jump to navigation

Menetralisir Ketegangan Karena Perbedaan 17 June, 2006

Posted by netlog in Menetralisir Ketegangan Karena Perbedaan.
trackback

Mengamati berbagai macam tulisan yang ada di beberapa majalah islam, mungkin Pak Ustadz juga pernah membacanya, di sana para ulama salafiah sering kali banyak mengungkapkan pernyataan mengenai kesesatan Tasawuf, dilihat dan dikaji dari beberapa segi, baik dari segi akidah, amalan, beberapa ungkapan ulama sufi, juga para penganutnya yang intinya adalah masalah Bid'ah. Namun disisi lain dari referensi Tasawuf yang pernah saya baca, banyak nilai-nilai agama yang begitu indah diuraikan dalam buku-buku referensi tsb. dan juga banyak biografi ulama-ulama sufi yang sangat patut untuk diteladani.

Keadaan ini, saya lihat jadi bertolak belakang. Lalu pertanyaan saya:

  1. Bagaimana sebenarnya letak permasalahan ini
  2. Jika dikatakan Tasawuf itu sesat, lalu bagaimana dengan Ulama-ulama sufi terdahulu yang banyak jasanya dalam pengembangan Islam
  3. Apakah yang dilakukan oleh orang-orang sufi dengan tarekatnya itu adalah benar-benar suatu perbuatan bid'ah? Karena menurut ulama salafi tarekat itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasul. Jika hal itu dikatakan bid'ah hasanah (ulama salafi tidak mengakui ini/semua bid'ah itu sesat) lalu siapa yang menjadi jaminan bahwa amalan tsb. (tarekat) diterima oleh Allah.
  4. Bagaimana dan apa yang bisa menetralisir keadaan ini sehingga tidak ada yang menghukumkan tasawuf itu sesat, karena menurut saya jikalau ternyata tasawuf itu diridhoi oleh Allah tentunya ulama-ulama yang menyatakan sesat akan terkena sendiri akibatnya dan ini tentunya tidak kita inginkan sebagai sesama muslim.

Terima kasih atas jawaban Pak Ustadz.

Yusuf Syam – Jakarta

Jawab:

Sdr. Yusuf Syam,

Lepas dari sesat tidaknya tasawuf, aliran ini telah menjadi realitas keagamaan Islam. Rentang sejarah Islam, telah banyak menampilkan episode-episode yang diperankan oleh komunitas penganut aliaran ini yang sering di sebut "sufi". Berbagai aliran tasawuf telah dikenal oleh peradaban Islam, mulai dari yang paling ortodok, sampai yang paling moderat. Klaim kebenaran atau klaim kesesatan, khususnya yang sering muncul antara ulama salafiyah dan kelompok lainnya dalam masalah ini, tentu tidak bisa kita bela atau kita tentang begitu saja. Banyak ditemukan dalam literatur-literatur tasawuf yang memuat ungkapan-ungkapan atau pemaparan yang mencerminkan, dalam batas tertentu, kesesatan tasawuf, dari segi aqidah. Misalnya ajaran "fana'" yang menggambarkan tingkat terjadinya inklusifitas Allah dan hambanya, yaitu keyakinan bersatunya Allah dengan hamba. Ajaran semacam ini muncul dari aliran tasawuf ortodok. Namun tentunya kita juga kurang bijaksana kalau, hanya karena kesalahan sebagian kelompok tasawuf, lalu kita lupakan jasa-jasa besar mereka dalam mempertahankan Islam dan menyebarkannya bahkan hingga ke tanah air kita Indonesia. Lebih daripada itu, di sana juga terdapat beberapa aliran tasawuf moderat yang justru mencerminkan semangat keislaman yang origin. Banyak hikmah dari peri hidup ulama sufi yang patut kita jadikan tauladan di masa sekarang ini. Seandainya dalam ajaran tasawuf, seperti layaknya aliran-aliran Islam lainnya, terdapat hal-hal yang kiranya keluar dari mainstream syari'ah, maka di situlah perlunya pemahaman dan kajian lebih mendalam, dengan tanpa mengesampingkan aspek-aspek positif yang ada dalam aliran ini.

Adapun tarekat yang ada dalam ajaran tasawuf, tidak lain adalah cara yang digunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Cara-cara tersebut tidak lebih dari kombinasi berbagai amalan fardhu dan sunnah yang biasa dilakukan oleh ulama-ulama sufi dalam bermunajat kepada Allah. Dengan demikian sebenarnya semua ritual dalam tarekat mempunyai akar dan landasan dalam ibadah. Hanya masalah kombinasi dan komposisinya yang sering dijadikan alasan oleh kelompok keras untuk menuduhnya bid'ah.

Masalah bid'ah memang masalah dilematis yang dihadapi Islam. Di sini bid'ah hendaknya tidak difahami dalam sekup ritual (ibadah) saja, karena cakupan bid'ah sebenarnya sangat luas, mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, kultur, peradaban dan ilmu pengetahuan. Di satu pihak, bid'ah telah mencabik-cabik dan menggerogoti spirit Islam, sehingga dalam banyak hal, agama kita semakin jauh dari spirit aslinya. Di lain pihak, bid'ah telah menjadikan marak dan cantiknya agama kita dan bahkan dalam banyak kasus bid'ah (baca kreatifitas) ini menjadikan Islam mampu menembus rentang waktu dengan fleksibel dan diterima masyarakat. Maka bid'ah oleh sebagian pendapat dibagi menjadi bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat). Namun pendapat yang lebih keras tidak mengakui pembagian tersebut dan menyatakan bahwa semua bid'ah sesat.

Kronisnya pembagian dan kriteria bid'ah semacam ini sering dijadikan senjata oleh sebagian kelompok Islam untuk menuduh sesat atau bahkan mengkafirkan kelompok lainnya yang tidak sepaham. Konflik dan pertentangan antar sekte yang saling membidik lawannya dengan senjata bid'ah ini telah begitu banyak membuang potensi dan energi dan bahkan sepirit Islam itu sendiri. Masalah-masalah besar yang mesti diprioritaskan dihadapi dan ditangani umat Islam terbengkelai karena mereka sibuk menghakimi kesesatan dan kekafiran saudaranya seiman.

Dalam menetralisir fenomena perbedaan atau ikhtilaf antar kelompok-kelompok Islam, yang sangat diperlukan adalah sosialisasi "fiqhul ikhtilaf" (fiqih perbedaan). Fiqih perbedaan ini merupakan etika, wawasan, dan solusi untuk menetralisir ketegangan antar kelompok Islam yang mengancam persatuan dan kesatuan umat Islam. Fiqih ini mempunyai bahasan yang cukup luas, namun di sini saya kemukakan beberapa etika ber-ikhtilaf, antara lain:

  1. Memulai dengan "husnuzzan" (prasangka baik) terhadap sesama muslim.
  2. Menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut mempunyai dalil.
  3. Tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnyalah yang paling benar, karena pendapat lain juga mempunyai kemungkinan benar yang seimbang.
  4. Mengakui adanya perbedaan dalam masalah furu'iyah (cabang-cabang ajaran) dan tidak membesar-besarkannya.
  5. Tidak mengkafirkan orang yang telah mengucapkan "Laailaaha illallah".
  6. Mengkaji perbedaan secara ilmiyah dengan mengupas dalil-dalilnya.
  7. Tidak beranggapan bahwa kebenaran hanya satu dalam masalah-masalah furu'iyah (cabang-cabang ajaran), karena ragamnya dalil, di samping kemampuan akal yang berbeda-beda dalam menafsiri dalil-dalil tsb.
  8. Terbuka dalam menyikapi perbedaan, dengan melihat perbedaan sebagai hal yang positif dalam agama karena memperkaya khazanah dan fleksibillitas agama. Tidak cenderung menyalahkan dan menuduh sesat ajaran yang tidak kita kenal. Justru karena belum kenal, sebaiknya kita pelajari dulu latar belakang dan inti ajarannya.
  9. Dll.

Semoga membantu. Wallahu A'lam.

Muhammad Niam

Comments»

1. odrep - 24 April, 2007

pendapat adalah pendapat, pendapat bukanlah realitas, tapi pendapat adalah refleksi seseorang terhadap suatu realitas. dan refleksi seseorang terhadap suatu realitas sangat di tunjang dari background pendidikan, budaya, dan IQ. jadi wajar saja pendapat tukang beca terhadap suatu realitas yg terjadi akan berbeda dengan pendapat dari seorang mahasiswa misalnya. jadi pendapat pak ustad sangat bijak dan saya setuju.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: