jump to navigation

Gerbang Cinta Waliyullah 19 June, 2006

Posted by netlog in Gerbang Dambaan Umat.
trackback

Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.

Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah gerbang keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan bicara: “Akulah gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita melangkah, memasuki pintu gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna dalam luapan gelombang cinta yang digerakkan oleh kedahsyatan angin kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana adalah deretan puja dan puji:

“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan Jabarut-Nya.”

Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan prasasti yang ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang telah membuka gerbang Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia mengurai rantai yang membelenggu jiwanya, sehingga mereka teguh dalam keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan cahaya-cahaya-Nya melimpahi akal-akal mereka. Lalu tampak jelas, keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya, sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari haru biru tipudaya yang menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad semesta, sampai akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya. Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan rahasia kedekatan dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya, hingga mereka termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian Ketunggalan-Nya. Mereka telah diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan mereka dari mereka, lalu mereka ditenggelamkan dalam lautan Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan terpencar dalam kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka terjaga oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”

Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu, semata bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab, mengangkat derajat seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan Allah sendiri yang memberi Wilayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu, sesungguhnya lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita atas dunia kewalian yang menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi, tidak lebih dari limpahan-limpahan Ilahi, agar kita lebih yakin kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.

Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi sebagai “tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas tertentu. Di antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula yang tidak ditampakkan sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah yang diberi kehebatan luar biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah, dan belum tentu juga yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, tidak mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah.

Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena metafisikal yang begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu masyarakat kita mengklaim bahwa orang tersebut tergolong Waliyullah. Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika kalian melihat seseorang bisa terbang, bisa menembus batas geografis dengan cepat, bahkan bisa menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah Anda anggap itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.“

Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu, dan ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha tertentu dari hamba Allah.

Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap berpijak pada perintah Nabi SAW. Jika tidak demikian, maka karamah hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri tidak tahu.

Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep kewalian. Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu seakan-akan hanya derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu saja, kelompok ini sama kelirunya dengan kelompok mereka yang menganggap seseorang, asal memiliki kehebatan, lalu disebut sebagai Waliyullah, apalagi jika orang itu dari kalangan kiai atau ulama.

Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu yang rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan juga ganjalan intelektual.

Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, “Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”

“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup bersama Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai Kewalian ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab itu memulai tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu ingin mengupas tuntas tentang biografi dua Waliyullah terbesar sepanjang zaman, yaitu Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi.

Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian adalah: “Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak punya rasa takut dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Mereka mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya di mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia melihat, dan menjadi tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”

Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab ‘Ilmul Auliya.

Comments»

1. siti nurhayati - 4 August, 2006

subhanallah mungkin kata-kata tersebut dapat mewakili kekaguman saya kepada kebesaran Allah SWT yang begitu mencintai hambanya. saya sangat malu atas apa yang telah saya lakukan sampai saat ini. betapa tidak berharganya kebaikan sebesar apapun yang telah saya lakukan dibandingkan dengan waliyullah. sesungguhnya Allah telah memperlihatkan keMahabesaranNya kepada umatnya. manusia yang sombong hanya akan menjadi sampah bagi dirinya sendiri karena sesungguhnya kesombongan manusia tidak patut diperlihatkan bahkan kepada hamba pilihannya..

2. darmawan - 3 June, 2007

Ass.
ada beberapa pertanyaan saya :
1. Bagaimana tinjauan sufistik dari wali Allah?
2. Bagaimana dengan keberadaan wali Allah di tengah2 masyarakat?

3. netlog - 6 June, 2007

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sdr Darmawan,

Wali ALLAH pada hakekatnya tidak ada, karena ALLAH tidak memerlukan WALI (Wakil) di dunia ini, menurut pandangan saya, orang yang telah mencapai tingkatan makrifatullah (mengarif-i ALLAH) sering kita sebut wali ALLAH, hal ini bukan karena dia sebagai wakil ALLAH melainkan karena pencapaian keimanannya mencerminkan ke arifan nya yang paripurna atas keridhlo-an dirinya menerima takdir dan irama hidup yang telah ALLAH gariskan.

Dan keberadaan orang-orang yang sering kita sebut sebagai wali ALLAH itu, merupakan predikat dari masyarakat atau manusia, bahkan orang yang disebut wali ALLAH tidak pernah mengklaim bahwa dirinya sebagai WALI.

Intinya sebutan wali ALLAH hanya diberikan oleh manusia/masyarakat, dan secara hakikat ALLAH tidak memerlukan wali didunia ini.

Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum wr.wb.

4. java comunity for etnic colaboration » Blog Archive » sunan bonang - 7 September, 2008

[…] Gerbang Cinta Waliyullah 19 June, 2006 […]

5. hasan ahmad - 7 February, 2009

Manusia diciptakan dengan cara yang sama, tetapi fdala perjalanan hidupnya, ternyata berpreastasi secara berbeda-beda. Mereka yang telah berhasil meraih preastasi sehingga bisa dicontoh itulah mungkin disebut wali. Akan tetapi prestasi itu sendiri bukanlah manusia yang mengetahui, sebab Tuhan ternyata dalam menilai sebuah amal, bukan saja menurut yang tampak, atau yang dhohir, melainkan juga sampai melihat aspek batin. Aspek batin ini hanya bisa dikemukakan melalui gerak dan ucapan. Sedangkan ucapan belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya yang ada pada batin itu. Manusia ternyata juga tidak akan bisa membaca batin seseorang, sedangkan batinnya sendiri saja juga tidak pernah bisa digambarkan secara tepat. Karena itulah seorang wali, atau orang yag berprstasi mendekat Allah, hanya Allah saja yang tahu. Apapapun memang dunia ini serba misteri, dunia ini ada dan manusia diadakan termasuk kita. Allah menyelenggarakan pentas yang dahsyat disebujt alam raya ini, dan kita ternyata diikutkan dalam pentas itu. Kita saksikan alam ini, sangat indah menakjubkan. Ada sebagian kita kenali dan kita nikmati, tetapi sebagian besar lainnya tidak sempat kita ketahui, termasuk salah satu yang tidak kita ketahui adalah tentang wali itu sendiri. Subhanallah.

6. Dyah - 4 June, 2009

Nabi Muhammad saw pernah bersabda, “Akulah kota ilmu, dan Ali gerbangnya…..”
Wahai saudara-saudaraku seiman, renungkanlah sabda Nabi Muhammad saww tersebut, cari dalilnya dalam buku2 hadits. Bukankah itu cukup bagi kita sebagai umatnya untuk mencari tahu bagaimana kita mendalami Islam ini secara menyeluruh dan lengkap?
Kemudian, bukankah kita pun dalam shalat selalu bershalawat kepada Nabi dan keluarganya? Mengapa shalawat dalam shalat hanya untuk Nabi saw dan Keluarganya? Kebanyakan umat islam tidak mengetahui siapakah yang dimaksud dengan keluarga Nabi.
Satu hal lagi, Allah tidak akan membiarkan dunia tempat kita berpijak ini tanpa hujjahNya, yang merupakan cahaya yang menerangi dan menunjukkan jalan keselamatan. Bukankah ada dalam hadits disebutkan bahwa, “Siapa yang mati tanpa mengetahui imam zamannya maka dia…..”. Bukankah dalam kubur akan ditanya siapa imammu? Siapkah kita menjawab?
Semoga Allah swt memberikan hidayah kepada kita semua dan kita tanggap dalam menggapai hidayah yang diberikan Nya..Amin Yaa Kariim..

7. noor hasna lope - 16 March, 2011

o yes i do believe in “kekasih Allah” or “Pencinta Allah” just like one history of Sultan Ibrahim Adham of Syria (if i am not mistaken. Abraham Adham left his luxurious Palace just to find him ‘guru’ or sheikh to go deeply into Islam and sufisism. That particular Sultan had been one of Allah’s Beloved among all to name a few of them, like syeikh abdul kadir jailani, malik bin dinar, junaid albaghdadi, usaiw alqarni, abu yazid albisthomi and many many more of them = those people were the Lovers of Allah Subhanawataala and the best ummah of Rasulullah I would say…. i am sorry if my perception is wronged… but these are the people who will be solely the populace of Illiyein and Jannatun Firdausi or Jannatun Naim I am amused hearing them all.
Wassalam,

8. www.facebook.com - 30 January, 2015

Admiring the hard work you put into your site and in depth information you
offer. It’s great to come across a blog every once in a while
that isn’t the same outdated rehashed material. Wonderful read!
I’ve saved your site and I’m adding your RSS feeds to my Google account.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: