jump to navigation

Mengapa Syariat harus bermusuhan dengan Hakikat ? 17 June, 2006

Posted by netlog in Mengapa Syariat kontra Hakekat.
trackback

Selama ini diasumsikan bahwa antara syari’ah dengan tasawuf merupakan dua sisi ang selalu dihadapkan secara vis a vis. Fanatisme syari’ah (baca : fuqaha) memandang haram” atas praktik tasawuf dengan berbagai dalil dan argumentasi, baik secara naql maupun nalar. Sementara para pelaku tasawuf tidak ketinggalan dalam mengkritik para fuqaha yang hanya melihat hitam di atas putih dan formalitas belaka, tanpa menangkap essensi Islam. Rumor di kalangan masyarakat jawa, bahwa syaringat (bacaan orang jawa) itu dipahami nek sare njengat atau kata Mekah dipahami nek turu mekakah menjadi salah satu bukti kesenjangan antara syariat dan tasawuf.

 

Patut dicatat, bahwa insiden al-fitnah al-kubra yang menghantarkan jatuhnya Khalifah Ali dari ke-khilafah-an, diganti Muawiyah merupakan sumber utama bagi perpecahan kaum muslimin dalam berbagai sekte dan aliran.

Para analis sepakat bahwa, peristiwa ini awalnya bersifat politis, kemudian merembet kepada wilayah aqidah serta aspek-aspek keagamaan lainnya. Fenomena semacam ini pada akhirnya juga mewarnai hampir semua polemik di tubuh umat Islam yang mengatasnamakan agama.

Al-Hallaj (w. 309 H) diekskusi dengan dakwaan menyebarluaskan ajaran hulul dalam tasawuf. Ajaran itu diputuskan sesat oleh penguasa berdasar legitimasi para fuqaha mazhab dhahiriy.

Penentuan sesat atas pengalaman batin al-Hallaj jelas lebih bermuatan politis, karena keberpihakan al-Hallaj –sebagai seorang shufi agung yang sudah tidak ada ruang untuk membenci– kepada rakyat kecil dan kelompok marginal; seperti syi’ah, qaramithah serta non-muslim.

Di pula Jawa, kasus serupa dialami Syaikh Siti Jenar (Lemah Abang) yang didakwa menyebarkan ajaran manunggaling kawula Gusti, sehingga oleh para wali kerajaan saat itu divonis hukuman pancung. Dari sinilah akhirnya para fuqaha yang dimotori kepentingan politis penguasa menciptakan ketegangan yang tak berujung antara syariah dan tasawuf. Kebebasan para shufi dalam menaungi pengalaman batinnya serba diatur oleh hukum formal. Karena itu, image pemisahan syariah dan tasawuf pada mulanya lebih sebagai fenomena politisasi agama yang berimbas pada dichotomi dua unsur utama ajaran Islam tersebut oleh kalangan awam atau dijadikan senjati bagi para penguasa untuk mempertahankan status quo.

Distingsi kedua aspek penting dalam ajaran Islam tersebut sangat dimungkinkan, karena antara keduanya memiliki sisi yang jelas tidak dapat dipersamakan. Bahwa tasawuf itu lebih menempati wilayah batin atau hati, suatu daerah yang tak dapat ditembus oleh inderawi manusia. Wilayah ini bersifat immateri yang permanen. Ia hanya dapat diteropong melalui cahaya (nur) emanasi Tuhan ke dalam masing-masing qalbu manusia yang hanya dapat dideteksi melalui bashirah (mata hati). Sementara, syariah bersifat lahiriah yang legal-formal yang dapat ditangkap mata telanjang.

Integrasi syariah dengan tasawuf dengan demikian menjadi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang muslim. Syariah merupakan elaborasi dari kelima pilar Islam, sedangkan tasawuf berpangkal pada ajaran ihsan,

an-tabudallaha ka-annaka tarah, fa-in-lam takun tarah, fainnahu yarak,

hendaknya kalian beribadah (bersyariat) seakan-akan kamu milhat-Nya, jika tidak sesungguhnya Dia melihatmu.

Implikasinya, jika dalam syariat diwajibkan thaharah (bersuci) sebelum melaksanakan ibadah, maka untuk mampu menembus penglihtan Tuhan, tasawuf mewajibkan penyucian diri melalui pintu taubat.

Kemudian apabila seorang sedang shalat; syariat mengharuskan memenuhi syarat dan rukun, sementara tinjauan ihsan (shufistik) mengharuskan aktivitas hati yang tulus, hudlur dan khusyu. Semakin mendalam realisasi shufistik seseorang, pada gilirannya justeru semakin meningkatkan kualitas ke-Islam-an dan syariah orang tersebut dalam mencapai derajat muhsin.

Di sisi lain, penguatan aspek tasawuf juga akan menjadi dinamisator bagi jiwa seseorang. Kehadiran tasawuf mampu memicu ats-Tsaurah ar-Ruhiyyah (revolusi jiwa) dan menjadi spirit bagi pelakunya. Sebaliknya, syariat ibarat jalan yang akan dilalui shufi dalam ber-revolusi, Apabila terlalu banyak hambatan dan lobangannya jangan harap akan sampai pada terminal akhir. Secara eksplisit Allah swt sering menyitir bahwa, wa maa khalaqtul jinna wal-insa illa li-ya buduni,

Maknanya, bahwa penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk marifat kepada-Nya. Marifat (pengenalan) mula-mula dengan secara inderawi (syariah), namun setelah semakin dekat relasi inderawi saja tentu belum cukup, maka muncullah pengalaman mahabbah (cinta), hulul, ittihad hingga wihdatul wujud dari para shufi.

Dalam firman-Nya yang lain, “wa lal-akhiratu khairun la-ka minal-ula” tidakkah, masa depan (akhirat, ihsan/tasawuf) lebih baik daripada yang permulaan (dunia, syariat).

Nilai-nila spirit tasawuf atas syariah juga dapat kita jumpai dalam setiap maqamat (station-station) dan ahwal para shufi, misalnya :

1. Taubat yang didasarkan atas firman Allah swt yaa ayyuhal-ladzina amanuu tuubuu ilallahi taubatan nashuha”,akan menumbuhkan sikap konsekuen dan tanggung jawab seorang hamba;

2. Zuhud yang disandarkan atas firman-Nya wa kaanuu fi-hi minaz-ahidin”, akan meningkatkan kebesaran jiwa manusia;

3. Faqr yang disandarkan firman-Nya lil-fuqara’il-ladzina uhshiruu fii sabiilillah..”akan membentuk jiwa yang kharismatik dan mengikis sikap oportunis;

4. Sabar yang didasarkan firman Allah innama yuwaffash-shaabiruuna ajrahum bi-ghairi hisab”, akan membentuk pribadi yang bermental baja;

5. Tawakkal yang bersumber dari firman Allah wa ‘alallahi fal-yatawakkalil mutawakkilun”, akan membangun independensi seseorang,

6. Syukur fadzkuruu-ni adzkurkum, wasykuruu lii wa-laa takfurun”akan memberangus keserakahan seseorang;

7. dan lain-lain demikian seterusnya.

Integrasi syariat dan tasawuf juga nampak dari pertautan ajaran jihad dengan mujahadah. Jihad bersifat fisik, seperti berperang di medan pertempuran, memerangi tempat kemaksiatan serta perjuangan material lainnya. Sementara mujahadah lebih menekankan visi ruhani dalam menahan hawa nafsu, amarah serta penyakit hati lainnya. Kedua bentuk pertempuran di atas dalam Islam jelas tidak dapat dipilah-pilahkan antara satu dengan lainnya, karena justeru akan menjadi komplemen.

Wal-Hasil, syariah dan tasawuf sebetulnya merupakan dua sisi mata uang yang tak dapat dinegasikan dan dipertentangkan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Penghadapan kedua sisi tersebut secara vis a vis, selain akan memperlihatkan kebodohan seseorang, juga memberikan indikasi adanya upaya politisasi Islam.

Karena itu, persoalan agama, sepanjang tidak dijadikan komoditas politik akan mendamaikan kehidupan manusia, tetapi jika sebaliknya akan nampak keras dan tidak membawa kesejahteraan. Mereka yang termasuk kelompok terakhir, pasti bukan tipologi shufi. Tasawuf dengan demikian mampu menjadi muara bagi semua madzhab (sekte) yang bertebaran di bidang syariah, baik di kalangan sunni, syii, mutazili maupun lainnya. Bahkan syariat lintas agama pun mampu bersarang dalam tasawuf. Inilah essensi dan substansi Islam.

 

Wallohu a’lam bish-showab,-

————————————-
by arland

from : KH Said Aqil Siradj ; “Bertarikat tanpa Syariat”

Comments»

1. Syauqi Baruna P - 10 July, 2007

Alangkah hebatnya mereka berani melangkahi Rasulullah SAW, tidak melaksanakan ajaran yang beliau bawa, apa bisa disebut umat beliau. Klw cuma masalah hati, klw semua orang menggunakan cara dan jalan masing2 untuk mengharap ridho Allah, buat apa beliau diutus?Kadang orang mengatasnamakan logika, akal, dan hati diatas hawa nafsu mereka.

2. huzaifah - 8 December, 2007

kami menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan, tidak akan ada yang satu tanpa yang lain, contoh tiada siang tanpa malam, tiada atas tanpa bawah bahkan tiada jiwa tanpa raga. maka untuk mensucikan jiwa haruslah mempunyai sifat-sifat yang benar, jujur, rendah hati, menerima apa adanya, sabar, ikhlas. karena dengan hati yang sucilah Allah memberikan pelajaran-pelajaran. hati yang kotor tidak akan pernah mendapatkan pesan secara ghaib dari Allah meskipun sholatnya tidak pernah tinggal, tapi justru sholatnya yang membuat dia celaka. dari Huzaifah al ansori. hp. 081375049179.

3. jade - 27 May, 2008

terkadang pada saat seseorang memahami suatu pemahaman, ia tidak bisa mencernanya dengan cukup bijak sehingga ia menjalankan kehidupannya sesuai dengan yang ia kehendaki. Sehingga untuk sebagian orang yang memahami secara syariat melihat bahwa orang yang memahami hakekat adalah salah. Saya sependapat bahwa syariat dan hakekat adalah bagaikan 2 sisi mata uang. Syariat adalah sebagai bentuk nyata kita dalam menjalankan semua perintah & menjauhi semua laranganNya, sedangkan hakekat memahami inti dari syariat sehingga dalam kita bersyariat kita tidak lagi hanya sekedar menjalankan perintah tetapi kita terapkan juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

4. tyangjowo - 25 March, 2009

Barangkali, mungkin, lebih mudah dicerna jika mulai dari dasar yaitu arti kata syariat, tujuannya adanya syariat bagi yang menjalankannya dan hasil akhirnya yang diharapkan. Kemudian kata hakikat artinya apa, tujuan melakukan/pencarian hakikat dan hasil aqkhir yang diharapakan dari itu. Dengan demikian mungkin diperoleh ‘benang merah’ antara ke-2nya sehingga mudah dicerna.
Pemahaman terhadap sesuatu masalah tidak lepas dari latar belakang pengetahuan dari setiap individu. Pertentangan timbul, mungkin lebih tepat perbedaan, lebih diakibatkan oleh presepsi yang berbeda sebagai akibat dari perbedaan diatas.

5. lintang joar - 15 June, 2010

mari terus benahi diri menuju kebaikan

6. bolodewe - 13 September, 2013

makannya klo memahami islam ngak usah terlampau tinggi…
klo waktunya sholat ya pergi sholat,wktunya puasa qt puasa,punya rejeki buat zakat qt zakat dll.
dan qt Tegakan Tiada Tuhan selain Allah,dan Muhamad adalah utusan Allah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: