jump to navigation

Renungan Tentang Rizki ALLAH 29 September, 2006

Posted by netlog in Renungan Tentang Rizki ALLAH.
trackback

Oleh : Netlog

Disebuah kampung yang tenang, di hulu sebuah sungai,  hidup seorang  kyai bernama Hanif, Beliau menjadi imam dikampung itu dan memimpin umat hingga usianya yang menjelang senja. Beliau banyak mengajarkan ilmu-ilmu syariat kepada umat dan sesekali disisipi ilmu hakikat dalam ajaran islam.
P ada suatu ketika datanglah santri lama sang Kyai ke kampung itu, Ia bernama Mustofa karena lama tidak bertemu, Mustofa memutuskan untuk singgah beberapa hari di kampung itu.

Seperti biasanya ketika Mustofa mengunjungi gurunya selalu terjadi dialog untuk mengkaji lebih mendalam tentang syariat dan hakikat Islam.

Kunjungan kali ini digunakan oleh mereka berdua untuk membahas masalah rizki yang datang dari ALLAH. Mustofa berpendapat bahwa rizki yang ALLAH berikan kepada kita haruslah dijemput datangnya, dengan kata lain manusia harus berusaha untuk mendapatkan rizki dari ALLAH itu. Menurut Mustofa mustahil rizki itu datang dengan sendirinya tanpa kita berusaha dan berupaya.

Berbeda dengan Muridnya, Kyai Hanif lebih memandang bahwa rizki yang datang dari ALLAH itu akan datang dengan sendirinya tanpa harus kita jemput, menurut kyai Hanif ALLAH sudah menentukan rizki seseorang, maka meski orang itu tidak menjemputnya rizki itu pastilah akan datang.

Perdebatan kajian soal rizki ALLAH ini membuat Mustofa merenung, benarkah apa yang dikatakan oleh guruku tadi?.  namun ia tidak juga menemukan kebenarannya. bahkan Mustofa menjadi bertanya-tanya lalu dari mana rizki itu datang bila kita tidak berusaha? apakah akan turun dari langit?.

Dua hari sudah Mustofa singgah di rumah gurunya. Mustofa berkata kepada kyai Hanif, “sampai detik ini saya belum bisa memahami maksud kyai soal rizki yang datang sendiri itu”.

Kyai Hanif menjawab dengan senyum, “Sudahlah sekarang kamu pulang, insya ALLAH jika kau kesini lagi kau akan menemukan jawabannya”. Akhirnya Mustofa kembali kerumahnya diseberang kampung, dengan membawa sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Seminggu telah berlalu. Mustofa berniat datang kerumah Gurunya, apalagi ini hari libur tanggal muda sekalian membeli buah pisang buat oleh-oleh  kyai Hanif.

Sampai dirumah kyai Hanif, mustofa mengucap salam, dan kyai Hanif mempersilahkan ia masuk. mustofa memberikan buah pisang yang dibelinya untuk kyai Hanif. dan kyai Hanif menerimanya sembari mengucap alhamdulillah.

Mustofa yang masih penasaran soal rizki ALLAH, bertanya lagi kepada sang kyai, “kyai samapi saat ini saya belum menemukan jawaban dari masalah rizki ALLAH, bagaimana kyai bisa menjelaskan kepada saya?, agar saya memahaminya.

kyai Hanif mengambil buah pisang yang baru saja ia terima dari mustofa, “Ini” sambil menunjukkan pada mustofa, kemudian mustofa menjawab, “Itu khan buah pisang saya beli buat kyai, dan itu dibeli dari uang gaji saya kerja sebulan”.

kyai Hanif tersenyum, “Itu kamu, klo aku mendapatakan buah pisang ini tanpa mengeluarkan uang atau usaha apapun”, “bukankah kamu yang memberikannya padaku?”.

Sambil terdiam dan mengangguk-angguk mustofa baru memahami bahwa rizki ALLAH bisa datang dengan dicari bahkan bisa datang tanpa dicari, “terima kasih kyai, sekarang saya memahami apa yang kyai maksudkan”.

Comments»

1. conan - 9 November, 2006

MEMANG JODOH, RIZKI DAN MATI SUDAH DIATUR OLEH ALLAH SWT.
-Kadang kita merasa bahwa apa yang kita peroleh itu karena usaha kita semata, tetapi sebvenarnya itu semua karena ALLAH, tak mungkinlah kita lahir di dunia ini langsung bisa mencari rizki, pasti ada pertolongan dari ALLAH semata lewat orang terdekat kita.
HAZBUNALLAH WANI’MAL WAKIL

2. Farihik - 1 March, 2008

Tiada yang melata eh hidup di bumi ini kecuali PASTI di atas kuasa Allah untuk eh pada ALLAH jaminan rizqinya… (afwan kebanyakan eh -eh maklum masih yunior)
Kadang jaminan rizqi yang telah ada masih dicari-cari sedangkan jaminan surga YANG TIDAK diberikan-Nya malah ditinggalkan ?
Masya Allah wala haula wala quwwata illa billah…
Akhiii mari selalu kita berupaya untuk yang tidak ada jaminan itu… yang kita kekal di sana…
Dengan kenikmatan abadi…
kebahagiaan yang sesungguhnya

3. mas gendhon - 23 April, 2008

yah orang-orang yg mau ngerti saja, yg gk mau ngerti malah lebih sering mencemooh atau entah apa sebutannya. saya cuma orang biasa yg bukan nabi atau kyai. jalani saja, toh tetap saja dunia berputar, lha wong hidup cuma sementara kok ya …..

4. asmoro tri a - 2 April, 2009

rizki itu buanyak macamnya.
udara yg kita hirup gratis ini juga rizki,bangun tidur mata masih bisa melihat pun rizki,jalan-jalan kali tetap utuh tidak ada yg tertinggal pun riski.
orang mukmin yg mempelajari tentang hakikat reski itu kalo rizki tidak akan habis kalo hamba allah masih hidup.
nah kalo ingin kaya (banyak amal)/(hati tenang),Emmm mungkin ingin naik haji, pake uang donk.menafkahi anak& istri (makan,sekolah,beli baju,dll) itu wajib nafkah.semua pake diut yg halal. riski smacam ini harus dicari & datang tak terduga-duga. ALLAH ALLAM.
senyum juga riski.

5. Renungan Tentang Rizki ALLAH « fikry'sas - 21 March, 2011

[…] Sumber: https://netlog.wordpress.com/2006/09/29/renungan-tentang-rizki-allah/ […]

6. Free-limapuluhenam Persen Bumicell - 31 March, 2012

amin

7. acep - 14 December, 2012

Asslmlkum pak..
sya sbagai org awam.
Sllu bertanya” dalam hti sya..apa kita dharuskan berdoa untuk meminta rezeky?
Trs kdang berfkir dngan kata kasar nya” untuk apa berdoa meminta rezky, klo emg rezky udah dksh bgian dan udah yang ngtur” maav itu pertnyaan sya sbgai org awam pak..
Mksh sblmny

8. Annuit coeptis - 22 July, 2013

Tuhanlah yg memberi dan menahan rezeki. Ketika ia memberi, tdk ada yg dpt menahannya. Dan ketika ia menahannya, maka tiada makhluk yg mampu memberinya.

Hmm, ilmu tentang rezeki selevel dgn ilmu tentang ruh, hanya sedikit yg dpt dimengerti, rumit seperti jaringan internet….

Ada variabel lain disekitar rezeki yaitu berusaha. Bagaimana hubungannya? Tetap rumit mo dijelasin. Coba lihat mereka yg korupsi, apakah itu pemberian tuhan? Iblis? Urusan rezeki, hak tuhan. Jd iblis tidak ada urusan. Lalu tuhan memberikan rezeki melalui kejahatan. Rumit. Atau seseorang pelamar kerja yg telah dipastikan tidak diterima oleh penguji yg lebih cenderung menerima yg lain yg mampu membayar harga yg diminta penguji. Sehingga rezeki berada di tangan penguji? Rumit kan ilmu tentang rezeki?.

Satu kisah di quran, yakni qarun yg menyatakan apa yg diperoleh adalah karena kepandaiaannya. Ia tdk mau mengakui bahwa modal awal dari seluruh kekayaannya muncul karena pengetahuan yg ia peroleh dari “pengaruh” yg dibuat tuhan lalu “tertangkap” olehnya sehingga memunculkan kepandaian dan diolah kearah bisnis sehingga mendapatkan keuntungan yg besar.

Jd ketika ilham tertangkap indera kita lalu diolah menjadi benda atau jasa yg menghasilkan keuntungan itulah rezeki. Nah, kalo korupsi atau suap dan peluang2x yg sejenis itu ilham siapa? Tuhan? Tentu enggak. Pasti iblis. Nah ketika ilham jahat menciptakan barang dan jasa atau teknik, keuntungan dari itu apa disebut rezeki. Rezeki yg baik.

Rezeki dari iblis? Gak ada istilah itu karena rezeki hak tuhan urusannya kan? Nah korupsi, suap, penipuan sehingga memperkaya apakah ridha tuhan? Wah rumit buanget.

Datang sendiri, wah ini gak contoh kuat. Karena tanaman kantung semar gak bisa jalan, lalat yg mendatangi dia, tapi kakinya ditanah menyerap energi jd lalat hanya tambahan. Tetap juga pembuluh akan berusaha menembus tanah mencari gizi dan air.

Sebaiknya liat kisah musa, gak ada kerja ya bantuin cewek ngasi minum ternaknya trus jd diundang kerumah si cewek. Atau maryam, ngabisin hidup dimihrab, rezeki turun dari langit, zakaria seorang nabi aja sampe terkejut. Kayaknya kalo laki2x musti keluar rumah lah agar rezeki datang seperti musa. Kalo perempuan gak dituntut benar. Karena laki2x adalah pemimpin yg menafkahi. Cuma gak terlarang untuk berusaha.

Nah si guru mo dibilangin sejenis tanaman kantung semar, gak mungkin. Apalagi selevel maryam. Kenapa gak keluar seperti musa.

Apa dgn buah pisang bisa bertahan hidup sebulan, apa bisa membeli tanah lalu membangun rumah trus membeli kendaraan dan biaya hari2x? Berarti bukan pisang yg diharapkan guru, duit. Wah guru gak tau ya bahwa agama itu untuk seisi alam bukan jual beli atau profit. Kecuali sekedar untuk makan.

Sekedar tuk makan gak bakalan bisa membangun rumah dll. Tp sekedar untuk makan dr setiap orang, anggap aja murid 200 orang jd lumayan juga. Ini jenis rezeki juga ya?

Ngantuk, mana layar tulisan 2×8 cm.pasti berantakan tulisannya. By novus.ordo_seclorum@rocketmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: