jump to navigation

Urgensi Mursyid Dalam Tarekat 3 May, 2006

Posted by netlog in Urgensi Mursyid dalam Mendalami Agama.
trackback

Allah Swt. Berfirman :

“Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (Al-Qur’an).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal:

“Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.”

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas.

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.
Syekh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan thaat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar bathin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi.

Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.

Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.

Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.
Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:

1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.

Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.

Comments»

1. Djatmiko - 26 March, 2008

Saya bertemu dengan orang yang mengaku seorang mursyid, meminta saya menjadi santrinya dan diberi tugas berkorban untuk kaum yang memerlukan. misal : memberikan uang sekian rupiah dengan penjelasan untuk belajar ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah, atau memberikan barang2 yang dijelaskan bahwa barang yang dimiliki dibeli tidak dengan uang halal sehingga tidak barokah.

Dalam hal untuk kebaikan bisa diterima tetapi kadang-kadang nominal yang ditentukan bagi saya terasa sulit dipenuhi karena diberi batas waktu (saat itu memang dalam kondisi belum ada, bahkan beberapa santri lainnya sampai melakukan hutang dsb.). Apabila batas waktu yang ditentukan tidak dipenuhi dijelaskan tidak dapat menjalankan amanah, sebagian ada yang dicarikan alternatif lainnya misal penundaan waktu atau lainnya.

Kadang saya dihubungi untuk ikut kegiatan ummatnya, apabila tidak dapat hadir karena sesuai hal, semisal ada kegiatan lain biasanya nanti akan disampaikan “dunia itu hanya sementara, kenapa tidak segera mulai belajar mencari ridho-Nya”.

Mohon tanggapan dari rekan-rekan lainnya dan terima kasih.

Nb. Dalam menulis ini saya tidak bermaksud berprasangka buruk kepada orang yang mengaku Mursyid, tetapi saya masih belum berani langsung berguru karena belum lama kenal. Seperti yang disampaikan di artikel bahwa kita harus hati-hati dalam mencari guru

2. netlog - 3 April, 2008

Mas Djatmiko,

Sebelumnya saya mohon maaf klo baru sempat memberi tanggapan,
saya akan memberi tanggapan sebatas kemampuan saya.

1. Seorang Mursyid Sejati tidak akan pernah memaksakan sesuatupun pada murid atau orang untuk menjadi santri atau muridnya.
2. Seorang mursyid sejati juga tidak akan memaksakan santrinya untuk melakukan sesuatu.
3. Seorang akan bertemu mursyid dengan sendirinya (bukan mursyid yang mencari santrinya) yang ada (santri mencari mursyidnya) seperti kisah nabi musa dan Khidr.
3. Kadang kita malah tidak menemukan mursyid dalam sosok nyata tapi kita temukan sosok mursyid dari alam sekitar kita (tukang becak tua yang tetap ikhlas mengayuh becak demi keluarganya, petani yang tetap menanam padi walau harganya merosot, dan masih banyak lagi).
4. Bahkan hati kita sendiri apabila telah bersih bisa menjadi mursyid yang paripurna (tentunya dengan bimbingan ALLAH – Al-Quran & Hadist)

Jadi untuk mursyid yang anda ceritakan bisa anda simpulkan sendiri, atau bahkan anda biarkan berlalu begitu saja, karena saya tidak berhak menyimpulkan hal-hal yang tampak, bukankah kedalaman hati seseorang hanya ALLAH yang tahu.

Wallahu a’lam

Netlog

3. Salim Syarief - 6 April, 2008

assalamualaikum…
menanggapi mereka yang mempermasalahkan tasawuf.

-tasawuf itu merupakan julukan kebiasaan orang2 yang senantiasa berbuat baik dan lebih mementingkan akhiratnya daripada dunia.

-mereka beramal sesuai alquran, sunnah dan ikhtiar amalan baik yang tidak ada larangan dalam syari’at seperti maulid, tahlil dll… siapa yang mengatakan sufi itu agama? tentunya tidak. lalu kenapa kita harus menyerang orang2 yang berbuat/amal sufi…? toh mereka tidak perna mengganggu orang maupun golongan lain.

-mari kita simak apa2 yang serinh dilakukan oleh kaum sufi. yaitu: 1.memperbanyak ibadah 2.menjahukan diri mereka dari hal syubhat apalagi yang haram 3.menjahukan diri mereka dari perbuatan Ghibah,Namimah,Dusta,Buhgtan,Hasad dll.

-apakah kita harus menyerang kaum sufi dan menegak-kan salafy? apakah sufi di zaman Nabi SAW, tidak ada tapi Salafy ada?

kami sangat menyayangkan orang islam yang merusak persatuan ummat islam bergaya ulama’ atau pahlawan bit’ah dibawah bendera wahabi dan salafy……

sudahlah jangan aneh2.. jaga saja diri kalian dan keluarga kalian dari kobaran api Neraka……

kalo kalian hendak berjuang dan berda’wa untuk Islam, hancurkan saja simbul2 kebudayaan barat..! mari kita serbu bersama semua TV swasta yang menayangkan tayangan yang merusak generasi Islam..! mari kita gerak bersama menduduki gedung DPR yang isinya para penipu dan pengkhianat rakyat, bila perlu Revolusi….! ini baru perjuangan untuk Islam…… jangan ngurusin sufi melulu..ok.

Wasalam.

Salim Syarief- email: almuqoddas@yahoo.com

4. arjun - 5 September, 2010

Semua agama (baca ageman)itu dr hati..yg semua agama adl benar tujuannya,namun dlm hal hidup bersama harus bisa lbh toleran..thp siapa saja,bukan kah..tuhan/allah/yesus/sang hyang..tdak prnah minta mnusia sbg mahluk ciptaannya dan jg alam semesta..saling mnjaga.. Semoga hidup damai itulah yg paling mulia..sesama mahluk Ciptaan Nya..bisa terjadi.. Amin..

5. insan pembelajar - 6 March, 2011

assalamu’alaikum wr wb

kalau menurut hemat saya mursyid hanyalah sebutan dan seorang mursyid adalah seorang pemimpin, pembina, guru, seorang pelatih yang mampu membimbing murid atau bawahan sesuai syariat allah ( syariat islam ) sehingga mampu terhubung dengan allah ( syariat allah ).

seorang mursyid adalah seorang praktisi kehidupan yang sejati yang sangat sukses , kelasnya berjenjang-jenjang ( sebagai umat islam contoh tertinggi adalah nabi muhammad saw ) kalau dalam bahasa agama kemudian dikenal dengan level syariat, level tharikat, level hakikat, dan level ma’rifat.

dimana dalam hal ini orang yang levelnya tertinggi adalah orang yang berada dilevel ma’rifatlah, karena orang yang sudah mencapai level ma’rifat adalah orang yang telah benar-benar memahami kehendak allah, sehingga apapun yang beliau lakukan selalu sesuai dengan syariat allah, dan beliau pastinya menjadi orang yang hidupnya selalu dirahmati allah, dan menjadi lokomotive ( penolong atau penarik ) yang mampu menarik gerbong-gerbong dibelakangnya ( muridnya atau bawahanya dari mulai kelas hakikat, kelas tharikat, dan kelas syariat ) sehingga mampu terhubung dengan allah.

contoh :

1) seorang kepala negara yang mampu menghubungkan rakyatnya dengan allah ( sesuai syariat allah ) sehingga bangsanya diberkahi allah menjadi bangsa yang sangat produktive, makmur, sejahtera, aman dan sentosa, sehingga dapat mengantar bangsanya menjadi bangsa ( umat ) yang terbaik dimuka bumi.

2) seorang CEO pada sebuah organisasi yang mampu menghubungkan seluruh orang-orang yang ada didalamnya ( stake holder ) terhubung dengan allah ( sesuai syariat allah ) sehingga organisasinya diberkahi allah menjadi organisasi yang sangat produktive, kompetitive, dan menjadi organisasi berkelas dunia dan seterusnya.

3) seorang kepala rumah tangga mampu mengantar keluarganya terhubung dengan allah, sehingga keluarganya menjadi keluarga yang harmonis, sejahtera yang sangat diberkahi allah.

namun orang-orang yang mengkalim dirinya sebagai mursyid yang hanya mengajarkan sesuatu berkedok agama yang tidak jelas kredibilasnya dan hanya mengajarkan orang hanya untuk terus berangan-angan saja lebih baik dihindari saja deh.

wassalamu’alaikum wr wb

6. Fafiruu illallaah - 30 January, 2013

Inilah aku yang selalu berada dalam kebingungan,kuselami syariat,hakikat,ma’rifat dan kutemukan diriku kembali kepada kebimbangan2…duhai rabbku pertemukanlah diri ini dengan wali2Mu.

mohon utk saling interaksi sm2 memberikan informasi tentang wali mursyid.
08990890088

7. Gedhex - 4 April, 2013

Jalani apa yg di perintah dan jauhi laranganNya.Dengan terus meningkatkan amal ibadah dan dgn tetap menjalani kehidupan yg telah di amanatkan untk kita mengelolanya.Dunia unutk bkal ibadah.Perkara di terima ibadah kita.Itu urusanNya.Agama Islam tidak memberatkan,tpi jgn diremehkan.Tidak mempersulit,tp jangan gampangkan.Sepakat saja kalo lombok itu pedas,tpi tiap orang bda kekuatannya merasakan pedas lombok.Ilmu sdikit yg di amalkan dan mengharap ridhoNya,jauh lbh bermanfaat.Tinimbang banyak Ilmu,tp hanya untuk perdebatan yg akhirnya malah menimbulkan kebimbangan hati dan malah menjauhkan diri dari syari’at agama..Wallohu a’lam..

8. hamba - 21 September, 2013

QS 43:36
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menertainya

9. hamba - 21 September, 2013

QS 39:3
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”
Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Saya tidak dalam kapasitas menilai artikel ini, (mengingat sebagian prasangka adalah dosa). Dan 2 petikan ayat diatas dari Alquran yang saya imani, korelasinya kemana silahkan pembaca sendiri yang menafsirkan. Salam Rahayu

10. adi cawang petrik - 6 April, 2014

Assalamualaikum wrwb.guru mursyid bisa yg nyata atau yg ghoib.utk mendptkan guru yg mursyid perbanyak solat hajat & istihoroh.ciri2 guru mursyid tdk silau dgn dunia.kadang2 kelakuanya diluar nalar kita ilmu yg pertama kali diajarkan kpd muridnya sahadat

11. finda - 7 June, 2015

As www ,, guru murshid itu apakah keseharianya di luar nalar????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: