jump to navigation

The Matrix: Sang Mursyid 17 June, 2006

Posted by netlog in Mengenal Mursyid.
trackback

Muhammad Sigit
Thu, 29 Jul 1999 05:40:43 -0700

Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi

The Oracle.
Ini bukan nama perusahaan software. Ini adalah nama seorang wanita tua di dunia Matrix.
Ia hanyalah seorang tukang masak kue, gemuk, negro, perokok, tingal di sebuah apartemen kelas bawah dan memiliki beberapa murid anak kecil.
Di film itu pun, ia hanya muncul sekali. Dengan percakapan yang sederhana, dan mengalir begitu saja. Sama sekali tidak tampak kelebihan dalam dirinya. Tapi dialah sosok mursyid di film ini.

Saya terus terang agak heran, bagaimana film ini bisa bercerita demikian detil. Termasuk penggambaran sosok mursyid yang demikian akurat. Sehingga bila kita ingin mengetahui, seperti apa sih Mursyid itu? Bagaimana dia membimbing kita? Kita bisa mempelajari figur The Oracle.

Waktu di lift menuju ruangan The Oracle, Neo dan Morpheus sudah
bercakap-cakap dengan menarik.
Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah”
Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal
perlawanan (thd Matrix)”
Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya?”
Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia mengetahui secukupnya.”
Neo: “Dan dia tak pernah salah?”
Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. She is a GUIDE,
Neo. Dia dapat membantu kita untuk menemukan ….”
Neo: “Dia menolongmu?”
Morpheus: “Ya”.
Neo: “Apa yang dikatannya padamu?”
Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One”

Memang bila kita berhadapan dengan seorang mursyid, kita perlu menanggalkan sejenak parameter-parameter kita ttg benar dan salah. Karena itu bisa memerangkap kita. Kita ini seperti orang buta, sementara dia tidak buta. Bagaimana mungkin kita bisa menghakimi ceritanya ttg gajah?

Sang mursyid pun, tidak akan mengajarkan kepada kita hukum-hukum kebenaran atau kesalahan. Dia hanya membimbing, agar kita dapat mengenali kebenaran. Dia akan berusaha untuk menjadikan setiap kita sebagai aktor utama dalam kehidupan ini.

Selanjutnya Neo pun memasuki apartement Oracle dan menemukan banyak anak kecil yang sedang asyik bermain-main dengan ‘karomah’-nya. Ada yang main kubus yang seolah tak terikat hukum gravitasi. Ada pula yang sedang asyik membengkokkan sendok hanya dengan pikiran. Dikatakan, bahwa mereka adalah calon-calon potensial untuk menjadi The One.
Saya lewati ini karena akan jadi tulisan terpisah.

Setelah menunggu sejenak, Neo pun diundang untuk ke dapur menemui Oracle.
Dia ternyata sedang asyik masak kue.

Neo: “Apakah anda The Oracle?”
The Oracle: “Binggo, tidak seperti yang kamu sangka bukan? Aku akan
mempersilahkan kamu duduk, tapi jangan khawatir terhadap vas bunga itu”
Neo: “Vas yang mana?”

Ternyata kemudian Neo menyenggol vas bunga yang ada di sampingnya, hingga
jatuh dan pecah.
Kemudian Oracle berkata, “Vas yang itu.”
Neo pun gugup, “I’m sorry…”
The Oracle: “Sudah aku katakan jangan khawatir terhadap vas itu. Bagaimana
kita bisa merubah sesuatu yang sudah ditetapkan?”

Istri saya paling senang dengan adegan ini. Istri saya geli melihat bagaimana cara seorang mursyid menunjukkan siapa dirinya. Karena Neo pada saat itu agak ragu, melihat Oracle yang seperti itu. Tapi yang membuat saya menyimpulkan Oracle lah sang Mursyid justru percakapan berikutnya yang saya sarikan sbb.

The Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini?” Neo pun
mengangguk.
The Oracle: “So… what do you think? Do you think you are The One?”
Neo: “Honestly, I don’t know”
The Oracle: “Aku akan beritahu kamu suatu rahasia. Menjadi The One adalah
seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri
yang tahu.
So… you ready to know.”
Neo: “Know what?”
The Oracle: “That I’m going to tell you…”
Neo: ” I am not The One”

Begitulah sang Mursyid. Dia tahu apa yang terbaik buat saliknya.

Oracle tahu, bahwa informasi Neo adalah The One telah membelenggu jiwanya.
Sehingga tanpa sadar dia merasa spesial. Makanya Oracle mematahkan anggapan
tsb dengan kalimat-kalimatnya yang menuntun. Neo sendirilah yang
menyimpulkan bahwa dia bukan The One sebagaimana diyakini Morpheus. Dan
kesimpulan ini penting bagi Neo, agar dalam menemukan kesejatiannya, tidak
terhambat oleh pandangan dan sikap orang lain. Meski berhak untuk
memandangnya seperti itu.
Dan lepasnya ia dari belenggu faham The One, terbukti kemudian bisa
membuatnya mengambil keputusan penting. Yaitu siap berkorban untuk
menyelamatkan Morpheus.

Mursyid pun membimbing saliknya secara personal. Dia tampil beda bagi setiap
saliknya, sesuai dengan yang dibutuhkan bagi perjalanan sang salik. Seperti
kata Morpheus setelah Neo keluar dari dapur, “Ingatlah, apa saja yang
dikatakan Oracle itu hanya untukmu sendiri”
Mursyid bukan ustadz, muballigh atau da’i. Bimbingannya tidak dibatasi oleh
podium, pengajian maupun tulisan/buku. Meski saliknya bisa ribuan jumlahnya,
dia mampu membimbing mereka secara person to person. Tentu dengan caranya.
Sebagaimana Rasulullah Muhammad saw yang menjadi milik setiap sahabatnya.

Ya… begitulah interaksi salik-mursyid-salik di dunia tasawuf.
Kepada Morpheus, Oracle berkata bahwa Morpheus akan menemukan The One. Dan
dalam proses pencariannya selama bertahun-tahun, akhirnya Morpheus menemukan
Neo, yang amat diyakininya sebagai The One. Oracle tak pernah menunjukkan
langsung kepada Morpheus siapakah The One, dia hanya membimbing. Adalah
suatu pencapaian bagi Morpheus ketika menemukan Neo The One. Keyakinan ini
penting bagi Morpheus untuk melakukan tugasnya.
Kepada Neo, Oracle memandu agar Neo yakin, bahwa dia bukan siapa-siapa.
Karena keyakinan ini penting bagi Neo untuk melaksanakan tugasnya sebagai
The One.
Kepada Trinity, Oracle mengabarkan, bahwa ia akan jatuh cinta kepada The
One. Trinity tampaknya tipikal wanita yang susah jatuh cinta, mungkin saking
pintarnya (hackerwati). Sehingga bagi Trinity dasar keyakinannya adalah,
siapakah yang bisa membuatnya jatuh cinta. Itulah The One.

IT S DIFFERENT
BETWEEN KNOWING THE PATH AND WALKINGPROSES.

Dipikir-pikir, sebenarnya kita rugi besar kalau tak terbiasa menghayati proses. Justru nikmatnya hidup itu, adalah ketika munculnya kesadaran akan proses tsb. Saya bahkan sedang curiga, bahwa surga itu
sebenarnya ya proses itu.🙂
Kita mungkin sudah amat terbiasa berfikir akan pencapaian. Bila kita baca
sirah nabawiyyah, yang kita tangkap adalah kemuliaan dan kebesaran Baginda
Rasulullah Muhammad saw beserta keluarbiasaan para sahabatnya. Bagaimana
mulianya akhlaq Rasulullah saw. Bagaimana adilnya beliau kepada
istri-istrinya. Bagaimana beliau bisa hadir secara personal di setiap hati
para sahabatnya. Bagaimana belau bisa mencetak para sahabatnya menjadi
pribadi-pribadi luar biasa. Dan bagaimana pula pribadi-pribadi luar biasa
itu berkiprah dalam sejarah Islam. Bila kita membaca sejarah Islam, yang
kita tangkap adalah masa-masa keemasan peradaban Islam. Betapa dulu, Islam
dipenuhi dengan orang-orang hebat, jenius, revolusioner sekaligus mulia
akhlaqnya.
Itulah yang kita tangkap. Akibatnya, kini kita seperti memandang
bintang-bintang di langit. Tak terjangkau. Hanya bisa berharap (sambil
ragu) akan kembalinya masa-masa itu. Di satu sisi kita (berusaha) untuk
yakin dengan janji Allah, di lain sisi kita menemukan fakta betapa jauhnya
kita.
Pola Hollywood, di mana segalanya berakhir happy end, adanya figur-figur
sentral yang dominan, dan remehnya figur-figur lain di sekelilingnya,
mungkin terlalu melekat di benak kita. Sehingga mempolakan model kehidupan
tsb dalam diri kita. Semua kita bersaing untuk menjadi yang “ter”. Padahal
surga akan kita raih ketika kita menjadi diri kita sendiri.
Kita jadi kurang menghargai proses. Terlalu terbiasa memandang bintang,
padahal bintang itu juga ada dalam qolb kita.
Padahal kalau kita menghargai proses dan mensyukurinya, maka seperti kata
Allah, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih”. (QS. 14:7)
Menghayati dan menikmati proses, itulah syukur.
The Matrix pun bercerita ttg Neo yang berproses. Dari seorang yang terlelap
di dunia Matrix, kemudian menjadi seorang hacker, kemudian memilih
mempercayai Morpheus dan akhirnya meminum pil merah dan terbangun dari
mimpinya. Setelah hidup di alam real (Nebuchadnezar) pun, Neo masih terus
berproses. Mengikuti training simulation, meraih pengetahuan dari The
Oracle dan muridnya, dan kemudian mengamalkan pengetahuan tsb. Bahwa Neo
adalah The One, dia berproses dari
* Sekedar waham (persangkaan).
* Kemudian peruntuhan waham tsb (peng-nol-an).
* Beramal sholeh sebagai The One.
Pada posting terdahulu, sudah terjelaskan proses yang terjadi pada point 1
dan 2. Dimana proses peng-nol-an terjadi. Proses peng-nol-an ini adalah
kunci, yang bila dilakukan akan menampakkan hakikat diri seseorang. Dalam
tasawuf, dikenal dengan istilah fana. Bayangkan saja sebuah studio rekaman,
di mana semua komponen lagu seperti vokal, suara gitar, suara synthesizer,
suara perkusi, dsb, direkam terpisah untuk meudian di mix (dicampur) ke
dalam satu pita rekam tunggal. Bila kita ingin mengidentifikasi mana di
antara itu semua suara yang datang dari cymbal, tinggal kita nolkan semua
suara selain cymbal. Tentu ini semua hanya bisa kita lakukan di studio
rekaman. Selagi kita masih berupa kaset, jangan berharap.
Sewaktu akan menyelamatkan Morpheus, Neo sudah sampai pada point 2. Dia
sudah menyadari, bahwa baginya dia itu bukan siapa-siapa. Dan dalam kondisi
seperti itu, ternyata ia mampu menyelamatkan Morpheus. Padahal langkah tsb,
bagi Tank dan Trinity adalah langkah bunuh diri.
Neo bisa berbuat seperti itu karena dia beramal dalam kondisi nol (fana).
Dan karena Neo memang sejatinya adalah The One, maka ketika dia fana
muncullah sosok The One dalam dirinya.
Itulah adegan penyelamatan Morpheus. Dan di akhir adegan ini ada kalimat
Morpheus yang penting sekali bagi kita. Waktu Neo ingin memberitahu, bahwa
dari Oracle dia mengetahui bahwa dia itu bukan siapa-siapa, Morpheus
menyela, “She told you exactly what you need to hear. That’s all. Neo,
sonner or later you going to realize it. IT’S DIFFERENT BETWEEN KNOWING THE
PATH AND WALKING”.Wassalamu’alaykum wr. wb.

Comments»

1. Aris - 14 July, 2006

Assalamualaikum,
Terima kasih atas artikel yang sangat menarik tentang sang mursyid melalui sosok The Oracle.
Terlepas dari sosok apapun dia saya hanya mengambil gambaran betapa kita tak dapat mengenali diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain yang kita percaya maupun yang memusuhi kita.

Seperti yang anda kemukakan kita hanya sekedar melihat akhir dari suatu proses tanpa menikmati dan mencerna dibalik proses tersebut.

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya adalah: Bagaimana bisa anda menterjemahkan bahwa surga adalah suatu proses sedangkan jelas-jelas di sebutkan dan dijanjikan dalam Al Qur’an bahwa surga dan neraka adalah kehidupan setelah berakhirnya hidup dan mati.

Mungkinkah kita akan berakhir seperti Syeh Siti Jenar yang terlalu dalam mencerna kalimah ALLAH sehingga kita lupa siapa kita sebenarnya.

Sekali lagi terima kasih atas segala yang anda tulis karena main membuka pikiran saya tentang arti dan makna hidup dan kehidupan. Memang baru artikel ini yang saya baca namun selintas telah tergambar siapa dan bagaimana anda memandang cara hidup dan menjalaninya.

Terima kasih.

2. atmoon - 2 August, 2006

“Dipikir-pikir, sebenarnya kita rugi besar kalau tak terbiasa menghayati proses. Justru nikmatnya hidup itu, adalah ketika munculnya kesadaran akan proses tsb. Saya bahkan sedang curiga, bahwa surga itu
sebenarnya ya proses itu.”

Ya, memang nampaknya umat Islam sudah lama melupakan hal ini. Melupakan bahkai mengabaikan proses memang sama halnya dgn melupakan istiqomah,ketekunan, konsistensi dan upaya2 kecil yang terus-menerus yang sebenarnya menjadi wejangan Rasulullah juga bahwa proses adalah suatu manifestasi dari asma, sifat, dan af’al Allah yaitu Dia sebagai Rabbul ‘Aalamin : Mencipta, memelihara dan mendidik semua makhlukNya.

Umat Islam di Indonesia nampaknya lebih seneng menelan mentah2 kisah metafora yang dibumbui dengan kesaktian yg luar biasa dan menggiurkan yang bisa hadir dengan sekejap mata. Padahal metafora itu seharusnya bisa dimaknai lebih mendalam bukan dilihat dari segi kesaktiannya, tetapi rahasia yang terkandung dalam suatu ungkapan keruhanian baik itu kisah maupun ungkapan Al Qur’an yang memang sarat dengan gaya bahasa pengungkapan yang halus dan memerlukan citarasa akal dan hati yang terintegrasi dengan baik. Jadi untuk membuang karakter instan yang satanik, mulailah ISTIQOMAH DI SHIRATHAAL MUSTAQIIM dengan al-Haqq al-Yaqin dan buang jauh2 impian2 instan yang menjadi karakter Iblis yang tak tahu bagaimana dirinya diciptakan (QS 18:51).

3. abu zuhri shin - 12 September, 2006

Salam sdr sigit,
Tabarakallah. maaf, saya baru jumpa/baca blog ini tapi merasakan sdr amat dekat pengalaman matrix-sufi yang kami lalui. Hampir lebih 10 tahun kami cuba garap Oracle I Ching, Chuang Tzu dan Tao Te ching untuk menyedarkan muslim modenis betapa ruginya mereka gagal berdakwah pada bangsa china/jepun yang kaya dengan falsafan tao, yin-yang and wu-wei kerana menolak atau tiada kefahaman sufistik.Tahniah kerana bisa berfikir diluar dimensi filem dan cyberspace dimana Arifun sebenar memiliki Filem Marifa dan Kenderaan Boraq Rohani sedang menunggu kita yang mabuk sebentar dengan fenomena ini.
Warmest greeting of peace, caijian
abu zuhri shin

4. yanrmhd - 9 April, 2010

salam alaika,,
alhamdulillah, bisa baca artikel ini…tercerahkan bahwa intinya kita jadilah diri sendiri, dan potensi hidup akan muncul, syukuri, dan lakukan yang terbaik menurut keyakinan kita…

ternyata sosok mursyid itu cukup penting, terus terang ini istilah yg masih baru bagi saya,,,

jalan2 didunia ‘matrix’ nya ternyata memberi pandangan baru…😀
salam,,

5. indera - 13 July, 2012

sebuah analisis yang hebat,tuan. saya hormat kepada anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: