jump to navigation

Sunan Kalijaga 3 May, 2006

Posted by netlog in Sunan Kalijaga.
trackback

Raden. Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Diantara para Wali Sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosofi. daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena itu beliau adalah terhitung seorang mubaligh keliling (reizendle mubaligh). jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh pada kaum ningrat dan sarjana.

Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau. karena caranya beliau menyiarkan agama islam yang disesuaikan dengan aliran jaman, Sunan Kalijaga adalah adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam. Semasa hidupnya, sunan kalijaga terhitung seorang wali yang ternama serta disegani beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengaran cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam dengan lain perkataan, dalam cerita-cerita wayang itu dimaksudkan sebanyak mungkin unsur-unsur ke-Islam-an,. hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau tegasnya Syiwa Budha, ataupun dengan kata lain, masyarakat masih memagang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.

Diantaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah seorang mubaligh untuk memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam assimilasi kebudayaan, jalan dan cara mana adalah berdasarkan atas kebijaksanaan para wali sembilan dalam mengambangkan Agama Islam di sini.

Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sunan Kalijaga adalah pengarang dari kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta diberi jiwa agama, banyak cerita-cerita yang dibuatnya yang isinya menggambarkan ethik ke-Islam-an, kesusilaan dalam hidup sepanjang tuntunan dan ajaran Islam , hanya diselipkan ke dalam cerita kewayangan. oleh karena Sunan Kalijaga mengetahui, bahwa pada waktu itu keadaan masyarakat menghendaki yang sedemikian, maka taktik perjuangan beliaupun disesuaikannya pula dengan keadaan ruang dan waktu.

Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama syiwa budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali kiranya apabila dalam memperkembangkan agama islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana. para wali termasuk didalamnya Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, diantaranya masih gemar kepada gemalan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan Syiwa-Budha.

Maka setelah diadakan permusyawaratan para wali, dapat diketemukan suatu cara yang lebih supel, dengan maksud untuk meng-Islam-kan orang-orang yang belum masuk Islam. cara itu diketemukan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang yang terkenal berjiwa besar, dan berpandangan jauh,berfikiran tajam, serta berasal dari suku jawa asli. disamping itu beliau juga ahli seni dan faham pula akan gamelan serta gending-gending (lagu-lagunya).

Maka dipesanlah oleh Sunan Kalijaga kepada ahli gamelan untuk membuatkan serancak gamelan, yang kemudian diberinya nama kyai sekati. hal itu adalah dimaksudkan untuk memperkembangkan Agama Islam.

Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudan konperensi besar para wali, diserambi Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana (Bhs. Jawa Terbangan) menurut irama seni arab. Hal ini oleh Sunan Kalijaga hendak disempurnakan dengan pengertian disesuaikan dengan alam fikiran masyarakat jawa. maka gamelan yang telah dipesan itupun ditempatkan diatas pagengan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman Masjid Demak, dengan dihiasai beraneka macam bungan-bungaan yang indah. gapura mashidpun dihiasinya pula, sehingga banyaklah rakyat yang tertarik untuk berkunjung ke sana, gamelan itupun kemudian dipukulinya betalu-talu dengan tiada henti-hentinya.

Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehatnya uraian-uraiannya diberikan dengan gaya bahasa yang sangat menarik sehingga orang yang mendengarkan hatinya tertaik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh, artinya dibunyikan itu. dan mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid, akan tetapi terlebih dahulu harus mengambil air wudlu di kolas masjid melalui pintu gapura. upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari Bahasa Arab Ghapura) maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif “burung” di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut “kukila” dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : “quu” dan “qilla” atau “quuqiila”, yang artinya “peliharalah ucapan (mulut)-mu.

Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju “takwo”, nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab “taqwa” yang artinya ta’at serta berbakti kepada Allah SWT.

Nama yang simbolik sifatnya ini, dimaksudkan untuk mendidik kita agar supaya selalu cara hidup dan kehidupan kita sesuai dengan tuntunan agama. Nama Kalijaga menurut setengah riwayat , dikatakan berasal dari rangkaian Bahasa Arab ‘ Qadli Zaka, Qadli – artinya pelaksana, penghulu : sedangkan Zaka – artinya membersihkan. jadi Qodlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

Konon kabarnya Sunan Kalijaga itu usianya termasuk lanjut pula, sehingga dalam masa hidupnya, beliau antara lain mengalami tiga kali masa pemerintahan, pertama jaman akhkh Siti Jenar sesungguhnya tak ada disini, yang ada hanyalah Tuhan yang Sejati.
ujarnya pula :

“Awit seh lemang bang iku, wajahing pangeran jati. nadyan sira ngaturana, ing pangeran kang sejati, lamun Syekh Lemah Bang ora, mansa kalakon yekti”

Artinya :
Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya adalah wajah wujudnya Tuhan sejati, meskipun engkau menghadap kepada Tuhan yang sejati, manakala siti jenar tidak, maka tidaklah hal itu akan terlaksana. pada waktu Maulana Maghribi memberi wejangan bahwa yang disebut Tuhan Allah Sejati itu Wajibul Wujud (kang aran Allah jatine, wajibul wujud kang ana), maka Syekh Siti Jenar pun menjawablah, katanya :

“Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sejati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah”

Artinya :
jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan. Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangat membahayakan kepada rakyat, maka akhirnya beliau pun dihukum mati oleh para wali. Jikalau kita ikuti segala ucapan-ucapan Siti Jenar tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992). sebagaimana diketahui, Al Hallaj pernah berkata:
“Annal haqq” artinya : “sayalah kebenaran yang sejati itu”

kemudian katanya pula :
“wa’ma fi jubbati illa-lah” artinya “dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah”.

Disamping itu al hallaj juga pernah mengatakan :
“Telah bercampur rohmu dalam rohku, laksana bercampurnya chamar dengan air jernih bila menyentuhi akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku”

Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad. kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syekh Siti Jenar fahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

Kemudian kita dapati pula ucapan Siti Jenar yang lain, yang tampak isinya lebih mengutamakan hakekat daripada syari’at, katanya :

“Sahadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabehm nora kena ginugu, Islam tetep durjaning budi, ngapusi kyehning titah, sinung swarga besuke, wong bodo kanur ulama, tur nyatane pada bae ora uning, beda syekh siti jenar.”

Selanjutnya berkatalah Syekh Siti Jenar :
“Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana ganjarane, yen wus ngapal batukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng dunya bae pada susah amemikul, lara sangsaya tan beda, marma siti jenar mung madep wajidi, gusti dat roning kamal”.

Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam riwayat dikatakan bahwa murid Syekh Siti Jenar adalah : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangeran Panggung, Ki Lontang.

Menengok konflik Masa Lalu

Biasanya, konflik yang terjadi di kalangan ulama -terutama ulama jaman dahulu, lebih banyak diakibatkan karena persoalan (rebutan pengaruh) politik. Tidak hanya terjadi pada era kiai-ulama masa kini, tapi sejak jaman Wali Songo-pun, konflik seperti itu pernah terjadi. Bahkan, sejarah Islam telah mencatat bahwa jenazah Muhammad Rasulullah SAW baru dimakamkan tiga hari setelah wafatnya, dikarenakan para sahabat justru sibuk rebutan soal posisi khalifah pengganti Nabi (Tarikh Ibnu Ishak, ta’liq Muhammad Hamidi). Di era Wali Songo -kelompok ulama yang “diklaim” oleh NU sebagai nenek-moyangnya dalam perihal berdakwah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konflik yang “fenomenal” antara Wali Songo (yang mementingkan syari’at) dengan kelompok Syekh Siti Jenar (yang mengutamakan hakekat). Konflik itu berakhir dengan fatwa hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya. Sejarah juga mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Songo yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang cukup solid dalam berdakwah itu, ternyata juga bisa terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; Giri Kedaton (Sunan Giri, di Gresik), Sunan Kalijaga (Adilangu, Demak) dan Sunan Kudus (Kudus). Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali sekalipun. Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur sejarah klasik Jawa, seperti: “Babad Demak”, “Babad Tanah Djawi”, “Serat Kandha”, dan “Babad Meinsma”.

Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trenggono (raja ke-2 Demak) wafat. Giri Kedaton yang beraliran “Islam mutihan” (lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan Prawata dengan pertimbangan ke-‘alimannya. Sementara Sunan Kudus mendukung Aryo Penangsang karena dia merupakan pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sekar Seda Lepen (kakak Trenggono) yang telah dibunuh oleh Prawata (anak Trenggono). Sedangkan Sunan Kalijaga (aliran tasawuf, abangan) mendukung Joko Tingkir (Hadiwijaya), dengan pertimbangan ia akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan nusantara yang akomodatif terhadap budaya.

Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu “lebih seru” bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.

Bahkan, De Graaf, seorang sejarawan Jawa dari Belanda, dengan begitu beraninya menilai konflik di antara para wali itu bukan hanya masalah hubungan antara guru dan murid belaka. Bukan pula harus selalu dilihat dari segi spiritualnya, tapi sekolah agama dari para wali itu bisa juga dilihat sebagai sebuah konsentrasi politik. Para wali yang terlibat konflik itu sesungguhnya tidak membatasi diri pada ajaran spiritual saja, tetapi juga memposisikan dirinya sebagai ahli politik sejati, yang (terlalu) banyak ikut campur tangan terhadap persoalan negara. Seperti misalnya, seseorang yang menjadi raja, berhak menyandang gelar “Sultan” bila telah mendapatkan “restu” dari Giri Kedaton. Model pola hubungan ulama-umara seperti ini yang kemudian menjadi benih-benih pertikaian di antara wali sendiri.

Begitupun ketika pusat pemerintahan pindah dari Pajang ke Mataram. Sunan Kudus “berbelok arah” mendukung kubu Demak (Aria Pangiri, putra Sunan Prawata [kubu yang sebelumnya dilenyapkan Arya Penangsang, jagoan Sunan Kudus]) untuk menguasai Pajang, mengusir Pangeran Benawa (putra Sultan Hadiwijaya). Sementara Sunan Kalijaga mendukung keturunan Pamanahan (Ki Gede Mataram) untuk mendirikan kerajaan baru yang bernama Mataram.

Tidak hanya berhenti di situ. Konflik politik para wali itu terus berlanjut hingga akhir hayat mereka. Hingga anak cucu generasi mereka selanjutnya. Dan lebih memprihatinkan lagi, ketika Sunan Amangkurat I (Raja Mataram ke-5, putra Sultan Agung Hanyokrokusumo) membantai secara keji 6000 ulama ahlussunnah wal jama’ah di alun-alun Mataram, dengan alasan “mengganggu keamanan negara”. Ini adalah sebagai bukti adanya imbas yang berkepanjangan dari perseteruan ideologi para wali di era sebelumnya -di samping juga karena faktor politik yang lain. Dan, gesekan-gesekan aliran keagamaan (ideologi) seperti itu, di kemudian hari terus berlanjut, seolah-olah telah menjadi sebuah “warisan” masa kini.

Comments»

1. Cahyo - 15 July, 2006

Ki ageng pengging itu bukan murid syeh siti jenar. pencapaian nya ki ageng penging dlm bidang spiritual sekelas dengan syeh siti jenar akan tetapi ki agen pengging menggunakan cara yang berbeda.

2. Cahyo - 15 July, 2006

ada yang punya kidung rumekso ing wengi karya sunan kalijaga. klo punya beri tahu ya

3. ciptoning - 10 October, 2006

kalau saudaraku punya info tentang buku Sunan Kalijaga, mohon saya diberitahu. terima ksih

4. Dede - 29 January, 2007

maaf saya mau tanya klo wali songo itu di angkat jadi walinya ama siapa ya?mohon saya diberitahu.terima kasih.

5. Sriyono - 26 June, 2007

Kalau Ki Lontang yang dimaksud apakah sama dengan R.M. Lontang.
Mohon dapat dijawab
Terima kasih sebelumnya.

6. nanang - 29 November, 2007

apakah kidung rumekso ing wengi itu bisa di jadi kan sebuah mantra…?? bagai mana cara penggunaannya..??..dan apa harus di barengi sama puasa …mohon diberi petunjuk…

Ki Ageng Jenar Jati - 11 September, 2010

Sebenarnya bukan puasa atau tidak puasa…karna kita di jama sekarang sudah tak berkeyakinan seperti orang dulu.

buktinya kita sering mengingkari janji dan supah setia kita kepada allah…gampang saja ditebak.

Kita selalu tersilaukan jika berpuat amal dan patuh dalam beribadah kelak meninggal dunia berharap masuk akan surga. sementara kita lupa akan sebuah makna dan janji kita kepada sang wajibul maulan….yakni “La ilaha ilaallah dan inalil lahi wa inaillaihi raji’un”

jika kita tau arti dan makna dari kata itu..haruskah kita harapkan surga itu.?…mana yang lebih penting dan mulia berjumpa dan manunggal dengan allah sebagai mana selalu kita ucap-ucapkan atau masuk surganya..?

7. bayu - 3 March, 2008

assalamu’alaykum wr wb

saudaraku semua, kalau punya silsilah keturunan Sunan Kali Jogo atau Nyi Ageng Serang, TOLO….ONG kasih tau aku, Pleace…!

wassalamu’alaykum wr wb

8. tomy - 26 June, 2008

sunan kalijaga & syeh siti jenar adalah ‘sedulur tunggal wirid’
esensi ajaran mereka sebenarnya sama, begitu juga pandangan politik mereka
hanya eyang kali adalah ahli strategi yang hebat & tidak frontal seperti eyang jenar
pandangan & sikap hidupnya yang mangro tingal *hatinya ke majapahit karena brawijaya adalah kakeknya, fisiknya ke demak karena beliau sebagai susuhunan* beliau lukiskan sendiri sebagai ‘kenya wandu’ atau dalam pewayangan adalah ‘buta cakil’
raga satria wajah raksasa, perawakan pria suara wanita, juga mulutnya monyong bergigi tajam sebagai lukisan ahli dakwah yang sangat hebat tiada yang mampu menandingi bicaranya.
stiap satria yang turun gunung harus berhadapan dengannya *disebut perang kembang* dimana satria harus bisa mengalahkan 4 raksasa ajudan cakil yang melambangkan 4 nafsu manusia & membunuh cakil.
bagi yang butuh kidung rumeksa ing wengi saya punya😀 kalo tdk ya search aja di google, kalo wejangan sunan kalijaga kepada para wali saya punya yaitu Serat Kaki Waloka

Ki Ageng Jenar Jati - 11 September, 2010

Tolong kirimkan padaku Serat kaki waloka itu saudaraku via email: andrenalize@lycos.com

Sebenarnya kedua pepunden kita itu adalah non politik, beliau mengerti benar bahwa Agama dan padangan hidup tak selayaknya bercampur aduk dengan politik kerajaan demak bintoro waktu itu.

Kanjeng syeikh itu pernah menjadi guru sunan kali jaga, nah kalau kanjeng syeikh dengan sunan gunung jati baru tunggal guru, yakni syeikh maulana datuk kahfi….dalam silsilah keturunan beliau berdua tercatat…beliau menikahkan putra putrinya..yakni sunan panggung anak kanjeng sunan kali jaga dengan siti fatonah anak dari kanjeng syeikh.

Jadi kalo ada film berjudul pertarungan antara syeikh siti jenar dan sunan kali jaga…itu dasar darimana…ngawur babar blazz yang jadi sutradaranya.

devin - 3 June, 2012

assalamu’alaikum wr wb.saya sangat ingin mempelajari tentang sejarah dan ajaran dari sunan kalijaga,mohon saya diberitahu bagaimana saya bisa mendapatkan copynya,…mohon diemail ke saya.wassalam

murdiono - 22 March, 2016

boleh juga om….bsa buat tmbh2 pengetahuan

9. Arwa - 19 August, 2008

Minta serat kaki waloka dong

10. Arwa - 7 September, 2008

Minta serat kaki waloka donk..please,? Nuwun…

sujadi - 10 May, 2012

Serat kaki walaka dan manuskrip Jawa yg lain ada di Alang-alang kumitir word press.com. Nuwun

11. Raden Wahyu - 11 November, 2008

aku punya serat kaki walaka lho,dan serat kidung rumeksa ing wengi

12. RONGGO JATI MURTI - 13 January, 2009

Bagi yang bermaksud menggali dan ingin mendapatkan pencerahan, sudah selayaknya mengkaji.

ada buku tetang sunan kali jaga berjudul “Mistik Dan Makhrifat Sunan Kali Jaga” karya achmad codjim.
dan juga silahkan baca pula buku tentang “Syeikh Siti Jenar-Makhrifat & Makna Kehidupan” karya achmad codjim juga.

tapi bijaksanalah dala berpikir, mengambil inti sarinya.
jika anda banyak mendengar berbagai fersi cerita, yaah itu khan cuma cerita…sudah selayaknya anda semua umat beragama belajar mengambil inti sari sebuah pandangan yang berbeda, bukan perbedaannya yang di persoalkan melainkan, hikmah yang baik yang bisa di emplementasikan di masyarakat.

Salam,
Jati Murti

13. uyut_aga - 29 May, 2010

Sdr semua, sudah saatnyah Kita teh menggali Hakikat dari Syariat.
Tengoklah kebelakang,dari Zaman Nabi Muhamad S.A.W ,Jenazah Beliau sampai tertunda pemakamannyah,akibat apa ?? Sibuk urusan Duniawi.
Para Wali di Jawa, sibuk pula oleh urusan Duniawi,
Saat inih jaman Kita sekarang, sama sami sarua,Ulamanya hanya mementingkan urusan Duniawi.
Organisasinyah, FPI,Hizbuttahir, apa yang Mereka kejar sebenarnyah ??.
Ituh semua karena tahu bungkus tanpa mengenal isi,apalagi intisarinyah.
Namun jika Kita menggali Hakikat, siap2 sajah untuk menyandang gelar Bid’ah.
Islam menuju kehancuran ditangan para pemeluknyah. Diluar kelihatan tangguh,didalam keropos.

14. Bo lang - 5 September, 2010

Bgus bget………..

15. hari - 11 September, 2010

untuk yg masih mencari informasi ttg silsilah sunan kalijaga, mohon doa restuny,.
saya sebagai keturunan langsung dari sunan kalijaga akan mencari informasi lengkap ttg silsilah tersebut,.
trmksh,.

Hanum Fabian - 6 June, 2011

Mas, seketurunan. mohon dgn sangat apabila punya silsilah keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga dapat diinformasikan ke saya. Matur Nuwun

raden abdurachman bill husaidi - 13 April, 2012

aq punya. nma aq R abdurachman biill husaidi,

16. santo aji - 28 December, 2010

terlalu banyak kebohongannya

17. HAMID - 23 January, 2011

Yth. keturunan sunan kalijaga,
mohon hub sy jodog@usa.com
karena saya bener2 memerlukan bantuan informasi
ada org yg mencemarkan nama baik sunan kalijaga
trimakasih

18. taryudi alfakir - 28 December, 2011

sayangny tdk di jelaskan kisah pertobatan sunan kali jaga kenapa bergelar kali jaga ini ada hubunganny dgn pertobatan beliau.
Dulunya perampok (seperti robin hood)yg membagikan harta rampokanya pd fakir miskin dan pencarian kebenaran sejati(ISLAM)layak pula jd bahan inspirasi

19. andriyansah bos - 30 December, 2011

Saya suka deng sejarah ini ,tpi klo bs lbh lengkap,

20. LuthfismIle Penjaga Adat Jawa - 12 January, 2012

kalau anda semua pengen tahu jelas sejarah simbah kanjeng sunan kalijogo,anda bisa datang ke kadilangu.. menemui mbh raden joko, selaku sesepuh ahli waris kadilangu… atau nyi tini,beliau yg memegang tulisan asli kanjeng sunan… dan kalu anda pengen tahu tentang syaikh siti jenar and kanjeng sunan,anda baca suluk abdul jalil atau suluk malangsungsang,, saya punya suluk linglung,suluk wujil and serat dewa ruci,trus kidung rumekso ing wengi…

sujadi - 10 May, 2012

Ambil aja di alang-alang kumitir.wordpress.com lebih lengkap…nuwun

kelik - 19 December, 2012

mas klo blh sy dibagi donk kumpulannya, thanks ya

21. raden abdurachman bill husaidi - 13 April, 2012

sekarng bnyak yg ngaku2 keturunan buyut sunan kali jaga hati2…. bwat sudara ku yg benar keturunan sunan raden mas sahid

22. achmad - 16 November, 2012

ceritanya ngawur banget tentang intrik politik para ulama.
wahai saudara2!! hati2 dengan sejarah palsu,karna tdk lepas kemungkinan penyusup2 non muslim menghasut.

23. dwi cahya - 25 February, 2013

🙂

24. Ronggojati - 5 May, 2014

Mbah kalijaga punya anak 2,
yang 1 perempuan, namanya Siti Jenar
Yang ke 2 adalah laki-laki, nama sebutannya Ki Ageng Giring

25. GUNADARMA PURNA - 10 August, 2014

bicara kaya iya,padahal kelakuan sami mawon njelekin organisasi orang doank, njelekin wali,sahabat nabi modal info dari tv dijadikan harga mATI tanpa pernah tabayun, sibuk ngurusin hati ya,mas bro? ampe ga sempet jaga lidah, ente pikir para sahabat dan wali wali itu lebih rendah dari kemampuan ente apa pun itu dunia tetap penting,karna itu lahan amal kita,bahkan adakalanya amal yang kelihatannya dunia tak jarang menjadi amal untuk akhirat.untuk membersihksn batin kita butuh puasakan badan tapitidak mungkin kan kalau terus terusan ga makan jadi ga mungkin ninggalin urusan dunia dengan mengatas namakan nuju ALLAH karna memang islam ga nyuruh pemeluknya jadi rahib atau pendeta spiritual.islam itu tidak menghalalkan segala cara untuk sampai pada tujuan.termasuk menuju pada ALLAH S.W.T .kita butuh rambu2 untuk sampai ke tujuan, rrambu2 itulah pemandu kita, pun demikian syariat,dia adalah rambu2 bagi tujuan kita,sekaligus batu ujian bagi keyakinan kita akan kenabian Muhammad S.A.W bin Abdullah.adapun orang yang mudah membidngahkan sesuatu yang tampak berbeda itu tak ubahnya seperti sampean sendiri yang juga biasa mengatakan kulit pada aturan syariat karna enggan mikul bebannya..

26. Muhammad nor faez - 18 January, 2015

Mencari keturunan sunan kalijaga.. ingin mengetahui keturunan ini..mencari sedara mara ku..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: