jump to navigation

Mengapa Harus Tasawuf ? 17 June, 2006

Posted by netlog in OpenBSD.
trackback

Diakui atau tidak, modernitas (segala yang dianggap modern atau bahkan berbau modern) telah menjungkirbalikkan pemikiran, konsepsi dan pilihan manusia terhadap nilai-nilai. Nilai hidup sederhana dipertukarkan dengan ambisi yang kuat dan telah terhadap kemegahan duniawi. Nilai kesetiaan individual atau kelompok terhadap cita-cita spiritual bertukar dengan pola hidup yang mementingkan diri sendiri dan egoistik.

Dalam bidang politik misalnya, hasrat memenangkan pertarungan dengan lawan politik menjadi nilai yang dianggap luhur sehingga mengabaikan cara-cara yang patut dan bermoral. Kecuranganpun dianggap sebagai bagian dari strategi. Dalam bidang hukum, terlihat dengan jelas bagaimana hukum gagal mencegah kejahatan dan gagal pula menegakkan keadilan pasca kejahatan. Ambisi terhadap harta telah membuat hukum tidak dapat ditegakkan, demikian pula campur tangan politik telah membuat hukum menjadi semakin jauh dari nilai-nilai keadilan.

Di sisi lain, eksploitasi sumber daya alam telah mencapai titik nadir dengan pengaruh yang sangat destruktif terhadap ekologi. Tindakan eksploitatif itu terjadi karena bergesernya cita-cita mengelola alam demi kesejahteraan manusia menjadi kesengajaan untuk memupuk sifat rakus manusia. Dalam bidang seni, apresiasi artistik menjadi kabur maknanya oleh hasrat pemuasan nafsu birahi dan keinginan untuk mencari hiburan yang tidak bermoral. Dalam masyarakat yang modern, semakin terlihat gejala perubahan konsepsi di mana imoralitas mulai dianggap sebagai moralitas.

Sering dikatakan bahwa rasionalitas menjadi simbol supremasi manusia modern lebih dari kapanpun. Sepintas, rasionalitas memang cukup berjasa bagi pengentasan sebagian persoalan manusia. Tetapi menganggap rasionalitas sebagai satu-satunya dimensi manusia jelas merupakan anggapan yang lancung dan memiliki resiko yang gawat, yakni hilangnya dimensi kemanusiaan yang sangat berharga: spiritualitas. Sebab selain sebagai makhluk rasional maupun makhluk politik, manusia juga merupakan makhluk spiritual.
Mengapa Tasawuf?

Secara umum dapatlah dikatakan bahwa tasawuf merupakan upaya untuk mensistematisasi ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan tujuan seorang hamba untuk berada sedekat mungkin dengan Sang Pencipta. Kerangka dasar tasawuf adalah pengakuan batin terhadap adanya Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Psikolog modern menyebut kedua hal di atas sebagai “utang psikologis” yang harus ditunaikan manusia.

Dalam perspektif sufistik, utang psikologis tersebut dilunasi dengan meng-Esa-kan dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir dalam kehidupan maupun peribadatan. Kaum sufi terkenal sebagai orang-orang yang mensucikan niat dan amal mereka dari hal-hal selain Allah. Bahkan dalam perkara yang mubah (yakni perkara yang tidak masuk dalam kategori larangan [haram] atau kewajiban [fardh]) seperti makan, minum dan sebagainya, kaum sufi selalu meniatkannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Sementara itu, masyarakat modern ingin mendapatkan layanan serba instan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk urusan makanan dan minuman.Tasawuf menjadikan rasa lapar sebagai bagian dari latihan untuk mensucikan jiwa dan raga dari kotoran-kotoran duniawi. Rasa lapar karena berpuasa menjadi instrumen dan sekaligus pula bukti bahwa kaum sufi lebih ingin menjaga kesucian batin daripada memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan cara melanggar hak orang lain.

Dalam masyarakat modern, apa yang disebut sebagai “strategi” untuk memenuhi kebutuhan hidup sering secara implisit memuat istilah-istilah siasat, kelicikan dan bahkan penipuan. Kaum sufi memang sengaja meminimalkan hasrat karena mereka tahu bahwa hasrat akan menimbulkan lingkaran setan (infinite regress).

Fa ma qadha ahadun minha lihajatihi Wa ma 'intaha 'arabun illa ila 'arabin
(Tak seorang pun yang dapat memuaskan hasratnya sebab satu
hasrat hanya akan disusul oleh hasrat yang lain)

Kosakata yang berkembang dalam masyarakat modern biasanya bertumpu kepada upaya untuk mengatasi akibat-akibat tertentu jika suatu perbuatan kemudian terbukti sebagai perbuatan yang berakibat buruk. Dalam dunia tasawuf, penghindaran telah dilakukan pada tahapan yang metafisis dan preventif, yakni ketika akibat suatu perbuatan telah dibuktikan keburukannya meskipun perbuatan itu sendiri tergolong bukan sebagai perbuatan yang buruk. Cinta dunia dapat dikemukakan sebagai salah satu contohnya. Pada galibnya, cinta dunia bukanlah merupakan kesalahan (wrongness), keburukan (worse) apalagi kejahatan (evil), namun kaum sufi tetap menghindarinya karena cinta kepada dunia dapat berakibat buruk terhadap perjuangan meraih cita-cita tertinggi yakni berada dekat dengan Allah dan kemenangan di hari akhirat.
Jika masyarakat modern menunda kesenangannya saat ini demi kesenangan di masa yang akan datang dalam ranah kehidupan duniawi, kaum sufi malah meninggalkan seluruh kesenangan duniawi demi hari akhirat. Jika para ilmuwan modern telah melakukan riset untuk mengeksploitasi dunia, kaum sufi telah melakukan riset tentang kehampaan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Pilihan Yang Dilematis

Setiap pilihan yang bermakna (living option) pasti bersifat dilematis. Artinya, Anda hanya mungkin memilih salah satu dari dua hal yang menurut Anda sama pentingnya. Anda tidak dapat memilih kedua-duanya atau menunda pilihan. Dalam Exploring The Philosopy of Religion, David Stewart mengakui bahwa pilihan untuk beriman atau tidak beriman merupakan pilihan yang aktual mengingat tidak adanya kemungkinan untuk menunda pilihan karena dalam ranah ini, menunda pilihan berarti memilih untuk tidak beriman kepada Tuhan.

Dalam perspektif sufistik, orang dihadapkan kepada apakah dia akan memilih kehidupan duniawi atau kehidupan di negeri akhirat. Tak ada pilihan ketiga. Sekiranya Anda memilih salah satu dari keduanya, Anda akan kehilangan yang lain bahkan buat selama-lamanya. Pilihan kepada kekayaan duniawi akan menjadi harga mati yang dipertukarkan dengan kebahagiaan hidup di akhirat. Menurut kaum sufi, memilih kehidupan duniawi sama artinya dengan memilih sekerat bagian dari dunia yang kotor. Memilih kehidupan akhirat telah memustahilkan kaum sufi dari kemungkinan bersenang-senang dengan kehidupan duniawi dan mencintainya.

Kaum sufi memandang pilihan atas kehidupan akhirat merupakan pilihan yang cerdas. Syekh al-Nawawi pada bagian awal karyanya Riyâdh al-Shâlihin (Taman Orang-orang Saleh) menulis sebuah syair:

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas Yang meninggalkan dunia kerna takut fitnah Mereka mencermati dunia, tapi ketika mereka tahu bahwa dunia bukanlah tanah air bagi orang yang hidup, mereka memandangnya sebagai lautan yang dalam dan menjadikan amal saleh sebagai bahtera.

Dengan demikian, terminologi kecerdasan yang dikemukakan kaum sufi pun berbeda dari yang dikemukakan para psikolog modern. Pada yang terakhir, kecerdasan dipahami sebagai daya kuantitatif akal atau pikiran dalam mengingat, menjawab atau mencipta sesuatu dalam ranah duniawi. Pada yang pertama, kecerdasan adalah kemampuan untuk memilah yang baik dari yang buruk, yang kekal dari yang fana, yang hakiki dan sejati dari yang palsu dan lancung.

Kini terserah Anda, mana yang akan Anda pilih dan bagaimana Anda memilihnya.

—(ooo)—

Drs. Zaimul Am, MA-Dosen Metodologi Penelitian Fakultas Agama Islam UNIS Tangerang

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: