah salah satu tanda Al-Haqq’, atau mungkin juga ‘Aku adalah tanda kesejatian/kebenaran’.
Saya tidak tahu persis apa makna perkataannya, tapi yang jelas dari data-data tersebut, rasanya dia tidak sedang mengatakan bahwa “Sayalah Allah”, sebagaimana banyak yang disalah artikan oleh masyarakat umum.
Syaikh Siti Jenar

Demikian pula mengenai kata-kata Syaikh Siti Jenar. Saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang beliau, dan kata-katanya “Manunggaling Kawulo gusti”.
Tapi yang saya pahami, jika kita banyak meneliti serat-serat suluk jawa, jika diperhatikan selalu ada dua ‘gusti’, yaitu Gusti dengan G kapital dan ‘gusti’ dengan G biasa.

Dalam tradisi puisi sufi, Gusti, atau Raja dengan huruf besar menyimbolkan Allah. Sedangkan ‘gusti’, atau ‘tuan’ dengan huruf kecil, menyimbolkan jiwa yang telah suci dan tenang (nafs muthma’innah) yang memimpin dan menjadi tuan bagi sang raga untuk menuju Allah.

Sependek pengetahuan saya, rasanya saya cukup yakin bahwa ‘gusti’ pada ajaran Siti Djenar adalah gusti dengan g kecil.

Demikian menurut pendapat saya. Mungkin ada sahabat yang lebih mengetahui tentang persoalan ini? Silahkan.

Yang benar dari Allah semata, dan jika ada kesalahan itu semata-mata karena keterbatasan saya.

Comments»

1. Herry - 10 June, 2006

Mungkin sebaiknya jika mengutip, sumber tulisan dicantumkan? Hanya sekedar saran…

Terimakasih. Saya senang dikutip🙂

2. Nur Khabib - 25 July, 2006

Ketika Al Hallaj nenyatakan Ana Al Haqq,
ia dalam keadaan fana, lebur atau sirna kediriannya. orang-orang mengira itu ungkapan kesombongan. padahal yang mengatakan Ana al abd (aku hamba Allah) itulah yang sebenarnya merupakan ungkapan kesombongan seorang manusia. Ana al Haqq adalah ekspresi kerendahan hati yang besar. Manusia yang menyatakan Ana al abd telah mengakui dua eksistensi, eksistensi sebagai hamba dan eksistensi sebagai Tuhan.
sementara orang yang menyatakan Ana al Haqq telah meniadakan dan telah menyerahkan dirinya bahwa aku tiada Dialah segalanya tiada sekutu kecuali Allah inilah bentuk kerendahan hati yang luar biasa besarnya.
seorang muslim sejati pasti pernah m e n g a l a m i keislaman yang sejati. tidak cukup hanya menjalani keislaman saja karena mereka belum sampai pada Al Haqq dalam bahasan hakekat belum baligh (islam islaman ) jadi seharusnya seperti Al Halajjlah yang berani meniadakan dirinya sehingga dia membuktikan kalimat Lailaha illalLoh.

3. Ario - 8 August, 2006

Salam,
Maaf apabila saya ingin pula menyumbang sebuah pemikiran yang masih awam, namun saya setuju dengan istilah Manunggaling Kawulo Gusti adalah meniadakan sosok manusia itu menjadikan sebuah kehampaan diri yang tampak hanyalah Allah semata, jika kita lihat dari segi penciptaan, manusia tercipta atas rahmat Allah, tumbuh atas rahmat Allah, dapat berbicara atas kehendak Allah, dapat melihat atas kehendak Allah, mendengar atas kehendak Allah, hidup dan bernafas atas kehandak Allah, dan manusia tak memiliki satu apapun di dunia ini melainkan Allah Yang Maha Memiliki, manusia tak memiliki hak apapun, maka dari itu hidup manusia ini juga bukan milik dirinya, bagaimana manusia dapat menyebut bahwa dirinya itu ada dan mempunyai hak? Bagaimana manusia itu dapat menyebut bahwa manusia dapat menghidupi dirinya sendiri? Allahlah satu-satunya yang berkuasa dan berhak menyebut bahwa Allah benar-benar ada. Manusia adalah seogok daging yang lemah, lumpuh, tak berdaya dan mati. Allah telah menghidupkannya, Allah telah meminjamkannya Ruh-Nya dan itu bukan hak dan milik kita. Semua yang ada didunia ini adalah milik-Nya. Kita tak berhak mengatakan bahwa kita memiliki sesuatu. Hidup kita adalah milik-Nya dan kita tidak berhak untuk mengambil dan memilikinya. Kita hanya diwajibkan menjaga milik-Nya. Maka dari itu apakah kita masih bisa berkata bahwa kita itu ada, bahwa kita itu exsis, bahwa kita itu berhak? Kita adalah sebuah kekosongan, dan yang hidup hanyalah Allah. Maka kembalikanlah diri kita Allah. Kembalikanlah Ruh kita kepada Allah dengan bersih sama ketika kita diberikan pinjaman Ruh yang suci oleh-Nya. Maka disaat kita telah siap untuk mengembalikan Ruh kita kepada Allah saat itu kita akan merasakan kemanunggalan dengan Allah.
Semoga pendapat saya dapat mengupas tentang pertanyaan Siapakah Saya? dan Siapakah Allah? Dapatkah Manunggaling Kawulo Gusti?

4. Herry - 27 September, 2006
5. ade - 12 August, 2007

sebelumnya saya minta maaf untuk memberikan dan menambahkan wawasan, setelah saya membaca saya jadi tertarik juga, jawabannya bagus comentnya juga bagus2x tapi saya akan memsukinya juga, sebenarnya baik firaun maupun hallaj, siti jenar dll itu semua mengajarkan kpd kita utk memahami ketauhidan kita kepada hu allah. yang mana hu dan yang mana allah sama seperti kita memahami akulah allah. atau ana alhaq mana yang aku dan mana yg allah, begitupula dengan mana ana dan mana haq, kalo saya menambahkan, mana haq dan mana allah, allah nyapun allah yang mana? sareat tentang allah tidak sama dengan allah yg mempelajari tarekat begitu pun dengan haqeqat, marifat dst.
klo saya mau jujur tidak ada allah yang diketemukan kecuali Nur muhammad. sehingga wajarlah bila hallaj atau sitijenar seperti itu, problema seperti ini hanya ada bagi manusia2x yg telah berjalan dalam negara hakekat (sebenarny). jadi apapun yang dikatakan oleh Alhallaj dan siti jenar sebenarnya tidak dapat dikatakan dengan bahasa kecuali telah jalan dan meraskan, dan hal itu hanya berlaku kepada mereka yang telah berjalan dan telah hidup.

6. Kromoredjo - 24 September, 2007

Numpang lewat sdr2 semua.
maaf, saya hanya menyampaikan sedikit pengetahuan dari Kj. Sunan Bonang. Semoga Bermanfaat dan tidak terjerumus.
Silahkan rujuk ” Suluk Wujil “. demikian penggalannya

” Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:
Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
JANGAN MENGAKU TUHAN
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna”.

7. gatholoyo - 2 October, 2007

Kulonuwun,
Kesombongan saya !
Saya mepersonifikasikan diri saya sendiri seorang syeh Siti Jenar.tetapi saya bukan pengikut beliau.
Artinya saya bisa menjadi seorang SSJ lain dengan memahami bahkan bisa mengalami sebagaimana pengalaman SSJ punya pengalaman spiritualnya. Yaitu manunggaling Kawulo Gusti.
Setiap manusia sebenarnya sudah ada perangkatnya untuk mencapai pengalaman itu dimana pada keadaan itu adanya cuma satu entitas.
Ungkapan “Manunggaling Kawulo lan Gusti” tidak bisa diterangkan dengan kata-kata tetapi hanya bisa diketahui lewat pengalaman spiritual untuk tahu makna sebenarnya dari anal haq. Pengalaman spiritual semacam itu juga tidak bisa dikonsep sebagaimana konsep ajaran agama apapun.
Gusti ditulis dengan G besar atau g kecil sama saja sebab yang ada hanya satu dan tidak bisa dipisah
Semuanya lebur baik yang ada maupun yang tidak ada.
Yang “ada” lenyap yang “tidak ada” juga lenyap. secara bersama sama

8. Iwan - 3 March, 2008

“Saya adalah Akakakabalakakak”

Mohon jangan dicarikan artinya. Apalagi diperdebatkan oleh kusir. Saya hanya ingin menyatakan bahwa :

Biru adalah ………………………………………………………………?

heru - 30 April, 2012

adalah dzat mas…………

9. adhi - 16 July, 2008

Sesungguhnya….yang ADA itu bukan, karena yang ADA itu diadakan oleh pikiran.

10. heru - 30 April, 2012

assalamualaikum….
mas/mbk/pak/ibu/ustd/alim ulama dsb
anda mngatkn dri hasil penalaran anda bhwa allah tdk akn sudi 100% brsatu dgn makhluk……
dri klimat itu berarti anda telah menolak ayat yg berbunyi “WANAHNU AQRABHU ILAIHI MIN HABLIL WAARID”
ana l haqq maupun manunggaling kawulo gusti adlh sejatinya ma’rifatullah…..
mari di angan2 dlm makna dua klimat syahadat yg artinya saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah dan saya bersaksi bahwa nabi muhammad adlh utusn allah……
kira2 prnahkh anda manyaksikn sndiri di manakh allah dn muhammad…..subhanallah smoga allah mmbrikn thatiqoh yg terang pd kita bersama

11. asbab - 17 January, 2013

perlu pendalaman dan pelaksanaan syariat yg cukup ulet untuk belajar bertapakur apa bila dikehendakinya anda akan tahu dan merasakanya dengan sir nya baru anda tahu kalau ana al haqq itu sebenar benarnya.
untuk tahap pertama ucapkanlah astghlfirullah sampai napas terahir berkali kali dan rasakan sirnya menghubungi anda maka apa bila anda sudah memahami siapa diri anda otomatis allah berkehendak
dan anda diakuinya kurang jelas silahkan bertafakur insya allah ada sir didalam mim aslm ww

12. asbab - 17 January, 2013

ana al haqq itu wajib kita ketahui sebagai seorang muslim sejati dan didalam kata kata itulah anda bertauhid ketahuilah jikalau anda sudah bisa menjalani ana al haqq maka sempurnalah keislaman anda sek
ali anda mengucap kalimah tauhid anda akan ketemu dgn allah dan muhammad (subhanallah) untuk itu semua usahakan apabila andq memandang lautan luas yg ada ombak dan buih maka itu hakikatnya adalah air insya allah anda akan selamat dan kesempurnaan akan anda raih (astallfirullah halazim)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: