jump to navigation

Hadist Riwayat Abu Hurairah ra. 4 August, 2006

Posted by netlog in Cara melihat Tuhan.
trackback

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw:

Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?

Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?

Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?

Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.

Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal,

seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas.

Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya).

Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat.

Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur).

Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk.

Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah.

Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain.

Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka.

Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga.

Allah berfirman: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji.

Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi.

Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.

Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji!

Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang.

Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga.

Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya

Comments»

1. Iwan - 3 March, 2008

dari kisah ini, saya mendapatkan pengertian :
1. kita akan melihat dengan sejelas-jelasnya tanpa halangan.
2. kita harus memilih dengan tegas apa yang kita yakini / kenali.
3. apabila kita mengharapkan atau menginginkan sesuatu atau
sebanyaknya harus secara menyeluruh sehingga tidak ada yang
dirasa kurang dan tidak pula bertentangan.

periksalah diri kita. jika menginginkan sesuatu, apakah betul akan menjadi sesuatu yang memang kita dambakan ? dan apabila tercapai, apakah kita berhenti bersyukur ?

itu adalah syurga, dimana kenikmatannya tak terbatas…

mudah-mudahan kita selalu dalam keselamatan..

Budi - 26 April, 2014

HORMAT
RESPECTED
ALAM

aku bersujud hanya padaMu
aku hidup karenaMu
Engkaulah yg memberi tempat manusia hidup semua
Engkau yang menghidup hidupi manusia
Engkau yang menyayangi manusia sedunia
aku mencintaiMU lebih dari semua

Waktu kecil
di desa mbahku menasehatiku :

” thole, khormatana bumimu, udara, toya sak liyan liyane ”

Aku diajari mbah saya yg sepuh :
diajari siram siram pd tanaman, dan tanah,
diajari memberi minum pd burung, ternak
Diajari menanam, dilarang memotong pohon
Santun pd orang tua siapapun mereka
Sayang pd teman siapapun mereka

Tiap bangun pagi, Eyangku selalu mengingatkanku dengan kalimatnya yang santun :

” cah bagus, kalau bangun tidur bukalah jendela kamar.
Hiruplah udara segar dgn senyummu.
Lihatlah mentari, pohon, kebun.
Dalam hati mu sapalah dengan gembira :
” selamat pagi semuanya ” . Cah bagus eling ya..”

Eyang sudah almarhum
Aku selalu berdoa untuk beliau.
Yang selalu kuingat :
Eyang selalu pakai “Udeng” kalau bersembahyang.
Suka berbusana Lurik Jawa.
Eyang selalu tersenyum
Sembahyang Eyang bisa dimana saja. Setiap saat.

Itulah yang kupelajari dlm hidupku.
Hari ini :
Ku selalumenangis dalam hati melihat sikon manusia dinegeriku.
Selalu kuingat nasihat Eyangku….

” Tersenyumlah.lah selalu, Alam semua ini telah menyayangimu”

2. zulkhaidir - 16 April, 2008

Maha besar Allah, kita sebagai manusia memang diciptakan tidak sempurna, sehingga selalu mengharapkan balasan akan sesuatu hal yang kita kerjakan, bahkan untuk beribadah kepada Allah SWT sekali pun kita meminta imbalannya. Bukankah manusia diciptakan untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

3. Sunni - 12 September, 2008

ini cuma penyampaian hadits, namun pengkajian mendalamnya sangat nihil = nol besar….

seharusnya dijelaskan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dalam bentukNya dan bukan dalam bentukNya, datangnya bagaimana….dll

jika si penulis tidak menjelaskan, maka berarti dia bisa menjerumuskan manusia terhadap Allah swt,

tolong dijawab, kalau bisa kirim ke email saya

4. Ki BROTOKUSUMO - 4 April, 2009

Ass Wr Wb Hamba Allah yang fakir ini ingin sumbang saran kepada Saudaraku para PENCARI TUHAN. Salah satu Sifat Allah adalah WUJUD, yang biasa diartikan ADA. Sesungguhnya Allah itu memang mempunyai WUJUD. Dibeberapa Kitab Suci, Allah memperkenalkan/menerangkan diriNYA bahwa DIA adalah NURUN ALA NURIN (Cahaya di atas Cahaya), PURNAMA SIDI (Bulan Purnama yang terang benderang), dll. Semua itu hanya tinggal cerita yang selalu diceritakan oleh Para Ulama Syareat pada setiap Ceramah atau Kotbahnya. Yang pada dasarnya mereka juga tidak tahu apa yang dikatakannya. Saudarku, hadits di atas adalah Hadits Mutasabihat. Karena Rasululah tidak sembarangan Memberikan Ilmu Ma”rifat yang Mahal itu ke sembarang orang, meskipun kepada Sahabatnya sendiri. “JANGANLAH ENGKAU BERIKAN MUTIARA YANG INDAH INI KEPADA ANJING DAN BABI.” Yang maksudnya adalah Ilmu yang luar biasa ini (ILMU MA”RIFAT) tidak akan pernah diberikan kepada orang yang masih memelihara SIFAT-SFAT ANJING & BABI dalam dirinya. Rasulullah SAW adalah USWATUN HASANAH (contoh teladan terbaik). Jika belaiau dapat “BERJUMPA” dengan ALLAH (pada waktu MI”RAJ), sesungguhnya kitapun dapat melakukan hal yang sama pula. Rasulullah mendapatkan ilmu ini, tentunya Beliaupun telah menurunkannya pula kepada Para Sahabat-2 pilihannya dan terus turun temurun sampai masa sekarang dan akhir zaman nanti. Sesungguhnya jika kita ingin dapat berjumpa dengan Allah, kita harus “MATI” terlebih dahulu, ‘MATI SAJRONING URIP”, yaitu mati selagi masih hidup maksudnya adalah MEMATIKAN RASA TIDAK PUAS, MEMATIKAN NAFSU AMARAH dan MEMATIKAN KEINGINAN KEDUNIAWIAN pada saat melakukan laky MI”RAJ. Dengan laku tersebut kita akan dapat menyaksikan “NURUN ALA NURIN” seperti yang diceritak secara MUTASABIHAT di Kitab-kitab Suci. Hanya GURU-GURU MURSYID YANG KAMIL MUKAMIL lah yang dapat mengijazahkan ilmu ini dengan seizin ALLAH. Begitu banyak Guru Mursyid yang Kamil Mukamil terdapat di Indonesia, tetapi mereka tersembunya di tengah keramaian. Insya Allah jika Allah berkenan, Saudara-saudaraku akan dapat berjumpa dengan mereka. Amin. Rahayu. Wss Wr Wb

5. manatuhanallah - 10 July, 2009

ALLAH BERADA DI BUMI MENJELANG KIAMAT!!!!

Tenang-tenangkan diri…
Sila layari http://manatuhanallah.wordpress.com/
Terima Kasih

Krulayar

6. ruda - 11 August, 2010

mna hadits nya?

7. Bagas Raya - 11 June, 2011

Maaf sebelumnya… kita semua tau bahwa ALLAH maha besar… mungkinkah ALLAH lebih kecil dari langit…? Dalam Al’Quran juga dijelaskan bahwa ALLAH adalah “ZAT” yang Maha suci, bisakah kita ganti dengan “SOSOK” atau “KEPRIBADIAN” yang maha suci..? Al’Quran jelas – jelas mengatakan bahwa ALLAH bukanlah ‘sesuatu’ atau ‘sosok’ yang menempati ruangan, seperti bulan yang berada dilangit, apalagi berada dibumi? bahkan diterangkan segala sesuatu “digenggam” oleh ALLAH. Bagaimana kalian memahami ini..? Maaf sekali lagi maaf. ( Bagus Kroya )

Afiqie Fadhihansah - 2 August, 2011

Kalau menurut saya, itu adalah makna kiasan saja, tidak bisa diartikan secara langsung. Begitu jug dengan kata ‘digenggam’

8. bagus - 11 June, 2011

Maaf sebelumnya… kita semua tau bahwa ALLAH maha besar… mungkinkah ALLAH lebih kecil dari langit…? Dalam Al’Quran juga dijelaskan bahwa ALLAH adalah “ZAT” yang Maha suci, bisakah kita ganti dengan “SOSOK” atau “KEPRIBADIAN” yang maha suci..? Al’Quran jelas – jelas mengatakan bahwa ALLAH bukanlah ‘sesuatu’ atau ‘sosok’ yang menempati ruangan, seperti bulan yang berada dilangit, apalagi berada dibumi? bahkan diterangkan segala sesuatu “digenggam” oleh ALLAH. Bagaimana anda semua memahami ini..? Maaf sekali lagi maaf. ( Bagus Kroya )

9. anto - 12 October, 2012

melihat Allah dalam artian visual mata, jelas tidak bisa. sampai kapanpun, di akhirat sekalipun, tetap tidak bisa melihat. tapi jika melihat dalam arti “merasakan” eksistensi Allah, jelas bisa. didunia sekalipun sangat bisa merasakan eksistensi Allah. mengapa kita tidak bisa melihat Allah? karena kita lebih kecil dari Allah.

10. Arfidianto Sikumbang - 19 December, 2012

Sebelum hendak melihat Allah, baca sampai selesai dari bab awal sampai akhir dan pahami seluruh makna tiap kalimat tersebut, karena untuk mencari pengetahuan itu sulit dan butuh berpikir sehingga bisa menarik arti atau hikmah atau makna yg dimaksud:

http://fs.fmanager.net/files/book/pdf/in/hakikat_di_balik_materi.zip

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (Qs.An Nahl: 11-14) 
 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: