jump to navigation

Sindroma Salib 3 May, 2006

Posted by netlog in Sindroma Salib.
trackback

Sindroma Salib dan Sekitar Kematian
‘Isa al-Masih dalam al-Qur’an
Gambaran al-Qur’an dan kitab-kitab kuning mengenai keagungan ‘Isa sebagaimana yang dikemukakan di atas, pada akhirnya toh harus dibedakan dengan iman Kristen yang dianggap telah menyimpangkannya. Salah satu masalah yang menjadi perdebatan klasik Islam-Kristen adalah masalah akhir kehidupan ‘Isa, khususnya mengenai kematian-Nya di kayu salib. Padahal, seperti diakui oleh komentator tertua al-Qur’an, Ibn Jarir ath Thabari dalam Jami’ al-Bayan fii Tafsir al-Qur’an, berbagai penafsiran itu tidak pernah memuaskan. Bahkan banyak penafsir Islam yang keberatan dengan teori penggantian itu berdasarkan prinsip keadilan Ilahi.33

Misalnya, teori penggantian di kayu salib oleh orang lain (Simon dari Kirene, Yudas Iskariot) yang didasarkan atas surah an-Nisa’/4:157-158, tidak selalu memuaskan para penafsir Islam sendiri, karena secara gramatikal tidak cocok dengan maksud tersebut. Pertama, kalau seorang menggantikan Yesus mestinya digunakan kata ganti diri ketiga tunggal. Jadi, lakin syubiha lahu (melainkan yang disamarkan bagi dia) dan bukan lakin syubiha lahum (melainkan yang disamarkan bagi mereka). Kedua, ayat ini tidak menggunakan bentuk fi’il mar’ruf dengan subyek penjelas, melainkan bentuk fi’il majhul yang tidak menjelaskan siapa penggantinya.34 Munculnya teori penafsiran baru di kalangan sekte Ahmadiyyah, yang mengemukakan bahwa Yesus mati secara wajar dan kuburannya ditemukan di India,35 karena ketidakjelasan berita al-Qur’an sendiri mengenai akhir kehidupan ‘Isa al-Masih.

Sebab selain ayat-ayat al-Qur’an menegaskan kenaikan ‘Isa ke langit, pemberitaan mengenai kematian riil-Nya juga tidak kurang tegas. Teori penggantian yang lebih populer diajarkan dalam kitab-kitab kuning dan dianut kebanyakan umat Islam, juga mendapatkan ganjalan dari ayat-ayat yang menegaskan kematian-Nya. Karena itu, ungkapan “mutawaffika” (mewafatkan engkau) dalam surah Ali Imran/3:55, dalam sepanjang sejarah tafsir diartikan secara berbeda-beda. Ada yang mengambil makna “menidurkan”,”memegang dan menyempurnakan”, yaitu terkait dengan pengangkatan ‘Isa tanpa mengalami kematian di kayu salib sesuai dengan surah an-Nisa’/4:157-158.

Sementara itu para penafsir lain mengatakan bahwa ungkapan tawaffa adalah penghalus dari kata “mati”. Jadi mutawaffika maksudnya mumituka (mematikan engkau). Tafsir Ibnu Katsir,Jilid I, mengutip pendapat-pendapat ‘Ulama terdahulu yang menganut paham bahwa ‘Isa sudah mati, antara lain pendapat Qatadah:

Inni rafi’uka ‘illaya wa mutawaffika, ya’ni ba’da dzalika.36
Artinya: “Aku akan mengangkat engkau lebih dahulu kepada-Ku dan kemudian Aku mewafatkan engkau sesudah itu.”

Makna ini diterima juga oleh Ibnu Abbas r.a menurut riwayat Ali bin Abi Thalhah, tanpa menjelaskan kapan matinya: Inni mutawaffika ay mumituka.”Aku mewafatkan engkau, yaitu mematikanmu”. Juga, Wahb bin Manabbih menurut riwayat Ibnu Ishaq, mengatakan: tawaffihi llahi tsalatsa sa’at min awwal al-nahaar haina rafa’ihi ilaih. “Allah mematikan dia selama tiga hari, kemudian dihidupkannya kembali dan kemudian diangkatnya ke sisi-Nya”.37

Dari riwayat-riwayat tersebut, dibuktikan bahwa pada waktu dahulu masalah yang dihadapi umat Islam sebenarnya bukan pada penyangkalan akan kematian ‘Isa sendiri, baik yang dipercayai akan terjadi pada akhir zaman, maupun banyak riwayat lain yang justru membuktikan bahwa kematian itu telah terjadi, tetapi Allah menghidupkan kembali dan kemudian mengangkat ‘Isa ke sisi-Nya. Hal ini sesuai dengan kata qabla mautihi (“sebelum kematian-Nya”) dalam surah an-Nisa’/4:159 yang menegaskan kematian ‘Isa al-Masih. Para penafsir al-Qur’an biasanya mengartikan kematian ‘Isa al-Masih itu terjadi pada hari kiamat. Dengan demikian tafsiran ini disesuaikan dengan eskatologis hadits yang menantikan kedatangan kembali ‘Isa pada akhir zaman untuk mengalahkan Dajjal, dan kematian itu terjadi setelah ‘Isa menyelesaikan tugasnya sebagai Hakim yang adil.

Jadi, ‘Isa belum mati pada masa dahulu, tetapi akan dimatikan Allah pada hari kiamat. Tetapi kata yang mendahului ayat di atas: layu’minuna bihi (sungguh-sungguh beriman kepada ‘Isa) di sini secara gramatika bukan menunjuk masa depan (istiqbal, future tense) melainkan menggunakan kata kerja masa kini (mudhari’) meskipun kejadiannya pada masa lalu. Dengan demikian, berimannya kaum ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam ayat tersebut terjadi pada masa hidup ‘Isa bukan pada akhir zaman nanti.38 Dari uraian sekilas tersebut, persoalan sebenarnya pada sindroma salib, yang agaknya mendapat dukungan dari surah an-Nisa’/157-159, meskipun ayat itu makna sebenarnya masih kabur, dan konteksnya bahkan tidak sedang membicarakan iman Kristen, melainkan reaksi atas kesombongan orang Yahudi. Salah satu buktinya, para penafsir kuno tidak pernah keberatan bahwa ‘Isa sudah mati pada zamannya, dan Allah telah membangkitkan kembali pada hari ketiga, asal saja kematian itu tidak terjadi di kayu salib.

Dari uraian di atas, barangkali latar belakang ini dapat menjelaskan sindroma “salib Kristus” di kalangan masyarakat Islam yang sangat mewarnai penilaian mereka terhadap Kekristenan. Salah satu kitab kuning yang mungkin merekam salib tersebut, dapat disebut misalnya Ta’lim al-Muta’allim, karya Syeikh Zanuji, sebagai kitab panduan belajar santri yang sangat terkenal di pesantren:

Wa amma (anapun utawi) asbabu (pira-pira sebab) bisyani al-‘ilmi (lali marang ilmu) fa aklu (mangka iku) al-kuzbati (mangan tumbar) al-rrathbati (kang isih teles) wa aklu al-tufaa’i (lan mangan buah-buah) al-haamidl (kang kecut) wa nanthararu (lan ningali marang wong) ila al-mashlub (kang dipentheng)…39

Terjemahan:
Adapun perbuatan-perbuatan yang menyebabkan orang gampang lupa menghafal ilmu, antara lain makan tumbar yang masih mentah, buah-buahan yang masam dan melihat kepada salib …

Apakah karena dilatarbelakangi “sindron salib” ini, yang begitu kuat tanpa disertai tafsiran yang cukup bernilai historis mengenai akhir hidup Yesus, dan yang masih diperuncing oleh warisan perjumpaan kedua agama yang kurang mengenakkan, telah melahirkan ejekan kepada Kekristenan di Jawa? “Aja dadi Kristen (Jangan menjadi Kristen)”, begitu ejekan yang ditujukan kepada orang-orang Jawa yang menjadi Kristen di Ngoro,”marga wong Kristen mengko yen mati dipentheng” (sebab orang Kristen itu nanti matinya disalib). Kesan ini cukup mencolok, tetapi agak kurang efektif menahan orang-orang Jawa dari kultur abangan yang cukup besar melakukan konversi kepada Kekristenan, karena kepercayaan bahwa Yesus adalah Ratu Adil yang lebih mengisi relung-relung pengharapan dan degub kalbu kerinduan di dada mereka.

Comments»

1. Mesiah Kohen - 9 March, 2007

KONTROVERSI PENYALIBAN

Kajian tentang peristiwa penyaliban ini sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak pihak dengan segala kontroversinya. Dan dalam hal ini, sebenarnya ada sebuku yang mengkaji peristiwa penyaliban dari sisi Islam dan Kristen. Judulnya “Yudas Pengkhianat atau Penyelamat?” oleh Musadiq Marhaban yang diterbitkan Penerbit Lentera.

Dibuku itu si penulis memaparkan berbagai argumen yang cukup dalam tentang peristiwa penyaliban; baik dari perspektif Injil kanon, Barnabas maupun Al-Qur’an. Membaca buku ini, menurut saya tidak ada ruginya karena metode pembuktiannya lumayan sistematis dan kronologis. Di samping itu, si penulis juga mengkritik pamdangan Ahmadiyah yang jelas-jelas keliru menurut riwayat Qur’an.

Alhasil buku ini dijamin akan membawa setiap pembaca ke petualangan baru tentang Yesus. Maaf, kalau agak promosi sedikit, karena awalnya saya pun berpikir seperti anda, namun setelah membaca buku itu, maka saya pun menyadari kekeliruan kita selama ini…

SEDIKIT KRITIK

1. Anda menulis sebagai berikut: “Misalnya, teori penggantian di kayu salib oleh orang lain (Simon dari Kirene, Yudas Iskariot) yang didasarkan atas surah an-Nisa’/4:157-158, tidak selalu memuaskan para penafsir Islam sendiri, karena secara gramatikal tidak cocok dengan maksud tersebut. Pertama, kalau seorang menggantikan Yesus mestinya digunakan kata ganti diri ketiga tunggal. Jadi, lakin syubiha lahu (melainkan yang disamarkan bagi dia) dan bukan lakin syubiha lahum (melainkan yang disamarkan bagi mereka).

TANGGAPAN:

Anda melewatkan ayat sebelumnya yaitu: “wa qawliHIM inna qatalna lmasih Isa…wa ma qataluhu wa ma shalabuhu…”. Permulaan ayat ini diawali dengan berita bantahan kepada umat Yahudi bahwa Isa as tidak dibunuh maupun disalib. Artinya, upaya sekelompok Yahudi yang mau membunuh Isa as dan menyalibnya saat itu, tidak berhasil melakukan tindakan tersebut.

Namun dalam hal ini, Qur’an tidak menafikan tentang ada, atau memang pernah terjadinya peristiwa penyaliban itu terhadap seseorang sampai mati, hanya saja, peristiwa penyaliban itu tidak terjadi kepada Isa as, tapi kepada orang lain, yaitu orang yang telah diserupakan oleh Allah swt seperti Isa as.

Untuk itu, “wa lakin syubbiha laHUM” menunjukkan bahwa peristiwa penyerupaan itu bukan ditujukan untuk sekedar menjelaskan perubahan seseorang menjadi serupa dengan Isa as saja. Tapi juga, sebagai penegasan bahwa penyerupaan itu ditujukan bagi mereka “laHUM” yang hendak membunuh dan menyalibnya; yang mana mereka tidak berhasil melakukannya.

Oleh karena itu, Allah swt mengakhiri ayat ini dengan mengatakan “wa ma qataluhu yaqinan”. Maksud ayat ini jelas tidak merujuk pada arti bahwa orang-orang yang melakukan tindakan itu merasa tidak yakin apakah orang yang disalib saat itu sudah mati ataukah belum? Karena konteks ayat Qur’an ini sejak semula memang tidak membicarakan apakah orang yang disalib itu sudah mati ataukah belum?

Adapun topik utama yang hendak dibicarakan Qur’an adalah “apakah orang yang disalib itu Isa as ataukah orang lain yang telah diserupakan sepertinya.

Kemudian Anda mengatakan lagi bahwa “Kedua, ayat ini tidak menggunakan bentuk fi’il mar’ruf dengan subyek penjelas, melainkan bentuk fi’il majhul yang tidak menjelaskan siapa penggantinya.”

TANGGAPAN:

Kata kerja pada ayat ini memang jelas sekali mabniyun lilmajhul dan tidak menjelaskan “siapakah” pengganti Isa as yang telah diserupakan oleh Allah swt tersebut. Namun, uraian Qur’an yang tidak menjelaskan “SIAPAKAH” pengganti Isa as ini, jelas tidak sertamerta membatalkan argumen mengenai adanya seseorang yang diserupakan oleh Allah swt seperti Isa as; Lalu orang itu mengalami berbagai peristiwa seperti yang dituduh oleh umat Yahudi, yaitu dibunuh dengan cara disalib sampai mati.

Intinya, ayat itu menjelaskan bahwa ada orang yang telah diserupakan oleh Allah swt seperti Isa as dan orang itu menggantikan posisi Isa as untuk disalib sampai mati, hanya saja Qur’an tidak menjelaskan siapakah orangnya.

Anda mengatakan: “34 Munculnya teori penafsiran baru di kalangan sekte Ahmadiyyah, yang mengemukakan bahwa Yesus mati secara wajar dan kuburan-Nya ditemukan di India,35 karena ketidakjelasan berita al-Qur’an sendiri mengenai akhir kehidupan ‘Isa al-Masih.”

TANGGAPAN:

Saya agak kaget waktu anda menuliskan kata ganti Yesus pada pernyataan Anda di atas dengan huruf besar “kuburan-Nya”….yang mana dalam Islam, seharusnya hanya ditujukan kepada Allah swt saja. Apalagi, Anda mengatakan: “SYEKH SITI JENAR, adalah tokoh sentral yang membuatku menemukan keimanan, meski dalam keimanan yang aku temukan juga kuketahui bahwa SYEKH SITI JENAR hanyalah tokoh imajiner yang coba dimunculkan untuk membuat kebingungan bagi para penganut ISLAM.”….

2. Wawan - 8 July, 2011

Assalamu’alaikum…

Saya juga sudah lama berfokus tentang makna penyaliban dalam QS. An Nisa’ 157 dan makna tawaffa dan rafi’u dalam QS Ali Imran 55. Dan saya mengakui ini memang sangat rumit. Namun dengan dibantu oleh uraian anda di atas mengenai fi’il dan informasi mengenai kronologi penyaliban melalui bible sepertinya saya dapat menarik informasi penting.

Mengingat:
(1) kata mutawaffika itu juga bisa bermakna “menidurkanmu”
(2) bentuk waktu (fi’il) dari kata mutawaffika itu tidak dapat ditentukan
(3) kronologis penyaliban, mulai dari persiapan, pelaksanaan dan setelah penyaliban menurut injil-injil kanon menurut kalangan kristen (maaf, tidak sempat saya tuliskan mengingat terlalu panjang) menunjukkan tanda-tanda bahwa Yesus (Isa) hanya mengalami pingsan.
(4) Tidak adanya kata-kata yang menunjukkan adanya subsitusi oknum yang disalib dalam QS. An Nisa’ 157.
(5) Kata salabuhu dalam An Nisa’ 157 berasal dari akar kata sulbi yang berarti tulang/sumsum, kemungkinan yang dimaksud salabuhu itu adalah pematahan tulang. Kebetulan di dalam Injil kanon (maaf lupa ayat rujukannya, soalnya saya saat ini sedang tidak memegang bible), Yesus (Isa) memang tidak dipatahkan kakinya, melainkan hanya 2 orang lain yang disalib bersamaan dengan dia.

Saya menarik simpulan bahwa, kata “mutawaffika” dalam QS. Ali Imran 55 bermakna “menidurkanmu” atau “(membuat) pingsanmu”. “Tidur” atau “pingsang” yang dimaksud adalah pada saat Isa berada ditiang salib. Jadi, teori substitusi oknum tetap tidak digunakan. Isa dipingsankan di tiang salib. Sehingga maksud dari “mereka yang berbantah-bantahan tentang itu tidak memiliki pengetahuan, melainkan hanya menduga, dan tidak membunuh dengan yakin” di dalam QS. An Nisa’ 157 bukanlah tentang keragu-raguan orang-orang yahudi tentang siapa oknum yang disalibkan, melainkan tentang apakah Isa benar-benar telah “dimatikan”. Sementara, Allah mengatakan bahwa isa hanya mengalami pingsan/tidur (tawafa).

Dengan demikian, QS Ali Imran 55 menunjukkan kronoligis penyaliban sebagai berikut:

(1) Allah membuat Isa pingsan sehingga orang Yahudi dan Romawi mengira dia telah mati. Itu makna dari “mutawaffika”
(2) Kemudian Allah memulihkan keadaan fisik Isa (raised), bukan membangkitkan dari kematian (resurrection) dan inilah makna dari “rafi’uka”
(3) Kemudian “membersihkan” (muthahharuka) nama baik Isa, mengingat Isa dihukum karena fitnah bahwa “dia mengaku menjadi raja yahudi yang akan memberontak” dan “dia telah menghina Allah” sesuai dengan tuduhan yg dijeratkan oleh orang-orang Yahudi sebagaimana dalam Injil kanon.
(4) kemudian Allah mengangkat derajat pengikut Isa di atas orang kafir.
(5) kemudian Allah mematikan Isa dalam arti sesungguhnya. Kata-kata “Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu” ini lebih tepat untuk diartikan sebagai kematian dalam arti sesungguhnya, setelah diselamatkan dari penyaliban tanpa diangkat kelangit, dan secara alamiah, bukan dibunuh, dan dimatikan di dunia ini.
(6) Kemudian, karena Isa tidak ada lagi di dunia, maka Allahlah yang menjadi hakim atas perkara yang dihadapi Isa dan kaum yang menginkarinya.
Dengan demikian, tentang turunnya Isa dari langit menjelang akhir zaman, tidak dapat dibenarkan. Karena Isa telah mati di dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: